← Hukuman Kedua

Chapter Thirty Six

Bab 36 — Mang Udin Pergi

POV: Shella

Pukul sembilan pagi, ruang tengah rumah Mang Udin yang sempit berisi delapan orang.

Mbak Dewanti dengan map tebal dan kacamata yang terus melorot. Seorang notaris tua dengan jas abu-abu dan tas kulit yang sudah retak di sudut-sudutnya. Dua saksi dari LBH, mahasiswa hukum yang magang, duduk berdempetan di atas tikar dengan wajah tegang. Seorang penyidik dari Polda, laki-laki berusia tiga puluhan berkemeja batik, yang memperkenalkan diri sebagai Iptu Fajar dan membawa laptop tua di dalam tas punggung.

Istri Mang Udin. Aku.

Dan Mang Udin, di kasurnya, dengan bantal yang ditumpuk tiga supaya ia bisa setengah duduk, dan selang oksigen yang mendesis pelan di hidungnya.

Ia memakai baju koko putih. Istrinya yang memakaikannya pagi tadi. Kopiah hitam di kepalanya. Seperti di pemakaman Ayah, tiga tahun lalu, saat ia berdiri paling belakang dan menangis paling keras.

“Saya mau rapi,” katanya padaku, saat aku datang pukul delapan. “Ini penting.”


Iptu Fajar mengajukan pertanyaan pelan-pelan. Dengan sabar. Seperti seseorang yang sudah sering mengambil keterangan dari orang sakit.

Mang Udin menjawab semuanya.

Nama lengkap. Umur. Alamat. Pekerjaan sebelumnya. Berapa lama bekerja di Wijaya Konstruksi. Siapa yang memberi perintah untuk mengganti besi. Kapan. Di mana. Dengan kata-kata apa.

Pak Hendra bilang, Din, kita lagi susah. Sedikit aja. Diameter turun satu ukuran. Semennya kurangin sepuluh persen. Nggak bakal kenapa-kenapa. Bangunannya cuma tiga lantai.

Ke mana material itu dijual. Berapa harganya. Siapa yang menerima uangnya.

Saya serahin ke Pak Hendra langsung. Di mobilnya. Di parkiran proyek. Pakai amplop cokelat.

Siapa yang pertama kali menyadari pengurangan itu.

Mas Arya. Insinyur strukturnya. Dua hari sebelum runtuh. Dia ukur sendiri pakai jangka sorong. Dia nanya ke saya. Saya nggak bisa jawab. Dia langsung ke kantor Pak Hendra.

Apa yang terjadi setelah itu.

Pak Hendra minta seminggu. Mas Arya setuju. Dua hari kemudian runtuh.

Mengapa Saudara Arya mengaku bersalah di persidangan.

Mang Udin diam lama sebelum menjawab yang ini. Napasnya pendek. Desis oksigen terdengar sangat keras di ruangan yang sunyi.

Karena kalau dia bilang yang sebenarnya, keluarga Pak Hendra habis. Karena Pak Hendra yang bayarin sekolah adiknya. Karena Pak Hendra yang nerima dia kerja waktu dia nggak punya siapa-siapa.

Karena dia orang baik, Pak. Orang paling baik yang pernah saya kenal. Dan saya diem aja, tiga tahun, liat dia dipenjara.

Iptu Fajar berhenti mengetik. Ia menatap layar laptopnya sebentar, lalu menatap Mang Udin.

“Bapak menyesal?” tanyanya. Pertanyaan itu tidak ada di formulir. Aku tahu dari cara ia mengucapkannya.

Mang Udin menatap langit-langit.

“Tiap malam, Pak,” katanya. “Tiap malam selama tiga tahun.”


Pukul sebelas lewat dua puluh, notaris membacakan surat pernyataan itu dengan suara keras. Empat halaman. Setiap kalimat yang diucapkan Mang Udin, disusun ulang dalam bahasa hukum yang kaku.

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sebenar-benarnya, di bawah sumpah, dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari pihak mana pun…

Mang Udin mendengarkan dengan mata terpejam.

