Chapter Fifty Seven
Bab 57 — Kak
POV: Shella
Pengumuman SNBT keluar hari Kamis pukul tiga sore.
Kinan tidak mau membukanya sendirian. Ia juga tidak mau membukanya di depan orang banyak. Kompromi yang ia putuskan, setelah tiga hari negosiasi lewat grup WhatsApp bernama Tim Sukses Bocah Olimpiade yang dibuat Mitha tanpa izin siapa pun: dibuka di bengkel, pukul tiga lewat lima, dengan empat orang saja.
Kinan. Mas Arya. Mitha. Aku.
Dan Presiden, yang menurut Kinan tidak dihitung karena ia burung.
Pukul tiga kurang sepuluh, bengkel Las Gondo sudah tutup setengah. Rolling door diturunkan sampai pinggang. Mas Arya mematikan kompresor. Mitha datang dengan sekantong cilok dan dua botol teh, seperti orang yang akan menonton final sepak bola.
“Gue bawa buat dua skenario,” katanya. “Kalau lolos, ini cilok perayaan. Kalau nggak lolos, ini cilok penghiburan. Ciloknya sama. Maknanya beda.”
“Kak Cilok,” kata Kinan tanpa menoleh. “Diem.”
Ia duduk di kursi kayu reyot di depan meja kerja Mas Arya, dengan laptop bekas yang dibelikan kakaknya dua bulan lalu. Tangannya di atas touchpad. Tidak bergerak.
Mas Arya berdiri di belakangnya. Tangannya di saku celana kerja. Aku tahu kenapa. Tangan kanannya, dengan bekas jahitan sembilan tusuk itu, gemetar sedikit setiap kali ia gugup. Ia tidak mau Kinan melihat.
Aku berdiri di samping Mas Arya. Aku menyentuh lengannya. Ia tidak menghindar. Ia sudah lama tidak menghindar.
“Kakak aja yang buka,” kata Kinan tiba-tiba.
Mas Arya menatapnya. “Kamu yang kerja keras.”
“Justru itu.” Kinan mendorong laptop sedikit ke belakang. “Kalau nggak lolos, aku nggak mau jadi orang pertama yang tahu.”
Mas Arya diam sebentar. Lalu ia membungkuk di atas bahu adiknya, mengetik nomor peserta dengan jari telunjuk kiri, satu per satu, seperti orang tua mengetik SMS.
Tanggal lahir. Enter.
Layar memuat.
Lama sekali. Sinyal WiFi bengkel Las Gondo dibagi dengan warung kopi sebelah dan tiga anak kos di belakang.
Lalu layar berubah biru.
SELAMAT! Anda dinyatakan lulus seleksi SNBT pada:
PTN: UNIVERSITAS INDONESIA
Program Studi: FARMASI
Hening.
Mitha menjatuhkan ciloknya.
Kinan tidak bergerak. Ia menatap layar itu seperti menatap soal kimia yang jawabannya terlalu mudah, dan karena itu pasti jebakan.
“Kak,” katanya pelan. “Itu bener namaku?”
Mas Arya tidak menjawab.
Aku menoleh padanya.
Ia menutup matanya. Rahangnya mengeras. Dan air mata keluar dari sudut matanya yang tertutup, satu, lalu yang lain, mengalir ke rahangnya yang belum dicukur pagi tadi.
Ia menangis tanpa suara. Di belakang kursi adiknya. Dengan tangan masih di saku celana.
Kinan memutar kursinya. Ia melihat kakaknya. Ia berdiri, kursi itu jatuh ke belakang, dan ia memeluk Mas Arya begitu keras sampai keduanya menabrak meja kerja dan kaleng-kaleng elektroda berjatuhan.
Presiden berteriak dari sangkarnya.
Mitha menangis lebih keras dari semua orang. “GUE NGAJARIN DIA STOIKIOMETRI,” katanya pada siapa pun yang mau mendengar. “TIGA BULAN. GUE. KAK CILOK.”
Wisuda SMA-nya hari Sabtu dua minggu kemudian.
Di aula sekolah yang sama. Dengan kursi-kursi lipat berbaris, spanduk biru putih, dan pengeras suara yang mendenging setiap kali kepala sekolah terlalu dekat ke mikrofon.
