Chapter Six
Bab 6 — Kinan
POV: Shella
Setiap bulan, koas stase ilmu kesehatan masyarakat wajib mengadakan penyuluhan di wilayah binaan puskesmas. Bulan ini giliran kelompokku, dan wilayahnya adalah sebuah aula RW di Kramat Jati yang lantainya lengket dan kipas anginnya berbunyi seperti helikopter tua.
Topiknya hipertensi. Pesertanya tiga puluh dua ibu-ibu, empat bapak-bapak, dan satu anak kecil yang sibuk memakan snack kotak milik semua orang.
Aku tidak tahu kenapa aku mengundangnya.
Mungkin karena aku perlu terlihat seperti perempuan yang ingin dilihat oleh laki-laki yang sedang ia dekati. Mungkin karena aku ingin tahu apakah ia akan datang. Mungkin, dan ini yang paling kuyakini, karena aku ingin ia melihatku memakai jas putih. Aku ingin ia melihat apa yang Ayah tidak sempat lihat.
“Sabtu jam sembilan,” kataku di bengkel, Jumat sebelumnya. “Kalau Mas nggak sibuk. Nggak penting kok, cuma penyuluhan.”
“Hipertensi?”
“Iya.”
Ia mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi. Aku menganggap itu artinya tidak.
Jadi aku terkejut, lebih terkejut dari yang ingin kuakui, saat aku berdiri di depan proyektor yang warnanya sudah kekuningan dan melihatnya masuk dari pintu belakang aula, pukul sembilan lewat lima.
Ia memakai kemeja biru tua yang sama dengan yang ia pakai ke makam. Ia tidak mencari kursi di depan, meski masih banyak yang kosong. Ia duduk di kursi plastik paling belakang, di pojok, dekat tumpukan kardus air mineral. Punggungnya tegak. Tangannya terlipat di pangkuan.
Mitha, yang berdiri di sampingku memegang mikrofon, menyikutku keras sekali sampai aku hampir menjatuhkan pointer laser.
“Itu,” desisnya. “Itu tukang lasnya?”
“Mit.”
“Lengannya. Gue bilang apa. Tukang las lengannya bagus.”
“Mitha, mikrofonnya nyala.”
Tiga puluh dua ibu-ibu menoleh ke arah Mitha. Lalu mengikuti arah pandangnya ke kursi paling belakang. Laki-laki itu menatap lurus ke depan dengan wajah datar, tapi aku melihat telinganya memerah lagi.
Penyuluhan berjalan satu jam. Aku menjelaskan tentang tekanan darah, tentang garam, tentang bahaya berhenti minum obat tanpa izin dokter. Ibu-ibu bertanya apakah ikan asin boleh dimakan seminggu sekali, apakah rebusan daun salam bisa menggantikan amlodipin, dan apakah benar darah tinggi bisa menular kalau tidur sekamar dengan suami yang darah tinggi.
Sepanjang waktu itu, setiap kali aku melirik ke belakang, laki-laki itu masih di sana. Mendengarkan. Ia tidak memainkan ponselnya sekali pun.
Saat sesi tanya jawab selesai dan ibu-ibu mengerubungi meja untuk cek tensi gratis, aku melihatnya berdiri dan keluar diam-diam lewat pintu belakang. Ia tidak menghampiriku. Ia tidak menunggu untuk mengucapkan selamat.
Lima menit kemudian, ponselku bergetar.
Bagus. Penjelasanmu jelas. Ibu-ibu itu ngerti.
Lalu satu pesan lagi.
Kinan mau ketemu kamu. Katanya mau menilai. Besok kalau bisa.
Kontrakan mereka berada di ujung gang, rumah petak berdinding bata yang dicat hijau muda, dengan teras sempit yang muat dua kursi plastik dan satu pot lidah buaya.
