← Hukuman Kedua

Chapter Thirty Nine

Bab 39 — Media yang Sama

POV: Shella

Jejak Perkara menayangkan episode khusus hari Senin malam.

Judulnya Dendam Anak Kontraktor.

Aku menontonnya di kamar kos Bu Atin, di layar ponsel yang retak di pojok kanan, dengan volume paling kecil supaya penghuni kamar sebelah tidak mendengar.

Pembukaannya sama. Rekaman lama ruko yang runtuh. Tim SAR. Tumpukan beton seperti tulang patah. Suara narator yang berat dan dramatis.

Lalu wajahku.

Diambil dari konferensi pers. Di bawah lampu kamera yang putih, dengan mikrofon-mikrofon di depanku. Mereka memilih bingkai saat aku menunduk menatap kertas, sehingga wajahku terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.

Tiga tahun lalu, ia adalah putri korban yang menangis di ruang sidang, kata narator. Hari ini, ia mengaku telah menghancurkan hidup seorang pria tak bersalah. Dengan uang. Dengan koneksi. Dengan cinta palsu.

Musik latar yang menegangkan. Sama persis dengan musik latar episode Bebas Setelah Tiga Nyawa.

Mereka menayangkan potongan kalimatku. Saya meludahi wajahnya. Diulang dua kali. Dengan efek suara yang bergema.

Mereka mewawancarai orang-orang. Wajah diburamkan. Suara diubah.

Ya ampun, jahat banget. Itu psikopat.

Anak orang kaya emang gitu. Mainan nyawa orang.

Bapaknya korupsi, anaknya psikopat. Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya.

Lalu narator menutup.

Apakah pengakuan ini tulus? Ataukah ini hanya cara lain untuk mencari perhatian? Satu hal yang pasti: keadilan bagi Arya Mahesa datang terlambat. Dan datang dari tangan yang sama yang menghancurkannya.

Iklan sabun cuci piring.

Aku mematikan ponsel.

Aku menatap dinding kamar yang hijau muda. Cicak di atas lemari kayu menatapku balik dengan wajah tidak terkesan.

Mereka tidak menyebut nama Pak Hadi. Mereka tidak menyebut bahwa program mereka sendiri yang menayangkan foto-foto ulang tahun itu dua bulan lalu. Mereka tidak meminta maaf.

Mereka hanya menemukan wajah baru untuk musik latar yang sama.

Aku pantas mendapatkannya. Aku tahu itu.

Tapi untuk pertama kalinya, aku mengerti bagaimana rasanya duduk di depan layar dan melihat wajahmu sendiri dipotong-potong, dipilih bingkainya, diberi musik, diberi suara narator yang berat, sampai kau tidak mengenali dirimu sendiri.

Ia merasakan ini dua bulan lalu. Ia menonton dirinya sendiri di layar ponsel, mungkin di kamar kos di atas laundry, dengan bunyi mesin pengering dari lantai bawah.

Ia tidak pernah mengeluh sekali pun.


Selasa pagi, video potongan konferensi pers itu sudah ditonton tujuh juta kali.

Komentar-komentarnya tidak kubaca. Mitha melarangku. Jangan dibaca, Shel. Gue serius. Gue udah baca seratus pertama, gue muntah. Tapi aku membacanya juga. Di toilet puskesmas, duduk di atas tutup kloset, dengan pintu terkunci. Seperti di toilet rumah sakit di Jakarta, saat komentar-komentar itu tentang dia.

Gila ini cewek. Harusnya dia yang dipenjara. Dokter? Dokter apaan. Cabut aja izin praktiknya. Kasihan banget Mas Arya. Ditipu, dipenjara, dihancurin. Semoga cewek ini karma. Bapaknya bunuh tiga orang, anaknya nyiksa orang tak bersalah. Keluarga setan. Kerja di puskesmas mana dia? Biar gue nggak berobat ke sana.

Lalu seseorang menjawab komentar terakhir itu.

Puskesmas Palabuhanratu. Gue orang sana. Dia dokter internsip di situ.

Aku menatap komentar itu lama.

Lalu aku keluar dari toilet dan kembali ke ruang periksa.


Pasien pertama hari itu seorang ibu dengan anak balita yang demam.

Ia masuk ke ruang periksa, melihatku, lalu berhenti di ambang pintu.

