Chapter Forty Two
Bab 42 — Tetangga
POV: Shella
Sambal itu kutitipkan pada Mak Ijah hari Senin pagi, di toples kaca bekas selai yang kucuci bersih.
“Dari Pak Gondo,” kataku. “Bilang dari Pak Gondo, Mak. Panen kedua.”
Mak Ijah menatap toples itu, lalu menatapku dengan mata menyipit.
“Neng yang bikin?”
“Saya yang ngulek. Cabainya dari Pak Gondo. Resepnya dari Pak Gondo. Dia telepon tadi malam, ngajarin lewat video call. Bawang merahnya harus digoreng dulu. Terasinya dibakar.”
Mak Ijah membuka tutup toples dan mencium baunya. Wajahnya berubah. Seperti orang yang mencium bau masakan ibunya sendiri.
“Ini enak, Neng,” katanya. “Ini sambel orang tua.”
“Pak Gondo yang bilang ulek pakai tangan kiri. Biar sabar.”
Mak Ijah menutup toples itu dan menatapku lebih lama.
“Neng kidal?”
“Nggak, Mak.”
“Terus kenapa pakai tangan kiri?”
“Biar sabar,” ulangku. “Kata Pak Gondo.”
Mak Ijah tertawa kecil. Lalu ia meletakkan toples itu di rak di balik etalase gorengan, di tempat yang terlihat dari jalan.
Pukul tujuh lewat lima belas, Arya lewat dari arah mess. Lewat jalan depan. Seperti hampir setiap hari sejak minggu lalu.
Mak Ijah memanggilnya. Aku tidak mendengar apa yang ia katakan. Aku duduk di balik meja periksa puskesmas, tiga ratus meter dari sana.
Tapi sore itu, Mak Ijah menceritakannya padaku.
“Dia ambil,” katanya. “Toplesnya. Dia liat lama. Terus dia tanya, ini beneran dari Bapak, Mak? Mak bilang iya. Cabainya dari Pak Gondo, Ciawi, panen kedua.”
“Terus?”
“Terus dia buka. Dia cium. Terus dia bilang…” Mak Ijah berhenti. “Dia bilang, bawang merahnya digoreng dulu. Terasinya dibakar. Ini sambel Bapak.”
Aku menatap gelas kopiku.
“Terus dia bawa ke proyek, Neng,” kata Mak Ijah. “Toplesnya. Dia bawa.”
Hari Sabtu, aku pergi ke Cipayung.
Gang hijau itu masih sama. Sempit. Lembap. Tiang listrik dengan kabel-kabel yang kusut. Papan pengumuman kayu dengan kaca yang buram di mulut gang. Satu lampu jalan di tengah gang yang masih berkedip.
Aku berdiri di depan papan pengumuman itu.
Di baliknya, di antara jadwal posyandu, pengumuman kerja bakti, dan brosur sedot WC, tidak ada lagi kertas A4 itu. Ia sudah melepasnya. Di bawah gerimis. Melipatnya dua kali. Menyimpannya di laci.
Sekarang kertas itu ada di koperku di Pelabuhanratu. Kinan memberikannya padaku lewat Mitha, bersama barang-barang lain dari kamar kos di atas laundry.
Aku membuka tasku dan mengeluarkan selembar kertas lain. A4 juga. Diketik. Tidak ada foto. Tidak ada judul berita.
Aku membuka pintu kaca papan pengumuman itu. Masih tidak dikunci.
Aku menempelkan kertas itu di tempat kertas yang dulu. Dengan selotip. Di empat sudut.
Kepada warga RT 04 dan RT 05.
Beberapa bulan lalu, di papan ini ditempel kertas berisi berita tentang Saudara Arya Mahesa, dengan tulisan tangan: HATI-HATI. JAGA ANAK-ANAK KALIAN.
Saya yang menyuruh orang menempelnya. Saya juga yang menyebarkannya ke grup WhatsApp RT.
Saudara Arya tidak bersalah atas runtuhnya ruko di Bekasi. Pelakunya ayah saya. Ini sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya dan sedang diproses.
Saudara Arya tinggal di gang ini dengan adiknya, Kinan Mahesa, selama hampir lima bulan. Ia memperbaiki sandal anak-anak yang putus, mengganti bohlam lampu jalan tiga kali dengan uangnya sendiri, dan tidak pernah sekali pun menyakiti siapa pun.
Saya minta maaf kepada warga karena telah membuat kalian takut pada orang yang tidak pantas ditakuti.
Saya minta maaf kepada Saudara Arya dan Kinan, walaupun saya tahu permintaan maaf ini tidak cukup.
Shella Florentina Wijaya.
Aku menutup pintu kaca papan itu.
Di belakangku, seseorang berdehem.
Seorang ibu berdiri di teras warung di samping gang. Ibu yang sama yang dulu menarik anak laki-laki kecilnya masuk ke rumah dengan keras sampai anak itu mengaduh, saat Arya berjalan di bawah gerimis dengan kertas terlipat di saku kemeja.
