← Hukuman Kedua

Chapter Fifty One

Bab 51 — Tanda Tangan

POV: Shella

Tiga hari setelah badai, Arya kembali ke proyek dermaga Pelabuhanratu.

Mandor yang memintanya. Mak Ijah menceritakannya padaku dengan bangga yang berlebihan, seolah ia sendiri yang membuat keputusan itu.

“Mandor dateng ke Cisolok sendiri, Neng. Naik motor. Bawa rokok sebungkus sama kopi sachet sekardus.” Mak Ijah menuang kopi ke gelasku dengan gaya orang yang sedang membacakan berita penting. “Dia bilang, Diem, kamu bener soal bekisting. Saya yang goblok. Ujang patah kaki gara-gara saya nggak dengerin. Balik ke sini. Saya butuh orang yang bisa liat retak sebelum retaknya kejadian.”

“Terus dia bilang apa?”

“Dia bilang iya.” Mak Ijah menepuk dadanya sendiri. “Tapi dia minta satu syarat.”

“Apa?”

“Dia minta mandor janji, kalau dia bilang sesuatu soal struktur, mandor dengerin dulu. Nggak usah langsung percaya. Tapi dengerin.”

Aku menatap gelas kopiku.

Mereka nggak jahat. Mereka cuma takut. Takut kalau aku salah lagi.

“Mandor bilang iya,” lanjut Mak Ijah. “Terus dia balik. Kemarin sore. Bawa ransel sama toples sambel. Toplesnya udah kosong.”


Pagi harinya, Arya lewat jalan depan.

Bukan jalan belakang. Bukan kebun kelapa. Jalan utama. Lewat warung Mak Ijah. Lewat depan puskesmas.

Aku melihatnya dari jendela ruang periksa. Pukul tujuh lewat lima belas. Kaus abu-abu yang sudah pudar. Rambut yang masih terlalu panjang. Handuk di leher.

Ia berhenti di depan warung Mak Ijah.

Mak Ijah mengulurkan bungkusan nasi uduk. Aku tidak membayarnya. Aku sudah berhenti membayar sejak ia pindah ke Cisolok.

Arya mengambilnya.

Mak Ijah melempar kedua tangannya ke udara dan berteriak sesuatu. Aku tidak bisa mendengarnya dari puskesmas, tapi aku bisa membaca gerak bibirnya.

Terus Mak makan apa?!

Arya berkata sesuatu. Pendek. Lalu ia mengeluarkan dompet dari saku celananya, membuka, dan meletakkan selembar uang di atas etalase gorengan.

Ia membayar sendiri.

Lalu ia berjalan ke arah proyek. Di depan puskesmas, ia memperlambat langkahnya. Ia menoleh ke jendela ruang periksa.

Ke arahku.

Ia tidak berhenti. Ia tidak melambai. Ia hanya menatap jendela itu sebentar, satu detik, dua detik, lalu terus berjalan.

Bu Nengsih berdiri di sampingku dengan buku register di pelukan.

“Kerapunya udah keluar dari batu,” katanya. “Setengah badan.”


Hari Jumat, ia datang ke puskesmas.

Bukan untuk perban. Lukanya sudah sembuh. Garis merah muda di telapak tangan kirinya sudah mulai memudar menjadi putih.

Ia datang pukul enam sore, setelah sirene, dan berdiri di ambang pintu ruang periksa dengan tangan di saku celana.

“Dok.”

Aku mengangkat wajah dari rekam medis.

Lalu ia mengoreksi dirinya sendiri. Pelan.

“Shella.”

Aku meletakkan pulpenku.

“Kinan bilang ada map,” katanya. “Dari Mbak Dewanti. Kinan tahu dari Mitha. Mitha tahu dari kamu.” Ia berhenti. “Dimas juga kirim pesan ke Kinan. Katanya nomorku nggak aktif.”

“Nomormu memang nggak aktif.”

“HP-ku jatuh ke laut. Di Cisolok.” Ia menatap lantai. “Aku belum beli lagi.”

Aku menatapnya.

“Map apa?” tanyanya.

