← Hukuman Kedua

Chapter Fifty Nine

Bab 59 — Sapu Tangan

POV: Shella

Aku berencana melamarnya hari Sabtu.

Rencana itu kususun selama tiga minggu, di buku cokelat tiga ribuan, di halaman belakang yang kulipat supaya Mas Arya tidak sengaja membacanya. Mitha tahu. Kinan tahu. Mama tahu, karena Mama selalu tahu, dan karena aku butuh izinnya untuk mengambil sesuatu dari kotak perhiasan yang sekarang hanya berisi tiga barang.

Peresmian Gedung Serbaguna Sarip–Waluyo dijadwalkan Sabtu pukul sembilan pagi. Tujuh bulan setelah pengecoran fondasi timur. Tiga lantai, cat putih tulang, jendela-jendela besar menghadap ke barat, papan nama dari kuningan di dinding depan yang dipesan Bu Sarip di Rawa Bening, dengan huruf-huruf yang tidak bisa ia baca tapi bentuknya ia hafal.

Setelah acara, saat semua orang sudah pulang, aku akan mengajak Mas Arya naik ke lantai tiga. Ke ruang belajar dengan meja-meja panjang. Aku akan menunggu matahari turun di jendela barat.

Lalu aku akan bertanya.

Aku sudah memutuskannya sejak lama. Kalau ada yang harus meminta, itu aku. Aku yang dulu datang ke bengkelnya dengan wajah pura-pura memaafkan. Aku yang menghancurkan. Aku yang harus berdiri di depannya dan bertanya apakah ia mau, dan menerima jawaban apa pun.

Aku menyiapkan kalimatnya. Aku menulisnya ulang sebelas kali. Lebih banyak dari surat yang kutulis di Pelabuhanratu.

“Lo serius mau ngelamar cowok?” tanya Mitha di telepon, Jumat malam.

“Serius.”

“Lo udah bilang ke dia?”

“Namanya lamaran, Mit. Kalau dibilang dulu, bukan lamaran. Itu pengumuman.”

Mitha diam lama. Terlalu lama.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak,” katanya. Suaranya aneh. “Nggak apa-apa. Semangat. Gue… gue dukung lo. Seratus persen. Dua ratus.”

Lalu ia menutup telepon terlalu cepat.


Peresmian berjalan seperti semua acara yang melibatkan Pak Gondo: terlambat dua puluh menit, dengan pengeras suara yang mendenging, dan satu burung perkutut yang menurut Pak Gondo adalah tamu kehormatan.

Bu Sarip memotong pita. Tangannya gemetar. Ia memegang gunting seperti memegang pisau dapur, dan pitanya putus di percobaan ketiga, dan semua orang bertepuk tangan seolah ia baru meresmikan jalan tol.

Bu Waluyo menangis sejak pukul delapan. Bu Imas sudah memutuskan kiosnya akan jualan es kelapa. Dodi berdiri di belakang ibunya dengan kemeja batik baru dan helm putih di tangan, yang ia bawa ke mana-mana sejak kerja praktiknya selesai, karena katanya Mas Arya memberikannya dan itu artinya ia sudah boleh pakai helm putih.

Mama datang dengan Mbok Sum. Mbak Dewanti datang. Dimas Prakoso datang dengan dua orang dari asosiasi yang memotret gedung itu dari tujuh sudut dan menanyakan siapa ahli strukturnya.

“Itu,” kata Dodi, menunjuk Mas Arya, sebelum Mas Arya sempat menjawab. “Pak Insinyur.”

Mas Arya berdiri di pinggir kerumunan, dengan kemeja abu-abu yang ujung lengannya sudah ditambal empat kali sekarang. Ia tidak mau naik ke panggung kecil di depan. Ia tidak mau memberi sambutan. Ia hanya berdiri di sana dan menatap gedung itu dengan mata yang menghitung. Kolom. Balok. Pelat. Seolah ia masih tidak percaya gedung itu berdiri.

Aku berdiri di sebelahnya.

“Masih berdiri,” kataku.

“Masih berdiri,” katanya.