Aku sudah pernah ke aula ini. Penyuluhan narkoba, satu setengah tahun lalu. Aku berdiri di depan dengan jas putih dan senyum yang kulatih di depan cermin. Mas Arya duduk di kursi paling belakang. Ia datang karena Kinan memintanya, dan ia duduk paling belakang supaya Kinan tidak perlu malu.
Hari ini ia duduk di baris ketiga.
Kursi untuk wali murid. Satu kursi per siswa. Ada kertas kecil di sandarannya: Wali dari: KINAN MAHESA – XII IPA 2.
Aku duduk di belakangnya, di kursi tamu umum. Kemeja batik hijau tua, yang kupinjam dari Mama. Rambut digerai. Lipstik merah bata yang dibelikan Mitha untuk ulang tahunku dan baru kupakai sekali.
Saat aku tiba tadi, Mas Arya menatapku di depan gerbang sekolah. Lama. Sampai satpam yang memeriksa undangan berdeham dua kali.
“Kenapa?” tanyaku.
“Nggak apa-apa,” katanya. Lalu, lebih pelan: “Kalau aku bilang kamu cantik, kamu percaya?”
Dulu aku tidak percaya. Dulu, setiap kali ia memujiku, aku menghitung berapa kali lagi aku harus menahan rasa jijik sebelum hari ke-187. Dulu aku pikir pujian dari mulutnya adalah hal paling kotor di dunia.
Aku menatap matanya. Mata yang sudah tidak menunggu pisau.
“Sekarang iya,” kataku.
Ia tersenyum. Satpam itu berdeham lagi. Kami masuk.
Bu Widya menemukan kami di aula sebelum acara dimulai.
Ia berjalan langsung ke baris ketiga, dan menjabat tangan Mas Arya dengan dua tangan. Lalu ia menatapku.
Terakhir kali aku melihatnya, di ruang guru, ia menuang teh ke cangkirku dengan tangan yang gemetar karena marah. Kalau benar menyesal, dia akan datang ke sini.
“Dokter Shella,” katanya.
“Bu.”
Ia diam sebentar. Lalu ia mencondongkan tubuh dan berbisik, cukup pelan supaya hanya aku yang dengar. “Peringkatnya naik lagi. Dari sebelas ke tiga. Tiga bulan terakhir. Saya nggak tahu siapa yang ngajarin dia stoikiometri, tapi orang itu kasar sekali di catatan pinggir lembar latihannya.”
“Temen saya, Bu,” kataku. “Namanya Mitha. Dia memang kasar.”
Bu Widya tersenyum. Untuk pertama kalinya, padaku.
“Bilang terima kasih,” katanya. Lalu ia pergi ke depan, ke kursi guru.
Kinan tidak jadi lulusan terbaik. Ia peringkat tiga di angkatannya, dan ia bilang sendiri itu karena semester lima, semester yang kita semua tahu, ia tidak bisa belajar.
Aku tahu semester yang mana. Semester ia berdiri di depan kelas dan wali kelasnya menyebut nama kakaknya.
Semester aku memotong uang beasiswanya.
Tapi saat namanya dipanggil, dan diumumkan sebagai salah satu siswa yang diterima di PTN lewat jalur tes, Kinan Mahesa, Farmasi Universitas Indonesia, aula itu bertepuk tangan. Teman-teman sekelasnya berteriak. Seorang anak laki-laki di baris siswa bersiul.
Kinan naik ke panggung dengan toga hitam dan kacamata berbingkai hitam yang miring sedikit.
Ia menerima map ijazahnya dari kepala sekolah. Ia menjabat tangan wali kelasnya, guru yang dulu berdiri di depan kelas itu. Kinan menjabat tangannya dengan sopan, dan dengan ekspresi yang bisa membekukan air.
Lalu ia berbalik ke arah wali murid. Ke baris ketiga.
Ia mencari kakaknya.
Mas Arya sudah berdiri. Ia tidak sadar ia berdiri. Ia bertepuk tangan dengan tangan kanan yang gemetar, dan seorang bapak di sebelahnya menatapnya dengan bingung, lalu tersenyum, lalu ikut berdiri juga.
