Chapter Seven
Bab 7 — Pagar Seratus Meter
POV: Shella
Pesanan itu datang hari Senin, lewat telepon, dari seorang laki-laki yang memperkenalkan diri sebagai Pak Yusuf dari CV Bangun Lestari.
Aku tahu semua detailnya sebelum Pak Gondo menceritakannya padaku dengan wajah berseri-seri seperti orang yang baru menang undian berhadiah motor.
“Seratus meter, Neng!” katanya Selasa sore, saat aku baru turun dari mobil. Ia bahkan tidak menyapaku dulu. “Seratus meter pagar besi hollow, motif minimalis, buat perumahan baru di Cibubur. Tiga puluh unit rumah! Sepuluh tahun saya buka bengkel, belum pernah dapat pesanan segede ini.”
Ia mengangkat sebuah map plastik bening berisi surat pesanan dengan kop perusahaan berwarna hijau dan stempel yang tampak resmi. Aku melihatnya sekilas. Pak Hadi bekerja dengan baik. Bahkan logo daun di pojok kertasnya terlihat meyakinkan.
“Wah, selamat, Pak,” kataku. “Rezeki.”
“Rezeki Neng Shella juga, nih. Sejak Neng sering ke sini, bengkel jadi rame.” Ia menepuk-nepuk map itu dengan sayang. “Presiden juga jadi rajin bunyi.”
Di sangkarnya, Presiden berbunyi seolah membenarkan.
Laki-laki itu berdiri di belakang Pak Gondo, mengelap tangan dengan kain lap. Ia tidak terlihat sebahagia Pak Gondo. Ia terlihat seperti sedang menghitung.
“DP-nya cuma sepuluh persen, Pak,” katanya.
“Ya namanya juga perusahaan, Ar. Mereka mau lihat hasil dulu. Nanti pelunasan setelah pagar terpasang. Biasa itu.”
“Material buat seratus meter nggak sedikit.”
“Makanya saya ambil dulu di Koh Ahong. Dia kenal saya dua puluh tahun. Bayar belakangan juga boleh.” Pak Gondo menatap laki-laki itu dengan wajah memohon. “Ar. Ini kesempatan. Kalau proyek ini jalan, mereka mau langganan. Masih ada dua perumahan lagi yang mau dibangun.”
Laki-laki itu diam. Lalu ia mengangguk.
“Saya kerjain, Pak.”
Ia mengerjakannya selama sembilan hari.
Bengkel itu berubah menjadi hutan besi. Batang-batang hollow bertumpuk dari halaman sampai ke pinggir jalan. Mesin gerinda menjerit dari pagi sampai malam. Pak Gondo memanggil dua keponakannya dari Bogor untuk membantu mengecat, dan keduanya lebih banyak mengobrol daripada mengecat.
Laki-laki itu bekerja dari subuh sampai lewat tengah malam. Ia tidur di bengkel, di atas kardus bekas yang ia bentangkan di dekat kulkas Pak Gondo. Kinan mengantarkan makanan setiap sore dengan wajah cemberut dan omelan yang sama setiap hari.
“Kakak kerja kayak romusha,” katanya padaku saat kami berpapasan di depan bengkel hari keempat. “Itu bahasa sejarah. Artinya kerja paksa. Pak Gondo itu Jepangnya.”
“Saya dengar itu,” teriak Pak Gondo dari dalam.
“Bagus. Biar sadar.”
Aku datang setiap malam selama sembilan hari itu.
Aku membawa makanan. Nasi goreng, sate, bakmi. Aku duduk di bangku kayu dan menemaninya bekerja sampai jam sebelas, kadang jam dua belas. Aku bilang pada Mama aku jaga malam. Aku bilang pada Mitha aku capek dan mau tidur cepat. Aku tidak bilang pada siapa pun bahwa aku menghabiskan malam-malamku di bengkel las, menonton laki-laki yang membunuh ayahku bekerja keras untuk pesanan yang tidak pernah ada.
Ia tidak pernah memintaku pulang. Tapi setiap jam sepuluh, ia akan berhenti sebentar, mengangkat topeng lasnya, dan berkata, “Udah malam.”
Dan setiap jam sepuluh aku menjawab, “Sebentar lagi.”
Lalu ia akan menurunkan topengnya dan melanjutkan, dan sesekali, di sela-sela bunga api, aku melihatnya melirik ke arahku. Memastikan aku masih di sana. Memastikan aku belum tertidur di bangku dan masuk angin.
Malam kelima, saat ia berhenti untuk minum, ia bertanya tanpa menoleh.
“Kenapa kamu ke sini tiap malam?”
Aku sudah menyiapkan jawabannya.
“Biar Mas nggak sendirian.”
Ia meneguk airnya pelan. Lalu ia menatap rangka pagar di depannya, yang las-lasannya masih berasap tipis.
“Aku udah biasa sendirian,” katanya.
“Sejak kapan?”
