Chapter Thirty Eight
Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
POV: Arya
Istri Mang Udin meneleponku hari Minggu malam, dua hari setelah pemakaman.
Aku sedang duduk di ujung dermaga lama. Matahari sudah tenggelam. Laut hitam. Ponselku bergetar di saku dengan nomor yang tidak tersimpan.
“Mas Arya,” katanya. Suaranya masih serak, seperti suara orang yang sudah menangis terlalu lama. “Maaf ganggu. Ibu cuma mau bilang. Polisi dateng lagi tadi siang. Minta salinan surat pernyataan Mamang. Katanya laporannya udah jalan.”
Aku diam.
“Dokter Shella yang lapor, Mas. Hari Senin dia bawa pengacara sama polisi ke sini. Mamang yang minta. Mamang bilang dia nggak mau nurut sama Mas.” Ia terisak pelan. “Maaf, Mas. Ibu nggak bisa nahan Mamang. Ibu nggak mau Mamang meninggal sambil nyimpen dosa.”
“Nggak apa-apa, Bu,” kataku.
“Terus tadi ada wartawan telepon. Katanya hari Kamis ada konferensi pers. Di kantor LBH. Dokter Shella mau ngomong.”
Aku berdiri dari ujung dermaga.
Aku naik travel jam empat subuh hari Kamis. Lagi.
Asep tidak bertanya ke mana. Ia hanya melihatku memakai kemeja abu-abu dari ranjang atas, setengah tidur, dan bergumam, Bang Diem ke Jakarta lagi?, lalu kembali mendengkur.
Mandor tidak memberiku izin. Aku pergi juga. Mungkin aku dipecat. Aku tidak peduli.
Aku tidak tahu persis apa yang ingin kulakukan. Di travel, di kursi paling belakang, aku menyusunnya di kepalaku seperti menyusun urutan pengecoran. Aku akan masuk ke ruangan itu. Aku akan berdiri di depan. Aku akan bilang pada wartawan bahwa ia tidak waras. Bahwa ia trauma kehilangan ayahnya. Bahwa buku catatan itu bisa dipalsukan. Bahwa Mang Udin sakit dan bingung, hipoksia, seperti yang ia sendiri bilang di bangsal.
Aku akan menghentikannya.
Aku sudah membayar terlalu mahal untuk membiarkannya membuang semuanya dalam satu sore.
Aku terlambat.
Travel terjebak macet di tol Jagorawi. Aku sampai di gedung LBH pukul dua lewat dua puluh. Aku naik tangga sempit, melewati toko fotokopi, sampai lantai tiga. Pintu aula terbuka sedikit.
Suaranya terdengar dari dalam.
Saudara Arya mengaku bersalah supaya perusahaan ayah saya tidak disita. Supaya keluarga saya tidak kehilangan rumah.
Aku berdiri di ambang pintu.
Aula itu penuh. Lampu kamera putih dan terang. Di meja panjang di depan, di balik deretan mikrofon, ia duduk dengan kemeja putih dan rambut yang diikat rendah. Ia lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya di jendela puskesmas. Pipinya cekung. Tapi suaranya jelas.
Aku harus masuk. Aku harus berjalan ke depan.
Ada satu kursi kosong di dekat pintu. Paling belakang. Di samping tumpukan kardus air mineral.
Aku duduk.
Aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku hanya duduk sebentar. Sampai aku tahu apa yang sudah ia katakan. Supaya aku bisa membantahnya dengan tepat.
Ia terus bicara. Buku tulis biru. Besi enam belas jadi tiga belas. Mang Udin.
Lalu ia meletakkan kertasnya.
Setelah Saudara Arya bebas dari penjara, saya mendekatinya. Saya berpura-pura memaafkannya.
Kertas di papan RT. Pagar. Kaleng biskuit. Bengkel. Daftar hitam. Kontrakan. Foto. Lampiran. Flashdisk. Surat keberatan.
Ia menyebutkannya satu per satu. Persis seperti di lahan bekas ruko. Tapi suaranya tidak naik. Suaranya turun. Semakin pelan, semakin pelan, seperti beban yang diletakkan satu per satu di atas balok yang sudah melengkung.
Saya mencabut beasiswa adiknya. Adiknya yang berusia tujuh belas tahun. Juara olimpiade kimia.
Saya meludahi wajahnya.
Seseorang di depanku terkesiap.
Aku tidak bergerak.
Saya di sini supaya semua orang tahu bahwa Arya Mahesa bukan pembunuh. Bahwa adiknya, Kinan Mahesa, bukan adik pembunuh.
Aku seharusnya berdiri saat itu.
Aku tahu aku seharusnya berdiri. Kalimat-kalimat yang kususun di travel sudah ada di tenggorokanku. Dia tidak waras. Dia trauma. Bukunya bisa dipalsukan.
