Chapter Twenty Two
Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
POV: Arya
Aku naik angkot dari pertigaan di depan dealer motor.
Angkot itu kosong kecuali seorang ibu dengan karung berisi kangkung dan seorang anak SD yang tertidur dengan seragam olahraga. Aku duduk di bangku paling belakang, di pojok, dekat jendela yang kacanya retak.
Ibu itu menatapku. Menatap pipiku.
Aku menyentuhnya. Masih lembap. Sapu tangan tidak bisa mengangkat semuanya.
Aku tidak mengelapnya lagi. Aku membiarkannya mengering sendiri, dibawa angin dari jendela yang retak.
Di saku kemejaku, sapu tangan abu-abu itu terlipat rapi. Aku memberikannya padanya di makam, di hari keempat. Aku tidak mengira akan melihatnya lagi. Aku mengira ia sudah membuangnya di tempat sampah pertama yang ia temui.
Ia menyimpannya. Seratus delapan puluh tiga hari. Di saku dalam tasnya, di samping kunci mobil dan meteran pita kuningan milik ayahnya.
Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan fakta itu.
Jadi aku menyimpannya juga.
Aku tahu sejak hari pertama.
Bukan sejak hari ketiga, atau hari kesepuluh, atau saat kaleng biskuit itu kosong. Sejak hari pertama. Sejak ia berdiri di halaman bengkel Pak Gondo dengan blus krem dan flat shoes, dan berkata, Ayah pasti ingin aku memaafkan Mas.
Aku tahu karena aku pernah melihat mata itu sebelumnya.
Di ruang sidang. Sidang ketiga. Saat aku berdiri di depan hakim dan berkata semua kesalahan ada padaku, dan seorang perempuan berbaju hitam di barisan depan berdiri dan berteriak pembunuh. Aku berbalik. Aku menatapnya. Aku tidak menunduk, karena aku pikir setidaknya ia berhak melihat wajah orang yang ia benci tanpa terhalang apa pun.
Matanya waktu itu. Aku tidak pernah lupa.
Tiga tahun kemudian, di halaman bengkel, ia tersenyum padaku. Senyum kecil, ragu-ragu, senyum perempuan yang datang dengan niat baik. Mulutnya bilang aku maafin Mas.
Matanya masih sama dengan mata di ruang sidang.
Aku menatap matanya lama sekali waktu itu. Terlalu lama. Aku ingin memastikan aku tidak salah. Aku tidak salah.
Di warung kopi, saat ia bertanya nama adikku, aku mengeluarkan buku cokelat dari saku dan menulis.
Hari ke-1. Dia bilang memaafkanku. Matanya tidak.
Ia bertanya aku menulis apa. Aku bilang ukuran pagar.
Itu kebohongan pertamaku padanya.
Buku cokelat itu kubeli di koperasi lapas, bulan ketiga. Harganya tiga ribu rupiah. Aku membelinya untuk mencatat hal-hal yang tidak boleh kulupakan. Tanggal transfer. Nomor rekening dua keluarga di Bekasi. Tanggal ulang tahun Kinan. Jadwal kunjungan.
Setelah hari itu, buku itu berubah fungsi.
Aku mencatat semuanya. Bukan karena aku ingin membuktikan sesuatu. Aku tidak berencana menunjukkannya pada siapa pun. Aku mencatatnya karena aku insinyur, dan insinyur mencatat beban. Kalau tidak dicatat, kau tidak tahu kapan struktur akan gagal.
Hari ke-4. Makam. Dia menangis. Yang ini sungguhan, kurasa. Dia tidak tahu harus ke mana dengan air matanya. Aku tidak bisa memberinya apa-apa selain sapu tangan.
Hari ke-18. Kopi manis lagi. Dua pompa gula aren. Dia ingat aku tidak suka manis. Dia ingat dari hari pertama. Orang tidak lupa sesuatu yang sengaja ia ingat.
Aku meminumnya sampai habis. Setiap kali.
Bukan karena aku tidak tahu. Karena aku tahu. Karena itu yang ia inginkan, dan itu hal kecil, dan kalau hal kecil itu bisa membuatnya merasa sedikit lebih baik, aku bisa minum kopi manis seumur hidup.