Ia menatapku. Lalu menatap anaknya. Lalu menatapku lagi.

“Dokternya cuma Ibu?” tanyanya.

“Hari ini saya yang jaga, Bu. Silakan duduk.”

Ia tidak duduk. Ia memeluk anaknya lebih erat.

“Saya tunggu dokter yang lain aja,” katanya.

“Dokter yang lain baru datang siang, Bu. Anaknya demam berapa hari?”

“Saya tunggu aja.”

Ia berbalik dan keluar dari ruang periksa. Aku mendengarnya bicara dengan Bu Nengsih di meja pendaftaran. Suaranya pelan, tapi cukup jelas.

Itu kan dokter yang di TikTok. Yang nyiksa orang. Saya nggak mau anak saya dipegang dia.

Aku duduk di balik meja periksa dan menatap stetoskop di tanganku.

Pasien kedua seorang nelayan dengan luka di kaki. Ia diperiksa tanpa bicara sepatah kata pun, lalu pergi tanpa mengucapkan terima kasih.

Pasien ketiga, empat, lima, semuanya meminta menunggu dokter lain.

Pasien keenam adalah kakek yang datang setiap hari untuk diukur tensinya.

Ia duduk di kursi di depanku, menyingsingkan lengan bajunya, dan mengulurkan lengannya ke arahku.

“Kakek nggak nonton TikTok?” tanyaku pelan, sambil memasang manset tensimeter.

“Nonton,” katanya. “Cucu saya yang nunjukin.”

Aku memompa manset itu.

“Terus kenapa Kakek tetap ke sini?”

Kakek itu menatapku dengan mata yang sudah keruh karena katarak.

“Dokter yang lama kabur,” katanya. “Dokter yang ini nggak. Saya udah tua. Saya lebih percaya orang yang nggak kabur.”

Aku membaca angka di tensimeter. Seratus empat puluh per sembilan puluh. Aku memberinya permen jahe.

Ia memasukkannya ke saku kemeja dengan wajah puas, lalu pergi.


Pukul sebelas, dr. Haryo, kepala puskesmas, memanggilku ke ruangannya.

Ia laki-laki berusia lima puluhan dengan kumis tipis dan kacamata berbingkai emas. Ia tidak pernah banyak bicara padaku sejak aku datang. Ia hanya mengangguk setiap pagi dan memeriksa laporan harian dengan teliti.

Ia mempersilakanku duduk. Ia tidak langsung bicara. Ia menatap layar komputernya, lalu memutarnya supaya aku bisa melihat.

Email. Dari Dinas Kesehatan Kabupaten.

Perihal: Pengaduan masyarakat terkait dokter internsip atas nama dr. Shella Florentina Wijaya.

Di bawahnya ada lampiran. Tangkapan layar komentar-komentar. Tautan video.

“Ada empat belas pengaduan masuk sejak kemarin,” kata dr. Haryo. “Lewat telepon, lewat email, lewat media sosial dinas. Semuanya minta kamu diberhentikan dari puskesmas ini.”

Aku menatap layar itu.

“Secara hukum,” lanjutnya, “kamu tidak melanggar apa pun dalam praktik kedokteranmu. Kamu tidak melakukan malpraktik. Kamu tidak melanggar kode etik dalam hubungan dengan pasien. Yang kamu lakukan di luar, terhadap Saudara Arya, mungkin bisa diproses secara pidana kalau ia melapor. Tapi itu terpisah.”

“Saya tahu, Dok.”

“Tapi Dinas meminta saya mempertimbangkan.” Ia memutar layar kembali ke arahnya. “Mereka menyarankan kamu cuti. Sementara. Sampai situasinya tenang. Atau pindah wahana internsip.”

Aku menatap tanganku di pangkuan.

“Kalau saya cuti,” kataku, “siapa yang jaga pagi?”

“Saya. Dan dokter Rina dari puskesmas pembantu.”

“Dokter Rina jaga sore juga.”

“Iya.”

“Kalau saya pindah, puskesmas ini kosong lagi. Kayak waktu dokter sebelumnya kabur.”

dr. Haryo tidak menjawab.

“Saya nggak mau cuti, Dok,” kataku. “Saya nggak mau pindah. Kalau Dinas mau memberhentikan saya, saya terima. Tapi saya nggak akan pergi sendiri.”

dr. Haryo menatapku lama dari balik kacamata berbingkai emas.

