← Hukuman Kedua

Chapter Seventeen

Bab 17 — Satu-Satunya Harapan

POV: Shella

Kinan pulang dari rumah temannya setelah dua hari. Ia tidak bicara dengan kakaknya, tapi ia pulang.

Aku tahu dari laki-laki itu, yang menceritakannya dengan kalimat paling pendek yang pernah kudengar darinya.

“Dia pulang. Dia makan. Dia nggak ngomong.”

“Mas udah coba ngobrol?”

“Belum waktunya.”

Ia mengatakannya seperti seorang insinyur yang menunggu beton cukup umur sebelum membuka bekisting. Ada hal-hal yang tidak bisa dipercepat, katanya padaku suatu kali. Kalau dipaksa, retak.

Lalu, di kalimat yang sama, ia mengatakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatku berhenti mengaduk teh.

“Aku mau coba sertifikasi lagi.”


Ia mendengarnya dari teman kuliahnya dulu. Seorang laki-laki bernama Dimas, yang sekarang bekerja di asosiasi tenaga ahli konstruksi dan satu-satunya teman dari masa lalunya yang masih membalas pesannya.

Setelah masa pidana selesai, seseorang yang sertifikatnya dicabut bisa mengajukan permohonan sertifikasi ulang. Tidak otomatis. Tidak mudah. Ia harus melampirkan portofolio pekerjaan lama, surat keterangan berkelakuan baik dari lapas, rekomendasi dari minimal satu tenaga ahli bersertifikat, dan sebuah laporan teknis baru, sebuah kajian, untuk membuktikan kompetensinya masih utuh. Lalu ada wawancara dengan tim asesor.

Tenggat pengajuan gelombang ini tiga minggu lagi.

“Dimas mau kasih rekomendasi,” katanya. “Dia satu-satunya.”

“Laporan teknisnya soal apa?”

Ia diam sebentar.

“Kolom,” katanya. “Kolom yang retak di proyek Pak Rusdi.”

Aku menatapnya.

“Aku punya foto-fotonya. Aku ngukur retaknya waktu itu, diam-diam, pakai penggaris retak pinjaman. Aku tahu mutu betonnya dari bon pembelian. Aku tahu umur betonnya waktu bekisting dibuka.” Ia menatap cangkir kopinya. “Aku bisa hitung kenapa kolom itu gagal. Dan apa yang harusnya dilakukan.”

Ia mengatakannya dengan suara yang berbeda. Suara yang belum pernah kudengar darinya. Bukan datar. Bukan pendek. Ada sesuatu yang bergerak di bawahnya, seperti air yang mulai mengalir di bawah es yang mencair.

Harapan.

Aku belum pernah mendengarnya berharap.


Kami mengerjakannya di sebuah restoran cepat saji dua puluh empat jam di dekat rumah sakit, setiap malam selama dua minggu.

Itu ideku. Kamar kos itu terlalu sempit dan terlalu panas, dan Kinan butuh tidur. Restoran itu terang, berpendingin ruangan, punya colokan listrik di setiap meja, dan tidak ada yang peduli kalau kami duduk di sana sampai pagi selama kami membeli sesuatu sesekali.

Aku juga belajar. Ujian kompetensi dokterku tinggal empat bulan lagi, dan aku punya tumpukan buku soal setebal batu bata.

Jadi kami duduk berhadapan di meja paling pojok, dekat jendela. Ia dengan laptop tuanya yang tombol huruf E-nya sudah copot dan harus ditekan dengan ujung pulpen, kertas-kertas hitungan yang penuh angka dan sketsa, dan kalkulator ilmiah yang layarnya sudah buram. Aku dengan buku soal dan stabilo warna-warni.

Malam pertama, kami hampir tidak bicara.

Malam ketiga, aku menemukan diriku menatapnya alih-alih bukuku.

Ia bekerja seperti saat mengelas. Tidak terburu-buru. Setiap angka ditulis dengan huruf kecil yang tegak dan presisi. Setiap hitungan diperiksa dua kali, kadang tiga. Saat ia menemukan sesuatu yang tidak cocok, ia tidak mengumpat atau menghapus dengan kasar. Ia hanya berhenti, menatap kertas itu lama, lalu mengetuk-ngetukkan ujung pulpennya ke meja. Tiga kali. Lalu ia menemukan kesalahannya dan memperbaikinya.

Malam kelima, ia menjelaskan sesuatu padaku tanpa kuminta.

Aku sedang mengeluh tentang soal farmakologi, dan ia mendengarkan dengan perhatian penuh, seperti biasa. Lalu ia mengambil nampan plastik kosong dari meja kami, menuang saus tomat dari sachet ke atasnya, dan mulai menggambar dengan ujung kentang goreng.

“Ini kolom,” katanya, menggambar dua garis vertikal. “Ini balok. Ini beban dari atas.” Ia menuang lebih banyak saus. “Bebannya turun lewat balok, terus lewat kolom, terus ke fondasi, terus ke tanah. Kayak aliran darah. Jantung, arteri, kapiler.”

