Chapter Forty Three
Bab 43 — Sekolah Kinan
POV: Shella
Bu Widya, ketua pengurus harian Yayasan Pendidikan Wijaya, adalah pensiunan kepala sekolah berusia enam puluh delapan tahun dengan rambut putih yang disanggul kecil dan kacamata yang diikat tali manik-manik, seperti Bu Nengsih.
Ia menerimaku di ruang tamu rumahnya di Rawamangun, hari Sabtu pagi, dengan teh melati dan kue lapis legit di piring kaca.
“Saya sudah menunggu Mbak datang,” katanya sebelum aku sempat membuka mulut.
Aku duduk di kursi rotan di depannya.
“Sejak konferensi pers itu, saya menunggu. Saya pikir, kalau anak itu benar-benar menyesal, dia akan datang ke sini. Kalau tidak, ya sudah.” Bu Widya menuang teh ke cangkirku dengan tangan yang sedikit gemetar karena usia. “Mbak datang.”
“Saya mau bicara soal beasiswa Kinan Mahesa, Bu.”
“Saya tahu.”
Bu Widya meletakkan teko. Ia menatapku dari balik kacamatanya.
“Saya tidak pernah setuju pencabutan itu,” katanya. “Pak Darmawan yang membawanya ke rapat. Dia bilang ada desakan dari donatur. Dia bilang nama baik yayasan. Saya bilang, anak itu ranking satu, juara olimpiade, tidak pernah melanggar aturan apa pun. Apa hubungannya dengan nama baik?”
Ia menyesap tehnya.
“Saya kalah suara. Dua lawan satu. Ibu Ratna tidak hadir, seperti biasa.”
“Saya yang mendesak, Bu,” kataku. “Lewat orang yang saya bayar. Lewat Pak Darmawan.”
“Saya tahu.” Bu Widya meletakkan cangkirnya. “Mbak sudah bilang di televisi.”
Ia diam lama.
“Pak Darmawan sudah mengundurkan diri dari perusahaan,” lanjutnya. “Dan dari yayasan. Minggu lalu. Saya sekarang satu-satunya pengurus harian yang tersisa. Dana abadi yayasan terpisah dari perusahaan, jadi masih aman, walaupun perusahaannya sedang…” Ia mencari kata. “Sedang runtuh.”
“Bisa dipulihkan, Bu? Beasiswanya?”
Bu Widya menatapku lama.
“Sudah,” katanya.
Aku membeku.
“Saya tanda tangan pemulihan beasiswanya dua minggu lalu. Sehari setelah konferensi pers. Saya tidak perlu menunggu Mbak.” Ia mengambil sebuah map dari meja di sampingnya dan menyodorkannya padaku. “Ini salinannya. Berlaku surut. Semua biaya sekolah yang dia bayar sendiri sejak pencabutan sudah diganti. Dan saya tambahkan satu hal.”
Aku membuka map itu.
Beasiswa diperpanjang hingga jenjang perguruan tinggi, program studi farmasi, sampai lulus.
“Ayah Mbak yang pilih anak itu,” kata Bu Widya. “Saya ingat. Dia bilang, adiknya Arya mau jadi apoteker. Dia bilang, nanti kalau saya sakit, saya beli obat di apoteknya, minta diskon.” Bu Widya tersenyum kecil. “Ayah Mbak orangnya lucu.”
Aku tidak bisa bicara.
“Ayah Mbak salah,” kata Bu Widya pelan. “Sangat salah. Tiga orang meninggal karena kesalahannya. Tapi yayasan ini tidak salah. Anak-anak ini tidak salah. Dan Kinan Mahesa paling tidak salah dari semuanya.”
Ia menatapku.
“Mbak tidak perlu memperbaiki yang ini. Sudah diperbaiki. Yang perlu Mbak perbaiki ada di tempat lain.”
Tapi aku tidak mendengarkan.
Atau aku mendengarkan, dan aku memutuskan bahwa itu tidak cukup.
