Chapter Nine
Bab 9 — Bibir yang Digosok
POV: Shella
Laci kas Bengkel Las Gondo adalah kaleng biskuit Khong Guan yang disimpan di laci paling bawah meja kerja, di bawah tumpukan nota dan buku tulis bergaris yang berfungsi sebagai pembukuan.
Aku tahu letaknya karena Pak Gondo pernah memamerkannya padaku, minggu kedua aku datang ke bengkel. “Ini brankas saya, Neng,” katanya bangga sambil mengetuk tutup kaleng itu. “Maling mana yang mikir ada duit di kaleng biskuit?”
Sejak pesanan pagar fiktif itu, isi kaleng itu menjadi lebih penting dari sebelumnya. Setiap ada pembayaran masuk, dari teralis jendela tetangga, dari pintu harmonika ruko sebelah, dari tralis kandang ayam pesanan Pak RW, Pak Gondo dan laki-laki itu menyisihkan sebagian ke dalam kaleng itu. Untuk Koh Ahong. Untuk cicilan delapan belas juta yang tenggatnya tinggal lima minggu lagi.
Pak Hadi tidak perlu melakukan yang satu ini. Aku bilang padanya aku akan mengurusnya sendiri.
Aku tidak tahu kenapa aku ingin melakukannya sendiri. Mungkin karena aku ingin tahu bagaimana rasanya. Mungkin karena aku ingin tanganku sendiri yang menyentuh retakan itu.
Kesempatannya datang hari Sabtu siang.
Pak Gondo pergi ke kondangan anak tetangganya dengan batik terbaiknya, yang sudah sempit di bagian perut. Laki-laki itu sedang di atas tangga di rumah Pak RW, tiga rumah dari bengkel, memasang teralis jendela lantai dua. Ia memintaku menunggu di bengkel sebentar.
“Setengah jam,” katanya. “Jaga Presiden.”
“Presiden butuh dijaga?”
“Dia suka dicuri. Burung bagus.”
Ia pergi dengan tas perkakas di bahu, dan aku tinggal sendirian di bengkel bersama seekor burung perkutut dan suara radio dangdut dari warung sebelah.
Aku menunggu lima menit. Memastikan ia tidak kembali karena lupa sesuatu.
Lalu aku berjongkok di depan meja kerja dan membuka laci paling bawah.
Kaleng Khong Guan itu ada di sana, di bawah buku tulis bergaris yang sampulnya bergambar pemain bola. Aku membukanya. Di dalamnya ada uang kertas yang dilipat rapi dan diikat karet gelang, dipisahkan berdasarkan nominal. Lima puluh ribuan. Seratus ribuan. Dua puluh ribuan. Di atasnya ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang kukenal, huruf-huruf kecil yang tegak dan presisi:
Cicilan Koh Ahong. Minggu ke-3. Rp 3.250.000.
Tiga juta dua ratus lima puluh ribu. Tiga minggu menyisihkan. Tiga minggu kerja dari subuh sampai malam.
Tanganku berhenti di atas kaleng itu.
Kuk-kurruk, kata Presiden dari sangkarnya.
Aku menoleh. Burung itu menatapku dengan satu mata hitamnya. Diam. Seperti saksi.
“Kamu nggak lihat apa-apa,” bisikku padanya.
Lalu aku mengambil semua uang itu, memasukkannya ke saku dalam tas jinjingku, di samping sapu tangan abu-abu yang belum juga kubuang, dan menutup kembali kaleng itu. Aku meletakkan buku tulis bergambar pemain bola di atasnya, persis seperti semula. Aku menutup laci.
Seluruh prosesnya memakan waktu kurang dari satu menit.
Tanganku tidak gemetar. Lagi-lagi tidak gemetar.
Aku duduk kembali di bangku kayu dan membuka ponselku, dan saat laki-laki itu kembali dua puluh lima menit kemudian dengan kaus yang basah keringat, aku sedang membaca jurnal tentang gagal jantung.
“Presiden aman?” tanyanya.
“Aman, Mas. Nggak ada yang nyuri.”
Pak Gondo menemukannya Senin pagi.
Aku tidak ada di sana. Aku sedang di bangsal, menulis status pasien. Tapi laki-laki itu menceritakannya padaku Selasa sore, dengan kalimat-kalimat pendek dan suara yang datar, seperti membacakan laporan cuaca.
Pak Gondo membuka kaleng itu untuk menambah setoran. Kalengnya kosong. Ia mencari ke seluruh bengkel. Di bawah meja, di balik kulkas, di saku celana kerjanya. Ia bertanya pada keponakan-keponakannya, yang sudah pulang ke Bogor dua minggu lalu. Ia bertanya pada Presiden, yang tentu saja tidak menjawab.
Lalu ia menatap laki-laki itu.
