Chapter Thirty Seven
Bab 37 — Kursi Paling Belakang
POV: Shella
Mbak Dewanti bilang aku tidak harus melakukannya.
“Laporan polisi sudah masuk,” katanya, seminggu setelah pemakaman, di kantornya yang bising di atas toko fotokopi. “Prosesnya sudah jalan. Penyidik sudah memanggil pemilik Toko Sumber Rejeki. Perusahaan sudah menerima surat panggilan. Dalam beberapa bulan, ini akan keluar sendiri ke publik. Lewat persidangan. Lewat berkas yang bisa diakses wartawan.”
“Beberapa bulan,” kataku.
“Iya.”
“Selama beberapa bulan itu, dia tetap pembunuh di TikTok. Kinan tetap adik pembunuh. Pak Gondo tetap mikir bengkelnya dibeli perusahaan biasa. Bu Sarip tetap mikir A.M. itu orang asing.”
Mbak Dewanti menatapku.
“Media yang dulu saya bayar buat ngancurin dia,” lanjutku, “mereka butuh dua hari buat bikin satu negeri benci dia. Saya nggak mau nunggu beberapa bulan buat bikin satu negeri tahu mereka salah.”
“Kalau Mbak bicara di depan media,” kata Mbak Dewanti pelan, “Mbak tidak bisa mengendalikan apa yang mereka tulis. Mereka bisa membalikkan semuanya ke Mbak. Mereka akan membalikkan semuanya ke Mbak.”
“Saya tahu.”
“Dan Saudara Arya tidak meminta ini.”
“Saya tahu,” kataku. “Dia nggak pernah minta apa-apa. Itu kenapa saya harus.”
Konferensi pers itu diadakan di aula kecil di lantai tiga gedung LBH, hari Kamis pukul dua siang.
Mbak Dewanti mengirim undangan ke dua puluh media. Yang datang tiga puluh dua. Kata anak pemilik kontraktor dan kasus ruko runtuh Bekasi dan pengakuan di satu kalimat yang sama ternyata cukup untuk membuat wartawan datang dari mana-mana.
Aku melihat logo-logo stasiun televisi di mikrofon yang berjajar di meja. Logo portal berita online. Logo kanal YouTube.
Dan satu logo yang kukenal.
Jejak Perkara.
Mereka mengirim tim lengkap. Kamera besar. Juru rekam. Reporter perempuan dengan rambut yang ditata sempurna. Mereka duduk di barisan depan, di tengah.
Aku menatap logo itu, dan perutku mengeras.
Sebelum acara dimulai, Mbak Dewanti menarikku ke ruang kecil di belakang aula, tempat galon air dan tumpukan kursi lipat.
“Terakhir kali saya tanya,” katanya. “Mbak masih bisa batal. Saya bilang ke wartawan ada perubahan jadwal. Mereka akan kesal, tapi mereka akan pulang.”
Aku menatap kertas yang kulipat di tanganku.
“Mbak Dewanti pernah bilang, orang yang terlalu lama memikul kesalahan orang lain lupa bahwa beban itu bukan miliknya.”
“Iya.”
“Saya yang taruh beban itu di pundaknya. Sebagian. Bukan semua, tapi sebagian.” Aku membuka lipatan kertas itu. “Kalau saya batal, berarti saya masih biarin dia mikul punya saya.”
Mbak Dewanti menatapku lama. Lalu ia membetulkan kacamatanya yang melorot, dan menepuk bahuku dua kali.
“Kalau suara Mbak hilang di tengah,” katanya, “berhenti aja. Minum. Mulai lagi. Nggak ada yang buru-buru.”
Mitha duduk di kursi paling ujung di barisan kedua. Ia mengambil izin setengah hari dari internsipnya di Jakarta untuk datang. Ia memakai kemeja putih yang terlalu rapi untuk Mitha, dan ia terus meremas-remas tali tasnya.