Saat notaris selesai, istrinya membantu Mang Udin duduk lebih tegak. Mbak Dewanti meletakkan papan alas di pangkuannya, dengan surat pernyataan di atasnya. Notaris menyerahkan pulpen.

Tangan Mang Udin gemetar begitu keras sampai ujung pulpen itu bergetar di atas kertas.

Ia mencoba menulis. Garis pertama keluar bengkok. Ia berhenti. Menarik napas. Mencoba lagi.

Aku berlutut di samping kasurnya.

Aku tidak menyentuh tangannya. Aku tidak memegangi pulpennya. Itu harus tangannya sendiri. Aku hanya meletakkan telapak tanganku di bawah papan alas itu, menahannya supaya tidak bergeser.

Mang Udin menatapku sebentar.

Lalu ia menulis. Pelan. Huruf demi huruf. U. d. i. n. Lalu nama belakangnya. Lalu sebuah coretan panjang di bawahnya, seperti garis bawah yang terlalu bersemangat.

Ia melepaskan pulpennya. Pulpen itu jatuh ke kasur.

Ia menghela napas panjang. Panjang sekali. Seperti seseorang yang sudah menahan napas selama tiga tahun dan baru sekarang diizinkan bernapas.

“Udah,” katanya.

Notaris membubuhkan cap. Dua saksi tanda tangan. Iptu Fajar menyimpan berkas di laptopnya dan mencetak satu salinan dengan printer portabel kecil yang ia bawa di tas.

Mbak Dewanti menyentuh bahuku.

“Ini cukup,” katanya pelan. “Dengan buku catatan ayah Mbak dan pernyataan ini, laporan bisa diproses. Kepolisian akan memanggil pemilik Toko Sumber Rejeki. Dan perusahaan.”

Aku mengangguk.

Saat semua orang mulai berkemas, Mang Udin memanggilku. Suaranya tinggal bisikan.

“Neng.”

Aku mendekat.

“Bilang ke Mas Arya,” katanya. “Mamang nggak nurut. Mamang minta maaf nggak nurut.”

“Iya, Mang.”

“Bilang juga…” Ia berhenti. Napasnya tersengal. Istrinya mengelus dadanya. “Bilang juga, Mamang udah tenang sekarang. Mamang nggak takut lagi.”

“Iya, Mang.”

Ia tersenyum. Pertama kalinya aku melihatnya tersenyum. Senyum kecil, dengan bibir yang pecah-pecah dan gigi yang sudah ompong di satu sisi.

“Neng juga,” katanya. “Jangan takut.”


Mang Udin meninggal hari Senin, pukul tiga pagi.

Istrinya meneleponku pukul empat. Aku masih di hotel kecil di dekat stasiun Bekasi. Aku belum kembali ke Pelabuhanratu. Aku sudah meminta izin dari puskesmas untuk tiga hari, dan Bu Nengsih bilang, pergi aja, Dok, pasien-pasien di sini udah biasa ditinggal dokter.

“Tidurnya tenang, Dok,” kata istri Mang Udin di telepon, suaranya pecah. “Kemarin malem dia minta disuapin bubur. Habis. Terus dia bilang ngantuk. Terus tidur. Terus nggak bangun.”

Aku duduk di tepi kasur hotel dengan ponsel di telinga.

“Dia senyum, Dok,” kata istrinya. “Pas saya liat dia subuh tadi. Mukanya senyum.”


Pemakamannya pukul sepuluh pagi, di pemakaman umum di dekat rumahnya.

Tidak banyak yang datang. Tetangga. Beberapa kerabat dari kampung. Dua laki-laki tua yang kukira mantan tukang Wijaya Konstruksi, yang berdiri di belakang dengan peci miring dan wajah yang tidak bisa memutuskan apakah mereka harus sedih atau malu.

Aku berdiri di samping istri Mang Udin. Aku memegang payungnya, karena gerimis turun tipis-tipis sejak pagi.

Saat jenazah diturunkan ke liang lahat, aku melihat seseorang di ujung pemakaman.