Ia diam cukup lama. Bunyi radio dari warung sebelah sudah lama mati. Yang tersisa hanya bunyi jangkrik dan desis gerinda dari kejauhan.
“Sejak Bapak sama Ibu meninggal,” katanya akhirnya. “Kinan masih tujuh tahun. Aku sembilan belas. Habis itu nggak sempat lagi mikirin sendirian atau nggak.”
Ia mengatakannya tanpa nada apa pun. Seperti menyebutkan ukuran pagar.
Aku tidak menjawab. Aku menunduk menatap bungkus nasi goreng di pangkuanku, dan entah kenapa, aku tidak sanggup menghabiskannya malam itu.
Malam ketujuh, aku memang tertidur.
Aku terbangun karena sesuatu yang berat dan hangat menyelimuti bahuku. Jaket. Jaket parasut hitam yang bau besi dan sabun. Laki-laki itu berdiri beberapa langkah dariku, membelakangiku, kembali ke rangka pagarnya.
Aku tidak bergerak. Aku pura-pura masih tidur.
Aku berbaring di sana dengan mata terpejam, dengan jaket pembunuh ayahku menyelimuti tubuhku, dan aku merasakan sesuatu yang membuatku ingin muntah. Bukan karena jaketnya. Karena kehangatannya. Karena tubuhku, yang kedinginan, tidak peduli siapa pemilik jaket itu dan hanya ingin meringkuk lebih dalam.
Aku membenci tubuhku malam itu.
Hari kesembilan, pagar terakhir selesai dicat.
Seratus meter pagar besi hollow motif minimalis berwarna abu-abu antrasit berjajar di halaman bengkel dan di sepanjang trotoar, bersandar di dinding, di tiang listrik, di pohon jambu. Pak Gondo berdiri di tengahnya dengan tangan di pinggang, seperti jenderal yang memeriksa pasukannya.
“Bagus banget, Ar,” katanya dengan suara serak. “Ini pagar paling bagus yang pernah keluar dari bengkel ini.”
Laki-laki itu berdiri di sampingnya. Matanya merah karena kurang tidur, dan ada luka kecil baru di jarinya yang dibalut plester.
Pak Gondo mengeluarkan ponselnya dan menelepon Pak Yusuf. Ia menyalakan pengeras suara, karena ia ingin semua orang mendengar kabar bahagia ini.
Telepon tersambung. Nada tunggu.
Lalu suara perempuan yang datar dan tidak bernyawa.
Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Silakan coba beberapa saat lagi.
Pak Gondo tertawa kecil. “Sinyal kali.”
Ia menelepon lagi. Suara yang sama.
Ia menelepon nomor kantor yang tertera di kop surat. Nomor itu tidak terdaftar.
Ia membuka Google Maps dan mengetik alamat kantor CV Bangun Lestari. Alamatnya mengarah ke sebuah ruko kosong di Cibubur dengan tulisan DIJUAL di pintunya.
Ia mengetik nama perumahan tempat pagar-pagar itu seharusnya dipasang. Tidak ada hasil.
Perlahan, warna di wajah Pak Gondo berubah. Dari merah bahagia menjadi cokelat, lalu menjadi kelabu, seperti besi yang belum dicat.
“Ar,” katanya pelan. “Ar, ini gimana?”
Laki-laki itu tidak langsung menjawab. Ia mengambil map plastik berisi surat pesanan dari tangan Pak Gondo dan membacanya. Lama. Ia membaca kop suratnya, stempelnya, tanda tangannya, seolah sedang memeriksa gambar struktur yang mencurigakan. Matanya berhenti di satu titik di kertas itu dan tinggal di sana cukup lama.
Aku tidak tahu apa yang ia lihat.
Lalu ia menutup map itu.
“Berapa utang ke Koh Ahong, Pak?” tanyanya.
Pak Gondo menelan ludah. “Delapan belas juta. Sama ongkos keponakan.”
Delapan belas juta. Aku tahu angka itu. Aku sendiri yang menghitungnya bersama Pak Hadi, cukup besar untuk melumpuhkan sebuah bengkel kecil, cukup kecil untuk tidak terlihat seperti serangan.
“DP-nya cuma dua juta,” lanjut Pak Gondo dengan suara bergetar. “Ya Allah, Ar. Saya bilang ke Koh Ahong lunas akhir bulan. Saya janji.”
Laki-laki itu meletakkan map itu di atas meja kerja.
“Saya yang bayar, Pak.”
“Hah?”
“Utang ke Koh Ahong. Saya yang bayar. Potong gaji saya tiap bulan.”
“Ar, gaji kamu sebulan cuma—”
“Saya tahu.”
“Itu bakal setahun lebih!”
“Nggak apa-apa.” Suaranya tetap datar. “Saya yang ngerjain. Saya yang harusnya ngecek perusahaannya dulu. Saya yang salah.”