“Mas lagi ngajarin aku fisiologi pakai saus tomat?”

“Kamu bilang nggak ngerti alirannya.”

“Itu farmakologi, Mas. Bukan fisiologi.”

“Sama aja. Obat masuk, ngalir, keluar. Beban masuk, ngalir, keluar.” Ia menggambar panah dengan kentang goreng. “Kalau ada satu bagian yang nyumbat, semuanya kena.”

Aku menatap nampan berlumur saus tomat itu. Lalu menatapnya.

Lalu aku tertawa. Keras. Sampai kasir di depan menoleh.

Ia tidak tertawa. Tapi matanya tersenyum. Aku melihatnya. Sudut matanya berkerut, sedikit, dan untuk pertama kalinya ia tidak membatalkan senyum itu.

Aku berhenti tertawa.

Itu cuma capek, kataku pada diriku sendiri. Jam satu pagi. Semua orang jadi aneh jam satu pagi.


Malam keenam, saat laki-laki itu pergi ke toilet, ponselku bergetar. Pesan dari K.

Kak. Kak Arya belajar lagi ya tiap malem?

Aku menatap pesan itu. Kinan belum bicara dengan kakaknya sejak hari di UKS. Tapi ternyata ia memperhatikan.

Iya. Buat sertifikasi.

Balasannya datang lama. Tiga titik yang muncul dan menghilang beberapa kali.

Dulu waktu Ibu dirawat, Kak Arya juga gitu. Kuliah pagi, jagain Ibu malem. Dia belajar di lorong rumah sakit, duduk di lantai, pakai lampu dari ruang perawat. Aku masih SD. Aku tidur di kursi tunggu. Kalau aku kebangun, dia selalu masih belajar.

Satu pesan lagi.

Dia lulus cumlaude. Ibu nggak sempat liat wisudanya.

Lalu yang terakhir.

Jangan bilang aku ngechat Kakak. Aku masih marah sama dia.

Aku membaca pesan-pesan itu tiga kali. Lalu aku mengunci ponselku tepat saat laki-laki itu kembali dari toilet, mengeringkan tangannya di celana, dan duduk lagi di depan laptop tuanya.

Ia menekan huruf E dengan ujung pulpen.

Aku menatap buku soalku dan tidak membaca satu kata pun selama setengah jam.


Malam kedelapan, ia mengujiku.

Ia mengambil kartu-kartu hafalan farmakologiku dan membacakan pertanyaannya satu per satu. Ia salah mengucapkan setengah nama obatnya. Amlodipin jadi amlo-dipin dengan jeda yang aneh. Spironolakton jadi sesuatu yang terdengar seperti nama planet.

Tapi ketika sampai di kartu tentang dosis, ia berhenti salah.

“Dosis furosemid untuk gagal jantung akut,” bacanya. Lalu, sebelum aku sempat menjawab, ia menambahkan dengan suara pelan, “Empat puluh miligram intravena. Bisa diulang. Pantau kalium.”

Aku menatapnya. “Kok Mas tahu?”

Ia meletakkan kartu itu.

“Ibu,” katanya. “Ginjalnya rusak. Jantungnya ikut. Aku yang ngatur obatnya di rumah, waktu dia nggak di rumah sakit. Aku tulis semua di buku. Jamnya. Dosisnya. Tensinya. Kaliumnya.”

“Berapa lama?”

“Setahun lebih.”

Ia membalik kartu berikutnya, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Antidotum heparin,” bacanya.

Aku tidak langsung menjawab. Aku membayangkan anak laki-laki sembilan belas tahun yang baru kehilangan bapaknya, duduk di kamar sempit di samping ibunya yang sakit, menulis angka-angka di buku dengan huruf kecil yang tegak dan presisi. Jam. Dosis. Tensi. Kalium. Supaya ibunya tetap hidup satu hari lagi.

Lalu ibunya meninggal juga.

“Shella?”

“Protamin sulfat,” kataku cepat.

“Bener.”

Aku mengambil kartu-kartu itu dari tangannya. “Gantian. Aku tanya Mas.”

“Kamu nggak ngerti struktur.”

“Mas kasih aku catatan Mas. Aku tanya dari situ.”

Ia memberikanku buku catatan tulisan tangannya, bukan buku cokelat, tapi buku tulis bergaris biasa yang penuh rumus. Aku membuka halaman acak dan membacakan pertanyaan yang tidak kumengerti sama sekali.

“Koefisien modifikasi respons untuk sistem rangka pemikul momen khusus.”

“Delapan.”

“Kok tahu?”

“Aku yang nulis pertanyaannya.”

Aku melempar kentang goreng ke arahnya. Ia menangkapnya dengan satu tangan, menatapnya, lalu memakannya.

Di luar jendela, Jakarta tertidur. Hanya ojek online yang lewat sesekali, dan lampu-lampu jalan yang kekuningan.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku tertawa sebanyak itu dalam satu malam.