Aku tidak langsung menjawab. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku tidak akan membawanya ke Cisolok. Aku tidak membawanya. Ia yang datang.

Tapi aku masih takut. Takut kalau aku menunjukkan semuanya sekaligus, ia akan mundur lagi. Ke Cisolok. Ke tempat yang lebih jauh.

“Duduk dulu,” kataku.

Ia duduk di kursi pasien. Di depanku. Di seberang meja periksa.

Aku menjelaskannya pelan-pelan. Satu per satu.

Laporan di Polda. Surat pernyataan Mang Udin. Pemilik Toko Sumber Rejeki yang sudah ditetapkan tersangka minggu lalu. Penyidik yang sudah memeriksa buku tulis biru Ayah dan menyatakannya sebagai bukti.

Lalu peninjauan kembali.

“Cuma kamu yang bisa ajukan,” kataku. “Mbak Dewanti udah siapin dokumennya. Novumnya surat Mang Udin sama buku Ayah. Kalau dikabulkan, putusanmu dibatalkan. Namamu direhabilitasi. Catatan pidanamu dihapus.”

Ia diam.

“Dimas bilang asosiasi mau buka lagi sertifikasimu kalau putusannya keluar,” lanjutku. “Nggak usah nunggu dua tahun.”

Ia masih diam. Menatap tangannya sendiri di atas lutut. Telapak kiri. Dua bekas luka.

“Ibumu,” katanya akhirnya.

Aku menatapnya.

“Kalau aku tanda tangan,” katanya, “apa yang terjadi ke ibumu?”

Pertanyaan itu menghantamku seperti ombak di ujung dermaga.

Setelah semuanya. Setelah seratus delapan puluh tujuh hari dan ludah dan konferensi pers dan badai. Hal pertama yang ia tanyakan adalah ibuku.

“Udah terjadi, Arya,” kataku pelan. “Rumahnya udah dijual. Perusahaannya udah digugat. Mama udah pindah ke apartemen di Kalibata. Nggak ada lagi yang bisa dilindungi.”

Ia menatapku.

“Kamu tanda tangan atau nggak,” kataku, “Mama nggak kehilangan apa-apa lagi. Satu-satunya yang beda cuma namamu.”

Ia menunduk lagi.

Lama sekali.

“Aku pikirin dulu,” katanya.

“Iya.”

Ia berdiri. Di ambang pintu, ia berhenti.

“Mbak Dewanti bisa ke sini?” tanyanya tanpa menoleh. “Sabtu. Kinan juga dateng Sabtu.”


Mbak Dewanti menyetir lima jam dari Jakarta hari Sabtu pagi dengan mobil tua LBH yang AC-nya mati.

Ia tiba di warung Mak Ijah pukul sebelas dengan kemeja batik yang basah keringat, kacamata yang melorot, dan tas kulit yang penuh map.

“Saya nggak pernah ke Pelabuhanratu,” katanya sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan map. “Panas. Tapi lautnya bagus.”

Mak Ijah langsung menyodorkan es teh tanpa ditanya.

Kinan sudah ada di sana sejak pukul sepuluh. Ia duduk di bangku kayu di samping kakaknya, dengan buku soal kimia di pangkuan yang tidak ia buka sama sekali. Asep berdiri di dekat etalase gorengan dengan wajah penasaran yang tidak disembunyikan, sampai Mak Ijah menyuruhnya pergi dengan sapu lidi.

“Ini urusan orang dewasa, Sep.”

“Saya udah dua puluh, Mak!”

“Urusan orang dewasa yang otaknya udah dewasa.”

Asep pergi dengan menggerutu.

Aku duduk di ujung bangku kayu. Jauh dari meja. Seperti di hari ulang tahunnya.

Mbak Dewanti meletakkan map-map itu di atas meja kayu, di samping es teh dan sepiring bakwan.

Satu. Permohonan peninjauan kembali.

Dua. Akta hibah rumah petak paling ujung di gang hijau, atas nama Kinan Mahesa. Kolom tanda tangan wali kosong.

