Chapter Thirty
Bab 30 — Pelabuhanratu
POV: Shella
Laut di Pelabuhanratu tidak seperti laut di Anyer.
Laut di Anyer, dalam ingatanku, berwarna hijau tenang, dengan ombak kecil yang menjilat pasir pelan-pelan, dan Ayah yang memegangiku dengan pelampung bebek kuning. Laut di Pelabuhanratu berwarna abu-abu kebiruan, dan ombaknya datang seperti orang yang marah. Tinggi. Keras. Menghantam batu-batu karang di ujung teluk sampai buihnya terbang ke udara.
Aku tiba hari Minggu, enam minggu setelah tanggal sepuluh itu.
Aku menyewa kamar kos di sebuah rumah tua di belakang puskesmas, milik seorang janda pensiunan guru bernama Bu Atin. Kamar itu berukuran tiga kali empat meter, dengan dinding yang dicat hijau muda, kasur busa tipis, lemari kayu yang pintunya tidak bisa ditutup rapat, dan jendela yang menghadap kebun pisang. Kamar mandi di luar, dipakai bersama dua penghuni lain.
Bu Atin menatap koperku, lalu menatapku.
“Dokter dari Jakarta?”
“Iya, Bu.”
“Internsip?”
“Iya.”
“Setahun?”
“Iya.”
Bu Atin mengangguk pelan. “Dokter internsip yang sebelumnya kabur setelah dua bulan. Nggak tahan panas. Nggak tahan sepi.” Ia menyerahkan kunci kamar. “Semoga Dokter tahan.”
Aku menatap kamar tiga kali empat meter itu.
Kamar kos di atas laundry Cik Lani berukuran tiga kali tiga. Ia tidur di lantainya, di atas tikar, dengan adiknya di kasur lipat.
“Saya tahan, Bu,” kataku.
Malam itu Mama menelepon.
“Kamarmu gimana, Shel?”
Aku menatap lemari kayu yang pintunya tidak bisa ditutup rapat, dan seekor cicak yang menempel di dinding hijau muda di atasnya, menatapku dengan wajah tidak terkesan.
“Bagus, Ma.”
“Ada AC?”
“Ada kipas.”
“Kasurnya empuk?”
Aku menekan kasur busa tipis itu dengan telapak tangan. Busanya langsung kempis sampai ke papan di bawahnya.
“Lumayan.”
Mama diam sebentar di ujung telepon.
“Kamu bohong ya,” katanya.
Aku hampir tertawa. Hampir. Itu pertama kalinya dalam berminggu-minggu sesuatu di dadaku bergerak ke arah tawa.
“Iya, Ma. Kasurnya kayak kardus.”
“Mama kirim kasur besok.”
“Jangan, Ma.”
“Kenapa?”
Aku menatap lantai kamar. Ubin abu-abu yang dingin.
“Aku pengin tahu rasanya,” kataku.
Mama tidak bertanya rasanya apa. Ia hanya diam lama, lalu berkata pelan, “Jaga dirimu,” dan menutup telepon.
Tugasku di puskesmas baru dimulai hari Senin minggu depan. Aku punya enam hari.
Aku menggunakan enam hari itu untuk mencarinya.
Kantor BRI Unit Palabuhanratu berada di jalan utama, di antara toko emas dan warung bakso. Teller di sana, seorang perempuan muda berkerudung abu-abu, mendengarkan pertanyaanku dengan sopan, lalu menggeleng.
“Mohon maaf, Bu. Kami tidak bisa memberikan informasi nasabah atau penyetor.”
“Saya cuma mau tahu, apa ada laki-laki yang setor tunai ke dua rekening di Bekasi, tanggal sepuluh. Tinggi. Rambut pendek. Ada bekas luka bakar di tangan kiri.”
Teller itu menatapku sedikit lebih lama.
“Mohon maaf, Bu,” ulangnya.
Tapi saat aku berbalik untuk pergi, ia memanggilku pelan. Suaranya hampir tidak terdengar di antara bunyi mesin penghitung uang.
“Bu.”
Aku menoleh.
“Proyek dermaga,” katanya, tanpa menatapku, sambil merapikan tumpukan slip setoran. “Banyak pekerja dari luar kota di sana.”
Proyek dermaga itu berada di ujung pelabuhan perikanan, di bagian teluk yang menghadap ke barat.
Papan proyek berwarna biru dengan tulisan putih berdiri di pinggir jalan masuk: Pembangunan Perluasan Dermaga Bongkar Muat Ikan. Tahun Anggaran Berjalan. Di baliknya, sebuah lahan luas di pinggir laut yang dipagari seng. Tumpukan batu kali. Gunungan pasir. Besi-besi tulangan yang diikat dalam ikatan-ikatan besar. Tiang pancang beton yang berbaris menjorok ke laut seperti jari-jari raksasa yang mencoba meraih ombak.