Saat aku duduk di balik meja panjang dengan mikrofon-mikrofon itu, ia menatapku dan mengangguk sekali. Kecil. Seperti Kinan di depan gerbang kompleks, sebelum melempar buku itu.
Mbak Dewanti duduk di sebelahku. Di depan kami ada tumpukan map berisi salinan dokumen: buku tulis biru Ayah, surat pernyataan Mang Udin, laporan polisi.
Aula itu penuh. Panas. Kipas angin di langit-langit berputar pelan dan tidak berguna. Lampu kamera menyala satu per satu, putih dan menyilaukan.
Aku menatap kertas di tanganku. Aku sudah menulisnya semalam. Aku tidak merobeknya.
Aku mulai membaca.
“Nama saya Shella Florentina Wijaya. Saya putri almarhum Hendra Wijaya, pemilik PT Wijaya Konstruksi.”
Suara kamera. Klik. Klik. Klik.
“Tiga tahun lalu, sebuah ruko tiga lantai proyek perusahaan ayah saya runtuh di Bekasi. Tiga orang meninggal. Ayah saya, Bapak Hendra Wijaya. Bapak Sarip. Bapak Waluyo.”
Aku menyebut nama mereka dengan jelas. Dengan urutan yang sama. Aku memastikan tidak ada nama yang lebih keras dari yang lain.
“Seorang insinyur struktur bernama Arya Mahesa mengaku bersalah di persidangan. Ia mengatakan bahwa ia salah menghitung beban struktur. Ia divonis dua tahun penjara. Sertifikasinya dicabut.”
Aku menarik napas.
“Itu tidak benar.”
Aula itu hening. Bahkan bunyi kamera berhenti sesaat.
“Arya Mahesa tidak salah menghitung,” lanjutku. “Ayah saya yang memerintahkan pengurangan spesifikasi material bangunan itu. Besi tulangan enam belas milimeter diganti tiga belas milimeter. Semen dikurangi. Selisihnya dijual. Ayah saya mencatat semuanya, dengan tulisan tangannya sendiri, di buku ini.”
Aku mengangkat salinan buku tulis biru itu. Kamera-kamera bergeser untuk merekamnya.
“Saudara Arya menemukan pengurangan itu dua hari sebelum gedung runtuh. Ia meminta ayah saya membongkar dan memperbaiki semuanya. Ayah saya meminta waktu seminggu. Gedung itu runtuh sebelum seminggu habis.”
“Saudara Arya mengaku bersalah supaya perusahaan ayah saya tidak disita. Supaya keluarga saya tidak kehilangan rumah. Supaya saya bisa menyelesaikan kuliah kedokteran.” Suaraku bergetar. Aku membiarkannya bergetar. “Supaya nama ayah saya tetap bersih.”
Aku menatap kertas di tanganku. Hurufnya bergerak-gerak.
“Ini dikonfirmasi oleh pernyataan di bawah sumpah dari Bapak Udin Saepudin, tukang besi yang melaksanakan perintah ayah saya. Beliau menandatangani pernyataan ini dua hari sebelum meninggal dunia. Laporan sudah kami serahkan ke Polda Metro Jaya.”
Reporter Jejak Perkara mengangkat tangan. Mbak Dewanti menggeleng. Nanti, isyaratnya.
Aku belum selesai.
Bagian yang paling sulit belum dimulai.
“Ada satu hal lagi,” kataku.
Aku meletakkan kertas itu di meja. Aku tidak membutuhkannya untuk bagian ini. Aku sudah menghafalnya. Aku sudah menghafalnya sejak di lahan bekas ruko, sejak aku menyebutkannya satu per satu dengan suara yang naik dan naik.
“Setelah Saudara Arya bebas dari penjara, saya mendekatinya. Saya berpura-pura memaafkannya. Saya berpura-pura mencintainya. Dan selama seratus delapan puluh tujuh hari, saya menghancurkan hidupnya. Diam-diam. Dengan uang keluarga saya dan koneksi perusahaan ayah saya.”
