Chapter Fifty Six
Bab 56 — Ibu
POV: Shella
Mama menelepon hari Rabu malam, tiga hari setelah berita sertifikasi Mas Arya muncul di portal-portal online.
Insinyur yang Dulu Dipenjara Kini Kembali Bersertifikat. Dengan foto Mas Arya yang diambil diam-diam oleh wartawan di depan gedung asosiasi. Kemeja abu-abu dengan ujung lengan yang ditambal. Tanganku di tangannya. Wajahku tidak diburamkan.
Aku sudah lima bulan tidak bicara lama dengan Mama. Telepon-telepon pendek. Kamu sehat? Sehat. Makan? Makan. Ya udah. Sejak apartemen di Kalibata. Sejak foto di Anyer.
“Shel,” kata Mama. Suaranya hati-hati. “Mama liat fotonya.”
Aku diam.
“Dia tinggal di mana sekarang?”
Aku membeku.
“Rumah petak di Cipayung, Ma. Yang dulu. Atas nama adiknya.”
Mama diam lama di ujung telepon. Aku mendengar KRL lewat di belakangnya. Jendela-jendela apartemen yang bergetar.
“Mama mau ke sana,” katanya.
Mama datang hari Minggu pagi, pukul sembilan, dengan taksi online.
Mbok Sum turun lebih dulu. Ia membawa dua rantang susun tiga dan sekantong plastik besar. Lalu Mama. Memakai blus krem sederhana dan celana panjang hitam. Tanpa perhiasan. Rambutnya diikat rendah. Riasannya tipis.
Ia terlihat seperti perempuan yang memilih bajunya semalam dengan hati-hati. Cukup untuk terlihat sopan. Tidak cukup untuk terlihat berusaha.
Aku tahu. Aku pernah melakukan hal yang sama, di depan kaca spion, di seberang bengkel Pak Gondo.
Mama berdiri di mulut gang hijau dan menatap ke dalam. Gang sempit. Tiang listrik dengan kabel yang kusut. Papan pengumuman dengan kaca buram, dan kertas pudar yang sudutnya ditambal selotip berkali-kali.
Ia membaca kertas itu.
Aku melihat bibirnya bergerak pelan mengikuti kalimat-kalimatnya. Saya yang menyuruh orang menempelnya. Lalu ia berhenti. Ia menatapku.
Ia tidak berkata apa-apa.
Ia berjalan masuk ke gang.
Ibu pemilik warung menatap Mama dari balik etalase gorengan. Riko menjulurkan kepala dari jendela. Bu Darsih berhenti menjemur.
Satu gang tahu siapa perempuan ini.
Mama berjalan lurus. Punggungnya tegak. Seperti di makan malam direksi, saat Pak Darmawan menyebut nama Arya dan Mama meletakkan pisaunya di piring.
Rumah petak paling ujung. Dinding hijau muda. Pot lidah buaya di teras, yang sudah kuganti dengan yang baru, hijau dan segar.
Mas Arya berdiri di teras.
Aku sudah memberitahunya kemarin. Ia tidak berkata apa-apa saat itu. Ia hanya mengangguk, lalu kembali mengecat ulang pagar besi kecil di depan teras, yang tidak perlu dicat ulang. Kinan bilang ia mengecatnya tiga kali kemarin.
Sekarang ia berdiri di teras dengan kemeja abu-abu muda. Kemeja yang sama. Rambutnya disisir rapi. Tangannya di sisi tubuh, seperti tidak tahu tangannya untuk apa.
Seperti di halaman bengkel Pak Gondo, di hari pertama.
Mama berhenti di depan teras.
Mereka saling menatap.
Aku belum pernah melihat mereka berdua di satu tempat. Tidak di ruang sidang. Mama berhenti datang setelah sidang pertama. Tidak di pemakaman Ayah. Mas Arya tidak datang ke pemakaman Ayah. Aku tidak tahu kenapa, sampai aku membaca buku cokelatnya.
Aku tidak pantas berdiri di sana.
Mama menatap Mas Arya. Lama. Dari ujung kaki ke ujung kepala. Sepatu pantofel yang solnya tipis tapi disemir mengilap. Celana bahan hitam. Kemeja abu-abu dengan ujung lengan yang ditambal tiga kali. Wajah yang tenang. Mata yang tidak menunduk.
“Arya,” kata Mama.
“Bu Ratna,” kata Mas Arya.
Kinan muncul di ambang pintu di belakang kakaknya. Kacamata berbingkai hitam. Kaus band. Celana training. Ia menatap Mama dengan ketelitian petugas bea cukai.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengambil dua kursi plastik dari dalam dan meletakkannya di teras. Lalu satu lagi. Lalu ia masuk dan keluar membawa nampan dengan empat gelas teh.
Teh tawar. Tanpa gula.
Ia meletakkannya di meja kecil di teras, lalu berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat.
“Silakan duduk, Bu,” kata Kinan. Suaranya datar. “Tapi saya masih nilai.”
Mama menatap Kinan. Lalu, pelan, sesuatu bergerak di wajahnya. Hampir seperti senyum.