Jauh. Di bawah pohon kamboja besar di dekat pagar. Berdiri sendirian. Kemeja abu-abu yang basah gerimis di bahunya.

Ia tidak mendekat. Ia tidak bergabung dengan orang-orang di sekitar liang lahat. Ia hanya berdiri di bawah pohon kamboja itu, dengan kedua tangan terlipat di depan perut, menunduk.

Ia berdoa.

Lama.

Aku menatapnya dari kejauhan. Aku tidak bergerak. Aku memegang payung untuk istri Mang Udin, dan aku menatap laki-laki di bawah pohon kamboja itu, dan aku tidak tahu bagaimana ia tahu.

Mungkin istri Mang Udin meneleponnya. Mungkin ia meninggalkan nomornya saat datang, tiga hari lalu.

Mungkin ia sudah tahu sejak ia pamit, bahwa ia akan kembali ke sini secepat ini.

Saat azan dikumandangkan di atas liang lahat, aku melihatnya mengangkat wajah. Ia menatap ke arah kerumunan. Ke arah liang lahat.

Ke arahku.

Sedetik. Mungkin dua.

Lalu ia berbalik dan berjalan pergi, melewati pagar pemakaman, ke jalan raya, di bawah gerimis.

Ia tidak menoleh.

Ia pasti sudah tahu. Ia pasti melihat surat pernyataan itu, atau mendengarnya dari istri Mang Udin. Ia pasti tahu bahwa aku melakukan hal yang ia minta untuk tidak dilakukan.

Ia tidak berkata apa-apa.

Itu lebih buruk dari apa pun yang bisa ia katakan.


Aku pulang ke Pondok Indah sore itu.

Mama sudah menungguku di ruang tengah. Bukan dengan drama Korea dan masker wajah. Dengan Om Freddy, yang duduk di sofa dengan setelan jas biru tua dan wajah yang pucat.

Televisi mati. Piring mangga tidak ada.

“Duduk, Shel,” kata Mama.

Aku tidak duduk.

“Kamu lapor polisi,” kata Om Freddy. Bukan pertanyaan. “Polda menghubungi kantor saya pagi ini. Ada laporan baru soal kasus ruko Bekasi. Pelapornya kamu. Dengan bukti buku catatan Pak Hendra dan pernyataan di bawah sumpah dari Udin Saepudin.”

“Iya, Om.”

Om Freddy memijat dahinya.

“Shella. Kamu tahu apa artinya ini? Kamu tahu apa yang bisa terjadi pada perusahaan? Asuransi bisa menuntut kembali. Keluarga korban bisa menggugat. Bank bisa menarik semua fasilitas kredit. Tiga ratus karyawan…”

“Saya tahu, Om.”

“Kamu tahu?” Om Freddy berdiri. Suaranya naik. “Kamu tahu apa yang ayahmu korbankan buat bangun perusahaan itu? Kamu mau hancurin semuanya buat siapa? Buat orang yang udah selesai dihukum? Yang udah bebas? Yang bahkan nggak minta apa-apa?”

“Dia nggak minta apa-apa, Om,” kataku pelan. “Itu masalahnya.”

Om Freddy menatapku dengan mulut terbuka.

Mama tidak bicara selama itu. Ia duduk di sofa dengan tangan terlipat di pangkuan, menatap layar televisi yang hitam.

Lalu ia berdiri.

Ia berjalan ke meja kecil di samping sofa dan mengambil sebuah map. Map biru. Ia menyodorkannya padaku.

Aku membukanya.

Surat dari bank. Surat pemberitahuan pembekuan rekening dana perwalian atas namaku, atas permintaan wali. Ditandatangani Mama. Tertanggal hari ini.

Aku menatap tanda tangan Mama di bagian bawah. Tanda tangan yang sama yang ada di surat izin study tour, di rapor SD, di kartu ucapan ulang tahun.

“Mama nggak bisa ikut, Shel,” kata Mama. Suaranya pelan dan rata, seperti suara yang sudah dilatih semalaman di depan cermin. “Mama nggak bisa ikut kamu ngancurin semuanya. Mama nggak sekuat kamu. Mama nggak seberani kamu.”

