Chapter Forty Eight
Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
POV: Shella
Aku tidak pergi ke Cisolok.
Aku memikirkannya setiap hari. Lima belas kilometer. Dua puluh menit naik angkot, kata Bu Atin. Proyek tanggul pantai di ujung desa nelayan, kata Asep. Mess pekerja dari papan, di pinggir kebun kelapa, kata Mak Ijah.
Aku bisa pergi kapan saja. Sabtu sore. Minggu pagi. Setelah jaga malam.
Aku tidak pergi.
Setiap kali aku memikirkannya, aku melihat wajahnya di bawah terpal biru. Matanya yang tiba-tiba berada di tempat lain. Waktu itu kamu juga senyum begini. Langkahnya mundur, satu, lalu satu lagi.
Kalau aku pergi ke Cisolok, aku mengejarnya. Kalau aku mengejarnya, aku memaksanya. Kalau aku memaksanya, ia akan mundur lebih jauh. Ke tempat yang lebih dalam. Lebih gelap.
Seperti kerapu yang pernah kena kail.
Jadi aku tetap di Pelabuhanratu. Aku datang ke puskesmas jam enam pagi. Aku memeriksa empat puluh pasien sehari, yang perlahan, satu per satu, mulai kembali. Ibu dengan balita demam yang dulu menolakku datang lagi minggu lalu. Ia tidak minta maaf. Ia hanya duduk di kursi di depanku dan berkata, anak saya batuk, Dok, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Aku memeriksa anaknya. Aku tidak berkata apa-apa juga.
Aku berhenti membayar nasi uduk.
Hari pertama setelah ia pindah, aku tetap datang ke warung Mak Ijah pukul enam pagi dan tetap mengeluarkan uang. Mak Ijah menatap uang itu, lalu menatapku.
“Buat siapa, Neng?”
Aku tidak bisa menjawab.
Mak Ijah mendorong uang itu kembali ke tanganku.
“Simpen,” katanya. “Kalau dia balik, baru bayar lagi.”
“Kalau dia nggak balik, Mak?”
Mak Ijah menuang kopi hitam ke gelas kaca dan meletakkannya di depanku.
“Mak udah tua, Neng,” katanya. “Mak udah liat banyak orang pergi. Yang bawa toples sambel pas pergi, biasanya balik.”
Aku menatapnya.
“Orang yang beneran mau pergi selamanya,” kata Mak Ijah, “nggak bawa apa-apa. Dia bawa sambel. Sambel dari Neng.” Mak Ijah mengangkat bahu. “Itu artinya dia masih mau nyicip.”
Kinan tetap datang hari Sabtu. Tapi sekarang ke Cisolok, bukan ke Pelabuhanratu.
Ia tidak mampir ke puskesmas. Ia tidak meneleponku. Tapi Sabtu malam itu, saat ia sudah di travel pulang ke Jakarta, ponselku bergetar dengan satu pesan pendek dari K.
Dia makan.
Selasa malam, satu lagi.
Tadi video call. Dia ngajarin aku termodinamika pakai panci mi instan. Dia nggak ngomong soal Kakak.
Kamis malam.
Asep telepon aku. Katanya dia tidur di lantai lagi. Di mess. Ada kasur, dia nggak pakai. Aku marahin lewat telepon.
Aku membaca pesan itu berulang-ulang di kamar kos.
Dia tidur di lantai lagi.
Di kamar kos di atas laundry, ia tidur di lantai karena kamarnya terlalu kecil untuk dua kasur. Di mess Pelabuhanratu, ia tidur di ranjang susun di bawah Asep. Sekarang di Cisolok, ada kasur, dan ia tidak memakainya.
Ia kembali ke lantai.
Aku membalas pesan Kinan. Untuk pertama kalinya.
Makasih udah kasih tahu.
Balasannya datang satu menit kemudian.
Aku nggak kasih tahu buat Kakak. Aku kasih tahu karena Kakak dokter. Orang yang tidur di lantai terus itu sakit punggung kan?
