Chapter Fifty
Bab 50 — Hari ke-188
POV: Arya
Aku tidak berniat mati.
Aku tahu dia akan berpikir begitu. Aku tahu Asep berpikir begitu, saat ia berteriak dari pangkal dermaga, Bang, mau ke mana, Bang. Aku tahu orang yang melihat laki-laki berdiri di ujung dermaga di tengah badai akan berpikir begitu.
Aku hanya tidak bisa merasakan apa pun.
Papan bekisting itu beratnya mungkin delapan puluh kilo. Basah. Licin. Ujang di bawahnya, kakinya tertekuk ke arah yang salah, berteriak memanggil ibunya. Aku mengangkatnya. Aku tidak ingat mengangkatnya. Aku hanya ingat papan itu sudah di sampingku dan Ujang sudah di pundakku dan aku berjalan di atas papan dermaga proyek yang bergetar, di antara ombak, sampai ke darat.
Lalu tanganku kosong.
Lalu aku berjalan ke dermaga lama. Ke tempatku. Aku tidak memutuskannya. Kakiku yang memutuskan.
Aku berdiri di ujungnya dan menatap laut yang hitam dan marah, dan aku menunggu sesuatu. Takut. Lega. Apa pun. Seperti yang dulu kurasakan saat gedung itu bergerak di atas kepalaku dan aku masih hidup.
Tidak ada.
Laut menghantam tiang-tiang dermaga dengan suara seperti gedung yang runtuh berulang-ulang. Aku berdiri di sana karena itu satu-satunya bunyi yang lebih keras dari yang ada di dalam dadaku.
Lalu ombak itu datang.
Lalu sebuah tangan mencengkeram kausku dari belakang.
Badanku tidak tersentak.
Aku memikirkannya sekarang, berjam-jam kemudian, di atas ranjang observasi puskesmas yang kasurnya dilapisi plastik dan berbunyi setiap kali aku bergerak.
Di bawah terpal biru, tangannya hanya terangkat ke arah pipiku, sejengkal dari wajahku, untuk menyeka semen. Badanku melempar dirinya ke belakang sampai bangku plastik hampir terbalik.
Di ujung dermaga, tangannya mencengkeram kausku dengan seluruh kekuatannya dan menarikku jatuh ke papan kayu. Keras. Tanpa bertanya. Tanpa izin.
Badanku tidak tersentak.
Badanku tahu. Sebelum kepalaku sempat berpikir apa pun, badanku sudah tahu bahwa tangan itu menarikku menjauh dari sesuatu. Bukan ke arah.
Badanku memutuskan sebelum kepalaku. Seperti di bawah terpal biru.
Kali ini ke arah yang lain.
Aku tidak ingat semua yang kukatakan di dermaga.
Aku ingat berteriak. Aku tidak pernah berteriak. Aku ingat kata-kata keluar dari mulutku seperti air dari pipa yang pecah, dan aku tidak bisa menghentikannya, dan aku tidak mau menghentikannya.
Aku ingat bertanya sudah? pada diriku sendiri.
Aku ingat dia menjawab belum.
Aku ingat menangis.
Itu yang paling jelas. Aku tidak menangis di pemakaman Bapak, karena Kinan menangis dan seseorang harus memegangi Kinan. Aku tidak menangis di pemakaman Ibu, karena ada tahlilan yang harus diurus dan tamu yang harus diberi teh. Aku tidak menangis di ambulans. Aku tidak menangis di sidang. Aku tidak menangis di sel, dua tahun, di antara dua puluh orang yang menangis setiap malam.
Aku menangis di dermaga lama di Pelabuhanratu, dengan dahi di bahu perempuan yang meludahiku.
Dan ia memelukku.
Ia bertanya dulu. Boleh aku peluk kamu? Di tengah badai. Dengan suara yang pecah. Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa condong ke depan.
Tangannya di punggungku. Pelan. Sangat pelan. Seolah ia takut aku akan pecah kalau ia menekan terlalu keras.
Aku tidak pecah.
Aku sudah pecah sebelumnya.
Pelukan itu tidak seperti pelukan di trotoar depan bengkel. Tidak ada bunyi keyboard di belakang punggungku. Tidak ada tangan yang menahan diri untuk tidak muntah. Hanya tangan di punggungku, dan bahu yang basah di bawah dahiku, dan napas yang sama tersengalnya dengan napasku.
Aku tidak tahu berapa lama.
Ombak terus datang. Hujan terus turun. Ia tidak bergerak. Ia tidak berkata sudah. Ia tidak berkata nggak apa-apa.
Ia hanya menunggu.
Badai mulai reda sekitar pukul satu pagi.
Ia membawaku ke puskesmas. Ia tidak memegang tanganku. Ia berjalan di sampingku, satu langkah di depan, dengan senter di kepalanya yang menyorot jalan yang banjir, dan setiap beberapa langkah ia menoleh untuk memastikan aku masih di belakangnya.
Di UGD, teman koasnya yang pendek, Mitha, menatapku dari samping ranjang Ujang. Matanya merah. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengambil handuk dari lemari dan melemparkannya padaku.