Tapi ia menyebut nama Kinan. Dengan suara itu. Di depan tiga puluh dua kamera.
Kinan Mahesa bukan adik pembunuh.
Aku teringat meja kayu di baris kedua dekat jendela. Lekukan tipis yang warnanya lebih terang dari bagian lain, bekas amplas nomor dua ratus, empat ratus, delapan ratus. Tiga hari Kinan duduk di atas tulisan itu.
Kakiku tidak bergerak.
Lalu ia mengangkat wajah, dan ia melihatku.
Dari balik deretan mikrofon, di bawah lampu kamera yang menyilaukan, di antara tiga puluh dua wartawan, ia menemukan kursi paling belakang.
Ia tidak berhenti bicara. Suaranya bergetar sedikit, lalu stabil lagi.
Aku tetap duduk.
Aku tidak tahu kenapa aku tetap duduk.
Aku keluar sebelum sesi tanya jawab selesai. Aku tidak bisa tinggal lebih lama. Aku menuruni tangga sempit, keluar ke trotoar, ke matahari pukul tiga yang panas.
Aku menyeberang jalan. Aku berdiri di halte bus, di samping tiang listrik dan gerobak es tebu.
Bus ke Kampung Rambutan berhenti di depanku. Pintunya terbuka. Kernet berteriak.
Aku tidak naik.
Aku tidak tahu kenapa aku tidak naik.
Lalu aku tahu.
Ada sesuatu yang bergerak di dadaku. Sesuatu yang sudah lama tidak bergerak. Panas. Keras. Naik dari perut ke tenggorokan, seperti air yang mendidih di panci yang ditutup terlalu rapat.
Aku marah.
Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku marah. Tidak di sidang. Tidak di penjara. Tidak saat kertas di papan RT, tidak saat dipecat, tidak saat sertifikasiku ditolak. Tidak saat ia meludahiku.
Aku marah sekarang.
Bus itu pergi. Aku tetap berdiri di halte.
Lima menit kemudian, ia keluar dari pintu samping gedung LBH. Seorang perempuan berkemeja putih menyusulnya. Teman koasnya, yang dulu memegang mikrofon di aula RW dan bilang lenganku bagus. Shella menoleh ke kiri. Ke kanan.
Lalu ia melihatku.
Ia menyeberang.
Ia berhenti satu meter di depanku. Ia menjaga jarak itu. Tangannya di sisi tubuhnya, jauh dari wajahku.
Ia tahu. Sejak hujan di bawah terpal biru, ia tidak pernah lagi mengangkat tangannya ke arahku.
“Arya,” katanya.
Aku menatapnya. Aku membiarkannya melihat wajahku. Aku tidak menyembunyikan apa pun.
Ia mundur setengah langkah. Ia melihatnya.
“Kenapa?” tanyaku.
Suaraku tidak keras. Aku tidak berteriak. Aku tidak pernah berteriak. Tapi suaraku dingin, lebih dingin dari air sumur mess pukul empat pagi, dan aku melihat kata itu mengenainya seperti tamparan.
“Arya, aku—”
“Dua tahun,” kataku.
Ia diam.
“Dua tahun di Cipinang. Dua puluh orang di satu sel. Nasi keras. Air bau karat. Tidur di lantai semen.” Aku mengatakannya pelan. Satu per satu. Seperti ia menyebutkan sabotase-sabotasenya di depan kamera. “Aku bayar dua tahun itu supaya ini nggak terjadi.”
“Aku tahu—”
“Kamu nggak tahu.” Aku menatapnya. “Kamu baru tahu dua bulan. Aku tahu tiga tahun. Aku tahu setiap malam di sel itu. Aku tahu kenapa aku di sana. Aku tahu buat siapa.”
Bus lain berhenti. Pergi. Ia tidak menoleh ke arahnya.
“Supaya ibumu nggak kehilangan rumah,” kataku. “Supaya tiga ratus orang tetap kerja. Supaya kamu bisa pakai jas putih tanpa jadi anak orang yang bikin tiga orang mati. Supaya kamu bisa berdiri di depan pasien tanpa ada yang bisik-bisik di belakangmu. Supaya nama di nisan itu tetap bersih. Huruf emas.”
Ia tidak menangis. Matanya terbuka lebar. Ia menatapku dan menerima setiap kata.
“Aku bayar semuanya,” lanjutku. “Dua tahun. Seratus delapan puluh tujuh hari. Ludah. Aku bayar semua itu. Lunas. Aku kira udah selesai.”
Suaraku pecah sedikit di kata terakhir. Aku menariknya kembali.
“Terus kamu buang,” kataku. “Di depan kamera. Dalam satu sore. Semuanya.”
Ia diam lama.