Iya, tulisku. Suruh dia peregangan sebelum tidur. Lima menit. Tarik lutut ke dada.
Tiga titik muncul dan menghilang beberapa kali.
Oke, tulis Kinan akhirnya. Aku suruh. Aku bilang dari aku.
Aku menatap pesan itu.
Aku bilang dari aku.
Seperti sambal dari Pak Gondo.
Bu Nengsih memperhatikanku selama seminggu tanpa berkata apa-apa.
Lalu, di hari Rabu, saat istirahat siang, ia membuka kotak bekal berisi tongkol balado yang sama dan menyodorkannya padaku, dan aku tidak mengambilnya, dan ia meletakkan kotak itu dengan keras di bangku kayu.
“Dok.”
“Iya, Bu.”
“Dokter tahu bambu?”
Aku menatapnya.
“Bambu yang di kebun belakang puskesmas,” kata Bu Nengsih. “Dokter liat?”
“Liat, Bu.”
“Lurus?”
Aku memikirkannya. Rumpun bambu di belakang puskesmas, di dekat sumur tua. Batang-batangnya tinggi dan hijau, bergoyang kalau angin datang dari laut.
“Nggak, Bu. Miring-miring.”
“Kenapa miring?”
“Angin, mungkin.”
“Angin,” ulang Bu Nengsih. “Tiap tahun ada angin barat. Kenceng. Bambu-bambu itu bengkok. Satu musim bengkok ke kiri. Musim berikutnya, pas anginnya berhenti, dia tegak lagi sedikit. Terus angin dateng lagi, dia bengkok lagi. Nggak pernah balik lurus sempurna.” Ia mengambil tongkol dengan tangannya. “Tapi dia tetep tumbuh. Tiap tahun tambah tinggi. Miring-miring, tapi tambah tinggi.”
Aku menatap rumpun bambu itu dari bangku kayu.
“Dokter pikir orang yang udah kena angin kenceng bakal tumbuh lurus?” tanya Bu Nengsih. “Habis dikasih kopi pahit sekali, langsung tegak?”
Aku tidak menjawab.
“Nggak ada yang tumbuh lurus, Dok. Nggak ada.” Bu Nengsih mengunyah tongkolnya. “Yang penting tumbuhnya. Bukan lurusnya.”
Mitha datang hari Jumat malam, tanpa memberi tahu.
Aku membuka pintu kamar kos dan ia sudah berdiri di sana dengan ransel besar, kantong plastik berisi martabak manis dan martabak telur, dua botol teh, dan wajah orang yang baru saja naik travel lima jam dan bersumpah tidak akan pernah melakukannya lagi.
“Sopirnya nyetir kayak dikejar setan,” katanya, melewatiku dan masuk ke kamar. “Gue muntah dua kali. Di Cibadak sama di Cikidang.” Ia menatap kamar itu. Dinding hijau muda. Kasur busa tipis. Lemari kayu yang pintunya tidak bisa ditutup rapat. Cicak di atas lemari. “Ya ampun, Shel. Ini lebih parah dari yang lo ceritain.”
“Lo ngapain ke sini, Mit?”
“Nginep.” Ia melempar ranselnya ke lantai. “Gue ambil cuti dua hari. Gue bilang ke residen gue sakit. Gue nggak sakit. Gue cuma kangen lo.”
Ia duduk di kasur busa. Kasur itu langsung kempis sampai ke papan.
“Ya Allah,” kata Mitha, menatap pantatnya yang tenggelam. “Lo tidur di sini tiap malem?”
“Iya.”
“Lo dokter dengan nilai ujian paling tinggi di angkatan kita.”
“Iya.”
“Dan lo tidur di kasur yang lebih tipis dari roti tawar.”
“Iya.”
Mitha menatapku lama. Lalu ia membuka kantong plastik dan menyodorkan martabak manis.