“Kamu Kinan,” katanya.
“Iya.”
“Yang juara olimpiade kimia.”
“Iya.”
“Yang mau jadi apoteker.”
Kinan diam. Matanya menyipit di balik kacamata.
“Suami saya pernah cerita soal kamu,” kata Mama pelan. “Di meja makan. Dia bilang, nanti kalau saya sakit, saya beli obat di apoteknya. Minta diskon.”
Kinan membeku.
Lalu ia memalingkan wajahnya ke dalam rumah. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Tapi ia tidak masuk.
Mama duduk di kursi plastik. Mas Arya duduk di kursi plastik yang lain. Aku berdiri di ujung teras. Mbok Sum berdiri di dekat pagar dengan rantang di tangan dan mata yang sudah merah.
Mama tidak menyentuh tehnya.
“Saya datang untuk minta maaf,” katanya.
Mas Arya tidak bergerak.
“Saya tahu perusahaan suami saya sedang susah,” lanjut Mama. Suaranya rata. Seperti suara yang sudah dilatih semalaman di depan cermin. “Setahun sebelum ruko itu runtuh. Saya lihat surat-surat dari bank. Saya lihat suami saya tidak tidur. Saya tidak tanya.”
Ia menatap tangannya di pangkuan.
“Setelah ruko itu runtuh, pengacara kami bilang, kebetulan insinyurnya mau mengaku. Dia bilang, Bu, ini rezeki. Jangan ditanya-tanya.” Suara Mama mulai bergetar. “Saya tidak tanya. Saya tidak tanya kenapa insinyur yang suami saya bilang paling teliti tiba-tiba salah hitung. Saya tidak tanya kenapa kamu tidak pakai pengacara bagus. Kenapa kamu tidak naik banding.”
Mas Arya diam.
“Saya datang ke sidangmu sekali,” kata Mama. “Sekali. Lalu saya berhenti. Anak saya pikir saya tidak kuat melihat pembunuh suami saya.” Ia mengangkat wajahnya dan menatap Mas Arya. “Saya tidak kuat melihat kamu mengaku.”
Mbok Sum menutup mulutnya dengan tangan.
“Saya terima rumah yang kamu bayar,” kata Mama. Air mata mengalir di pipinya sekarang. Ia tidak mengusapnya. “Saya terima kuliah anak saya yang kamu bayar. Saya terima nama suami saya yang tetap bersih di nisan. Saya terima semuanya. Dua tahun. Tiga tahun. Saya tidak pernah tanya harganya.”
Ia berdiri dari kursi plastik.
Lalu, sebelum aku sempat bergerak, ia berlutut.
Di lantai teras. Di depan kursi Mas Arya. Mama, yang selalu bilang lantai itu untuk kaki. Yang duduk di lantai ruang tengah hanya sekali seumur hidupnya, malam itu, di atas karpet Turki, untuk memelukku.
Ia berlutut di teras rumah petak di ujung gang hijau, dengan blus krem dan celana hitam, dan menunduk.
“Maafkan saya,” katanya.
Mas Arya bergerak lebih cepat dari yang pernah kulihat.
Ia turun dari kursinya. Ia berlutut di depan Mama. Ia memegang kedua bahu Mama, pelan, dan menahannya supaya tidak menunduk lebih dalam.
“Jangan, Bu,” katanya. “Jangan.”
Seperti pada Mang Udin. Jangan, Mang. Jangan.
Mama menatapnya dengan wajah basah.
“Ibu nggak salah,” kata Mas Arya pelan.
“Saya tahu dan saya diam…”
“Ibu takut,” kata Mas Arya. “Saya ngerti takut, Bu. Saya juga takut. Saya juga diam. Dua hari.”
Mama menatapnya.
“Pak Hendra juga takut,” lanjut Mas Arya. “Semua orang di cerita ini takut. Takut kehilangan. Takut orang yang kita sayang kecewa.” Ia menelan ludah. “Takut bikin orang ngelakuin hal-hal yang salah. Tapi takut nggak bikin orang jadi jahat, Bu.”
Mama menangis. Keras. Seperti di lantai ruang tengah, malam itu.
Mas Arya tidak melepaskan bahunya.
Setelah tangis Mama reda sedikit, ia berkata sesuatu yang membuat seluruh teras itu hening. Bahkan Kinan di ambang pintu. Bahkan Mbok Sum di dekat pagar.
“Bu,” katanya. “Di ambulans. Pak Hendra bilang sesuatu soal Ibu.”
Mama berhenti menangis.
Aku berhenti bernapas.
“Dia bilang, istri saya nggak tahu apa-apa,” kata Mas Arya pelan. “Itu salah satu kalimat terakhirnya. Sebelum jangan sampai Shella tahu. Dia bilang, istri saya, Shella, mereka nggak tahu apa-apa.”
Mama menatapnya.
“Dia mau Ibu bersih,” kata Mas Arya. “Sampai akhir. Itu yang dia pikirin. Bukan perusahaan. Bukan nama. Ibu sama Shella.”