“Bapak nanya aku ambil atau nggak,” kata laki-laki itu padaku, sambil mengamplas karat di sebuah pintu besi tua.
Aku menahan napas. “Terus Mas jawab apa?”
Ia terus mengamplas. Gerakannya teratur. Maju, mundur. Maju, mundur.
“Aku bilang nanti aku ganti.”
Aku menatapnya.
“Mas nggak bilang Mas nggak ambil?”
“Bapak nggak nanya itu lagi setelahnya.”
“Tapi Mas nggak ambil, kan?”
Ia berhenti mengamplas. Ia menatapku. Matanya tenang, seperti permukaan air yang tidak bergerak.
“Uangnya hilang,” katanya. “Yang terakhir di bengkel sebelum Bapak buka kaleng itu aku. Yang jaga bengkel hari Sabtu aku. Bapak nggak salah kalau curiga.”
“Tapi Mas—”
“Aku ganti dari tabungan. Udah beres.”
Ia kembali mengamplas.
Aku duduk di sana, dengan tas jinjing di pangkuanku. Di saku dalamnya, tiga juta dua ratus lima puluh ribu rupiah masih terlipat rapi dengan karet gelang yang sama, karena aku belum tahu harus kuapakan uang itu. Aku tidak butuh uang itu. Uang itu tidak cukup untuk membayar satu tas yang kupakai.
Di dalam bengkel, Pak Gondo sedang menelepon seseorang. Suaranya tidak sekeras biasanya. Ia tidak bercanda. Ia tidak menyapaku dengan Neng Shella dan lelucon tentang Presiden saat aku datang tadi. Ia hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam.
Dan sesekali, dari balik pintu, aku melihatnya menatap punggung laki-laki itu. Lama. Dengan wajah orang tua yang tidak ingin mempercayai sesuatu, tapi tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ini yang kuinginkan. Retakan di antara mereka. Kepercayaan yang mulai berkarat.
Aku memegang tali tas jinjingku begitu erat sampai jariku sakit.
Malam itu Kinan les persiapan ujian sampai jam sembilan di bimbel dekat stasiun, dan laki-laki itu memasak untukku di kontrakan.
Itu ideku. Aku bilang aku ingin makan masakannya. Aku bilang aku ingin tahu apakah benar masakannya seperti orang yang sedang ujian.
Ia memasak sayur asem dan tempe goreng dan sambal terasi. Rasanya enak. Sangat enak. Tepat, seimbang, tidak ada yang berlebihan. Kinan benar. Bener semua, tapi tegang. Seperti setiap butir garam sudah dihitung.
Kami makan di tikar dengan kipas angin yang berputar malas di atas lemari. Di luar, gang sunyi. Hanya suara televisi tetangga dan sesekali motor lewat.
Setelah makan, ia mencuci piring di pojok dapur, dan aku duduk di tikar, menatap punggungnya.
Aku sudah memutuskan sejak di mobil tadi. Malam ini. Pacar yang tidak pernah berciuman setelah hampir tiga minggu terlalu lama. Kinan akan mulai curiga. Pak Gondo mungkin sudah curiga. Dan ia sendiri, laki-laki yang tidak mengerti kode ini, tidak akan pernah memulainya duluan.
“Pak Gondo masih marah sama Mas?” tanyaku ke punggungnya.
Ia berhenti membilas sebentar.
“Bapak nggak marah,” katanya. “Bapak sedih. Itu lebih susah.”
“Kenapa lebih susah?”
“Kalau marah, nanti reda.” Ia meletakkan piring terakhir di rak. “Kalau sedih, dia mikir terus. Dia mikir dia salah nilai orang.”
Aku menatap punggungnya. Ia bicara tentang Pak Gondo. Tapi entah kenapa, rasanya ia sedang bicara tentang sesuatu yang lain.
Ia selesai mencuci, mengeringkan tangannya dengan lap, dan berbalik.
Aku sudah berdiri di depannya.
Ia berhenti. Lap masih di tangannya. Matanya turun ke wajahku, dan aku melihatnya mengerti apa yang akan terjadi sedetik sebelum itu terjadi.
Ia tidak bergerak mundur.
Aku berjinjit dan menciumnya.
Ciuman itu pendek. Ringan. Bibirku hanya menyentuh bibirnya, tidak lebih. Bibirnya hangat dan sedikit kering, dan ia sama sekali tidak bergerak. Ia tidak membalas, tidak memelukku, tidak memegang wajahku seperti di film-film. Ia hanya berdiri di sana dengan lap di tangan, diam, seperti seseorang yang menerima sesuatu yang tidak berani ia sentuh.
Tiga detik. Mungkin empat.
Aku menjauhkan wajahku.