“Makan,” katanya. “Lo kurus. Pasien jadi kasihan liat dokternya.”
Kami makan martabak di lantai kamar kos, karena kasur busa itu tidak cukup untuk dua orang dan tidak ada kursi.
Mitha bercerita tentang internsipnya di rumah sakit di Jakarta Utara. Tentang residen yang memanggilnya dokter galak. Tentang pasien yang melamarnya setelah diinfus. Tentang ibunya yang mulai bertanya kapan ia menikah.
Aku mendengarkan. Aku tertawa di tempat-tempat yang tepat.
Lalu, di tengah martabak telur, Mitha berhenti bicara.
“Lo belum cerita,” katanya.
“Cerita apa?”
“Kenapa dia pindah ke Cisolok.”
Aku meletakkan potongan martabak di kotaknya.
Aku menceritakannya. Bolu pandan. Lilin biru. Kinan yang memukul lengan kakaknya. Asep dan kemeja batik pinjaman. Sudut bibir yang terangkat ke arah Kinan.
Senyumku.
Klik.
Waktu itu kamu juga senyum begini.
Mitha mendengarkan tanpa menyela. Saat aku selesai, ia diam lama.
“Lo pikir sembuh itu garis lurus?” tanyanya akhirnya.
Aku menatapnya.
“Gue serius nanya.” Mitha menyandarkan punggungnya ke dinding kamar. “Lo dokter. Lo pernah liat grafik pemulihan pasien stroke. Atau pasien patah tulang. Atau pasien depresi. Garis lurus naik?”
“Nggak.”
“Kayak apa?”
“Naik turun. Zig-zag. Kadang turun lebih dalem dari awal.”
“Kayak saham,” kata Mitha. “Kayak grafik saham yang lo liat di HP bokap lo dulu.”
“Iya.”
“Terus lo kaget dia turun? Habis kopi pahit, langsung naik terus?”
Aku tidak menjawab.
Bu Nengsih bilang bambu. Mitha bilang saham. Mereka bilang hal yang sama.
Mitha menatapku lama. Lalu ia mengatakan sesuatu yang tidak kuharapkan. Sesuatu yang membuatku berhenti bernapas.
“Lo nggak bisa minta dia lupa, Shel.”
Aku menatapnya.
“Lo pengin dia lupa. Gue tahu. Lo pengin dia liat senyum lo dan nggak inget dua puluh tiga foto. Lo pengin dia minum kopi dari lo dan nggak inget gula aren. Lo pengin dia ngerasain tangan lo dan nggak inget lo pernah meluk dia sambil ngetik lanjut.” Mitha menggeleng pelan. “Dia nggak bakal lupa. Nggak pernah. Lo juga nggak bakal.”
“Terus gue harus gimana?”
“Lo nggak bisa bikin dia lupa,” kata Mitha. “Lo cuma bisa jadi orang yang beda, setiap kali dia inget.”
Hening di kamar kos itu. Hanya bunyi jangkrik dari kebun pisang di luar jendela, dan ombak yang jauh menghantam karang di ujung teluk.
“Setiap kali dia inget senyum lo yang dulu,” lanjut Mitha pelan, “dia bakal liat senyum lo yang sekarang. Dan lama-lama, mungkin bertahun-tahun, yang sekarang bakal lebih banyak dari yang dulu. Bukan karena yang dulu ilang. Karena yang sekarang nambah.”
Aku menatap tanganku. Jari-jari yang masih punya bekas lepuh dari amplas. Bekas yang mulai memudar.
“Kayak bekas luka,” kataku pelan.
“Kayak bekas luka,” kata Mitha. “Nggak ilang. Tapi kulitnya tumbuh di sekitarnya.”
Mitha tidur di kasur busa. Aku tidur di lantai di sampingnya, di atas sarung yang kulipat dua.
Pukul dua pagi, ia membangunkanku.
“Shel.”
“Hm.”
“Lo masih nulis di buku itu?”
“Masih.”
