← Hukuman Kedua

Chapter Eighteen

Bab 18 — Berkas yang Hilang

POV: Shella

Aku memberikan laporan itu padanya tiga hari sebelum tenggat.

Seratus dua belas halaman, dijilid hard cover warna biru tua dengan huruf emas di sampulnya, di tempat jilid langganan Mama di Fatmawati. Aku membayar ekstra supaya selesai dalam sehari. Hasilnya rapi. Sangat rapi. Seperti skripsi mahasiswa yang orang tuanya mampu.

Ia menerimanya di tangga besi kamar kos. Ia membalik halaman-halamannya pelan, memeriksa setiap gambar, setiap tabel, setiap persamaan. Lalu sampai ke bagian lampiran.

Ia berhenti.

Lampiran itu berisi foto-foto lembar hitungannya. Dicetak berwarna, jelas, rapi. Tapi bukan lembar aslinya. Bukan kertas bergaris yang ditulisi pensil di lokasi proyek, dengan noda debu semen di pojoknya dan paraf kecil di bawah setiap halaman.

“Lembar aslinya?” tanyanya.

Aku sudah menyiapkan jawaban ini sejak malam aku menekan tombol format.

“Mas,” kataku, dan aku membuat suaraku pecah sedikit. “Maaf banget. Aku titip di tempat jilid, buat dijilid sekalian di belakang. Pas aku ambil, mereka bilang map plastiknya nggak ada. Aku udah marah-marah. Aku udah suruh mereka cari di seluruh toko. Katanya mungkin kebuang sama karyawan baru, dikira kertas bekas.”

Ia menatapku.

“Makanya aku foto dulu sebelum kutitip,” lanjutku cepat. “Untung aku foto. Jadi lampirannya masih ada, walaupun bukan yang asli.”

Ia diam lama.

“Flashdisk-nya?”

“Ada. Ini.” Aku mengulurkan flashdisk itu. “Tapi kemarin aku colok di laptopku, terus ada tulisan disk-nya rusak. Minta diformat. Aku nggak berani format. Aku nggak ngerti komputer, Mas.”

Ia mengambil flashdisk itu dari tanganku. Ia memutarnya pelan di antara jari-jarinya. Ia tidak mencolokkannya ke mana pun. Ia hanya menatapnya.

“Oke,” katanya.

Hanya itu.

Ia menutup laporan hard cover itu, memasukkan flashdisk ke saku kemejanya, dan mengeluarkan buku cokelat dari saku celananya. Ia menulis sesuatu. Dua baris. Lalu ia menutupnya.

“Makasih udah dijilid,” katanya. “Bagus.”

“Mas nggak marah?”

“Nggak.”

“Tapi lampirannya—”

“Masih ada fotonya.” Ia berdiri. “Dimas bilang yang penting isinya. Semoga asesornya juga.”


Hari wawancara jatuh pada hari Selasa. Aku tukar jaga dengan Mitha supaya bisa menemaninya.

Mitha menyetujuinya tanpa banyak bicara. Itu aneh. Mitha biasanya akan menuntut imbalan, nasi padang atau martabak atau mentraktirnya kopi seminggu. Tapi sejak malam di pantry, sejak ia melihatku tersenyum menonton Jejak Perkara, ia jadi lebih pendiam di dekatku. Ia masih bicara. Masih bercanda. Tapi kadang aku menangkapnya menatapku dari seberang ruangan dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

“Lo nemenin dia ke mana?” tanyanya saat aku memintanya tukar jaga.

“Wawancara sertifikasi.”

Mitha mengangguk pelan. “Semoga lolos.”

“Iya.”

“Lo juga berharap dia lolos, kan, Shel?”

Pertanyaan itu sederhana. Diucapkan dengan nada biasa. Tapi Mitha menatapku saat mengucapkannya.

“Ya iyalah,” kataku. “Dia pacar gue.”

Mitha tidak menjawab. Ia hanya menepuk bahuku dua kali, lalu pergi ke bangsal.


Gedung asosiasi itu berada di Jakarta Selatan, bangunan perkantoran enam lantai dengan kaca biru dan lobi berlantai marmer yang dingin. Laki-laki itu memakai kemeja abu-abu muda yang kuberikan. Kemeja yang sama dengan hari ia dipecat. Bagian ujung lengannya yang gosong sudah ia tambal dengan jahitan kecil yang rapi, dengan benang yang warnanya hampir sama.

Ia menjahitnya sendiri. Aku tahu itu tanpa bertanya.

Ia membawa laporan hard cover biru tua itu di tangan kirinya, dan map berisi dokumen-dokumen lain di tangan kanannya. Surat keterangan dari lapas. Surat rekomendasi dari Dimas. Fotokopi ijazah. Fotokopi KTP.

“Kamu tunggu di bawah aja,” katanya di lobi. “Nggak lama.”

“Aku tunggu di sini, Mas.”

