Chapter Fifty Five
Bab 55 — Pacaran Beneran
POV: Shella
Plang kayu biru itu dicat ulang hari Sabtu pagi.
Mas Arya yang mengecatnya. Berdiri di atas tangga bambu pinjaman Riko, dengan kuas di tangan kanan dan kaleng cat di tangan kiri, menelusuri huruf-huruf yang sudah mengelupas satu per satu. B. E. N. G. K. E. L. Lalu L. A. S. Lalu G. O. N. D. O.
Pak Gondo berdiri di bawah tangga dengan kaus partai yang sama, topi caping yang sama, dan suara yang sama kerasnya.
“Huruf O-nya kurang bulet, Ar!”
“Udah bulet, Pak.”
“Kurang! Itu kayak telor ceplok!”
“Telor ceplok juga bulet, Pak.”
“Telor ceplok itu peyang! Bulet itu kayak bola!”
Mas Arya menatap huruf O itu. Lalu menatap Pak Gondo. Lalu menebalkan sisi kiri huruf O itu dengan satu sapuan kuas.
“Nah,” kata Pak Gondo puas. “Sekarang bulet.”
Huruf O itu tidak berubah sama sekali.
Aku duduk di bangku kayu panjang di bawah pohon jambu, yang sudah tumbuh kembali, rimbun dan hijau, dengan buah-buah kecil yang mulai memerah. Aku membawa termos kopi. Dua gelas.
Di dahan pohon jambu itu, sangkar burung perkutut tergantung di tempat yang sama.
Kuk-kurruk.
Presiden menatapku dengan satu mata hitam kecilnya. Memiringkan kepala. Seperti petugas imigrasi. Seperti saksi.
“Dia kenal kamu,” kata Pak Gondo, mengikuti arah pandangku.
“Iya, Pak.”
“Dia liat semuanya.”
“Iya, Pak.”
Pak Gondo menatap burung itu, lalu menatapku. Ia sudah tiga kali datang ke bengkel sejak Mas Arya menerima akta itu. Tiga kali naik travel dari Ciawi, dengan cabai sekilo dan tensimeter digital di tasnya, supaya aku bisa mengukur tekanan darahnya.
Ia belum bilang memaafkanku.
Tapi minggu lalu, ia membawakan dua kilo cabai. Satu untuk Mas Arya. Satu lagi, katanya, buat yang ngulek pakai tangan kiri.
“Presiden mau saya tinggal di sini,” kata Pak Gondo. “Biar jagain bengkel. Biar jagain Arya.”
“Bapak nggak kangen?”
“Kangen. Tapi dia lebih berguna di sini.” Pak Gondo menepuk sangkar itu. “Saya udah punya cabai. Arya cuma punya kamu sama burung ini. Butuh dua yang jagain.”
Aku menunduk menatap termos kopi di pangkuanku. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Pak Gondo tidak menunggu jawaban. Ia sudah kembali berteriak pada huruf D yang menurutnya terlalu gendut.
Kencan pertama kami yang beneran adalah di warung kopi di ujung jalan.
Warung kayu dengan bangku panjang dan meja yang lengket. Ibu berkerudung di balik etalase gorengan. Dua bapak tua bermain catur di sudut.
Kedua bapak itu menoleh saat kami masuk. Lalu menoleh lagi. Lalu salah satunya berdiri, menghampiri Mas Arya, dan menepuk bahunya.
“Mas Arya,” katanya. “Saya nonton beritanya. Yang di Mahkamah Agung.”
Mas Arya mengangguk.
“Maaf,” kata bapak itu. “Dulu saya ngomong keras-keras di sini. Yang gedungnya ambruk. Enak bener udah keluar.” Ia menggaruk tengkuknya. “Saya inget. Mas pindah duduk, ngalangin Mbak ini dari saya. Saya nggak ngerti waktu itu kenapa.”
Mas Arya diam sebentar.
“Nggak apa-apa, Pak,” katanya.
Bapak itu kembali ke papan caturnya. Ia memindahkan bidak yang salah. Temannya protes.
Mas Arya memesan kopi hitam. “Nggak pakai gula, Bu.”
Ibu warung menatapku. “Mbak, teh manis kayak dulu?”