“Ma—”

“Kalau kamu tetap mau lakuin ini,” lanjut Mama, tanpa menatapku, “kamu lakuin sendiri. Tanpa uang keluarga. Tanpa nama keluarga. Tanpa rumah ini.”

Hening.

Om Freddy menatap Mama dengan wajah terkejut. Ia pasti tidak tahu Mama akan sejauh ini.

“Ratna…”

“Mama nggak ngusir kamu,” kata Mama, akhirnya menatapku. Matanya basah. Tapi suaranya tidak bergetar. “Mama cuma nggak bisa ikut. Kalau kamu berhenti, pintu rumah ini selalu terbuka. Kalau kamu nggak berhenti…”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Aku menatap Mama. Perempuan yang tidur di lantai lorong di depan kamarku, dua bulan lalu, menungguku berhenti menangis. Perempuan yang memegang pergelangan tanganku di meja makan dan bilang aku harus makan yang benar.

Perempuan yang takut. Yang selalu takut. Yang memilih tidak bertanya karena bertanya berarti harus memilih.

Sekarang ia memilih.

Aku tidak marah padanya. Aku mencoba marah, dan aku tidak bisa. Aku hanya merasa sangat lelah, dan sangat sedih, dan sedikit lega, karena setidaknya sekarang semuanya jelas.

“Aku nggak akan berhenti, Ma,” kataku.

Mama memejamkan mata.

Aku menutup map biru itu dan meletakkannya kembali di meja kecil. Aku naik ke kamarku. Aku mengemasi koper. Pakaian. Buku-buku kedokteran. Laci paling bawah meja rias: jaket parasut hitam, map plastik berisi dua puluh tiga lembar hitungan, buku cokelat milik Arya, surat Mang Udin yang sudah kuserahkan tapi amplopnya kusimpan, kertas spidol Pak Gondo.

Kunci mobil. Mobil itu atas nama perusahaan. Aku meninggalkannya di meja rias.

Aku melepas meteran pita kuningan dari gantungannya. Aku memasukkannya ke saku celana. Bersama meteran kembarannya, yang kutemukan di kotak perkakas Ayah.

Saat aku turun dengan koper, Mama sudah tidak ada di ruang tengah. Pintu kamarnya tertutup.

Mbok Sum berdiri di dekat pintu depan. Matanya merah. Ia menyodorkan sebuah kantong plastik.

“Bekal, Mbak,” katanya. “Nasi sama rendang. Buat di jalan.”

Aku mengambilnya.

“Mbak mau ke mana?”

“Pelabuhanratu, Mbok.”

“Naik apa? Mobil Mbak…”

“Travel.”

Mbok Sum menatapku lama. Lalu ia memelukku. Mbok Sum, yang sudah bekerja di rumah ini sejak aku lahir. Ia memelukku di depan pintu, dengan bau bawang goreng dan minyak kayu putih.

“Mbak jaga diri,” bisiknya. “Mbok doain Mbak. Mbok doain Mas Arya juga.”


Di travel malam menuju Sukabumi, di kursi paling belakang, aku membuka buku cokelat.

Hari ke-97.

Mang Udin tanda tangan. Pakai baju koko putih. Dia bilang: saya mau rapi.

Mang Udin meninggal hari Senin, jam tiga pagi. Dia senyum.

Arya datang ke pemakaman. Berdiri di bawah pohon kamboja. Berdoa. Pergi tanpa bicara. Dia tahu.

Mama membekukan rekeningku. Mama bilang dia tidak bisa ikut.

Aku meninggalkan mobil. Aku membawa dua meteran pita.

Aku menatap jendela travel. Lampu-lampu jalan tol berderet seperti untaian manik-manik, seperti lampu Sudirman dari lounge hotel Senayan.

Lalu aku menambahkan satu baris.

Hari ini aku kehilangan rumah. Arya kehilangan rumah tiga kali karena aku.

Ini baru satu.