Ia mengangguk. Lalu ia berdiri sebentar di depanku, menatapku, seolah ingin mengatakan sesuatu.

“Doain,” katanya akhirnya.

Kata itu menusuk dadaku seperti jarum suntik yang meleset dari pembuluh darah.

“Pasti, Mas.”

Ia masuk ke lift.


Ia keluar empat puluh menit kemudian.

Aku tahu sebelum ia mengatakan apa pun. Aku tahu dari cara ia berjalan keluar dari lift. Tidak lebih cepat, tidak lebih lambat dari biasanya. Punggungnya lurus. Wajahnya tenang. Laporan hard cover biru tua itu masih di tangan kirinya.

Tapi ada sesuatu yang hilang. Seperti bangunan yang terlihat utuh dari luar, tapi kau tahu, dari cara cahaya jatuh di jendelanya, bahwa di dalamnya sudah kosong.

Ia berjalan melewatiku. Keluar dari lobi. Keluar dari gedung. Aku menyusulnya.

Di halte bus di depan gedung, ia duduk di bangku besi panjang. Ia meletakkan laporan dan map itu di sampingnya.

Aku duduk di sisi lain laporan itu.

Ia tidak bicara.

Bus-bus berhenti di depan halte, membuka pintu, menutup pintu, pergi. Orang-orang naik dan turun. Pengamen dengan gitar kecil menyanyikan lagu cinta yang sumbang lalu pergi karena tidak ada yang memberi. Matahari bergerak dari atas kepala ke arah barat, dan bayangan tiang halte bergeser pelan di trotoar.

Ia tidak bicara.

Aku menunggu. Sepuluh menit. Dua puluh. Empat puluh.

Aku menatap tangannya yang terlipat di atas lututnya. Tangan yang mengukur diameter selang stetoskop dengan jangka sorong. Tangan yang menggambar aliran beban dengan saus tomat. Tangan itu tidak gemetar. Tangan itu benar-benar diam, seperti tangan orang yang sedang tidur.

Satu jam.

Lalu ia berbicara. Suaranya datar. Lebih datar dari biasanya.

“Ditolak.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak percaya suaraku.

“Tiga alasan,” lanjutnya. Ia menatap jalan raya di depan kami. “Pertama, lampiran hitungan lapangan bukan dokumen asli. Mereka bilang nggak bisa memverifikasi kajiannya dari pengamatan langsung. Ada dugaan diambil dari sumber lain.”

Tanganku mengepal di pangkuanku.

“Kedua, berkas digital pendukung nggak bisa dibuka. Mereka minta file kerja aslinya. Aku bilang flashdisk-nya rusak. Mereka bilang itu bukan urusan mereka.”

Bus lain berhenti. Pintunya terbuka. Tidak ada yang naik.

“Ketiga.” Ia berhenti sebentar. “Ada surat keberatan. Atas nama keluarga salah satu korban. Masuk ke asosiasi seminggu lalu. Isinya minta supaya sertifikasiku nggak dipulihkan. Demi rasa keadilan.”

Dadaku dingin.

Aku tidak menulis surat itu. Pak Hadi yang menulisnya. Aku tahu ia akan mengirim sesuatu. Aku tidak bertanya apa.

Atas nama keluarga salah satu korban.

Ada tiga keluarga. Keluarga Pak Sarip. Keluarga Pak Waluyo. Dan keluargaku.

Laki-laki itu tidak menatapku saat mengatakannya. Ia menatap jalan raya. Lurus. Diam.

“Ketua timnya bilang,” lanjutnya, “dengan adanya surat itu, mereka nggak bisa mempertimbangkan permohonan ulang sampai ada perkembangan baru. Minimal dua tahun lagi. Atau nggak sama sekali.”

Ia mengatakannya seperti membacakan hasil laboratorium. Angka. Fakta. Tanpa intonasi.

“Mas,” kataku. Suaraku keluar serak. “Mas, aku—”

“Lampiran aslinya,” katanya. Untuk pertama kalinya ia menoleh padaku. “Nggak ketemu, ya?”

Matanya tenang. Seperti air danau di pagi hari.

Aku menatap mata itu. Di laci paling bawah meja riasku, di bawah stetoskop dan di samping jaket parasut hitam, ada map plastik berisi dua puluh tiga lembar kertas bergaris dengan tulisan pensil dan noda debu semen.

“Nggak ketemu, Mas,” kataku. “Maaf.”

Ia mengangguk sekali.

“Oke.”

Lalu ia menatap jalan lagi.


Kami duduk di sana sampai matahari terbenam.

Ia tidak menangis. Aku terus menunggunya menangis. Aku terus menunggunya marah, membanting laporan itu, memukul tiang halte, berteriak pada dunia. Aku terus menunggu sesuatu, apa pun, yang menunjukkan bahwa ia sudah sampai di dasar. Yang menunjukkan bahwa ia sudah hancur.

Ia tidak melakukan apa pun.