“Udah hari ke berapa?”
Aku menatap langit-langit dalam gelap.
“Seratus delapan puluh empat.”
Mitha diam lama.
“Dia nulis seratus delapan puluh tujuh,” katanya.
“Iya.”
“Tiga hari lagi lo nyusul angkanya.”
“Iya.”
“Terus kalau udah lewat?”
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu jawabannya. Aku sudah memikirkannya berhari-hari. Seratus delapan puluh tujuh. Angka itu seperti garis di pasir, dan aku tidak tahu apa yang ada di seberangnya.
“Gue nggak tahu, Mit.”
Mitha bergeser di kasur busa. Kasur itu berderit.
“Mungkin nggak ada apa-apa,” katanya. “Mungkin lo cuma terus nulis. Hari ke-188. Hari ke-189. Hari ke-500.”
“Mungkin.”
“Lo siap?”
Aku menatap gelap.
“Iya,” kataku.
Mitha tidak bertanya lagi. Beberapa menit kemudian, aku mendengar napasnya berubah menjadi dengkur halus.
Aku tetap terjaga.
Pagi harinya, sebelum Mitha bangun, ponselku bergetar.
Bukan Kinan. Bukan Mama. Nomor yang tidak tersimpan.
Selamat pagi. Mohon maaf mengganggu. Saya Dimas Prakoso, dari Asosiasi Tenaga Ahli Konstruksi. Saya teman kuliah Arya Mahesa. Saya mendapat nomor ini dari Ibu Dewanti di LBH.
Aku duduk tegak di lantai.
Asosiasi sudah menerima surat pencabutan keberatan yang Mbak kirim bulan lalu. Ketua tim asesor juga sudah membaca berita soal laporan di Polda. Saya diminta menyampaikan secara tidak resmi: kalau ada perkembangan hukum yang memulihkan nama Arya, asosiasi bersedia membuka kembali permohonan sertifikasinya. Tanpa harus menunggu dua tahun.
Saya sudah mencoba menghubungi Arya. Nomornya tidak aktif. Saya tidak tahu dia di mana. Kalau Mbak tahu, tolong sampaikan. Dan tolong sampaikan juga: saya masih menyimpan rekomendasi saya untuknya. Tidak pernah saya tarik.
Aku membaca pesan itu tiga kali.
Perkembangan hukum yang memulihkan nama Arya.
Peninjauan kembali. Hanya ia yang bisa mengajukannya. Hanya tanda tangannya.
Aku membuka buku cokelat di pangkuanku.
Hari ke-185.
Mitha bilang: kamu tidak bisa membuatnya lupa. Kamu cuma bisa jadi orang yang beda setiap kali dia ingat.
Bu Nengsih bilang: tidak ada yang tumbuh lurus.
Kinan bilang: dia tidur di lantai lagi.
Dimas, teman kuliahnya, bilang asosiasi bersedia membuka kembali sertifikasinya. Kalau ada perkembangan hukum.
Aku menatap tulisan itu.
Lalu aku menulis satu kalimat lagi. Pelan.
Empat dokumen sekarang. Akta bengkel. Hibah rumah. Permohonan PK. Sertifikasi.
Semua menunggu tanda tangan yang sama.
Aku tidak akan membawanya ke Cisolok.
Di luar jendela, langit pagi berwarna abu-abu kebiruan. Angin dari laut mulai bertiup lebih kencang dari biasanya. Daun-daun pisang di kebun belakang bergoyang keras, menampar satu sama lain.
Bu Atin mengetuk pintu kamar.
“Dok,” katanya dari balik pintu. “Radio bilang ada badai dari selatan. Nanti sore sampai malem. Nelayan nggak boleh melaut. Dokter jaga nggak?”
“Jaga, Bu. Malam.”
Bu Atin diam sebentar.
“Hati-hati,” katanya. “Kalau badai dari selatan, ombaknya bisa sampai ke dermaga.”
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus reading
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365