Lalu pintu ruangannya terbuka tanpa diketuk.


Bu Nengsih masuk dengan buku register di pelukannya dan wajah yang tidak bisa ditawar.

“Maaf, Dok,” katanya pada dr. Haryo, tanpa nada maaf sama sekali. “Saya dengar dari luar. Pintunya tipis.”

“Bu Nengsih…”

“Saya sudah dua puluh tujuh tahun di puskesmas ini, Dok.” Bu Nengsih meletakkan buku register itu di meja dr. Haryo dengan bunyi yang terlalu keras. “Saya sudah liat sembilan dokter internsip. Tujuh kabur sebelum enam bulan. Dua bertahan, tapi nggak pernah dateng sebelum jam delapan.”

Ia membuka buku register itu dan menunjuk kolom-kolom di dalamnya dengan jari telunjuk yang gemuk.

“Dokter Shella dateng jam enam. Tiap hari. Sebelum puskesmas buka. Pulang paling malam. Rata-rata pasien yang dia periksa sehari empat puluh lima. Dokter Rina dua puluh. Dokter Haryo lima belas, karena Dokter sibuk rapat.” Ia mengangkat wajah. “Nggak ada satu pun pasien yang komplain soal cara dia meriksa. Nggak satu pun.”

“Bu, ini bukan soal cara memeriksa…”

“Dok tahu ikan kakap?” potong Bu Nengsih.

dr. Haryo menatapnya. Aku menatapnya.

“Ikan kakap yang dagingnya busuk,” lanjut Bu Nengsih, “baunya dari kepala. Tapi nelayan di sini, kalau dapet kakap yang kepalanya busuk, mereka nggak buang seluruh ikannya. Mereka potong kepalanya. Dagingnya masih dijual. Masih dimakan.”

“Bu Nengsih, saya nggak mengerti hubungannya…”

“Kepalanya bapaknya, Dok.” Bu Nengsih menunjuk ke arahku tanpa menoleh. “Yang busuk itu kepalanya. Dia udah potong sendiri. Di depan kamera. Tiga puluh dua kamera. Dia udah potong kepala ikannya sendiri dan dia kasih liat ke semua orang.” Ia menatap dr. Haryo. “Terus sekarang kita mau buang dagingnya juga? Daging yang masih bagus? Yang dateng jam enam pagi?”

Ruangan itu hening.

dr. Haryo menatap Bu Nengsih. Lalu menatapku. Lalu menatap buku register yang terbuka di mejanya.

Ia melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya.

“Bu Nengsih,” katanya akhirnya. “Ibu tahu nggak, Ibu nggak bisa ngomong kayak gini ke kepala puskesmas?”

“Tahu, Dok.”

“Terus kenapa ngomong?”

“Karena Dokter Haryo juga tahu saya bener,” kata Bu Nengsih. “Dokter cuma butuh orang yang ngomong duluan.”

dr. Haryo diam lama.

Lalu ia memakai kacamatanya lagi, memutar layar komputernya, dan mulai mengetik.

“Saya balas email Dinas,” katanya tanpa menatap kami. “Saya bilang dr. Shella tetap bertugas. Kinerjanya baik. Tidak ada pelanggaran dalam praktik. Pengaduan masyarakat akan ditanggapi dengan pendekatan edukatif.” Ia berhenti mengetik dan menatapku. “Tapi kamu harus siap. Pasien akan menolakmu. Selama berminggu-minggu. Mungkin berbulan-bulan.”

“Saya siap, Dok.”

“Kamu akan diperiksa terus.”

“Saya siap.”

dr. Haryo mengangguk sekali, lalu kembali mengetik.

“Keluar,” katanya. “Dua-duanya. Ada pasien.”


Di lorong, Bu Nengsih berjalan di depanku tanpa menoleh.

“Bu,” kataku. “Makasih.”

Ia berhenti. Ia tidak berbalik.

“Saya nggak ngebela Dokter,” katanya. “Yang Dokter lakuin ke anak itu jahat. Jahat banget. Saya juga nonton TikTok.”

Aku diam.

“Saya ngebela puskesmas ini,” lanjut Bu Nengsih. “Puskesmas ini butuh dokter yang dateng jam enam. Itu aja.”