Aku datang Minggu sore membawa kue bolu pandan dari toko kue langganan Mama. Di sepanjang gang, aku merasakan tatapan dari balik jendela dan pintu yang setengah terbuka. Dua bapak yang sedang memperbaiki motor berhenti bekerja. Seorang ibu yang menjemur pakaian memperlambat gerakannya.
Mereka melihat perempuan berbaju bagus berjalan menuju rumah laki-laki di kertas A4 itu. Aku bisa merasakan pertanyaan di kepala mereka.
Aku mengangkat dagu sedikit dan terus berjalan.
Pintu kontrakan terbuka sebelum aku sempat mengetuk.
Gadis yang berdiri di ambang pintu itu kurus, berkulit sawo matang, dengan rambut panjang yang dikuncir asal dan kacamata berbingkai hitam yang terlalu besar untuk wajahnya. Ia memakai kaus oblong bergambar band yang tidak kukenal dan celana training sekolah. Ia menatapku dari kepala sampai kaki dengan ketelitian petugas bea cukai.
Matanya sama. Itu yang pertama kusadari. Mata kakaknya. Tatapan yang sama yang tidak pernah menghindar.
“Kakak yang namanya Shella?” tanyanya.
“Iya. Kamu Kinan, ya?”
“Iya.” Ia melipat tangan di dada, tidak bergeser dari ambang pintu. “Kakak cewek kaya ngapain sama kakak saya?”
Dari dalam rumah, terdengar suara laki-laki itu, sedikit lebih keras dari biasanya. “Kinan.”
“Aku nanya baik-baik, Kak.” Gadis itu tidak menoleh. Matanya tetap padaku. “Kakak lagi riset? Bikin skripsi soal mantan napi? Atau konten?”
Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya, dan untungnya tawa itu justru cocok dengan peranku.
“Bukan,” kataku. “Aku udah lulus skripsi. Dan aku nggak punya akun TikTok.”
“Semua orang punya akun TikTok.”
“Aku punya. Tapi pengikutnya cuma dua belas. Sebelasnya keluargaku.”
Kinan menyipitkan mata, seolah sedang menimbang apakah jawaban itu jujur atau tidak. Lalu matanya turun ke kotak kue di tanganku.
“Itu apa?”
“Bolu pandan.”
Ia menatap kotak itu selama dua detik. Lalu ia menggeser badannya ke samping, membuka jalan.
“Masuk,” katanya. “Tapi aku masih nilai.”
Rumah itu terdiri dari dua ruangan. Ruang depan yang merangkap ruang tamu, ruang makan, dan ruang belajar, lalu satu kamar di belakang yang ditutup tirai kain motif bunga. Dapurnya hanya kompor dua tungku di pojok, di samping galon air. Kipas angin kecil berputar di atas lemari.
Semuanya bersih. Sangat bersih. Lantai keramiknya mengilap. Buku-buku Kinan tersusun rapi di rak kayu. Tidak ada satu pun barang yang tergeletak sembarangan.
Laki-laki itu berdiri di tengah ruangan dengan kaus abu-abu dan celana pendek, memegang lap, seolah baru selesai membersihkan sesuatu. Ia terlihat canggung. Lebih canggung dari yang pernah kulihat.
“Maaf,” katanya. “Sempit.”
“Nggak apa-apa, Mas. Enak kok. Adem.”
“Itu bohong,” kata Kinan sambil membuka kotak bolu. “Di sini panas kayak oven. Kipasnya cuma buat formalitas.”
“Kinan.”
“Apa? Aku jujur. Kakak sendiri yang ngajarin jangan bohong.” Gadis itu menoleh padaku. “Kakak bisa masak?”
Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba sampai aku butuh sedetik untuk menjawab.
“Bisa. Sedikit.”
“Sedikit itu apa? Mi instan?”
“Pasta. Sup. Kadang kue.”
Kinan mengangguk pelan seperti juri lomba masak yang belum terkesan. “Kak Arya bisa masak semua. Rendang, opor, sayur asem. Tapi rasanya kayak masakan orang yang lagi ujian. Bener semua, tapi tegang.”