Pak Gondo menatapnya dengan mulut terbuka. Lalu ia duduk di kursi plastiknya, pelan, seperti orang yang lututnya tiba-tiba kehilangan tenaga. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Di sangkarnya, Presiden diam. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenal burung itu, ia tidak berbunyi sama sekali.
Aku menunggu sampai Pak Gondo masuk ke dalam bengkel. Aku menunggu sampai keponakan-keponakannya pulang. Aku menunggu sampai matahari mulai turun dan halaman bengkel hanya berisi kami berdua dan seratus meter pagar yang tidak punya rumah.
Laki-laki itu duduk di tumpukan besi seperti biasa. Ia menatap pagar-pagar itu. Ia tidak marah. Ia tidak menendang apa pun. Ia hanya duduk dan menatap.
Aku mendekat.
“Mas,” kataku pelan.
Ia mengangkat wajah.
Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku sudah memikirkannya sejak pagi. Ini momen yang sempurna. Laki-laki yang baru saja kehilangan sembilan hari kerja dan setahun gaji. Laki-laki yang lelah, yang terluka, yang sendirian.
Aku memeluknya.
Aku melingkarkan tanganku di lehernya dan menarik kepalanya ke bahuku. Ia duduk dan aku berdiri, jadi wajahnya menempel di bawah tulang selangkaku. Tubuhnya menegang di pelukanku, keras, seperti batang besi.
“Aku ikut sedih, Mas,” bisikku di atas rambut cepaknya. “Orang-orang jahat banget. Mas udah kerja keras banget.”
Baunya memenuhi hidungku. Besi, keringat, asap las, sabun batangan. Bau yang sama dengan sapu tangan abu-abu itu.
Ia tidak membalas pelukanku. Tapi ia juga tidak menarik diri. Ia diam di sana, tegang, napasnya pelan dan terkendali. Lalu, setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, aku merasakan sesuatu berubah. Bahunya sedikit turun. Kepalanya sedikit lebih berat di bahuku.
Ia membiarkan dirinya bersandar.
Hanya sedikit. Hanya sebentar.
Dan di atas kepalanya, wajahku tidak tersenyum. Wajahku menatap seratus meter pagar abu-abu antrasit yang bersandar di sepanjang trotoar, dan aku menghitungnya dalam hati, satu demi satu, supaya aku tidak memikirkan kepala yang bersandar di bahuku.
“Aku bisa bantu,” kataku setelah aku melepas pelukan itu. “Utangnya. Aku ada tabungan. Biar aku—”
“Nggak.”
“Mas, aku serius—”
“Nggak, Shella.”
Ia mengatakannya tanpa marah. Tapi dengan cara yang membuat kalimat itu tidak bisa ditawar. Seperti dinding yang tidak bisa didorong.
Aku tahu ia akan menolak. Aku menawarkannya justru karena aku tahu ia akan menolak. Menawarkan uang pada laki-laki yang tidak punya apa-apa, lalu melihatnya menolak karena harga diri, adalah cara lain untuk mengingatkannya bahwa ia tidak punya apa-apa.
Tapi saat ia menolak, ia tidak terlihat terhina. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang menjagaku dari sesuatu.
“Pulang,” katanya. “Udah sore. Kamu jaga besok pagi, kan?”
Aku tidak ingat pernah memberitahunya jadwal jagaku. Mungkin aku pernah. Mungkin aku lupa.
Aku pulang.
Malam itu, Pak Hadi mengirim pesan.
Koh Ahong sudah tahu soal pembatalan. Dia kasih tenggat dua bulan. Bengkel itu tidak akan kuat lama. — H
Aku membalasnya dengan satu kata.
Bagus.
Lalu aku membuka folder Proyek.
Hari ke-41. Pagarnya selesai. Pesanannya hilang. Utang 18 juta. Dia bilang dia yang bayar. Dia bilang dia yang salah.
Aku berhenti.
Dia yang salah.
Aku menatap kalimat itu lama. Itu persis kalimat yang ia ucapkan di ruang sidang tiga tahun lalu. Semua kesalahan ada pada saya. Ia mengucapkannya lagi hari ini, untuk sesuatu yang sama sekali bukan salahnya. Untuk sesuatu yang aku lakukan.
Apakah ia selalu begitu? Mengambil kesalahan yang disodorkan padanya, tanpa memeriksa siapa pemiliknya?
Pikiran itu muncul, dan aku langsung mematikannya, seperti mematikan alarm di tengah malam.
Bukan. Gedung itu berbeda. Gedung itu memang salahnya. Ia mengakuinya di depan hakim. Ia dihukum. Semua dokumen mengatakannya.
Aku menutup ponsel.
Di kursi meja rias, jaket parasut hitam itu masih tergantung. Aku lupa mengembalikannya malam ketujuh, dan ia tidak pernah memintanya kembali.
Aku menatap jaket itu dari tempat tidur sampai mataku terlalu berat untuk tetap terbuka.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter reading
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365