Chapter Thirty Three
Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
POV: Arya
Subuh di mess pekerja dimulai dengan bunyi ayam milik mandor dan dengkur Asep.
Asep tidur di ranjang susun di atasku. Kakinya yang diperban menggantung di pinggir kasur, bergoyang setiap kali ia mendengkur. Ia mendengkur seperti mesin molen yang kurang oli.
Aku bangun pukul empat. Aku tidak pernah tidur lewat pukul empat. Dua tahun di Cipinang mengajari tubuhku jam yang tidak bisa diubah.
Aku mandi di kamar mandi umum di ujung mess. Air sumur. Dingin dan sedikit asin. Aku salat di musala kecil di samping gudang material, sendirian, di atas sajadah tipis yang sudah bolong di bagian dahi.
Lalu aku duduk di tangga mess sampai langit terang.
Itu rutinitasku. Dua bulan lebih. Bangun, mandi, salat, duduk, kerja, makan, tidur. Tidak ada yang perlu dipikirkan. Tidak ada yang perlu dihitung.
Aku sudah berhenti menghitung.
Ia datang setiap pagi ke warung Mak Ijah.
Aku tidak melihatnya. Aku lewat jalan belakang. Kebun kelapa, kali kecil, pagar samping proyek. Setengah kilo memutar. Becek di musim hujan. Nyamuk di semak-semak dekat kali.
Tapi aku tahu ia ada di sana. Mak Ijah memberitahuku setiap hari, tanpa kuminta.
“Diem! Sarapan! Udah dibayar!”
Mak Ijah berdiri di mulut gang kebun kelapa, di ujung tempat aku keluar dari jalan belakang. Ia sudah tahu rute baruku sejak hari kedua. Ia mencegatku di sana, dengan bungkusan nasi uduk di tangan.
“Saya udah makan, Mak.”
“Bohong. Kamu nggak pernah sarapan. Mak liat dua bulan.”
“Saya nggak lapar, Mak.”
Mak Ijah menyodorkan bungkusan itu ke dadaku.
“Ambil.”
“Dari siapa, Mak?”
Mak Ijah diam. Ia orang Sunda yang tidak bisa berbohong lebih dari satu kalimat.
“Dari warung,” katanya.
“Mak nggak pernah ngasih gratis.”
“Mak lagi baik hari ini.”
Aku menatap bungkusan itu. Nasi uduk. Telur balado. Tempe orek. Daun pisang yang dilipat rapi dan diikat karet gelang.
Aku mengembalikannya ke tangan Mak Ijah.
“Makasih, Mak. Buat Mak aja.”
Aku berjalan masuk ke proyek.
Di belakangku, aku mendengar Mak Ijah membuka bungkusan itu dan mulai makan sambil mengomel dengan mulut penuh.
“Dasar kerapu. Kerapu batu. Kerapu bego.”
Hari kedelapan, ia menunggu di ujung dermaga lama.
Aku pergi ke sana setiap sore, setelah sirene. Itu satu-satunya waktu dalam sehari aku tidak bersama siapa pun. Aku duduk di ujung papan kayu yang basah dan menatap laut sampai matahari tenggelam. Aku tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya menatap ombak yang datang dan pergi, datang dan pergi.
Sore itu, ia sudah duduk di sana lebih dulu.
Di ujung dermaga. Di tempatku.
Aku berhenti di pangkal dermaga. Aku menimbang untuk berbalik.
Ia menoleh dan melihatku. Ia tidak berdiri. Ia tidak memanggilku. Ia hanya menatapku, lalu menggeser tubuhnya sedikit ke samping, meninggalkan ruang di ujung papan kayu itu. Lalu ia kembali menatap laut.
Aku tidak duduk di ruang itu. Aku duduk di tiang kayu di pangkal dermaga, sepuluh meter darinya.
Kami menatap laut yang sama dari tempat yang berbeda.
Lama sekali kami diam. Matahari turun pelan. Oranye, lalu merah, lalu ungu.
“Kenapa kamu nggak mau makan?” tanyanya akhirnya. Pelan. Tanpa menoleh. “Nasinya dari warung Mak Ijah. Aku nggak masak. Aku nggak nyentuh. Aku cuma bayar.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu kurus,” lanjutnya. “Asep bilang kamu cuma makan sekali sehari. Malam. Nasi sama kerupuk.”
“Asep banyak ngomong.”
“Arya.”
Aku menatap laut.
Ombak datang. Pergi. Datang.
“Kopi,” kataku.
Ia diam.
“Martabak. Roti bakar. Kemeja abu-abu. Kue ulang tahun. Jilid laporan. Antar pulang pas gerimis.”
Ia tidak bergerak. Aku melihatnya, dari sudut mataku, menegang di ujung dermaga.
“Pelukan di trotoar,” kataku. “Habis dipecat.”
Ia menunduk.