Bunyi kamera kembali. Lebih cepat. Lebih keras. Seperti hujan di atas terpal biru.
“Saya membayar seseorang untuk menyebarkan catatan pidananya ke tetangga-tetangganya. Saya membuat pesanan pagar palsu supaya bengkel tempatnya bekerja berutang delapan belas juta rupiah. Saya mengambil uang dari kas bengkel itu supaya ia dicurigai mencuri. Saya membeli bengkel itu lewat perusahaan cangkang, lalu memecatnya. Saya memastikan ia ditolak di semua perusahaan konstruksi yang terhubung dengan jaringan ayah saya. Saya membeli rumah kontrakannya dan menaikkan sewanya sampai ia dan adiknya terusir.”
Aku menatap logo Jejak Perkara di barisan depan.
“Foto-foto ulang tahunnya yang ditayangkan di program Jejak Perkara dua bulan lalu, saya yang mengambil. Saya yang mengirimkannya. Saya yang membayar orang untuk memastikan program itu ditayangkan.”
Reporter perempuan dengan rambut yang ditata sempurna itu membeku. Juru kameranya menoleh padanya.
“Saya menyembunyikan dokumen asli yang ia butuhkan untuk mengajukan sertifikasi ulang. Saya merusak data kerjanya. Saya mengirim surat keberatan ke asosiasi profesi atas nama keluarga korban. Saya mencabut beasiswa adiknya dari yayasan ayah saya. Adiknya yang berusia tujuh belas tahun. Juara olimpiade kimia.”
Di barisan kedua, Mitha menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Dan di hari peringatan tiga tahun runtuhnya ruko itu, di lahan bekas ruko itu, saya meludahi wajahnya.”
Seseorang di barisan belakang terkesiap.
“Ia tahu semuanya,” kataku. Suaraku tinggal bisikan sekarang, tapi mikrofon-mikrofon di depanku menangkapnya dan membawanya ke pengeras suara di setiap sudut aula. “Sejak hari pertama, ia tahu. Ia mencatat semuanya. Ia tidak pernah melawan. Ia tidak pernah membela diri. Ia tidak pernah memberi tahu siapa pun kebenaran tentang ayah saya.”
Aku mengangkat wajah dan menatap aula itu.
“Saya tidak di sini untuk minta dimaafkan. Saya di sini supaya semua orang tahu bahwa Arya Mahesa bukan pembunuh. Bahwa adiknya, Kinan Mahesa, bukan adik pembunuh. Bahwa orang yang seharusnya kalian tonton dengan musik latar yang menegangkan…”
Aku menatap reporter Jejak Perkara.
“…adalah saya.”
Saat itulah aku melihatnya.
Di ujung aula. Di dekat pintu masuk, yang terbuka sedikit untuk mengalirkan udara.
Kursi paling belakang.
Kursi plastik terakhir di barisan terakhir, di pojok, di samping tumpukan kardus air mineral. Seseorang duduk di sana. Punggung tegak. Tangan terlipat di pangkuan. Kemeja abu-abu muda dengan ujung lengan yang ditambal.
Aku tidak tahu kapan ia datang. Aku tidak tahu sejak kapan ia duduk di sana. Aku tidak melihatnya saat aku masuk. Lampu kamera terlalu terang. Aula itu terlalu penuh.
Ia duduk di kursi paling belakang.
Seperti di aula RW di Kramat Jati, berbulan-bulan lalu, saat aku memakai jas putih dan menjelaskan tentang hipertensi kepada tiga puluh dua ibu-ibu. Ia datang terlambat lima menit, duduk di kursi paling belakang, dan pergi sebelum acara selesai supaya tidak merepotkan.
Aku duduk di belakang supaya dia tidak perlu melihatku waktu dia sedang bahagia.