“Kamu udah ngecek retak berapa kali minggu ini?”

Ia diam.

“Mas.”

“Tiga,” katanya. “Empat. Lima kalau yang tadi pagi dihitung.”

Aku memegang tangannya. Tangan kanannya. Bekas jahitan sembilan tusuk di telapaknya, sudah memudar menjadi garis tipis yang lebih pucat dari kulit di sekitarnya.

Tangan itu tidak gemetar.


Acara selesai pukul dua. Kerumunan bubar pukul empat. Bu Sarip dan Bu Waluyo yang terakhir pulang, setelah memastikan semua sisa nasi kotak dibagikan ke tukang parkir dan anak-anak di gang belakang.

Pukul lima kurang seperempat, aku menarik napas panjang dan menoleh ke Mas Arya.

“Naik yuk,” kataku. “Ke atas. Aku mau lihat matahari dari jendela barat.”

Ia menatapku. Ada sesuatu di wajahnya yang tidak bisa kubaca.

“Oke,” katanya.

Kami menaiki tangga. Lantai dua, klinik pratama yang masih kosong, dengan ranjang periksa yang plastiknya belum dibuka. Lantai tiga.

Ruang belajar. Meja-meja panjang dari kayu jati bekas yang diserut ulang di bengkel Pak Gondo. Rak buku kosong di dinding timur. Dan di dinding barat, jendela besar dari lantai sampai hampir ke langit-langit, dengan matahari sore yang mulai turun di atas atap-atap Bekasi.

Aku berjalan ke tengah ruangan. Jantungku berdetak di tenggorokan. Tas selempang di bahuku terasa berat, padahal isinya hanya dua barang.

“Mas,” kataku. Aku berbalik.

Mas Arya tidak ada di belakangku.

Ia berdiri di dekat jendela. Di samping meja panjang yang paling dekat dengan kaca. Di atas meja itu ada sesuatu yang tidak ada di sana tadi pagi, saat aku mengecek ruangan ini dua kali.

Kotak kecil dari besi. Dilas. Persegi, seukuran telapak tangan, dengan sudut-sudut yang dihaluskan dan permukaan yang dicat abu-abu doff.

Aku membeku.

“Mas,” kataku lagi. Suaraku naik setengah oktaf. “Itu apa.”

“Shel,” katanya.

“Itu apa, Mas.”

Ia menatapku dengan wajah yang sangat tenang, dan telinga yang sangat merah.

“Kinan bilang kamu mau ngajak aku ke sini jam lima,” katanya. “Mitha bilang kamu udah nyiapin kalimat sebelas kali.” Ia menelan ludah. “Aku nyiapin punyaku sembilan kali. Jadi aku pikir aku harus duluan, sebelum kamu ngomong. Karena kalau kamu ngomong duluan, aku nggak bakal bisa ngomong apa-apa lagi.”

Aku menatapnya.

Lalu aku menatap ponselku, yang bergetar di saku. Aku tidak perlu melihatnya untuk tahu itu dari Mitha.

Aku melihatnya juga.

MAAF SHEL. DIA NANYA DULUAN. DIA NANYA TIGA MINGGU LALU. GUE UDAH JANJI KE DIA DULUAN. GUE TERJEPIT ANTARA DUA LAMARAN. INI PENGALAMAN PALING STRESS DALAM HIDUP GUE. LEBIH STRESS DARI UKMPPD.

Lalu satu lagi, dari Kinan.

Kak, maaf. Aku pilih Kakak. Yang cowok. Soalnya dia yang bayarin cilok Kak Mitha selama tiga bulan.

Aku tertawa.

Aku tidak bisa menahannya. Aku berdiri di tengah ruang belajar lantai tiga dengan tas berisi dua barang dan kalimat yang sudah kutulis ulang sebelas kali, dan aku tertawa sampai mataku basah, dan Mas Arya menatapku dengan wajah orang yang tidak tahu apakah ini pertanda baik.

“Shel?”

“Kamu curang,” kataku.

“Iya.”

“Aku duluan yang punya rencana.”