Laki-laki itu menatap adiknya dengan pandangan yang jelas memohon agar ia berhenti bicara. Kinan pura-pura tidak melihat.
“Telur dadar kemarin itu aku yang bikin,” lanjutnya padaku, sedikit bangga. “Yang di rest area. Enak, kan?”
Telur itu keasinan. Sangat keasinan.
“Enak banget,” kataku.
Kinan menyipitkan mata. “Kakak bohong. Itu keasinan. Aku tahu. Kak Arya juga bilang.”
“Aku nggak bilang,” kata laki-laki itu.
“Muka Kakak yang bilang.”
Kami duduk di tikar di lantai. Kinan memotong bolu dengan pisau dapur, membaginya menjadi tiga potong yang tidak sama besar. Potongan terbesar untuk dirinya sendiri. Potongan kedua untukku. Potongan terkecil untuk kakaknya.
“Kak Arya nggak suka manis,” jelasnya padaku tanpa ditanya. “Dia aneh. Kopi aja harus pahit kayak hidupnya.”
Aku membeku sepersekian detik.
Laki-laki itu menerima potongan kecilnya tanpa komentar. Ia tidak menatapku. Ia hanya menggigit bolu itu, mengunyahnya pelan.
“Kakak kerja di mana?” tanya Kinan padaku dengan mulut penuh.
“Di rumah sakit. Koas.”
“Koas itu apa?”
“Dokter magang.”
“Oh. Jadi Kakak belum dokter beneran.”
“Belum. Sebentar lagi.”
“Hm.” Kinan mengunyah, menatapku lagi. “Kakak tahu kan, kakak saya pernah dipenjara?”
“Kinan,” kata laki-laki itu.
“Aku cuma mau mastiin dia tahu, Kak. Biar nggak ada drama.” Kinan menatapku lurus. “Soalnya orang-orang di gang ini baru tahu minggu lalu. Ada yang nempel kertas di papan RT. Terus sekarang Bu Romlah, yang punya kontrakan, tiap ketemu Kak Arya pasang muka kayak liat kecoak.”
Dadaku dingin. Aku menjaga wajahku tetap tenang.
“Aku tahu,” kataku pelan. “Aku tahu kakakmu pernah dipenjara. Aku tahu kenapa.”
Kinan menatapku lebih lama.
“Kakak tahu kenapa,” ulangnya. “Terus Kakak tetap ke sini.”
“Iya.”
Gadis itu terdiam. Untuk pertama kalinya sejak aku datang, ekspresinya berubah. Bukan melunak. Lebih seperti bingung. Seperti seseorang yang sedang mengerjakan soal matematika dan menemukan angka yang tidak masuk akal.
Laki-laki itu berdiri.
“Aku bikin teh,” katanya, lalu pergi ke pojok dapur dan memunggungi kami.
Saat ia sedang menunggu air mendidih, mataku berkeliling ruangan dan berhenti di dinding di atas rak buku Kinan.
Ada tiga bingkai di sana. Satu foto keluarga yang sudah pudar: seorang laki-laki berkumis, seorang perempuan berkerudung, seorang remaja laki-laki berseragam SMA, dan seorang anak perempuan kecil di gendongan. Satu piagam juara olimpiade kimia tingkat kota atas nama Kinan Mahesa.
Dan satu lagi.
PIAGAM PENERIMA BEASISWA PRESTASI YAYASAN PENDIDIKAN WIJAYA Diberikan kepada: Kinan Mahesa
Di sudut kanan bawah, ada tanda tangan yang sangat kukenal. Tanda tangan dengan huruf H besar dan garis panjang yang melengkung ke bawah seperti kail pancing. Aku pernah melihatnya di rapor SD-ku, di surat izin study tour, di kartu ucapan ulang tahun.
Tanda tangan Ayah.
Aku tidak bisa bernapas.