Ia menatapku. Ia menatap kertas di papan pengumuman.
“Kamu yang di TikTok,” katanya.
“Iya, Bu.”
Ia berjalan mendekat dan membaca kertas itu dari balik kaca yang buram. Bibirnya bergerak pelan mengikuti kalimat-kalimatnya.
Lalu ia menatapku lagi.
“Kamu yang bikin dia pergi,” katanya.
“Iya, Bu.”
“Bohlam itu,” katanya, menunjuk lampu jalan yang berkedip di tengah gang. “Itu dia yang ganti. Tiga kali. Saya liat. Dia naik tangga sendiri jam sepuluh malem. Pak RT nggak pernah mau ganti, katanya nunggu anggaran.”
Aku menatap lampu jalan itu.
Lampu jalan di ujung gang berkedip, seperti biasa. Kabelnya longgar. Aku sudah tiga kali bilang ke Pak RT.
Ia menulisnya di buku cokelat, di catatan malam ulang tahunnya. Aku membacanya di lantai kamarku di Pondok Indah, malam itu, sampai subuh.
“Sejak dia pergi, nggak ada yang ganti,” kata ibu itu. “Kedip-kedip terus. Kemarin mati.”
Ia menatapku dengan mata yang tidak bisa kubaca.
“Anak saya,” katanya. “Yang dulu saya tarik masuk rumah. Dia nanya terus. Bu, om yang benerin sandal aku ke mana? Saya nggak bisa jawab.” Suaranya mengeras. “Saya bilang ke anak saya, om itu orang jahat. Om itu pembunuh. Jangan deket-deket. Gara-gara kertas yang kamu tempel.”
“Iya, Bu.”
“Saya bohongin anak saya sendiri gara-gara kamu.”
Aku tidak menjawab.
Pintu rumah di sebelah warung terbuka. Seorang bapak keluar dengan kaus singlet dan sarung. Lalu pintu lain. Lalu pintu lain lagi.
Orang-orang mulai keluar dari rumah-rumah petak di sepanjang gang. Bu Darsih yang atapnya bocor. Pak Rahmat yang pintunya copot. Dua remaja laki-laki yang berhenti memperbaiki motor. Seorang nenek dengan kerudung yang dipakai asal.
Mereka berdiri di sekitar papan pengumuman dan membaca kertas itu.
Lalu mereka menatapku.
“Kamu tahu nggak,” kata Pak Rahmat, laki-laki tua bertubuh kurus dengan suara serak perokok, “kita semua di sini udah kayak orang jahat? Gara-gara kamu?”
“Iya, Pak.”
“Kita ngusir dia. Pelan-pelan. Kita nggak ngajak dia ngomong. Kita nggak bales salam dia. Kita bisik-bisik di belakang dia. Kita biarin anak-anak kita ngeledek adiknya.” Pak Rahmat menunjuk papan itu dengan jari yang gemetar. “Terus sekarang kamu bilang dia nggak salah? Terus kita gimana? Kita yang salah sekarang?”
“Bukan Bapak yang salah. Saya.”
“Gampang ngomong!” Bu Darsih maju selangkah. Perempuan bertubuh besar dengan daster bunga-bunga. “Gampang kamu dateng sekarang, nempel kertas, minta maaf! Kita yang tiap hari liat dia lewat gang! Kita yang tiap hari mikir, ini pembunuh tinggal di sebelah! Kita takut, Mbak! Kita takut beneran! Anak-anak kita nggak boleh main di luar!”
“Saya tahu, Bu.”
“Kamu nggak tahu!” teriak Bu Darsih. “Kamu tinggal di rumah gede! Kamu nggak tahu rasanya takut di gang sempit begini!”
Aku tidak membela diri.
Aku berdiri di depan papan pengumuman itu dan membiarkan mereka berteriak. Satu per satu. Pak Rahmat. Bu Darsih. Ibu pemilik warung. Remaja-remaja laki-laki itu, yang memaki dengan kata-kata yang tidak pernah kudengar di Pondok Indah. Nenek dengan kerudung asal-asalan, yang tidak berteriak, hanya menggeleng-geleng dan bergumam ya Allah, ya Allah berulang-ulang.
Aku membiarkan mereka.
Seperti ia membiarkanku.
Di lahan bekas ruko. Saat aku berteriak dan menyebutkan semua yang kulakukan dan menyumpahinya dan meludahinya. Ia berdiri di sana dan mendengarkan semuanya. Ia tidak membela diri. Ia tidak memotong. Ia menunggu sampai aku selesai.
Aku menunggu sampai mereka selesai.
Mereka tidak selesai dengan kata-kata.
Salah satu remaja laki-laki itu, yang paling muda, mungkin lima belas tahun, berlari ke dalam rumahnya. Ia keluar lagi membawa ember plastik hitam berisi air. Air bekas cucian, keruh, berbau sabun dan tanah.