Tiga. Akta pengalihan Bengkel Las Gondo. Kolom penerima bertuliskan Gondo Wiryanto, dengan coretan pulpen di atasnya dan tulisan tangan Pak Gondo yang besar dan miring di sampingnya: ARYA MAHESA. NGGAK TERIMA PENOLAKAN.

Arya menatap ketiga map itu.

Ia mengambil akta bengkel lebih dulu. Ia membaca tulisan tangan Pak Gondo. Lama.

Sudut bibirnya bergerak.

“Bapak,” katanya pelan. Hanya itu.

Ia meletakkan akta itu kembali di meja.

“Yang ini nanti,” katanya. “Aku telepon Bapak dulu. Sendiri. Kalau HP-ku udah ada.”

Mbak Dewanti mengangguk.

Lalu Arya mengambil permohonan peninjauan kembali.


Ia membacanya. Semua halaman. Seperti ia membaca kop surat CV Bangun Lestari di halaman bengkel Pak Gondo, berbulan-bulan lalu. Pelan. Teliti. Setiap kalimat.

Mbak Dewanti tidak menyela. Kinan tidak bergerak. Mak Ijah berdiri di balik etalase gorengan dengan tangan di dada.

Aku menahan napas.

Halaman terakhir. Kolom tanda tangan pemohon.

Arya Mahesa.

Mbak Dewanti menyodorkan pulpen.

Arya mengambilnya.

Pulpen itu berhenti di udara. Di atas kolom tanda tangan. Satu senti dari kertas.

Ia tidak bergerak.

Lima detik. Sepuluh.

“Kalau aku tanda tangan ini,” katanya pelan, tanpa mengangkat wajah, “berarti aku bilang aku nggak salah.”

Hening.

Kinan menatap kakaknya dengan mata yang mulai basah.

Mbak Dewanti tidak menjawab. Ia menatapku.

Aku bergeser di bangku kayu. Mendekat. Tidak menyentuhnya.

“Bukan,” kataku.

Ia mengangkat wajahnya dan menatapku.

“Kamu bilang kamu nggak salah hitung,” kataku. “Itu aja. Itu fakta. Besinya tiga belas milimeter, bukan karena kamu salah hitung. Buku Ayah bilang gitu. Mang Udin bilang gitu. Polisi bilang gitu.”

Ia menatapku lama.

“Dua hari yang kamu tunggu,” lanjutku pelan, “itu bukan di kertas ini. Kertas ini nggak minta kamu buang itu. Kamu boleh bawa itu. Kalau kamu mau.”

Aku menelan ludah.

“Tapi kamu nggak harus bawa sendirian.”

Ia menatapku. Matanya basah.

Lalu ia menatap Kinan. Kinan yang sudah menangis tanpa suara di sampingnya, dengan buku soal kimia yang tidak pernah dibuka.

“Kak,” bisik Kinan. “Tanda tangan. Please.”

Arya menatap adiknya.

Lalu ia menurunkan pulpen itu ke kertas.

Ia menandatanganinya. Pelan. Huruf demi huruf. Tanda tangan yang kecil, tegak, presisi. Seperti tulisan tangannya di buku cokelat. Seperti hitungan pensil di lembar-lembar lapangan.

Ia meletakkan pulpen di atas meja.

Ia menghela napas. Panjang. Sangat panjang. Seperti Mang Udin di atas kasurnya di Bekasi, dengan baju koko putih, setelah menulis namanya.

Seperti seseorang yang sudah menahan napas tiga tahun.

Kinan memeluknya dari samping. Keras. Sampai bangku kayu itu berderit.

Mak Ijah menangis di balik etalase gorengan dan berpura-pura menggoreng bakwan.


Ia menandatangani akta hibah rumah itu tanpa ragu sama sekali.

“Ini buat Kinan,” katanya, sambil menulis namanya di kolom wali. “Bukan buat aku.”

Kinan menatap akta itu.

“Rumah yang dulu?” tanyanya. “Yang dindingnya dicat Kak Shella?”

“Iya.”

Kinan menatapku dari seberang meja. Lama. Matanya basah di balik kacamata yang terlalu besar.

Ia tidak berkata apa-apa padaku.