“Aku tahu,” katanya. Sudut bibirnya bergerak. “Hari ke-1 rencanamu, Kinan lapor ke aku. Hari ke-2, aku beli besinya.”


Ia tidak berlutut. Belum.

Ia membuka kotak besi itu lebih dulu. Engselnya berderit sedikit. Ia meminta maaf soal engselnya, seolah itu kesalahan struktural.

Di dalamnya, di atas kain beludru hitam yang jelas dipotong dari sesuatu yang lain, ada dua benda.

Cincin. Emas kuning, polos, tipis. Tidak ada batu. Hanya cincin.

Dan sapu tangan abu-abu.

Terlipat rapi. Persegi kecil. Kain katun yang lembut karena sering dicuci.

Aku berhenti tertawa.

Mas Arya mengambil sapu tangan itu lebih dulu. Bukan cincinnya. Ia memegangnya di antara jari-jarinya, dan aku melihat ujung kainnya sudah tipis, hampir tembus pandang di satu sudut.

“Ini aku cuci,” katanya pelan. “Waktu itu. Malam itu juga. Di kamar kos atas laundry Cik Lani, sebelum aku berangkat ke terminal. Pakai sabun batangan. Aku jemur di jendela.” Ia diam sebentar. “Kering jam tiga pagi.”

Malam itu. Malam setelah aku meludahi wajahnya di lahan bekas ruko. Malam setelah sapu tangan ini jatuh dari tasku ke rumput liar, dan ia memungutnya, dan mengelap wajahnya sendiri dengan gerakan yang begitu terbiasa.

Ia pulang. Dan ia mencucinya.

“Kenapa,” kataku. Suaraku pecah. “Kenapa kamu nggak buang?”

Mas Arya menatap sapu tangan itu.

“Aku coba,” katanya. “Di terminal. Di Pelabuhanratu, di tong sampah depan kos. Di dermaga. Aku pernah pegang di atas air laut sepuluh menit.” Ia menggeleng pelan. “Aku nggak pernah bisa buang ini.”

“Kenapa?”

Ia mengangkat matanya padaku.

“Karena di hari keempat,” katanya, “di makam ayahmu, kamu nangis beneran. Aku tahu itu beneran. Kamu nggak tahu harus ke mana sama air matamu, dan kamu ambil ini dari tanganku.” Ia menelan ludah. “Seratus delapan puluh tujuh hari. Itu satu-satunya hari aku yakin kamu nggak bohong.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Ini satu-satunya barang yang aku punya dari kamu,” katanya, “yang nggak ada pisaunya.”


Ia meletakkan sapu tangan itu di telapak tanganku. Ia menutup jari-jariku di atasnya.

Lalu ia berlutut.

Di lantai keramik ruang belajar lantai tiga, di gedung yang ia hitung sendiri, di atas fondasi timur tempat meteran kuningan ayahku terkubur di dalam beton. Matahari sore jatuh di wajahnya dari jendela barat.

Ia mengambil cincin itu.

“Aku nggak pinter ngomong,” katanya. “Kamu tahu itu. Aku nulis. Aku ngitung. Aku ngelas.” Ia menarik napas. “Jadi aku mau bilang yang belum pernah aku bilang dengan lengkap. Waktu di dermaga, aku cuma bilang aku juga. Itu nggak cukup.”

Aku menunggu. Air mataku jatuh ke sapu tangan di genggamanku.

“Aku mencintaimu, Shella,” katanya.

Tidak ada aku tahu. Tidak ada aku juga. Kalimat lengkap. Subjek, predikat, objek. Seperti hitungan yang ditulis rapi di kertas A4.

“Aku mencintaimu waktu kamu bohong,” katanya. “Aku nggak bangga sama itu. Tapi itu bener. Aku mencintaimu waktu kamu ngeludah. Aku mencintaimu waktu kamu ngamplas dinding rumah Kinan sampai jari kamu lecet. Waktu kamu nangis di dermaga. Waktu kamu bikin kopi tanpa gula dan tangan kamu gemetar.” Suaranya mulai pecah. “Aku nggak tahu cara berhenti. Aku udah coba. Lebih susah dari buang sapu tangan.”