Beasiswanya sudah dipulihkan. Itu bagus. Tapi itu hanya kertas. Kertas yang ditandatangani di ruang tamu di Rawamangun, yang tidak dilihat siapa pun di sekolah Kinan. Di sekolah itu, Kinan masih adik pembunuh. Teman-teman sekelasnya masih menyimpan stiker WhatsApp bergambar wajah kakaknya. Meja kayu di baris kedua dekat jendela masih punya lekukan tipis bekas amplas.
Aku ingin mereka tahu.
Aku ingin mereka tahu langsung. Dari mulutku. Bahwa mereka salah. Bahwa Kinan tidak pantas duduk di atas tulisan itu tiga hari.
Senin pagi, aku mengambil izin satu hari dari puskesmas. Aku naik travel jam empat subuh ke Jakarta.
Bu Hastuti menerimaku di ruang BK.
Ruang yang sama, kurasa, tempat Bu Hastuti dulu memanggil Arya dan menunjukkan foto meja Kinan di ponselnya.
Bu Hastuti menatapku dengan wajah seorang guru yang sudah melihat terlalu banyak orang dewasa membuat kesalahan atas nama anak-anak.
“Mbak mau bicara di depan kelasnya?” ulangnya, setelah aku menjelaskan.
“Lima menit, Bu. Di akhir jam pelajaran. Saya cuma mau bilang bahwa kakak Kinan tidak bersalah. Bahwa semua yang mereka lihat di TikTok soal dia itu bohong. Bahwa saya yang bikin semua itu terjadi.”
Bu Hastuti diam lama.
“Kinan tahu Mbak mau melakukan ini?”
“Belum, Bu.”
“Mbak sudah tanya Kinan mau atau tidak?”
Aku tidak menjawab.
Bu Hastuti menghela napas. Panjang.
“Mbak,” katanya pelan. “Saya sudah dua puluh tahun jadi guru. Saya mau bilang satu hal, dan Mbak boleh tidak setuju. Anak-anak itu sudah nonton konferensi pers Mbak. Semuanya. Grup kelas meledak minggu lalu. Mereka sudah tahu kakak Kinan tidak bersalah. Mereka sudah tahu siapa yang salah.”
“Tapi mereka belum minta maaf ke Kinan.”
“Belum,” kata Bu Hastuti. “Dan Mbak mau membuat mereka minta maaf dengan berdiri di depan kelas?”
“Saya mau mereka tahu…”
“Mereka sudah tahu, Mbak.”
Aku diam.
Bu Hastuti menatapku lama. Lalu ia menutup buku catatan di mejanya.
“Lima menit,” katanya akhirnya. “Saya ada di sana. Kalau saya rasa ini tidak baik buat Kinan, saya hentikan.”
Pukul dua belas kurang lima, aku berdiri di depan kelas XII IPA 2.
Tiga puluh enam siswa. Seragam putih abu-abu. Wajah-wajah yang mengenaliku begitu aku masuk. Bisik-bisik yang langsung menyebar dari meja ke meja seperti api di rumput kering.
Itu dia. Itu yang di TikTok. Yang ngeludahin.
Kinan duduk di baris kedua, dekat jendela.
Di meja itu. Meja yang sama. Aku bisa melihat lekukan tipis yang warnanya lebih terang, tepat di bagian tengah, tempat Kinan meletakkan bukunya.
Kinan melihatku masuk.
Wajahnya berubah. Dari kaget, ke pucat, ke sesuatu yang lebih buruk dari marah.
Aku memulai.
“Nama saya Shella. Mungkin kalian sudah tahu saya dari video.”
Bisik-bisik. Seseorang tertawa pelan di baris belakang.
“Saya ke sini cuma mau bilang satu hal. Kakak Kinan, Arya Mahesa, tidak bersalah atas runtuhnya ruko di Bekasi. Video yang kalian lihat beberapa bulan lalu, yang dibuat stiker dan disebar di grup kelas, itu didasarkan pada kebohongan. Kebohongan yang saya buat. Foto-fotonya saya yang kirim.”
Hening.