Puluhan pekerja bergerak di sana. Memakai kaus lusuh, celana pendek, topi caping atau handuk yang dililit di kepala. Kulit mereka hitam terbakar matahari pesisir. Mereka memanggul karung semen, mendorong gerobak berisi pasir, mengikat besi tulangan dengan kawat.
Aku berdiri di luar pagar seng. Hari kedua. Pukul sepuluh pagi.
Aku mencarinya di antara mereka.
Satu per satu. Setiap punggung. Setiap bahu. Setiap cara berjalan.
Aku tidak menemukannya.
Hari ketiga. Aku kembali. Pukul tujuh pagi, saat para pekerja datang. Aku duduk di warung kopi di seberang jalan, warung kecil beratap terpal biru milik seorang perempuan tua bertubuh gempal yang terus menatapku dengan curiga.
Pukul tujuh lewat lima belas, aku melihatnya.
Ia berjalan dari arah mess pekerja, deretan bangunan papan beratap seng di sisi utara proyek. Ia berjalan sendirian, di belakang rombongan pekerja lain.
Aku mengenali punggungnya sebelum aku melihat wajahnya.
Bahu yang lebar. Cara berjalan yang tidak terburu-buru. Langkah yang terukur, seolah setiap jengkal tanah perlu dihitung sebelum diinjak.
Tapi bahu itu lebih sempit sekarang. Kausnya, kaus abu-abu yang sudah pudar menjadi hampir putih, menggantung longgar di tubuhnya. Ia lebih kurus. Jauh lebih kurus. Rambutnya tidak lagi cepak; sudah tumbuh, berantakan, menutupi tengkuknya. Kulitnya lebih gelap. Hitam kemerahan, terbakar matahari laut selama dua bulan.
Ia berbelok ke arah gerbang proyek, dan aku melihat wajahnya.
Aku berhenti bernapas.
Wajah itu kosong.
Bukan tenang. Aku sudah sering melihat wajahnya yang tenang. Di bengkel. Di atap parkiran. Di halte bus di depan gedung asosiasi. Wajah yang tenang adalah wajah yang menyimpan sesuatu di bawahnya, seperti permukaan danau di pagi hari.
Wajah ini tidak menyimpan apa-apa. Tidak ada danau di bawahnya. Hanya dasar yang kering.
Matanya menatap ke depan. Ke gerbang. Ke tumpukan karung semen. Ke apa pun yang ada di depannya. Tapi ia tidak melihat. Seperti seseorang yang berjalan dalam tidur.
Ia masuk ke proyek. Ia mengambil karung semen pertama dan memanggulnya.
Perempuan tua pemilik warung meletakkan segelas kopi di depanku tanpa kuminta.
“Neng nyari siapa?”
Aku tidak menjawab. Aku menatap punggung yang memanggul karung semen itu, berjalan di atas papan kayu miring, naik ke tiang pancang yang menjorok ke laut.
Perempuan tua itu mengikuti arah pandangku.
“Oh,” katanya. “Si Diem.”
“Si Diem?”
“Anak-anak proyek manggilnya gitu. Nggak pernah ngomong. Nggak pernah ketawa. Nggak pernah ikut ngopi. Kerja dari subuh sampai magrib, terus pulang ke mess, terus tidur. Udah dua bulan.” Ia menatapku dengan mata menyipit. “Neng siapanya?”
Aku menatap kopi di depanku. Kopi hitam dalam gelas kaca. Tanpa gula.
“Saya…” Kata itu tidak punya kelanjutan. “Saya orang yang dia kenal.”
Aku menunggu sampai matahari terbenam.
Aku duduk di warung itu sepanjang hari. Aku memesan kopi tiga kali, nasi rames sekali, gorengan entah berapa. Perempuan tua itu, yang belakangan kutahu namanya Mak Ijah, berhenti menatapku dengan curiga sekitar pukul dua siang, dan mulai menatapku dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan.
Pukul lima lewat empat puluh, sirene proyek berbunyi. Para pekerja berhenti. Mereka mengemas alat, mencuci tangan di keran air di dekat gerbang, lalu berjalan berombongan ke arah mess.
Ia berjalan sendirian. Di belakang. Seperti tadi pagi.
Ia tidak berjalan ke mess. Ia berjalan ke arah lain. Ke ujung dermaga lama, di sebelah lokasi proyek, di mana perahu-perahu nelayan bersandar dan ombak menghantam tiang-tiang kayu yang sudah lapuk.
Aku membayar Mak Ijah dan mengikutinya.
Ia duduk di ujung dermaga lama, di atas papan kayu yang basah, dengan kaki menggantung di atas air. Ia menatap laut. Matahari terbenam di depannya, oranye dan merah dan ungu, memantul di ombak yang abu-abu.
Aku berhenti tiga langkah di belakangnya.
“Arya.”
Bukan Mas. Aku tidak bisa lagi memanggilnya Mas. Kata itu sudah kupakai terlalu lama sebagai pisau.
Ia tidak menoleh.