Mama menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tiga tahun. Ia memilih tidak tahu. Dan suaminya, di ambulans, tiga kilometer dari rumah sakit, dengan darah di sudut bibirnya, memastikan bahwa ia tetap tidak tahu.
Bukan untuk melindunginya dari kebenaran. Untuk melindunginya dari rasa bersalah.
Lama sekali sebelum Mama bisa bicara lagi.
Mas Arya membantunya berdiri. Ia menuntun Mama kembali ke kursi plastik. Kinan, tanpa berkata apa-apa, mengambil gelas teh yang sudah dingin dan menggantinya dengan yang baru. Teh tawar. Hangat.
Mama memegang gelas itu dengan dua tangan.
“Kamu maafin saya?” tanyanya. Suaranya habis.
Mas Arya duduk kembali di kursinya. Ia menatap Mama.
“Saya nggak pernah marah sama Ibu,” katanya.
“Itu bukan jawaban.”
Mas Arya diam sebentar.
Lalu sudut bibirnya bergerak. Sedikit.
“Iya, Bu,” katanya. “Saya maafin.”
Mama menatapnya. Lalu, pelan, ia mengangguk. Air matanya jatuh ke dalam gelas teh.
Mbok Sum akhirnya maju dengan rantangnya.
“Rendang, Mas,” katanya pada Mas Arya, suaranya pecah. “Sama sayur nangka. Sama…”
Ia membuka kantong plastik besar itu.
Gorengan. Bakwan. Tahu isi. Pisang goreng. Masih hangat, dari warung di dekat apartemen di Kalibata.
“Dulu Mas Arya selalu bawain Mbok gorengan,” kata Mbok Sum. Air matanya mengalir. “Tiap nganter berkas buat Bapak. Malem-malem. Mbok nggak pernah sempet bales.”
Mas Arya menatap kantong gorengan itu.
Lalu ia berdiri, dan ia memeluk Mbok Sum. Mbok Sum yang pendek dan bulat, dengan bau bawang goreng dan minyak kayu putih. Ia memeluknya seperti Pak Gondo memeluknya di depan pikap. Canggung. Lalu tidak canggung lagi.
“Makasih, Mbok,” katanya. “Masih anget.”
Saat Mama dan Mbok Sum pamit, aku mengantar mereka sampai mulut gang.
Taksi online sudah menunggu di jalan raya. Mbok Sum masuk lebih dulu.
Mama berhenti di samping pintu taksi. Ia menatapku.
Aku menunggu.
Lima bulan. Sejak map biru dengan surat pembekuan rekening. Sejak Mama nggak bisa ikut. Sejak foto di Anyer dan jendela yang bergetar setiap lima belas menit.
“Shel,” kata Mama.
“Iya, Ma.”
“Mama nonton konferensi pers itu.”
Aku diam.
“Mama nonton dari apartemen. Di HP Mbok Sum. Mama nonton sampai habis. Waktu kamu bilang, saya meludahi wajahnya.” Mama menelan ludah. “Mama matiin HP-nya. Mama nggak kuat.”
“Aku tahu, Ma.”
“Terus Mama nyalain lagi,” kata Mama. “Mama nonton lagi dari awal. Tiga kali.”
Ia menatapku.
“Mama nggak bangga sama yang kamu lakuin ke dia,” katanya pelan. “Mama malu. Mama malu sampai sekarang.”
“Iya, Ma.”
“Tapi Mama bangga sama kamu yang berdiri di depan kamera itu,” katanya. Suaranya pecah. “Mama nggak pernah bisa sekuat itu. Seumur hidup Mama. Mama milih diam. Kamu milih ngomong. Walaupun harganya rumah. Walaupun harganya Mama.”
Aku tidak bisa bicara.
Mama mengangkat tangannya. Pelan. Ia menyentuh pipiku. Di bawah mata kiri. Tempat sudut buku cokelat itu pernah menggores kulitku, berbulan-bulan lalu. Bekasnya sudah hilang. Tapi Mama ingat.
“Pulang ke apartemen kapan-kapan,” katanya. “Berisik. Tapi ada kamar buat kamu.”
“Iya, Ma.”
“Bawa dia juga,” kata Mama. “Mbok Sum mau masak rendang yang bener. Yang ini kemaleman, katanya.”
Aku memeluk Mama.
Di samping taksi online, di pinggir jalan raya Cipayung, dengan angkot yang lewat dan klakson motor yang bersahutan. Mama memelukku balik. Erat. Seperti malam di lantai ruang tengah. Seperti seseorang yang tidak akan melepaskan lagi.
Malam itu, aku membuka buku cokelatku.
Hari ke-412. Mama datang ke rumah petak.
Mama berlutut. Mas Arya bilang jangan.
Mas Arya bilang ke Mama: di ambulans, Ayah bilang istri saya nggak tahu apa-apa.
Mama bilang dia malu sama yang kulakukan. Mama bilang dia bangga sama yang kulakukan setelahnya.
Mama bilang: bawa dia juga.
Aku menatap tulisan itu.
Lalu aku menulis satu kalimat lagi.
Ayah, Mama udah nggak sendirian lagi.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu reading
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365