“Kinan tidak pernah jadi adik pembunuh. Kinan tidak pantas duduk tiga hari di atas tulisan di meja itu.”
Aku menunjuk meja di baris kedua.
Tiga puluh enam kepala menoleh ke arah yang kutunjuk.
Ke Kinan.
Dan saat itulah aku melihatnya.
Kinan duduk tegak di kursinya, dengan tiga puluh lima pasang mata yang menatapnya. Wajahnya merah sampai ke telinga. Tangannya mencengkeram ujung meja begitu keras sampai buku-buku jarinya memutih.
Semua orang menatapnya.
Seperti tiga hari itu.
Aku berhenti bicara.
Kinan berdiri.
Kursinya terdorong ke belakang dan berderit di lantai keramik. Ia mengambil tasnya dari sandaran kursi. Ia berjalan keluar dari barisan, melewati meja-meja teman sekelasnya, melewatiku, ke pintu kelas.
Ia tidak menatapku saat lewat.
“Kinan…” panggil Bu Hastuti.
Pintu kelas tertutup.
Aku menemukannya di gerbang sekolah.
Ia berdiri di samping pos satpam dengan tas di bahu, menunggu angkot, atau tidak menunggu apa pun. Hanya berdiri. Napasnya terengah.
“Kinan.”
Ia berbalik.
Wajahnya basah. Kacamatanya berembun.
“Kakak pikir ini nyelesaiin sesuatu?” katanya.
Suaranya tidak keras. Suaranya rendah dan bergetar, seperti di depan gerbang kompleks di Pondok Indah, sebelum buku cokelat itu mengenai pipiku.
“Kinan, aku cuma mau mereka tahu…”
“Mereka udah tahu, Kak!” Suaranya pecah. “Mereka udah nonton! Semua orang udah nonton! Grup kelas udah ribut seminggu! Dita udah ngebela aku! Tiga anak udah minta maaf ke aku diem-diem! Diem-diem, Kak! Di kantin! Di toilet! Nggak ada yang liat! Itu cara minta maaf yang bener!”
Aku tidak bisa bicara.
“Terus Kakak dateng.” Kinan menunjuk gedung sekolah di belakangku. “Kakak berdiri di depan kelas. Kakak nunjuk mejaku. Kakak bilang Kinan tidak pantas duduk tiga hari di atas tulisan itu. Dan semua orang noleh. Ke aku. Semuanya.”
Ia menghapus air matanya dengan lengan seragam.
“Tiga hari aku duduk di atas tulisan itu dan semua orang ngeliatin aku,” katanya. “Terus Kakak bikin semua orang ngeliatin aku lagi. Hari ini. Di meja yang sama. Kakak tahu rasanya?”
“Kinan…”
“Kakak nggak ngelakuin ini buat aku,” kata Kinan. Pelan sekarang. Lebih menyakitkan dari teriakan. “Kakak ngelakuin ini buat Kakak. Biar Kakak ngerasa udah benerin sesuatu. Biar Kakak bisa nulis di buku Kakak: hari ini aku bersihin nama Kinan.”
Aku membeku.
Ia tahu tentang buku itu. Mitha pasti bercerita. Atau ia melihatnya. Atau ia hanya menebak, karena ia adik dari laki-laki yang mencatat semuanya, dan ia tahu orang seperti apa yang menulis di buku tiga ribuan.
“Beasiswaku,” kata Kinan. “Bu Hastuti bilang udah balik. Diperpanjang sampai kuliah. Dari yayasan bapak Kakak.”
“Bu Widya yang…”
“Aku nggak mau,” potong Kinan.
Aku menatapnya.
“Aku nggak mau beasiswa dari keluarga Kakak. Aku nggak mau kuliah pakai uang dari keluarga yang bikin Kak Arya dipenjara.” Suaranya bergetar. “Aku udah nggak belajar dua bulan, Kak. Nilaiku turun. Rapor semester lima jelek. Aku nggak bakal lolos jalur prestasi. Aku mungkin nggak bakal kuliah sama sekali. Tapi aku nggak mau uang itu.”