Hari ke-25. Kertas di papan RT. Ditulis tangan di bawahnya, spidol. Bukan tulisan dia. Tapi dia datang hari Jumat, menawarkan antar pulang padahal biasanya tidak, dan berhenti tepat di depan papan itu. Dia ingin melihat aku membacanya.
Aku simpan kertasnya. Separuh kalimatnya benar.
Separuh kalimatnya benar.
Aku tidak salah menghitung. Itu bagian yang tidak benar.
Tapi tiga orang mati. Dan aku tahu dua hari sebelumnya. Itu bagian yang benar.
Aku menemukannya hari Senin. Dua hari sebelum gedung itu runtuh. Aku sedang memeriksa sambungan balok lantai dua dan melihat besi tulangan yang terlalu kecil. Bukan enam belas milimeter seperti di gambar. Tiga belas. Aku mengukurnya tiga kali dengan jangka sorong. Tiga belas.
Aku memeriksa kolom. Sama. Aku memeriksa catatan pengiriman material. Angka-angkanya tidak cocok dengan yang terpasang. Aku memeriksa sisa semen di gudang. Kurang. Terlalu banyak yang kurang.
Mang Udin, tukang besi yang sudah dua puluh tahun bersama Pak Hendra, tidak bisa menatapku saat aku bertanya.
Aku pergi ke kantor Pak Hendra sore itu.
Ia duduk di balik meja dengan pulpen tinta biru di saku kemeja dan wajah yang lebih tua dari biasanya. Ia tidak menyangkal. Ia hanya diam lama, lalu menunjukkan padaku laporan keuangan perusahaan. Utang ke bank. Utang ke pemasok. Proyek-proyek yang belum dibayar pemiliknya. Wijaya Konstruksi sudah setahun berjalan dengan napas yang tinggal setengah, dan tidak ada yang tahu kecuali dia.
Sedikit saja, Ar, katanya. Supaya bisa bayar gaji tukang bulan ini. Supaya istri saya nggak tahu. Supaya Shella tetap bisa kuliah. Dia mau jadi dokter. Saya janji lihat dia pakai jas putih.
Aku bilang semuanya harus dibongkar. Dicor ulang. Hari itu juga.
Ia setuju. Ia memohon satu hal. Seminggu. Beri ia seminggu untuk mencari uang supaya pembongkaran tidak membuat perusahaan langsung tumbang. Seminggu, lalu ia akan membongkar semuanya sendiri, dan ia akan membereskan Mang Udin, dan tidak akan pernah melakukannya lagi.
Aku setuju.
Aku setuju karena ia yang membiayai sekolah adikku sejak SMP. Karena ia yang menerimaku bekerja setelah lulus, saat aku tidak punya siapa-siapa. Karena ia yang datang ke pemakaman ibuku dan memegang bahuku dan bilang, kamu nggak sendiri, Ar.
Aku setuju untuk menunggu seminggu.
Gedung itu runtuh dua hari kemudian.
Aku ada di sana saat itu terjadi. Lantai satu, bagian barat, memeriksa instalasi pipa. Pak Hendra di lantai dua, bagian timur. Ia datang pagi itu untuk melihat sendiri. Untuk menghitung berapa yang harus dibongkar.
Bunyi pertama seperti petir di dalam ruangan. Lalu semuanya bergerak.
Aku tidak ingat bagaimana aku keluar. Aku ingat menggali dengan tangan. Aku ingat berteriak memanggil nama Pak Sarip dan Pak Waluyo, yang sedang memasang bata ringan di lantai dua. Tidak ada yang menjawab.
Aku ingat menemukan Pak Hendra. Di titik itu. Di dekat fondasi timur.
Ia masih sadar saat aku dan tim SAR menariknya keluar. Ia masih sadar di ambulans. Tangannya mencengkeram lenganku begitu keras sampai kukunya meninggalkan bekas di kulitku.
Ar, katanya. Suaranya tinggal setengah. Ada darah di sudut bibirnya. Ar. Perusahaan. Kalau ketahuan… semua disita. Istri saya. Shella. Mereka nggak tahu apa-apa.
Aku bilang jangan bicara dulu, Pak.
Jangan sampai Shella tahu, katanya. Jangan sampai dia tahu ayahnya yang…
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Ambulans itu masih tiga kilometer dari rumah sakit.
Aku mengaku di sidang.
Bukan karena ia memintaku secara langsung. Ia tidak sempat meminta apa-apa. Aku mengaku karena aku menghitungnya, seperti menghitung beban.