“Itu beasiswa dari yayasan kantor lama Kak Arya,” kata Kinan, mengikuti arah pandangku. “Dari SMP. Pak Hendra yang ngurusin dulu. Bos Kak Arya. Baik banget orangnya, katanya. Sampai sekarang masih jalan, meski Pak Hendra udah…” Ia berhenti. Ia melirik punggung kakaknya, lalu kembali padaku, dan suaranya mengecil. “Udah meninggal.”
Di pojok dapur, laki-laki itu tidak bergerak. Ia berdiri memunggungi kami, menatap panci air yang mulai bergetar di atas kompor.
Kinan tidak tahu siapa aku.
Ia tidak tahu nama belakangku. Kakaknya tidak memberitahunya. Ia tidak tahu bahwa perempuan yang duduk di tikar rumahnya adalah anak dari laki-laki yang tanda tangannya terpajang di dinding itu.
Ayah membiayai sekolah adik dari orang yang membunuhnya.
Ayah sebaik itu. Ayah sepercaya itu. Dan laki-laki itu membalasnya dengan beton yang runtuh.
Sesuatu yang panas dan pahit naik ke tenggorokanku. Lebih kuat dari yang pernah kurasakan sejak aku memulai semua ini. Aku menelan bolu pandan yang tiba-tiba terasa seperti pasir.
5. Adiknya. Apa pun yang dia sayangi.
Aku tidak lagi ragu soal nomor lima.
Saat aku pamit, laki-laki itu mengantarku sampai ke teras.
Kinan berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat, seperti satpam yang mengawasi tamu keluar.
Aku berbalik untuk mengucapkan terima kasih, dan saat itu aku melihat celah yang kubutuhkan. Kinan masih menatapku dengan curiga. Ia belum memutuskan apakah aku boleh ada di hidup kakaknya.
Aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangan laki-laki itu.
Ia tersentak. Kecil, tapi terasa. Tangannya kasar, telapaknya tebal karena kapalan, hangat. Ia tidak menarik tangannya, tapi ia juga tidak membalas genggamanku. Jari-jarinya diam di antara jari-jariku, kaku, seperti orang yang tidak yakin apakah ia diizinkan memegang sesuatu yang rapuh.
“Makasih ya, Mas,” kataku, cukup keras untuk didengar Kinan. “Aku seneng banget hari ini.”
Aku tersenyum padanya. Senyum paling manis yang bisa kubuat.
Lalu aku tersenyum pada Kinan.
“Makasih ya, Kinan. Bolunya kebagian banyak.”
Kinan menatap tangan kami. Lalu menatap wajah kakaknya. Lalu menatapku. Bibirnya menipis.
“Hm,” katanya. Hanya itu.
Aku melepas tangan laki-laki itu dan berjalan menyusuri gang. Di belakangku, aku mendengar Kinan berbisik, cukup keras untuk sampai ke telingaku.
“Kak. Dia beneran suka sama Kakak?”
Aku tidak mendengar jawabannya.
Di mobil, aku mengambil cairan pembersih tangan dari laci dasbor. Aku menuangkannya ke telapak tangan kananku dan menggosoknya sampai kulitku merah. Lalu aku membuka foto yang diam-diam kuambil saat Kinan sedang ke kamar mandi tadi. Foto piagam itu. Nama yayasannya. Nomor registrasinya.
Aku mengirimkannya ke nomor yang tidak tersimpan.
Yang ini nanti. Belum sekarang.
Balasannya datang tiga menit kemudian.
Dimengerti. — H
Aku menyalakan mesin. Dari kaca spion, aku melihat ujung gang hijau itu menjauh, dengan satu lampu jalan yang mulai menyala meski langit belum benar-benar gelap.
Di bawah lampu itu, seseorang berdiri dan menatap mobilku pergi. Terlalu jauh untuk melihat wajahnya.
Aku tahu siapa.
Ia selalu menunggu sampai aku pergi.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan reading
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365