Kinan menatapnya dari panggung. Wajahnya, yang selalu datar, yang selalu seperti petugas bea cukai, retak sedikit di ujung bibir.
Lalu matanya bergerak. Melewati bahu kakaknya. Ke kursi di belakangnya.
Padaku.
Ia tidak tersenyum padaku. Ia hanya menatapku, sebentar, dan mengangguk satu kali. Kecil. Hampir tidak kelihatan.
Aku harus menunduk supaya tidak menangis di depan semua wali murid SMA Negeri itu.
Sesi foto setelah acara adalah kekacauan.
Lima ratus siswa dengan toga, seribu wali murid, tiga fotografer sewaan, dan satu lapangan basket yang terlalu panas. Mitha datang terlambat, dengan buket bunga yang terlalu besar, dan langsung memotret Kinan dari dua belas sudut.
“Pose, Bocah Olimpiade. Pose! Kayak orang yang lolos UI, bukan kayak orang yang baru ditilang.”
“Ini muka aku emang begini, Kak Cilok.”
Pak Gondo datang juga. Aku tidak tahu ia akan datang. Ia muncul dari kerumunan dengan kemeja batik cokelat yang kancingnya hampir tidak menutup perut, dan sangkar kecil di tangan kanan.
“Pak,” kata Mas Arya, tercengang. “Itu Presiden?”
“Presiden harus hadir,” kata Pak Gondo dengan serius. “Ini acara kenegaraan.”
Satpam sekolah menatap sangkar burung itu dengan wajah orang yang sudah menyerah pada hari ini.
Pak Gondo memeluk Kinan. Lalu ia menoleh padaku. Ia diam sebentar.
Setahun sejak cabai busuk itu. Setahun sejak UNTUK ARYA. BUAT SAMBEL. Ia sudah mengirimiku cabai dua kali lagi, segar, lewat Mas Arya, tanpa pesan. Ia belum pernah bicara padaku langsung lebih dari satu kalimat.
“Neng,” katanya.
“Pak.”
“Sambelnya kemarin,” katanya. “Yang dikirim lewat Arya. Itu ulekan Neng?”
“Iya, Pak.”
Pak Gondo mengangguk pelan. “Kurang garem,” katanya. Lalu, setelah jeda: “Tapi lumayan.”
Ia berbalik ke Kinan sebelum aku sempat menjawab. Tapi aku melihat Mas Arya di belakangnya, menatapku, dan bibirnya membentuk kata yang tidak bersuara.
Lumayan.
Dari Pak Gondo, itu hampir sama dengan pelukan.
Fotografer sewaan memanggil nama Kinan untuk foto keluarga.
Latar belakangnya kain biru dengan logo sekolah. Ada kursi kayu di tengah, untuk siswa. Ada tempat berdiri di sebelah kiri dan kanan.
“Keluarganya, silakan,” kata fotografer itu.
Mas Arya maju dan berdiri di sebelah kanan kursi.
Aku tetap di tempatku. Di belakang garis kapur di lantai lapangan basket, di antara Mitha dan Pak Gondo dan sangkar burung.
Ini foto keluarga. Aku bukan keluarga. Aku orang yang pernah membuat keluarga ini nyaris tidak punya foto apa-apa lagi.
Fotografer itu mengangkat kamera.
“Sebentar,” kata Kinan.
Ia menoleh ke arahku.
“Kak,” katanya.
Mas Arya menoleh ke arahnya. Refleks. Seumur hidup, kata itu milik Mas Arya. Kak, aku lapar. Kak, aku dapet medali. Kak, kenapa Kakak nggak mati aja. Kakaknya selalu menoleh.
Tapi Kinan tidak menatap kakaknya.
Ia menatapku.
“Kak,” katanya lagi. Lebih jelas. Tanpa Shella di belakangnya. “Ngapain di situ? Sini.”
Aku tidak bisa bergerak.
Kinan menghela napas, dengan seluruh kesabaran anak umur delapan belas tahun yang baru lolos UI dan sudah kepanasan di bawah toga. “Kak. Fotografernya nunggu. Ada empat ratus orang lagi antre.”