“Setiap kebaikanmu dulu itu pisau, Dok.” Aku mengatakannya pelan. Tanpa marah. Seperti menyebutkan hasil pengukuran. “Semuanya. Aku nggak nyalahin kamu. Kamu punya alasan. Tapi semuanya pisau.”
Ia tidak menjawab.
“Kamu bawain aku nasi uduk,” kataku. “Aku nggak tahu nasi uduk itu buat apa. Aku nggak tahu ada apa di baliknya. Mungkin nggak ada apa-apa. Mungkin cuma nasi.” Aku diam sebentar. “Tapi aku nggak bisa tahu, Dok. Badanku nggak bisa bedain lagi.”
Matahari menyentuh garis laut.
“Bagaimana aku tahu yang ini bukan?” tanyaku.
Itu bukan pertanyaan untuknya. Aku tidak mengharapkan jawaban. Itu pertanyaan yang sudah lama ada di kepalaku, dan aku hanya membiarkannya keluar, karena laut tidak peduli.
Ia tidak menjawab. Ia tidak menangis. Ia tidak membela diri.
Ia hanya duduk di sana, dengan punggung yang membungkuk, menatap laut.
Lama kemudian, saat matahari sudah tenggelam separuh, ia berkata sesuatu. Sangat pelan. Hampir tidak terdengar di antara bunyi ombak.
“Kamu nggak bisa tahu,” katanya. “Aku juga nggak bisa bikin kamu tahu. Nggak dengan omongan.”
Ia berdiri. Ia menepuk-nepuk celananya yang basah. Ia berjalan melewatiku di pangkal dermaga, tanpa berhenti, tanpa menyentuhku. Jaraknya satu meter. Ia menjaganya.
“Aku cuma bisa nunggu,” katanya, saat ia sudah di belakangku. “Sampai badanmu bisa bedain sendiri.”
Ia pergi.
Aku tidak menoleh.
Tiga hari setelah hujan itu, Asep bertanya padaku di mess, malam hari, saat lampu sudah dimatikan.
“Bang Diem.”
Aku tidak menjawab.
“Bang Diem, udah tidur?”
“Belum.”
“Bang, dokter cantik itu siapanya Abang?”
Aku menatap papan kayu ranjang di atasku. Kaki Asep yang diperban bergoyang di ujungnya.
“Bukan siapa-siapa.”
“Bohong. Mak Ijah bilang dia dateng ke sini buat Abang. Mak Ijah bilang dia dokter dari Jakarta yang nilainya paling tinggi, tapi dia milih puskesmas di sini. Mak Ijah bilang…”
“Mak Ijah banyak ngomong.”
“Bang, kemarin pas Abang kaget di warung, waktu dia mau ngusap pipi Abang.” Asep diam sebentar. “Saya liat dari mess. Saya kira Abang mau jatuh.”
Aku diam.
“Abang nggak pernah kaget, Bang. Waktu besi nusuk kaki saya, semua orang panik, Abang nggak kaget. Waktu ombak gede nyampe ke tiang pancang dan anak-anak lari semua, Abang nggak kaget. Waktu mandor marah-marah, Abang nggak kaget.” Asep menggeser badannya. Kasurnya berderit. “Tapi dokter itu cuma angkat tangan doang, Bang. Abang kayak orang ditembak.”
Aku memejamkan mata.
Aku ingat. Tanganku tidak memutuskannya. Kepalaku tidak memutuskannya. Tangannya terangkat, sejengkal dari wajahku, ke arah pipi kiri. Dan sebelum aku bisa berpikir apa pun, badanku sudah bergerak.
Badanku ingat lahan bekas ruko itu. Badanku ingat pagar seng berkarat dan rumput liar dan bunga sedap malam di atas tanah. Badanku ingat tangannya yang terangkat setengah detik sebelum ludah itu.
Kepalaku sudah memutuskan untuk tidak merasakan apa-apa. Badanku tidak setuju.
“Bang?”
“Tidur, Sep.”
“Bang, saya cuma mau bilang.” Asep menguap. “Dokter itu, pas Abang kaget, mukanya lebih kaget dari muka Abang. Dia keliatan kayak orang yang abis nabrak kucing.”
Aku tidak menjawab.
Lama kemudian, saat dengkur Asep sudah kembali seperti mesin molen yang kurang oli, aku membuka mata dan menatap kegelapan.
Aku tidak melihat wajahnya waktu itu. Aku hanya melihat tangannya. Lalu aku menatap hujan.
Aku tidak tahu wajahnya seperti apa.
Tanggal sepuluh, aku minta izin ke mandor dua jam dan pergi ke BRI unit di jalan utama.
Aku tidak punya kartu ATM lagi. Kartunya patah di saku celana bulan lalu, saat aku jatuh berlutut di tumpukan batu kali. Aku belum sempat mengurus yang baru. Jadi aku menyetor tunai di teller, dua kali, untuk dua rekening di Bekasi.