“Kinan, uangnya bukan dari Ayah. Dana abadinya terpisah. Bu Widya…”
“Kakak nggak ngerti!” Kinan berteriak sekarang. Satpam di pos menoleh. “Kak Arya dipenjara supaya keluarga Kakak tetap kaya! Supaya yayasan itu tetap jalan! Supaya aku tetap dapet beasiswa! Kak Arya bayar beasiswaku pakai dua tahun di penjara! Terus Kakak cabut! Terus Kakak balikin! Kayak mainan!”
Ia menatapku dengan mata yang merah dan basah.
“Kak Arya tahu Kakak ke sini?”
“Nggak.”
“Dia pasti nggak mau.” Kinan menarik napas tersengal. “Dia nggak pernah mau aku jadi tontonan. Dia amplas mejaku sendiri, Kak. Dua puluh menit. Diam-diam, waktu kelas kosong. Biar nggak ada yang liat. Biar aku nggak malu.” Suaranya pecah sepenuhnya. “Itu cara benerin yang bener. Bukan kayak Kakak.”
Sebuah angkot berhenti di depan gerbang. Kinan naik tanpa menoleh.
Angkot itu pergi.
Bu Hastuti menemukanku masih berdiri di gerbang sekolah sepuluh menit kemudian.
Ia tidak bilang saya sudah bilang. Ia hanya berdiri di sampingku dan menatap jalan.
“Dia benar,” kataku.
“Sebagian,” kata Bu Hastuti. “Sebagian lagi dia marah karena dia rindu kakaknya. Dan Mbak satu-satunya orang yang bisa dia marahi.”
“Nilainya turun, Bu?”
Bu Hastuti diam sebentar.
“Turun. Dari ranking satu ke ranking sebelas. Dia tidak belajar sejak kakaknya pergi. Dia sering di UKS. Bukan sakit. Cuma duduk.” Bu Hastuti menatapku. “Jalur prestasi sudah hampir pasti tidak bisa. Dia harus ikut tes tertulis. Empat bulan lagi.”
Aku menatap tanganku.
“Dia pintar,” kata Bu Hastuti. “Kalau dia mau belajar, dia bisa. Tapi dia butuh alasan untuk mau.”
Aku tahu apa alasannya. Alasannya ada di Pelabuhanratu, memanggul karung semen di bawah matahari pesisir, dan tidak tahu adiknya berhenti belajar.
Di travel malam menuju Sukabumi, aku membuka buku cokelat.
Hari ke-139. Bu Widya. Beasiswa Kinan sudah dipulihkan sebelum aku datang. Diperpanjang sampai kuliah. Aku tidak perlu melakukan apa-apa.
Aku melakukannya juga. Aku berdiri di depan kelasnya. Aku menunjuk mejanya.
Semua orang menoleh ke Kinan. Seperti tiga hari itu.
Kinan bilang: Kakak nggak ngelakuin ini buat aku. Kakak ngelakuin ini buat Kakak.
Aku berhenti menulis.
Ia benar.
Aku ingin memperbaiki. Aku ingin melihat hasilnya. Aku ingin berdiri di depan dan mengatakannya keras-keras, di depan semua orang, supaya aku bisa menulisnya di buku ini dan merasa satu baris lebih dekat ke lunas.
Itu bukan memperbaiki. Itu menagih.
Arya mengamplas meja itu diam-diam. Dua puluh menit. Saat kelas kosong. Tidak ada yang melihat. Ia tidak menulisnya di buku cokelat. Aku membaca seluruh buku itu, dan tidak ada satu baris pun tentang meja yang diamplas.
Ia tidak menghitung kebaikannya sendiri.
Aku menulis kalimat terakhir hari itu, pelan, dengan huruf yang kecil.
Nilai Kinan turun dari ranking satu ke sebelas. Dia berhenti belajar sejak Arya pergi. Arya tidak tahu.
Aku harus berhenti memperbaiki dengan cara yang bisa kulihat.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan reading
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365