“Riko, jangan!” teriak ibunya dari pintu.
Riko tidak mendengar. Atau tidak mau mendengar.
Ia menyiramkan air itu ke arahku.
Air dingin menghantam wajahku, rambutku, kemejaku. Bau sabun murah. Bau tanah. Sesuatu yang licin di pipiku, sisa busa deterjen. Air mengalir dari rambutku ke leher, ke punggung, menetes ke tanah gang yang becek.
Gang itu hening.
Semua orang menatapku. Menatap Riko dengan ember kosong di tangannya. Menatap ibu Riko yang menutup mulutnya dengan tangan.
Aku tidak bergerak.
Aku tidak mengusap wajahku. Aku tidak menyeka busa dari pipiku. Aku hanya berdiri di sana, basah kuyup, dengan air yang menetes dari ujung rambutku, dan menatap Riko.
Ia lima belas tahun. Ia mungkin teman dari anak-anak yang dulu ditegur ibu-ibunya karena bermain terlalu dekat dengan rumah petak paling ujung. Ia mungkin pernah melihat Arya naik tangga jam sepuluh malam mengganti bohlam lampu jalan.
Ia menatapku dengan wajah yang berubah dari marah, ke kaget, ke takut.
“Mbak…” katanya. Suaranya kecil sekarang. “Mbak nggak marah?”
“Nggak,” kataku.
“Kenapa?”
Aku menatapnya.
“Karena dia juga nggak marah,” kataku. “Waktu saya ludahin dia.”
Riko menatapku lama. Lalu ia menjatuhkan ember itu ke tanah. Ember plastik hitam itu menggelinding dan berhenti di dekat kakiku.
Ia berbalik dan lari masuk ke rumahnya.
Satu per satu, orang-orang itu pergi. Masuk ke rumah. Menutup pintu.
Tidak ada yang memaafkanku. Tidak ada yang bilang udah, nggak apa-apa. Mereka hanya pergi, karena tidak ada lagi yang bisa dikatakan, dan karena perempuan basah kuyup yang tidak membela diri ternyata tidak menyenangkan untuk dimarahi.
Hanya ibu pemilik warung yang tetap di sana.
Ia menatapku dari teras warungnya. Lama. Lalu ia masuk ke dalam dan keluar lagi membawa handuk kecil bergaris-garis yang sudah pudar.
Ia menyodorkannya padaku.
Aku menatap handuk itu.
Sapu tangan abu-abu. Disodorkan tanpa kata, di makam San Diego Hills.
“Lap,” kata ibu itu. “Nanti masuk angin.”
Aku mengambil handuk itu. Aku mengelap wajahku. Rambutku.
Ibu itu tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya berdiri di teras warungnya dan menatap kertas di papan pengumuman.
“Saya nggak maafin kamu,” katanya akhirnya.
“Saya ngerti, Bu.”
“Tapi saya bakal bilang ke anak saya,” katanya pelan. “Om yang benerin sandal itu bukan orang jahat. Om itu orang baik. Saya yang salah ngomong.”
Ia menatapku.
“Itu buat dia,” katanya. “Bukan buat kamu.”
“Iya, Bu.”
Ia masuk ke warung. Aku mengembalikan handuk itu di atas meja etalase gorengan.
Lalu, sebelum pergi, aku berjalan ke tengah gang. Ke tiang listrik dengan satu lampu jalan yang sekarang mati.
Aku mendongak dan menatap bohlam itu.
Aku tidak tahu cara mengganti bohlam lampu jalan. Aku tidak punya tangga. Aku tidak tahu di mana kabelnya longgar.
Tapi aku tahu siapa yang tahu.
Aku memotret lampu itu dengan ponselku. Aku memotret kabelnya. Aku memotret kotak sambungan di tiang listrik.
Di travel pulang, dengan kemeja yang masih lembap dan rambut yang bau sabun murah, aku membuka buku cokelat.
Hari ke-131. Gang hijau. Papan pengumuman.
Aku tempel kertas baru. Di tempat yang sama.
Pak Rahmat. Bu Darsih. Ibu warung. Riko, lima belas tahun. Mereka berteriak. Aku tidak membela diri.
Riko menyiramku dengan air cucian. Aku tidak mengusap wajahku.
Dia tanya kenapa aku tidak marah. Aku bilang: karena dia juga tidak marah.
Ibu warung kasih handuk. Dia bilang dia akan bilang ke anaknya: om yang benerin sandal itu orang baik.
Itu buat dia. Bukan buat aku.
Aku menatap tulisan itu. Lalu aku membuka galeri ponsel dan menatap foto lampu jalan yang mati.
Lampu jalan di tengah gang mati. Dia ganti bohlamnya tiga kali dengan uangnya sendiri. Sejak dia pergi, tidak ada yang ganti.
Aku tidak tahu cara menggantinya.
Aku akan belajar.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga reading
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365