Kalau aku bilang yang sebenarnya, perusahaan digugat. Aset disita. Istri dan anaknya kehilangan rumah. Anaknya berhenti kuliah. Dan nama yang terukir dengan huruf emas di nisan itu jadi nama seorang koruptor yang membunuh tiga orang demi uang semen.
Kalau aku mengaku, aku dipenjara dua tahun. Asuransi membayar. Perusahaan selamat. Anaknya tetap kuliah. Anaknya tetap bisa pakai jas putih. Dan ia bisa membenci seseorang yang hidup, bukan mencintai seseorang yang mati dan sekaligus tahu siapa sebenarnya ayahnya.
Dan tiga orang tetap mati. Karena aku menunggu dua hari. Karena aku setuju.
Itu bagian yang benar. Itu bagian yang aku pantas dihukum.
Aku tidak salah menghitung beban struktur. Aku salah menghitung beban utang budi.
Hari ke-41. Pagar seratus meter. Map plastik bening surat pesanannya ada stiker kecil di pojok bawah. Toko alat tulis di Pondok Indah. Aku tidak tahu ada perusahaan konstruksi Cibubur yang beli map di Pondok Indah.
Aku yang bayar Koh Ahong. Ini bukan salah Pak Gondo.
Hari ke-53. Dia minta jadi pacarnya. Aku diam lama. Aku tahu ini bagian dari rencananya. Aku bilang iya.
Dia bilang sayang. Aku bilang aku tahu. Itu satu-satunya jawaban jujur yang bisa kuberikan.
Aku memang tahu.
Aku tahu ia tidak sayang padaku. Aku tahu setiap pelukan adalah pertunjukan. Tapi aku juga tahu kenapa ia melakukannya. Karena ia kehilangan ayahnya. Karena ia membutuhkan seseorang untuk dibenci, dan orang itu harus hidup, harus bisa merasakan sakit, harus bisa dihukum. Kebenciannya butuh alamat.
Kalau ia tahu yang sebenarnya, kebenciannya tidak punya alamat lagi. Atau lebih buruk, alamatnya adalah nisan dengan huruf emas di San Diego Hills.
Lebih baik aku. Aku bisa menampungnya.
Dua tahun di penjara mengajariku menampung banyak hal.
Hari ke-70.
Halaman itu yang paling sulit kutulis. Aku menulisnya tiga kali, karena dua kali pertama tanganku tidak stabil dan hurufnya tidak terbaca.
Kaleng kosong. Hari Sabtu hanya dia di bengkel. Bapak curiga padaku. Itu wajar.
Malamnya dia menciumku.
Pintu kamar mandi kontrakan rusak sejak Lebaran. Selotnya patah. Aku belum sempat ganti. Pintunya terbuka sejengkal. Cermin bulat di atas wastafel menghadap ke pintu.
Aku melihatnya.
Dia menggosok bibirnya pakai sabun. Pakai tangan. Lama. Sampai merah.
Aku berdiri di dapur dan mengambil gelas. Aku mengisinya dengan air dingin dari kulkas. Aku memegang gelas itu supaya tanganku punya sesuatu untuk dipegang.
Waktu dia keluar, bibirnya ditutup lipstik. Aku kasih dia air. Supaya bibirnya tidak terlalu perih.
Aku berhenti di halaman itu sekarang, di bangku belakang angkot, dengan jendela yang retak.
Hari ini ia bilang ia menggosok bibirnya sampai merah, sampai bengkak, karena bibirku bibir pembunuh.
Aku sudah tahu. Aku melihatnya di cermin bulat, seratus tujuh belas hari yang lalu.
Tapi mendengarnya dari mulutnya sendiri, dengan suara itu, di tanah itu, berbeda. Seperti beban yang sudah lama dihitung, tapi baru hari ini benar-benar diletakkan.
Hari ke-89. PT Sinar Karya Logam. Akta jual belinya diurus di kantor notaris di lantai 14 sebuah gedung di Sudirman. Gedung yang sama dengan kantor Om Freddy, pengacara keluarga Wijaya. Aku ingat gedung itu dari sidang.
Hari ke-97. Ulang tahun. Dua puluh tiga foto. Dia ambil waktu aku tidak senyum.