Teller yang melayaniku perempuan muda berkerudung abu-abu. Ia menghitung uangku, mencetak slip, lalu menatapku sedikit lebih lama dari biasanya.
“Pak,” katanya pelan, sambil menyerahkan slip. “Beberapa hari lalu ada yang nyari Bapak. Perempuan. Dari Jakarta.”
Aku diam.
“Saya nggak kasih tahu apa-apa,” lanjutnya cepat. “Itu rahasia nasabah. Tapi…” Ia menunduk. “Dia keliatan kayak orang yang udah lama nggak tidur, Pak. Saya cuma bilang ada proyek dermaga.”
Aku menatap slip di tanganku. A.M. Dua huruf. Setor tunai. Kantor unit Palabuhanratu.
Tentu saja. Buku tabungan Bu Sarip. Ia datang ke sana. Ia mencetaknya.
“Makasih, Mbak,” kataku.
Aku tidak tahu untuk apa aku berterima kasih.
Hari kesepuluh, aku salah jalan.
Hujan semalaman membuat kali kecil di belakang kebun kelapa meluap. Air cokelat menutupi batu-batu pijakan. Aku berdiri di tepinya, menimbang, lalu berbalik dan mengambil jalan depan. Jalan utama. Lewat warung Mak Ijah. Lewat depan puskesmas.
Saat itu pukul enam pagi. Puskesmas belum buka. Hanya satu jendela yang lampunya menyala.
Ruang periksa di sisi kanan. Jendela kaca dengan tirai yang tidak ditutup penuh.
Aku tidak berniat melihat. Aku hanya lewat.
Tapi jendela itu ada di sana, terang di antara bangunan-bangunan yang masih gelap, dan mataku melihat sebelum kepalaku sempat memutuskan.
Ia duduk di meja periksa. Sendirian. Ia sudah memakai jas putih, meski puskesmas baru buka satu jam lagi. Rambutnya diikat rendah, beberapa helai terlepas dan jatuh di pipinya. Lampu neon di atasnya membuat kulitnya terlihat pucat.
Ia kurus. Lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya di Jakarta, di lahan bekas ruko. Tulang pipinya lebih tajam. Ada lingkaran gelap di bawah matanya.
Ia cantik. Masih. Dengan cara yang berbeda dari dulu. Dulu ia cantik seperti benda mahal yang diletakkan di rak plastik. Sekarang ia cantik seperti sesuatu yang retak tapi belum pecah.
Ia sedang menulis.
Di sebuah buku kecil. Aku tidak bisa melihat isinya dari jalan. Tapi aku bisa melihat bukunya.
Buku tulis kecil. Sampul cokelat. Jenis buku yang dijual di warung atau koperasi seharga tiga ribu rupiah.
Aku berhenti di tengah jalan.
Ia menulis dengan pelan. Berhenti. Menatap halamannya. Lalu menulis lagi. Seperti orang yang mencatat sesuatu yang harus dicatat dengan benar, supaya tidak ada yang terlewat.
Seperti orang yang menghitung.
Sebuah motor membunyikan klakson di belakangku. Aku tersadar dan minggir. Saat aku menoleh lagi ke jendela itu, ia sudah menutup bukunya dan memasukkannya ke saku jas putih.
Ia tidak melihatku.
Aku berjalan ke proyek. Aku mengambil karung semen pertama dan memanggulnya.
Sepanjang hari, setiap kali aku menaiki papan kayu miring ke tiang pancang, aku memikirkan buku cokelat tiga ribuan di saku jas putih itu.
Aku tidak tahu apa yang ia hitung.
Aku tidak mau tahu.
Sore itu, Mak Ijah mencegatku lagi di mulut gang kebun kelapa. Bungkusan nasi uduk di tangannya.
“Diem! Udah dibayar!”
Aku menatap bungkusan itu.
Lalu, untuk pertama kalinya, aku tidak langsung mengembalikannya.
Aku hanya menatapnya. Lama. Daun pisang yang dilipat rapi. Karet gelang hijau.
Lalu aku mengembalikannya ke tangan Mak Ijah.
“Makasih, Mak. Buat Mak aja.”
Mak Ijah menatapku dengan mata menyipit. Ia melihat sesuatu. Aku tidak tahu apa.
“Tadi kamu mikir dulu,” katanya. “Biasanya kamu langsung balikin. Tadi kamu mikir dulu.”
Aku berjalan masuk ke proyek tanpa menjawab.
Di belakangku, Mak Ijah tidak membuka bungkusan itu kali ini. Aku tidak mendengarnya makan.
Aku mendengarnya tertawa kecil. Sendirian. Seperti nenek yang baru saja melihat sesuatu tumbuh di tanah yang ia kira sudah mati.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah reading
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365