Gerobak es tebu di sampingku berderit saat penjualnya memutar gilingan. Bau tebu manis memenuhi udara panas.
Lalu ia bicara. Pelan. Tidak membela diri. Tapi tidak juga mundur.
“Itu bukan bebanmu, Arya.”
Aku menatapnya.
“Itu bebanku,” katanya. “Bebanku sama Ayah. Dari awal. Besi itu, semen itu, uang itu. Uang itu buat jas putihku. Bukan buat kamu. Kamu nggak pernah pakai jas putih itu. Kamu nggak pernah tinggal di rumah itu. Kamu nggak pernah dapet apa-apa dari uang itu.”
“Aku dapet beasiswa adikku dari yayasan ayahmu.”
“Dan kamu udah bayar balik seratus kali lipat.”
“Itu pilihanku.”
“Iya,” katanya. Matanya basah sekarang, tapi suaranya tidak bergetar. “Itu pilihanmu. Kamu pilih nanggung dosa Ayahku. Kamu pilih diem. Kamu pilih biarin aku benci kamu. Kamu pilih biarin aku ngancurin kamu. Semua pilihanmu.”
Ia menatapku.
“Kamu nggak pernah ngasih aku pilihan, Arya. Kamu putusin semuanya buat aku. Apa yang boleh aku tahu. Siapa yang boleh aku benci. Nama siapa yang harus tetap bersih.” Ia menelan ludah. “Aku udah putusin semuanya buat kamu selama seratus delapan puluh tujuh hari. Kamu udah putusin semuanya buat aku selama tiga tahun.”
Aku tidak menjawab.
“Hari ini aku ambil satu keputusan balik,” katanya. “Cuma satu. Aku tahu kamu nggak mau. Aku tahu aku buang semuanya. Aku tahu harganya.”
Ia berhenti.
Aku menunggu.
Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya berdiri di sana, satu meter dariku, dengan tangan di sisi tubuhnya dan mata yang basah, dan menungguku.
Seperti seseorang yang sedang menunggu dimaki.
Seperti seseorang yang sudah siap untuk apa pun yang akan kukatakan, dan tidak akan membela diri.
Aku menatapnya.
Aku punya banyak kalimat. Semua kalimat yang kususun di travel. Semua kemarahan yang naik dari perut ke tenggorokan. Aku bisa mengatakan semuanya. Aku bisa membuatnya menangis di halte bus ini, di depan penjual es tebu dan orang-orang yang menunggu bus.
Aku tidak mengatakan apa pun.
Aku hanya bertanya satu hal.
“Sudah?”
Ia tersentak.
Bukan seperti aku tersentak di bawah terpal biru. Lebih kecil. Seperti orang yang mendengar namanya dipanggil dari tempat yang sangat jauh, dengan suara yang sudah sangat lama tidak ia dengar.
Sudah?
Di bengkel Pak Gondo, kata itu hangat. Di lahan bekas ruko, kata itu tenang.
Di halte bus ini, kata itu dingin. Seperti pintu yang ditutup pelan, supaya tidak berbunyi, tapi dikunci dari dalam.
Ia tidak menjawab.
Aku menunggu lima detik. Sepuluh.
Lalu bus ke Kampung Rambutan berhenti di depan kami. Pintunya terbuka. Kernet berteriak.
Aku naik.
Aku duduk di kursi paling belakang, di dekat jendela. Aku tidak menatap ke luar. Aku menatap lantai bus yang kotor dan penuh bekas sandal.
Bus itu berangkat.
Aku tahu ia masih berdiri di halte. Aku tahu tanpa melihat. Aku tahu ia berdiri di sana sampai bus ini berbelok di ujung jalan dan hilang.
Ia selalu menunggu sampai aku pergi.
Aku dulu yang selalu menunggu sampai ia pergi.
Di travel malam menuju Sukabumi, aku tidak tidur.
Kemarahan itu masih ada. Masih panas. Masih naik dan turun di dadaku seperti ombak di dermaga lama.
Tapi di bawahnya ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatku lebih takut dari kemarahan itu sendiri.
Kamu nggak pernah ngasih aku pilihan.
Aku memikirkan ambulans. Tangan Pak Hendra yang mencengkeram lenganku. Jangan sampai Shella tahu.
Aku memutuskan saat itu. Di ambulans. Tiga kilometer dari rumah sakit. Aku memutuskan apa yang boleh ia tahu, dan apa yang tidak.
Aku tidak pernah bertanya padanya.
Tidak sekali pun.
Aku memejamkan mata. Kemarahan itu tidak hilang. Tapi untuk pertama kalinya sejak aku meninggalkan Jakarta, aku tidak tahu kepada siapa kemarahan itu sebenarnya ditujukan.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang reading
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365