Mungkin sebelum Ayah meninggal.


Malam kesebelas, sekitar jam dua pagi, ia berhenti mengetik dan menatap jendela.

“Shella.”

“Hm.”

“Kalau lulus,” katanya, “aku mau kerjain jembatan.”

Aku mengangkat wajah dari buku soalku.

“Jembatan?”

“Jembatan gantung kecil. Di desa-desa. Yang anak-anaknya harus nyebrang sungai pakai rakit atau tali buat ke sekolah.” Ia masih menatap jendela. “Bapak dulu pengin itu. Dia mandor di proyek tol. Tapi dia bilang, yang paling dia pengin bangun itu jembatan buat anak sekolah. Biar mereka nggak basah sampai sekolah.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Aku mau bikin satu,” katanya. “Satu aja. Yang bener hitungannya. Yang berdiri lama.”

Semua yang berdiri itu ada hitungannya, Shel.

Suara Ayah, tiba-tiba, di kepalaku. Begitu jelas sampai aku hampir menoleh.

Laki-laki itu menoleh padaku. Matanya lelah, merah karena kurang tidur, tapi ada cahaya di sana. Cahaya kecil yang sangat rapuh, seperti lilin di ruangan yang banyak angin.

“Makasih udah nemenin,” katanya. “Udah lama nggak ada yang nemenin aku belajar.”

Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.

Aku tersenyum. Senyum yang kubuat. Senyum yang sudah kulatih.

Senyum itu terasa seperti pisau di wajahku.


Malam keempat belas, laporan teknisnya selesai.

Seratus dua belas halaman. Kajian kegagalan kolom akibat pembongkaran bekisting dini, dengan studi kasus proyek Pak Rusdi. Foto-foto retak, hitungan beban, analisis mutu beton, rekomendasi perbaikan. Ditambah lampiran lembar-lembar hitungan tulisan tangan asli yang ia buat di lokasi dengan pensil, bertanggal dan diparaf, sebagai bukti bahwa kajian itu dari pengamatan langsung.

“Lampiran aslinya penting,” katanya. “Dimas bilang asesor suka liat hitungan lapangan yang asli. Biar tahu bukan nyontek.”

Ia menatap tumpukan kertas dan flashdisk di meja.

“Aku nggak punya printer,” katanya. “Besok aku cari tempat fotokopi.”

“Biar aku,” kataku.

Kalimat itu keluar begitu saja. Aku sudah menyiapkannya sejak malam pertama.

“Printer di rumahku bagus. Laser. Aku print, terus aku jilid di tempat jilid langganan Mama, yang rapi. Biar Mas tinggal bawa ke asosiasi.”

Ia menatapku.

Lama. Seperti malam di atap parkiran. Seperti hari pertama di bengkel.

Aku menahan tatapan itu dengan seluruh kekuatanku.

Lalu ia mengambil flashdisk dan tumpukan lembar hitungan asli itu, dan meletakkannya di tanganku. Ia meletakkannya dengan hati-hati, dengan kedua tangannya, seperti meletakkan sesuatu yang tidak bisa diganti.

“Lampirannya cuma satu,” katanya pelan. “Nggak ada salinannya.”

“Aku jaga, Mas.”

“Iya.”

Ia tidak melepaskan tangannya dari tumpukan kertas itu selama satu detik terlalu lama. Lalu ia melepasnya.


Di kamarku, pukul empat pagi, aku menyalakan printer laser dan mencetak seratus dua belas halaman itu.

Aku memotret lembar-lembar hitungan asli satu per satu, dengan ponselku, untuk dikirim ke Pak Hadi.

Lalu aku memasukkan lembar-lembar asli itu ke dalam map plastik, dan memasukkan map itu ke laci paling bawah meja riasku. Di bawah kotak kardus berlapis flanel berisi stetoskop. Di samping jaket parasut hitam yang belum juga kukembalikan.

Aku menatap flashdisk di tanganku.

Lalu aku mencolokkannya ke laptopku, membuka folder-foldernya, dan menekan tombol format.

Semua data di disk ini akan dihapus. Lanjutkan?

Aku menatap tulisan itu.

Di kepalaku, sebuah suara berkata: Jembatan gantung kecil. Biar anak-anak nggak basah sampai sekolah.

Suara lain, yang lebih dingin, yang sudah tiga tahun menjadi tulang punggungku, menjawab: Ayah juga ingin melihatmu pakai jas putih.

Aku menekan Ya.

Bar hijau di layar bergerak pelan dari kiri ke kanan. Dua minggu kerja. Seratus dua belas halaman. Satu jembatan gantung kecil yang belum pernah dibangun.

Format selesai.

Aku mencabut flashdisk itu dan meletakkannya di meja, di samping kunci mobil dan meteran pita kuningan milik Ayah.

Di luar jendela, langit mulai terang. Azan subuh terdengar dari kejauhan. Aku tidak tidur sama sekali malam itu.