Hari ini aku tidak sedang bahagia.
Ia menatapku dari kursi paling belakang. Wajahnya tidak kosong. Untuk pertama kalinya sejak dermaga lama di Pelabuhanratu, wajahnya tidak kosong.
Aku tidak bisa membaca apa yang ada di sana.
Ia tidak berdiri. Ia tidak menghentikanku. Ia tidak berjalan keluar.
Ia hanya duduk di sana, dan mendengarkan.
Sesi tanya jawab berlangsung empat puluh menit.
Aku tidak ingat semua pertanyaannya. Aku ingat beberapa.
“Apakah Anda melakukan ini karena Anda ketahuan?”
“Saya tidak ketahuan. Tidak ada yang tahu kecuali saya, orang yang saya bayar, dan Saudara Arya. Saudara Arya tidak pernah memberi tahu siapa pun.”
“Apakah keluarga Anda mendukung keputusan ini?”
“Tidak.”
“Apa yang akan terjadi pada PT Wijaya Konstruksi?”
“Itu bukan wewenang saya untuk menjawab.”
“Apakah Anda bersedia diproses hukum atas tindakan Anda terhadap Saudara Arya?”
“Ya.”
“Apakah Saudara Arya akan mengajukan peninjauan kembali?”
Aku menatap kursi paling belakang.
“Itu keputusannya,” kataku. “Bukan keputusan saya. Saya sudah terlalu lama memutuskan hal-hal untuknya.”
Reporter Jejak Perkara mengangkat tangan untuk terakhir kalinya.
“Mbak Shella, satu pertanyaan. Kenapa Mbak bilang semua ini sekarang? Di depan kamera? Mbak tahu ini akan menghancurkan nama Mbak sendiri. Karier Mbak. Keluarga Mbak.”
Aula itu hening.
“Karena dua bulan lalu,” kataku pelan, “kalian butuh dua hari untuk membuat satu negeri membenci orang yang tidak bersalah. Dengan foto-foto yang saya kirim.” Aku menatapnya. “Saya ingin tahu berapa hari yang kalian butuhkan untuk membuat negeri yang sama tahu bahwa kalian salah.”
Reporter itu menurunkan tangannya.
Ia tidak bertanya lagi.
Saat Mbak Dewanti menutup konferensi pers, aku langsung menatap kursi paling belakang.
Kosong.
Kursi plastik itu kosong. Pintu aula terbuka sedikit lebih lebar dari tadi.
Wartawan mengerubungiku. Mikrofon. Kamera. Pertanyaan-pertanyaan yang tumpang tindih. Mbak Dewanti dan dua mahasiswa magang LBH membentuk dinding di depanku, mendorongku ke arah pintu samping.
Mitha menarik lenganku dan menyeretku ke tangga darurat.
“Lo nggak apa-apa?” tanyanya di tangga. Napasnya terengah.
“Dia di sini, Mit.”
“Siapa?”
“Arya. Di kursi paling belakang.”
Mitha menatapku. Lalu ia menatap ke bawah tangga, ke arah lantai dasar, ke arah jalan.
“Gue nggak liat dia,” katanya.
“Dia pergi.”
Aku menuruni tangga darurat itu. Lantai tiga. Lantai dua. Melewati toko fotokopi yang mesinnya berbunyi tanpa henti. Keluar ke trotoar yang panas di bawah matahari pukul tiga sore.
Aku menoleh ke kiri. Ke kanan.
Ia berdiri di seberang jalan.
Di bawah halte bus, di samping tiang listrik dan gerobak es tebu. Kemeja abu-abu. Kedua tangan di saku celana. Ia tidak naik ke bus yang berhenti di depannya. Ia membiarkan bus itu pergi.
Ia menunggu.
Ia menatapku dari seberang jalan, dan wajahnya tidak kosong.
Aku menyeberang.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang reading
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365