Ia mengangkat cincin itu.

“Kamu mau nikah sama aku?”


Aku tidak menjawab.

Aku membuka tas selempangku, dengan tangan yang gemetar begitu keras sampai resletingnya macet dua kali.

Aku mengeluarkan dua barang.

Yang pertama, buku tulis bersampul cokelat. Baru. Tiga ribu rupiah dari warung fotokopi di depan klinik Kramat Jati. Masih kosong, kecuali halaman pertama.

Yang kedua, cincin. Cincin pernikahan Ayah. Emas putih, tebal, sedikit penyok di satu sisi. Satu dari tiga barang yang tersisa di kotak perhiasan Mama.

Aku berlutut juga. Di depannya. Di lantai keramik, di bawah jendela barat.

“Kamu duluan,” kataku, terisak. “Tapi aku juga nanya. Aku udah nulis sebelas kali. Aku nggak mau sia-sia.”

Mas Arya menatapku. Menatap cincin Ayah di telapak tanganku. Wajahnya runtuh.

Aku membuka halaman pertama buku cokelat yang baru itu dan memperlihatkannya padanya.

Hanya satu baris, dengan tulisanku yang berusaha tegak.

Hari ke-1:

Sisanya kosong.

“Aku mau buku ketiga,” kataku. “Bukan buku kamu ngitung hukuman. Bukan buku aku ngitung tebusan. Buku yang kita isi berdua. Mulai dari hari kita nikah.” Aku menelan ludah. “Kamu mau nikah sama aku, Mas?”

Kami berlutut berhadapan di lantai ruang belajar. Dua cincin. Satu sapu tangan. Satu buku kosong.

Mas Arya tertawa.

Tawa yang pertama kali kudengar di bawah lampu jalan di tengah gang hijau, saat anak kecil bersandal jepit putus itu berteriak OM CIUM TANTE. Tapi lebih lama. Lebih pecah. Dengan air mata.

“Iya,” katanya.

“Iya,” kataku.

“Kita jawab barengan,” katanya. “Itu sah?”

“Nggak tahu. Aku dokter, bukan penghulu.”

Ia memasang cincin emas kuning di jari manisku. Tangannya tidak gemetar. Aku memasang cincin Ayah di jarinya. Kebesaran. Cincin itu berputar longgar di jari manisnya.

“Nanti dikecilin,” kataku. “Di Cikini.”

“Jangan,” katanya. Ia menatap cincin itu. “Biar longgar. Biar aku inget, ini punya orang yang lebih besar dari aku. Aku cuma nerusin.”


Kami turun pukul enam. Matahari sudah tenggelam.

Di lantai satu, di depan kios es kelapa Bu Imas yang belum buka, Mitha dan Kinan duduk di tangga dengan sekantong cilok. Mereka sudah di sana sejak pukul lima. Mereka tidak pulang.

Mitha berdiri. Ia menatap jari kami. Lalu ia mulai menangis dengan suara paling jelek yang pernah kudengar dari manusia.

“DUA-DUANYA,” katanya. “DUA-DUANYA NGELAMAR. GUE NGGAK PERLU MILIH.”

Kinan tidak berdiri. Ia hanya mengunyah ciloknya, menatap kami dengan wajah petugas bea cukai, lalu mengangkat ponselnya.

“Udah aku kabarin Bu Ratna,” katanya. “Sama Pak Gondo. Pak Gondo nanya, siapa yang ngelamar siapa. Aku jawab dua-duanya. Pak Gondo bilang, ya Allah, anak sekarang.”

Ia memasukkan satu cilok lagi ke mulutnya.

“Selamat ya, Kak,” katanya. Lalu, setelah jeda, menatapku. “Kak.”

Dua kali. Satu untuk masing-masing.

Malam itu, di kamar kos, aku memegang sapu tangan abu-abu di dadaku sampai tertidur. Kain katun lembut, berbau sabun batangan dan sedikit karat besi.

Aku tidak menulis apa-apa di buku cokelat yang baru.

Halaman pertamanya masih menunggu.