Dia dengar jantungnya sendiri pakai stetoskop. Matanya basah. Sebentar. Lalu dia tarik lagi.
Aku tidak tahu jantungnya berdetak untuk apa. Aku harap bukan cuma untuk benci.
Hari ke-106. Dipecat. Aku pakai kemeja dari dia. Aku bohong ke Pak Gondo. Pertama kali aku bohong ke Bapak. Dia tidak perlu tahu bengkelnya dibeli untuk menghukumku.
Hari ke-140. Foto ulang tahun di televisi. Cuma ada di HP dua orang. Kinan tidak akan pernah.
Aku kasih dia alasan. Aku bilang aku sering lupa kunci HP. Dia kelihatan lega.
Hari ke-162. Tempat jilid di Fatmawati buka sampai jam sembilan malam. Aku telepon jam delapan. Mereka bilang tidak pernah ada map plastik yang hilang. Tidak pernah ada pesanan atas nama Shella yang dititip lampiran.
Aku bilang terima kasih dan tutup telepon.
Lampirannya ada di dia. Tidak apa-apa. Kalau itu yang dia butuhkan.
Hari ke-165. Ditolak. Surat keberatan atas nama keluarga salah satu korban. Bu Sarip tidak bisa membaca. Bu Waluyo tidak tahu namaku. Hanya satu keluarga yang tersisa.
Hari ke-174. Beasiswa Kinan. Yayasan Pak Hendra.
Aku tidak menulis apa-apa lagi di bawah catatan itu. Halaman itu hanya berisi satu baris. Sisanya kosong.
Itu satu-satunya hari aku hampir berhenti.
Bukan karena aku marah padanya. Karena Kinan. Karena Kinan tidak berutang apa pun pada siapa pun. Kinan hanya anak tujuh belas tahun yang ingin jadi apoteker supaya kalau ada orang sakit di keluarga, kami tidak bingung lagi soal obat.
Aku hampir menelepon Shella malam itu. Aku hampir bilang, aku tahu. Aku tahu semuanya. Ambil apa saja dariku, tapi jangan Kinan.
Lalu ia mengirim pesan.
Mas, aku demam.
Dan aku menutup ponsel, mengambil jahe dan bawang putih, dan berjongkok di depan kompor di lantai kamar kos.
Aku tidak tahu kenapa. Aku sudah memikirkannya berkali-kali. Aku tidak menemukan hitungan yang membenarkannya.
Mungkin karena tiga puluh delapan koma sembilan derajat terlalu tinggi untuk orang yang tinggal sendirian di rumah sebesar itu, dengan ibunya di Singapura.
Mungkin karena aku sudah jatuh cinta padanya.
Aku tidak tahu sejak kapan. Mungkin sejak malam ia tertawa karena saus tomat di atas nampan plastik. Mungkin sejak ia menangis sungguhan di makam ayahnya dan tidak tahu harus ke mana dengan air matanya. Mungkin sejak ruang sidang, saat ia berdiri dan berteriak dan tidak menunduk, dan aku berpikir, perempuan ini mencintai ayahnya sebesar itu.
Aku tidak mencatatnya di buku. Ada hal-hal yang tidak bisa dicatat.
Angkot berhenti di Kampung Rambutan. Aku turun dan naik angkot lain ke Cipayung.
Di kamar kos, aku melepas kemeja abu-abu muda dan melipatnya. Aku memasukkannya ke ransel, bersama dua kaus, satu celana, sarung, laporan hard cover warna biru tua, dan kunci inggris tua milik Bapak. Kotak perkakas merah terlalu berat. Aku meninggalkannya untuk Kinan.
Aku memasukkan sapu tangan abu-abu ke saku celana. Bersama kertas kusut bertuliskan Cicilan Koh Ahong.
Lalu aku duduk di tikar dan membuka buku cokelat untuk terakhir kalinya.
Hari ke-187.
Aku menatap angka itu.
Aku menulis satu kata.
Sudah.
Lalu aku merobek selembar kertas dari bagian belakang buku itu dan menulis untuk Kinan.
Kinan. Kotak Bapak buat kamu. Kunci inggrisnya Kakak bawa. Kakak pergi dulu. Jangan dicari. Kakak baik-baik saja. Kamu pasti jadi apoteker. Kakak yakin. Buku ini buang aja. Isinya bukan buat siapa-siapa. Maaf.