Ia hanya duduk. Diam. Menatap jalan. Seperti seseorang yang sedang menunggu bus yang ia tahu tidak akan pernah datang, tapi tetap menunggu, karena tidak ada lagi tempat lain untuk pergi.

Saat lampu-lampu jalan menyala, ia akhirnya berdiri. Ia mengambil laporan hard cover dan map itu dari bangku.

Lalu ia berjalan ke tempat sampah di ujung halte.

Ia berdiri di depan tempat sampah itu dengan laporan biru tua di tangannya. Seratus dua belas halaman. Dua minggu tanpa tidur. Saus tomat di atas nampan plastik. Jembatan gantung kecil untuk anak sekolah.

Ia menatap laporan itu lama.

Lalu ia tidak membuangnya. Ia memasukkannya ke dalam tas ranselnya yang lusuh, bersama map dokumen, dan menutup ritsletingnya.

“Ayo pulang,” katanya padaku. “Udah malam.”

“Mas…”

“Hm.”

“Jembatannya,” kataku. Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. “Jembatan gantung yang Mas mau bangun.”

Ia diam sebentar. Lalu ia mengangkat bahu sedikit.

“Nggak apa-apa,” katanya. “Bisa dibangun orang lain.”

Ia berjalan ke arah parkiran, ke tempat mobilku diparkir.

Aku berdiri di halte itu sendirian, di bawah lampu jalan yang baru menyala, dan untuk sesaat aku tidak bisa menggerakkan kakiku.

Bisa dibangun orang lain.

Ia sudah menyerah. Bukan pada sertifikasi. Pada dirinya sendiri. Pada gagasan bahwa ia, Arya Mahesa, pantas membangun sesuatu yang berdiri.

Inilah yang kuinginkan. Aku menginginkannya sejak malam aku berdiri di depan cermin kamar mandi tiga tahun lalu. Aku ingin ia merasakan hidupnya runtuh, lantai demi lantai, sampai ia percaya ia pantas.

Ia percaya sekarang.

Aku menang.


Ia tertidur di mobil.

Itu yang pertama kalinya. Dalam lebih dari seratus enam puluh hari, ia selalu duduk tegak di jok penumpang, punggung tidak menyandar, tangan di pangkuan, seolah mobilku tempat yang tidak boleh ia nikmati. Malam itu, sepuluh menit setelah kami keluar dari parkiran, kepalanya miring ke jendela, dan napasnya menjadi pelan dan dalam.

Aku menyetir lebih pelan.

Di lampu merah Pancoran, aku menoleh padanya. Wajahnya diterangi lampu jalan yang jingga. Dalam tidur, wajah itu terlihat lebih muda. Lebih lelah. Garis di antara alisnya, yang selalu ada saat ia bangun, sekarang hilang.

Ia terlihat seperti seseorang yang sudah lama sekali tidak tidur.

Aku tidak membangunkannya saat sampai di depan laundry. Aku mematikan mesin dan duduk di sana. Lima menit. Sepuluh. Lampu papan nama laundry berkedip merah, biru, merah, biru, di atas wajahnya.

Aku mengangkat tangan. Aku tidak tahu untuk apa. Mungkin untuk menyentuh wajahnya. Mungkin untuk membangunkannya.

Tanganku berhenti di udara, sejengkal dari pipinya.

Aku menurunkannya kembali ke setir.

Akhirnya ia terbangun sendiri, karena klakson motor lewat. Ia mengerjap, melihat sekeliling, lalu melihatku.

“Maaf,” katanya serak. “Ketiduran.”

“Nggak apa-apa, Mas.”

Kata-kata itu keluar dari mulutku. Kata-katanya. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai memakainya.


Malam itu, pukul dua pagi, aku membuka laci paling bawah meja riasku.

Aku mengeluarkan map plastik itu. Dua puluh tiga lembar kertas bergaris. Tulisan pensil yang kecil, tegak, dan presisi. Sketsa kolom dengan retak rambut yang digambar dengan garis putus-putus. Angka-angka. Paraf kecil di pojok kanan bawah setiap halaman.

Di halaman terakhir, di bawah semua hitungan, ada satu kalimat yang ditulis dengan pensil yang lebih tipis, seperti ditulis belakangan.

Kolom ini harus dibongkar. Ada keluarga yang akan tinggal di atasnya.

Aku menatap kalimat itu.

Lalu aku memasukkan lembar-lembar itu kembali ke map plastik, menutupnya, dan meletakkannya di laci paling bawah. Aku menutup laci itu rapat-rapat.

Aku tidak membakarnya. Aku tidak merobeknya.

Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa.

Ponselku bergetar. Pesan dari nomor yang tidak tersimpan.

Selesai. Sertifikasi ditutup. Tinggal satu lagi di daftar Mbak. Nomor lima. — H

Adiknya. Apa pun yang dia sayangi.

Aku menatap pesan itu sampai layar ponselku meredup dan mati sendiri dalam gelap.