Mas Arya menatapku dari samping kursi. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengulurkan tangan kirinya ke arahku. Telapak menghadap ke atas.
Boleh?
Aku berjalan melewati garis kapur.
Aku berdiri di sebelah kiri kursi Kinan. Kinan duduk dengan toga dan map ijazah di pangkuannya. Mas Arya di kanan. Aku di kiri.
“Senyum,” kata fotografer itu.
Aku tidak bisa senyum. Aku menangis. Aku tahu wajahku akan jelek di foto ini, maskaraku luntur, lipstik merah bata dari Mitha akan terlihat seperti luka.
Kinan, tanpa menoleh, mengulurkan tangannya ke atas dan memegang tanganku yang ada di bahunya.
“Jangan nangis,” katanya pelan, dengan bibir yang tidak bergerak, seperti ventriloquist. “Nanti fotonya dicetak gede. Aku mau pajang di rumah.”
Di rumah.
Di dinding hijau muda yang dulu bertuliskan PEMBUNUH dengan cat semprot merah. Yang kukerok dengan sikat kawat dan thinner sampai jari-jariku melepuh.
Klik.
Malam itu, di teras rumah petak, Kinan membuka map ijazahnya lagi dan membacanya untuk ketiga kalinya, seolah takut tulisannya berubah.
Mas Arya memasak mi rebus dengan telur untuk kami bertiga di dapur kecil. Mitha sudah pulang. Pak Gondo dan Presiden sudah pulang.
“Kak,” kata Kinan.
Aku menoleh. Mas Arya juga menoleh dari dapur.
“Kak Shella,” koreksi Kinan, lalu menatap kakaknya. “Kakak juga boleh noleh. Tapi ini buat Kak Shella.”
Ia menatapku dari balik kacamatanya.
“Buku cokelat Kakak,” katanya. “Yang dulu. Yang aku baca semalaman sebelum aku lempar ke muka Kak Shella.” Ia diam sebentar. “Ada halaman waktu Kak Shella dateng ke penyuluhan. Waktu Kakak duduk paling belakang.”
Aku ingat halaman itu. Aku sudah membacanya, malam itu, di depan pos jaga dan di kamar sampai subuh. Tapi malam itu aku membacanya terlalu cepat, karena halaman-halaman sesudahnya tentang kopi bergula dan pantulan kaca kamar mandi, dan aku tidak sanggup berhenti di satu kalimat pun.
“Kakak nulis,” kata Kinan, “Kinan nanya apa dia lagi riset. Kinan lebih pintar dari aku. Aku harap suatu hari dia bisa memanggil Shella kakak, dengan cara yang tidak pernah bisa kulakukan: tanpa tahu apa-apa.”
Dapur mendadak sunyi. Air mi berhenti mendidih karena kompornya dimatikan.
“Aku tahu semuanya,” kata Kinan. “Aku tahu Kak Shella ngapain. Aku tahu Kak Shella ngeludah. Aku tahu Kak Shella motong beasiswa aku.” Ia menutup map ijazahnya. “Jadi aku nggak bisa manggil Kak Shella kakak tanpa tahu apa-apa.”
Ia menatapku.
“Aku manggil Kak Shella kakak karena aku tahu semuanya,” katanya. “Itu beda. Itu lebih susah. Tapi aku udah mutusin.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Kinan berdiri, dan mengambil mangkuk mi dari tangan kakaknya yang membeku di ambang pintu dapur, karena kalau tidak, mi itu akan dingin.
“Udah ya,” katanya. “Aku laper. Kalian berdua nangis aja dulu. Aku makan.”
Hari ke-428. Kinan lolos Farmasi UI.
Kinan memanggilku “Kak”. Tanpa nama di belakangnya. Mas Arya nengok, karena itu kata miliknya.
Kinan bilang: aku manggil Kakak karena aku tahu semuanya.
Pak Gondo bilang sambelku lumayan.
Mas Arya tanya apa aku percaya kalau dia bilang aku cantik. Aku bilang sekarang iya. Itu bukan gombal. Itu laporan.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak reading
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365