Tapi bahunya bergerak. Sedikit. Seperti orang yang mendengar namanya dipanggil dari tempat yang sangat jauh.
Lalu, pelan, ia berbalik.
Ia menatapku.
Aku sudah menyiapkan diriku untuk semua kemungkinan. Aku sudah membayangkan wajahnya ratusan kali di perjalanan dari Jakarta. Marah. Terkejut. Benci. Muak. Aku siap untuk semua itu. Aku pantas mendapatkan semua itu.
Ia menatapku seperti menatap angin.
Seperti aku bukan sesuatu yang perlu dilihat. Seperti aku hanya sesuatu yang lewat, yang tidak punya bentuk, yang tidak bisa dipegang.
“Dokter,” katanya.
Datar. Tanpa intonasi.
Bukan Shella. Ia tidak memanggil namaku. Ia memanggilku dengan gelar yang diberikan oleh jas putih yang ia bayar dengan dua tahun hidupnya.
Aku tidak bisa bicara.
Lama kami diam. Ombak menghantam tiang dermaga di bawah kami. Seekor burung camar berteriak di atas.
“Aku udah tahu,” kataku akhirnya. Suaraku tipis, hampir hilang ditelan bunyi ombak. “Semuanya. Mang Udin. Buku Ayah di kotak perkakas. Bu Sarip. Bu Waluyo. Transfer tanggal sepuluh.”
Ia diam.
“Bukumu. Seratus delapan puluh tujuh hari. Kinan kasih ke aku.”
Sesuatu bergerak di matanya. Sekecil butiran pasir. Lalu hilang lagi.
“Kinan baik?” tanyanya.
Hanya itu. Dari semua yang kukatakan, hanya itu yang ia tanyakan.
“Dia sekolah,” kataku. “Dia tinggal di rumah Dita. Dia…” Aku menelan ludah. “Dia benci aku.”
Ia mengangguk sekali.
“Syukur dia sekolah,” katanya.
Lalu ia berbalik lagi ke laut.
“Arya,” kataku. “Aku…”
Aku tidak tahu kelanjutannya. Aku punya terlalu banyak kalimat dan tidak ada satu pun yang cukup. Maaf terlalu kecil. Aku salah terlalu jelas. Aku tahu kamu tidak bersalah terlalu terlambat.
“Aku datang buat…”
“Kamu nggak perlu,” katanya.
Tanpa menoleh.
Aku membeku. Kalimat itu. Kalimat yang sama yang ia ucapkan di halaman bengkel Pak Gondo, di hari pertama, saat aku bilang aku memaafkannya.
Kamu nggak perlu maafin aku.
Sekarang dibalik.
“Kamu nggak perlu datang,” lanjutnya. “Kamu nggak perlu minta maaf. Kamu nggak perlu ngerasa apa-apa.”
“Tapi aku—”
“Aku nggak benci kamu, Dokter.”
Ia mengatakannya pelan. Ke laut. Seolah bicara pada ombak, bukan padaku.
“Aku nggak benci siapa-siapa. Aku nggak marah. Aku nggak sedih.” Ia diam sebentar. “Aku cuma udah nggak ada.”
Aku menatap punggungnya.
Punggung yang memanggul karung semen dari subuh sampai magrib. Punggung yang dua bulan lalu masih memakai kemeja abu-abu muda dengan ujung lengan yang ditambal sendiri.
Aku cuma udah nggak ada.
Itu bukan kalimat orang yang marah. Itu bukan kalimat orang yang ingin menghukum.
Itu kalimat orang yang sudah habis.
Dan aku yang menghabiskannya.
Ia berdiri dari ujung dermaga. Ia menepuk-nepuk celananya yang basah. Ia berjalan melewatiku, ke arah daratan, ke arah mess pekerja yang lampunya mulai menyala satu per satu.
Ia tidak menoleh.
Ia tidak bertanya kenapa aku di sini, di mana aku tinggal, berapa lama aku akan tinggal. Ia tidak menyuruhku pulang. Ia tidak menyuruhku pergi.
Ia hanya berjalan, seperti aku tidak ada.
Aku berdiri di ujung dermaga lama itu sendirian sampai matahari benar-benar tenggelam dan langit menjadi biru tua dan ombak berubah warna menjadi hitam.
Aku mengeluarkan buku cokelat dari tasku. Aku menulis dengan cahaya dari lampu senter ponsel.
Hari ke-63.
Aku menemukannya. Dia memanggilku Dokter. Dia tidak benci aku. Dia bilang dia sudah tidak ada.
Dia lebih kurus. Rambutnya panjang. Orang proyek memanggilnya Si Diem.
Dia cuma bertanya satu hal. Kinan.
Aku menatap tulisan itu.
Lalu aku menambahkan satu baris lagi.
Aku tidak akan pergi. Tidak kali ini. Tidak sampai dia sendiri yang menyuruhku pergi, dan bahkan saat itu pun, aku tidak tahu apakah aku bisa.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu reading
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365