Ia berjalan lagi. Lalu, di ujung lorong, ia menambahkan sesuatu tanpa berbalik.

“Dan Dokter yang potong kepala ikannya sendiri. Nggak semua orang berani.”


Sore itu aku ke warung Mak Ijah.

Ada tiga bapak-bapak nelayan duduk di bangku kayu. Mereka sedang menonton sesuatu di ponsel salah satunya, dengan volume keras. Aku mendengar suara narator yang berat.

Dendam Anak Kontraktor.

Mereka melihatku. Mereka berhenti tertawa. Salah satunya meludah ke tanah, jauh dari kakiku, tapi cukup jelas maksudnya.

Mak Ijah keluar dari balik etalase gorengan dengan sapu lidi di tangannya.

“Kalian,” katanya pada ketiga bapak itu. “Bayar kopi. Pulang.”

“Mak, kita belum selesai…”

“Udah selesai.” Mak Ijah menunjuk jalan dengan sapu lidinya. “Di warung Mak nggak boleh ada yang ludah-ludahan. Mak nggak peduli siapa yang ngeludah ke siapa duluan. Pulang.”

Ketiga bapak itu membayar dengan menggerutu dan pergi.

Mak Ijah duduk di sebelahku. Ia menuang kopi hitam tanpa gula ke gelas kaca dan meletakkannya di depanku.

“Mak nonton juga,” katanya.

Aku menatap kopiku.

“Neng beneran ngeludahin dia?”

“Iya, Mak.”

Mak Ijah diam lama. Ia menatap jalan, ke arah mulut gang kebun kelapa.

“Pantesan dia kaget,” katanya pelan. “Waktu Neng mau ngusap pipinya.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Mak marah sama Neng,” lanjut Mak Ijah. “Mak pengin jewer kuping Neng kayak jewer Ujang.”

“Jewer aja, Mak.”

Mak Ijah menatapku. Lalu, pelan, ia mengangkat tangannya dan menjewer telingaku. Tidak keras. Seperti nenek yang menjewer cucu yang pulang terlalu malam.

Lalu ia melepasnya dan menepuk kepalaku dua kali.

“Udah,” katanya. “Sekali aja. Sisanya biar dia yang jewer. Kalau dia mau.”

Aku menunduk.

“Tadi pagi dia nggak lewat jalan belakang,” kata Mak Ijah tiba-tiba.

Aku mengangkat wajah.

“Dia lewat depan. Lewat warung Mak. Lewat depan puskesmas.” Mak Ijah mengunyah gorengannya. “Dia berhenti sebentar di depan puskesmas. Liat ke dalem. Ke jendela ruang periksa Neng. Terus jalan lagi.”

“Dia liat apa, Mak?”

“Mak nggak tahu. Mak cuma liat dia berdiri di situ. Lama.” Mak Ijah menelan gorengannya. “Pas ibu-ibu yang nggak mau diperiksa Neng keluar dari puskesmas, dia masih di situ. Ibu-ibu itu ngomong keras-keras di depan pintu. Dokter psikopat. Saya nggak mau anak saya dipegang.”

Aku menahan napas.

“Si Diem denger,” kata Mak Ijah. “Mukanya berubah. Mak nggak pernah liat mukanya kayak gitu. Kayak orang yang mau ngomong sesuatu.”

“Terus?”

“Terus dia nggak ngomong apa-apa.” Mak Ijah menghela napas. “Dia jalan ke proyek. Tapi jalannya cepet. Nggak kayak biasanya.”

Aku menatap gelas kopiku.

Malam itu, di kamar kos Bu Atin, aku menulis di buku cokelat.

Hari ke-104. Jejak Perkara. Dendam Anak Kontraktor. Musik latarnya sama.

Enam pasien menolakku. Kakek tensi tetap datang. Dia bilang dia lebih percaya orang yang tidak kabur.

Bu Nengsih bilang: aku sudah potong kepala ikanku sendiri.

Mak Ijah menjewer telingaku. Sekali.

Arya lewat jalan depan. Berdiri di depan puskesmas. Mendengar ibu-ibu menyebutku psikopat.

Mukanya berubah.

Aku menatap kalimat terakhir itu.

Aku tidak tahu apa artinya. Aku tidak berani menebak.

Aku hanya menulisnya, supaya tidak lupa.