Bu Nengsih datang dari ruang belakang membawa sarung dan kaus kering. Kaus laki-laki, terlalu besar untukku, bergambar logo partai yang sudah lama bubar.
“Punya suami saya,” katanya. “Almarhum. Udah lama saya simpen. Nggak ada yang pakai.”
Ia menyodorkan kaus itu tanpa menatapku.
“Ganti di kamar mandi,” katanya. “Basah gitu nanti kena hipotermia. Dokter nggak mau ngobatin dua pasien malem ini.”
Aku berganti di kamar mandi puskesmas. Kaus partai yang sudah bubar. Sarung kotak-kotak. Aku menatap diriku di cermin kecil di atas wastafel.
Mataku bengkak. Wajahku merah. Rambutku basah dan berantakan, terlalu panjang, belum dipotong sejak Jakarta.
Aku terlihat seperti orang yang baru saja menangis tiga tahun dalam satu malam.
Shella menyuruhku berbaring di ranjang observasi di ruang sebelah UGD.
“Suhumu tiga puluh lima koma delapan,” katanya, sambil menatap termometer. “Agak rendah. Tidur di sini sampai pagi. Aku pantau.”
“Aku nggak apa-apa.”
Ia menatapku.
“Aku tahu kamu bakal bilang itu,” katanya.
Aku diam.
Aku berbaring. Kasur berlapis plastik itu berbunyi di bawah tubuhku. Ia menyelimutiku dengan selimut wol tipis dari lemari. Ia tidak menyentuhku saat melakukannya. Ia hanya menarik selimut itu sampai ke dadaku, lalu mundur.
Ia duduk di kursi plastik di samping ranjang.
“Tidur,” katanya.
Aku menatap langit-langit. Lampu darurat kuning redup. Atap yang bocor sedikit di pojok, menetes ke ember plastik di lantai. Tik. Tik. Tik.
“Shella.”
Ia membeku di kursinya.
Aku tidak menatapnya. Aku menatap langit-langit.
Aku sudah memanggil namanya sekali. Di dermaga, sore itu, dengan kopi hitam di tanganku. Setelah itu, aku kembali ke Dok. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena nama itu terlalu berat. Mungkin karena memanggil namanya berarti mengakui bahwa ia bukan lagi orang asing yang sopan.
“Hm,” katanya. Suaranya pelan.
“Makasih.”
Ia tidak menjawab. Aku mendengarnya menarik napas, tersengal sedikit di tengah.
Aku memejamkan mata.
Aku tertidur sebelum tetesan ke sepuluh di ember plastik.
Aku terbangun karena cahaya.
Matahari. Masuk dari jendela kecil di dinding ruang observasi, oranye pucat, jatuh miring di atas lantai keramik dan ember plastik yang sudah setengah penuh air hujan.
Aku tidak tahu jam berapa. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku tidur sampai matahari sudah terbit. Tidak sejak Cipinang. Tubuhku selalu bangun pukul empat. Tidak pernah lewat.
Hari ini lewat.
Aku menoleh.
Shella masih di kursi plastik di samping ranjang. Ia tertidur. Duduk. Kepalanya terkulai ke depan, dahinya bersandar di tepi kasur observasi, di samping tanganku. Rambutnya terlepas dari ikatannya, jatuh di atas selimut wol, di atas lenganku. Ia masih memakai baju yang basah semalam, yang sudah setengah kering dan kusut. Jas putihnya tergantung di sandaran kursi.
Ia cantik.
Bukan cantik seperti di kontrakan hijau, dengan gaun hijau pupus dan krim cokelat di ujung jari. Bukan cantik seperti benda mahal di rak plastik. Bukan cantik seperti sesuatu yang retak tapi belum pecah, di balik jendela puskesmas pukul enam pagi.
Cantik seperti orang yang menunggu semalaman.
Di pangkuannya, di antara tangannya yang terkulai, ada buku kecil bersampul cokelat. Tiga ribuan. Terbuka.
Aku tidak berniat membacanya.
Tapi buku itu terbuka di halaman yang paling akhir, dan cahaya matahari jatuh tepat di atasnya, dan tulisannya cukup besar untuk kubaca dari tempat aku berbaring.
Tulisan yang tidak tegak. Tidak presisi. Hurufnya bergoyang, seperti ditulis dengan tangan yang gemetar, di bawah cahaya lampu darurat, saat aku sedang tidur.
Hari ke-187.
Badai. Dermaga lama. Dia berdiri di ujung. Aku tarik kausnya. Dia tidak tersentak.
Dia berteriak. Semuanya. Kopi. Keyboard. Cermin. Ludah. Klik.
Dia tanya sudah. Aku bilang belum.
Dia menangis. Pertama kali.
Aku tanya boleh aku peluk. Dia condong. Dahinya di bahuku.
Lalu, di bawahnya, dengan tinta yang sedikit berbeda. Ditulis lebih kemudian. Mungkin saat subuh, saat aku masih tidur.
Hari ke-188.
Dia tidur. Sudah tiga jam. Tidak bangun jam empat.
Dia panggil namaku. Dia bilang makasih.