Tapi ia mengangguk sekali. Kecil.


Setelah Mbak Dewanti pergi, setelah Kinan pergi ke dermaga lama bersama Asep untuk melihat laut, setelah Mak Ijah masuk ke rumahnya di belakang warung dengan mata merah, aku dan Arya tinggal berdua di bawah terpal biru.

Aku membuka tasku.

Aku mengeluarkan kotak kayu tipis dengan engsel yang sudah tidak berkarat lagi. Dan map plastik berisi dua puluh tiga lembar kertas bergaris.

Aku sudah membawanya dari laci meja jaga UGD pagi tadi. Aku tidak tahu apakah hari ini waktunya. Aku hanya tahu aku tidak boleh menyimpannya lebih lama.

Aku meletakkan keduanya di atas meja kayu. Di depannya. Lalu aku menarik tanganku kembali ke pangkuan.

“Lembar hitunganmu,” kataku. “Yang asli. Dua puluh tiga. Dari proyek Pak Rusdi. Aku nggak pernah buang. Aku nggak pernah sobek.”

Ia menatap map itu.

“Sama alat gambarmu,” lanjutku. “Dari kotak merah Bapak. Kinan yang titip. Aku coba benerin. Rapidonya dua bisa dipakai. Satu patah. Maaf. Penggaris skalanya nggak bisa diperbaiki, angkanya udah pudar. Aku nggak ganti, soalnya…”

Aku berhenti.

“Soalnya itu punyamu,” kataku. “Angka-angka pudar itu udah kamu sentuh ribuan kali.”

Ia tidak berkata apa-apa.

Ia membuka map plastik itu lebih dulu. Ia mengeluarkan lembar-lembar kertas bergaris. Tulisan pensil yang kecil dan tegak. Sketsa kolom dengan retak rambut digambar putus-putus. Noda debu semen di pojok.

Ia membalik ke halaman terakhir.

Kolom ini harus dibongkar. Ada keluarga yang akan tinggal di atasnya.

Ia menyentuh kalimat itu dengan ujung jarinya. Jari telunjuk tangan kiri. Di atas bekas luka yang mulai memutih.

Lalu ia membuka kotak kayu itu.

Jangka yang sekrupnya sudah tidak macet. Dua rapido yang ujungnya sudah bersih. Pensil mekanik dengan grip karet baru. Penggaris skala segitiga dengan angka-angka yang pudar.

Dan satu rapido yang patah, yang kuletakkan di sudut kotak, karena aku tidak tega membuangnya.

Ia mengambil rapido yang patah itu.

“Satu patah,” katanya.

“Iya. Maaf.”

Ia memutar rapido patah itu di antara jari-jarinya. Lama.

“Nggak apa-apa,” katanya. “Dua cukup.”

Ia meletakkan rapido patah itu kembali di kotak. Di sudutnya. Di tempat aku meletakkannya.

Ia tidak membuangnya.


Aku berdiri untuk pergi. Kakiku tidak stabil. Aku tidak tahu kenapa.

“Shella.”

Aku berhenti.

Ia tidak menatapku. Ia menatap kotak kayu di atas meja.

“Surat yang dulu,” katanya. “Yang kamu kasih di dermaga. Yang aku balikin.”

Aku membeku.

“Masih ada?”

Aku membuka tasku lagi. Pelan. Aku merogoh saku dalam. Amplop putih biasa, yang sudah lecek di sudut-sudutnya, karena sudah berbulan-bulan berada di sana. Bersama buku cokelat tiga ribuan dan stetoskop dengan kepala dada yang mengilap.

Arya.

Aku menyodorkannya. Dengan tangan yang gemetar.

Ia mengambilnya. Ia tidak membukanya. Ia memasukkannya ke saku kausnya. Di dada kiri. Di tempat yang sama dengan surat Mang Udin, berbulan-bulan lalu.

“Nanti aku baca,” katanya.

Ia menatapku. Akhirnya. Dari bangku kayu di bawah terpal biru, dengan lembar-lembar hitungan di depannya dan kotak kayu di tangannya.

“Sekarang aku bisa jawab,” katanya.