Aku meletakkan buku cokelat dan secarik kertas itu di atas lantai, di tempat kasur lipat Kinan dulu digelar, di bawah piagam-piagam yang masih tergantung di dinding.
Aku tidak tahu kenapa aku tidak membawanya. Buku itu milikku. Seratus delapan puluh tujuh hari ada di dalamnya.
Mungkin karena aku sudah selesai menghitung.
Aku turun ke laundry. Cik Lani sedang melipat cucian di meja depan.
“Cik,” kataku. “Saya keluar hari ini.”
Ia berhenti melipat. Ia menatap ransel di bahuku. Lalu wajahku. Lalu pipiku, di bawah mata kiri, dekat hidung.
Aku tidak tahu apa yang ia lihat di sana. Tidak ada bekas. Sudah kering.
“Sewa bulan ini sudah saya bayar,” kataku. “Barang-barang di atas, nanti adik saya yang ambil. Kuncinya saya titip.”
Aku meletakkan kunci kamar di atas meja.
Cik Lani menatap kunci itu. Lalu ia menatapku lagi.
“Mau ke mana?”
“Belum tahu, Cik.”
Ia diam lama. Lalu ia berbalik, membuka laci di bawah meja, dan mengeluarkan sesuatu. Amplop putih kecil, bekas amplop kondangan.
“Ini,” katanya, menyodorkannya. “Kembalian sewa. Bulan ini baru tanggal dua belas.”
Aku tahu tidak ada kembalian sewa. Aku membayarnya untuk sebulan penuh, dan Cik Lani tidak pernah mengembalikan uang siapa pun.
“Nggak usah, Cik.”
“Ambil.” Ia mendorong amplop itu ke dadaku. “Orang pergi nggak tahu mau ke mana, harus bawa duit. Itu aturan.”
Aku mengambilnya.
“Makasih, Cik.”
Ia kembali melipat cucian. Ia tidak menatapku lagi.
“Hati-hati,” katanya ke arah tumpukan handuk.
Di Terminal Kampung Rambutan, aku melihat papan jurusan.
Bandung. Garut. Tasikmalaya. Cirebon. Sukabumi.
Aku tidak punya alasan untuk memilih satu dibanding yang lain. Aku hanya ingin pergi ke tempat di mana tidak ada yang mengenal wajahku dari TikTok. Tempat di mana tidak ada gedung yang kuhitung, tidak ada makam dengan huruf emas, tidak ada gang hijau dengan satu lampu jalan yang berkedip.
Seorang kernet bus berteriak di depanku. Sukabumi! Pelabuhan Ratu! Pelabuhan Ratu, terakhir!
Laut, pikirku. Aku belum pernah tinggal di dekat laut.
Aku naik.
Bus itu berangkat pukul tiga sore. Aku duduk di bangku paling belakang, di dekat jendela. Saat bus keluar dari terminal dan masuk ke tol, aku merogoh saku celana dan mengeluarkan sapu tangan abu-abu itu.
Aku tidak membukanya. Aku hanya memegangnya.
Baunya bukan lagi sabun batangan dan besi. Baunya sekarang bau tasnya. Parfum yang samar. Kulit. Sesuatu yang manis, seperti bunga yang tidak kukenal namanya.
Seratus delapan puluh tiga hari di dalam tasnya.
Ia tidak membuangnya.
Aku menyimpan sapu tangan itu kembali ke saku.
Di luar jendela, Jakarta mengecil dan menghilang di balik bukit-bukit hijau. Aku menutup mata.
Untuk pertama kalinya dalam seratus delapan puluh tujuh hari, tidak ada lagi yang perlu kuhitung.
Tidak ada lagi yang bisa diambil dariku.
Aku tertidur sebelum bus melewati Ciawi, tempat Pak Gondo sedang menyiram tanaman cabainya.
Sebelum benar-benar tertidur, aku teringat satu hal. Paket cabai merah itu. Sekilo, lewat travel, dikirim ke alamat bengkel yang sudah bukan bengkelnya.
Aku lupa mengambilnya.
Mungkin paket itu masih menunggu di sana, di depan spanduk vinil putih, dengan nama penerima yang ditulis Pak Gondo besar-besar dengan spidol, seperti biasa, supaya kurir tidak salah.
Aku memejamkan mata lebih rapat dan membiarkan bus membawaku pergi.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama reading
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365