Aku sudah melewati angkanya.
Aku tidak tahu apa yang ada setelah seratus delapan puluh tujuh. Aku pikir ada garis. Aku pikir setelah garis itu ada sesuatu. Lunas. Atau selesai.
Tidak ada garis. Hanya hari ke-188.
Besok hari ke-189.
Aku akan terus menulis.
Aku menatap tulisan itu lama.
Seratus delapan puluh tujuh hari, aku menghitung setiap kehilangan dengan huruf kecil yang tegak dan presisi. Kertas di papan RT. Pagar. Kaleng biskuit. Bengkel. Kontrakan. Foto. Lampiran. Beasiswa. Ludah.
Aku berhenti di angka itu. Sudah.
Ia menghitung juga. Dengan huruf yang tidak tegak. Setiap hari. Setiap hal yang ia coba perbaiki. Sarapan yang tidak kumakan. Surat yang tidak kubaca. Dinding hijau muda. Lampu jalan. Sambal tangan kiri. Sembilan jahitan.
Ia tidak berhenti di angka itu.
Ia melewatinya. Dan ia tidak menemukan apa-apa di seberangnya. Tidak ada garis. Tidak ada lunas.
Dan ia tetap menulis besok hari ke-189.
Aku menggerakkan tanganku. Pelan. Dari bawah selimut wol.
Rambutnya ada di atas lenganku. Helai-helai hitam yang lepas dari ikatannya.
Aku tidak menyentuh wajahnya. Aku tidak menyentuh rambutnya.
Aku hanya membiarkan tanganku diam di sana. Di bawah rambutnya. Di samping dahinya yang bersandar di tepi kasur.
Hangat.
Pintu ruang observasi terbuka.
Mitha masuk dengan dua gelas teh di tangan, rambut yang kusut, dan wajah orang yang tidak tidur semalaman di samping pasien fraktur tibia.
Ia berhenti saat melihat kami.
Ia menatap Shella yang tertidur dengan dahi di tepi kasur. Ia menatap tanganku yang diam di bawah rambutnya. Ia menatapku.
Untuk sesaat, ia tidak berkata apa-apa.
Lalu ia meletakkan kedua gelas teh itu di meja kecil di dekat pintu. Pelan. Supaya tidak berbunyi.
“Gue bilang ke residen gue diare,” bisiknya, ke arahku. “Sekarang gue beneran diare. Karena kopi sachet puskesmas.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Mitha menatapku sedikit lebih lama. Lalu ia menunjuk lenganku dengan dagunya.
“Masih bagus,” bisiknya. “Lengannya. Gue bilang dari awal.”
Ia keluar dan menutup pintu pelan-pelan.
Aku menatap pintu yang tertutup.
Lalu, untuk kedua kalinya dalam dua minggu, sudut bibirku terangkat.
Aku tidak membatalkannya.
Shella terbangun dua puluh menit kemudian.
Ia mengangkat kepalanya dari tepi kasur dengan cepat, seperti orang yang tertangkap basah tertidur saat jaga. Rambutnya berantakan. Ada bekas lipatan selimut di pipinya.
Ia melihat tanganku. Di tempat dahinya tadi bersandar.
Ia melihat buku cokelat di pangkuannya, yang masih terbuka di halaman terakhir.
Ia menatapku. Wajahnya memerah.
“Kamu baca?”
“Kebuka,” kataku. “Mataharinya jatuh di situ.”
Ia menutup buku itu dengan cepat dan memeluknya di dada.
“Itu nggak buat dibaca.”
“Aku tahu,” kataku. “Bukuku juga nggak buat dibaca. Kamu baca.”
Ia membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
Lalu, pelan, ia tertawa. Tawa kecil yang pecah, basah, dengan mata yang tiba-tiba berair.
“Itu nggak adil,” katanya.
“Nggak,” kataku. “Nggak adil.”
Ia mengusap matanya dengan punggung tangan.
Aku menatapnya. Shella. Rambut berantakan, baju setengah kering, bekas lipatan selimut di pipi, buku cokelat tiga ribuan di dada.
“Seratus delapan puluh delapan,” kataku.
Ia berhenti tertawa.
“Kamu udah lewat,” kataku pelan.
Ia menatapku lama. Matanya basah.
“Nggak ada apa-apa di seberangnya,” katanya. “Aku pikir ada.”
“Aku tahu.”
“Kamu juga nggak nemu apa-apa? Di seratus delapan puluh tujuh?”
Aku memikirkan pertanyaan itu. Lahan bekas ruko. Bunga sedap malam. Sapu tangan abu-abu di rumput. Sudah?
“Aku nemu dermaga ini,” kataku.
Ia tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan buku cokelat di dadanya.
Di luar jendela, matahari naik di atas laut yang mulai tenang. Abu-abu kebiruan. Ombaknya kecil sekarang. Menjilat pasir pelan-pelan, seolah semalam tidak pernah terjadi apa-apa.
Semalam laut marah. Ia tidak menyembunyikannya.
Hari ini, laut tenang. Ia juga tidak menyembunyikannya.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188 reading
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365