Ia menatapku. Matanya gelap dan sangat dalam, dan ada sesuatu di sana yang membuat dadaku sesak. Sesuatu yang terlalu rapuh. Terlalu terbuka.
“Shella,” katanya pelan.
Hanya namaku.
Aku tersenyum. Aku menunduk malu-malu, seperti perempuan yang baru pertama kali mencium laki-laki yang ia sayangi.
“Aku… ke kamar mandi bentar ya, Mas.”
Kamar mandi kontrakan itu sempit, dengan bak air dari semen, gayung plastik hijau, dan wastafel kecil dengan cermin bulat di atasnya. Pintunya dari kayu tipis dengan selot yang sudah rusak; pintu itu hanya bisa ditutup dengan didorong, dan selalu berderit terbuka lagi sedikit.
Aku mendorongnya sampai tertutup. Aku tidak memeriksa apakah ia tetap tertutup.
Aku menyalakan keran wastafel.
Aku mengambil sabun batangan dari tempat sabun, sabun yang sama dengan bau sapu tangan itu, dan menggosokkannya ke bibirku. Keras. Lalu aku membasuh mulutku dengan air. Lalu menggosoknya lagi dengan sabun. Lalu dengan punggung tanganku. Lalu dengan ujung jariku, keras, berulang-ulang, sampai bibirku terasa panas dan perih.
Aku tidak bisa berhenti.
Rasa bibirnya masih ada. Hangat. Kering. Diam. Aku menggosoknya sampai yang tersisa hanya rasa sabun dan rasa perih, dan saat aku mengangkat wajah, bibir di cermin bulat itu merah. Merah menyala. Sedikit bengkak di bagian bawah.
Aku menatap perempuan di cermin.
Matanya berair. Aku tidak tahu kenapa. Pasti karena sabun.
Aku menarik napas dalam-dalam, membasuh wajahku dengan air dingin, merapikan rambutku. Aku mengoleskan lipstik dari tasku untuk menutupi warna bibir yang terlalu merah. Lalu aku menarik pintu kamar mandi.
Pintu itu sudah terbuka sedikit. Sejengkal. Mungkin karena engselnya. Mungkin karena aku tidak mendorongnya cukup keras.
Aku tidak memikirkannya.
Laki-laki itu berdiri di dapur, di tempat yang sama seperti tadi, dengan segelas air putih di tangannya. Ia tidak meminumnya. Ia menatap lantai keramik di depan kakinya.
Saat aku keluar, ia mengangkat wajahnya. Ia menatap bibirku. Sedetik. Lalu kembali ke mataku.
“Minum,” katanya, menyodorkan gelas itu padaku. “Kamu… pasti haus.”
Aku mengambil gelas itu. Airnya dingin, dari kulkas. Aku meminumnya, dan dinginnya menenangkan bibirku yang masih perih.
“Makasih, Mas.”
“Hm.”
Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengambil gelas kosong itu dari tanganku, mencucinya, dan meletakkannya di rak piring. Gerakannya pelan dan hati-hati, seperti biasa.
Tapi tangannya, saat meletakkan gelas itu, tidak benar-benar stabil.
Aku pulang pukul setengah sembilan, sebelum Kinan kembali.
Di mobil, aku tidak mengambil cairan pembersih tangan. Aku tidak perlu. Bibirku masih terasa terbakar.
Di sebuah masjid kecil di pinggir jalan raya Cipayung, aku berhenti. Di teras masjid, di samping rak sandal, ada kotak amal kayu bercat hijau dengan gembok kecil.
Aku mengeluarkan gulungan uang dari saku dalam tasku. Tiga juta dua ratus lima puluh ribu, masih diikat karet gelang yang sama. Aku memasukkannya ke celah kotak itu, lembar demi lembar, sampai habis.
Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Aku tidak butuh uang itu. Aku tidak mau menyimpannya. Aku tidak bisa membuangnya ke tempat sampah.
Saat aku kembali ke mobil, aku melihat secarik kertas kecil tergeletak di jok. Pasti terjatuh dari gulungan uang tadi.
Cicilan Koh Ahong. Minggu ke-3. Rp 3.250.000.
Tulisan tangannya. Huruf-huruf kecil yang tegak dan presisi.
Aku meremas kertas itu dan memasukkannya ke saku jaket. Aku tidak membuangnya.
Di rumah, aku menulis di folder Proyek:
Hari ke-70. Kaleng kosong. Pak Gondo curiga padanya. Dia tidak membela diri. Dia bilang: nanti aku ganti.
Aku menciumnya.
Aku tidak menulis apa-apa lagi. Aku tidak menulis tentang sabun. Tentang bibir di cermin bulat itu. Tentang tangan yang tidak stabil saat meletakkan gelas.
Aku tidak menulis tentang pintu kamar mandi yang terbuka sejengkal.
Karena aku tidak memikirkannya.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok reading
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365