Aku membeku. Ia ingat. Setahun lebih, dan ibu warung ini ingat pesananku.
“Kopi, Bu,” kataku. “Hitam. Nggak pakai gula.”
Mas Arya menoleh padaku.
“Teh manis?” tanyanya.
“Aku nggak pernah suka teh manis.”
“Aku tahu,” katanya. “Hari ke-9.”
Aku menatapnya.
Hari ke-9. Dia pesan teh manis lagi. Dia tidak suka teh manis. Mukanya waktu minum seperti minum obat.
“Kamu nulis itu,” kataku.
“Aku nulis semuanya.”
“Kamu tahu aku nggak suka teh manis, tapi kamu nggak pernah bilang.”
“Kamu juga tahu aku nggak suka kopi manis.”
Aku membuka mulut. Lalu menutupnya.
Ibu warung meletakkan dua gelas kopi hitam di depan kami. Uapnya naik pelan.
Mas Arya mengangkat gelasnya. Ia menatapku dari balik uap kopi.
“Satu sama,” katanya.
Aku tertawa. Keras. Sampai kedua bapak tua di sudut menoleh lagi.
Ia tidak tertawa. Tapi matanya tersenyum. Sudut matanya berkerut. Ia tidak membatalkannya.
Mitha menjadi guru les Kinan.
Itu bukan ideku. Itu ide Mitha sendiri, yang datang ke rumah petak di ujung gang hijau pada suatu Minggu sore dengan setumpuk buku soal UTBK dan sekantong cilok, dan mengumumkan bahwa ia akan memastikan Kinan masuk farmasi.
“Lo kan dokter,” kata Kinan, menatap Mitha dengan curiga. “Bukan apoteker.”
“Gue lulus farmakologi dengan nilai A,” kata Mitha.
“Kak Shella bilang Kakak salah nyebut skizofrenia di depan konsulen.”
Mitha menatapku dengan wajah dikhianati.
“Itu psikiatri,” katanya. “Beda. Farmakologi gue bagus. Tanya Shella.”
“Nilainya B plus,” kataku.
“SHELLA.”
Mereka bertengkar setiap Minggu. Tentang rumus kimia. Tentang cara menghafal golongan obat. Tentang siapa yang menghabiskan cilok terakhir. Kinan memanggil Mitha Kak Cilok. Mitha memanggil Kinan Bocah Olimpiade.
Mas Arya duduk di teras dengan kotak alat gambar dan kertas kalkir, mengerjakan gambar teknik untuk pesanan kanopi dari ruko di jalan raya, dan tidak pernah menengahi.
“Kamu nggak mau misahin mereka?” tanyaku suatu sore.
“Kinan belajar,” katanya tanpa mengangkat wajah. “Itu yang penting.”
Dari dalam rumah, suara Mitha. “KINAN! ITU BUKAN ASAM ASETAT! ITU CUKA!”
“CUKA ITU ASAM ASETAT, KAK CILOK!”
Hening.
“…oh iya,” kata Mitha.
Mas Arya menggambar satu garis lurus di kertas kalkir dengan rapido. Sudut bibirnya terangkat.
Tidak dibatalkan sama sekali.
Ia membiarkanku menulis di bukunya.
Buku cokelat yang baru. Tiga ribuan. Halaman pertamanya hanya berisi tiga baris, yang sudah kubaca diam-diam saat ia meninggalkannya di teras untuk mengambil air minum.
Hari ke-1. Dia bilang mencintaiku. Matanya juga.
Aku tidak bilang padanya bahwa aku sudah membacanya. Aku tidak perlu. Ia tahu. Ia meninggalkannya di teras dengan sengaja, terbuka di halaman itu.
Halaman-halaman berikutnya terisi pelan-pelan. Tidak setiap hari. Tidak dengan tulisan yang tegak dan presisi seperti buku yang lama. Tulisannya lebih miring sekarang. Lebih santai. Kadang ada coretan. Kadang ada gambar kecil di pinggir halaman. Sketsa kolom. Sketsa jembatan gantung. Sketsa kucing kampung yang suka duduk di dekat kakiku.
Hari ke-172. Pak Gondo bilang huruf O-ku kayak telor ceplok. Shella ketawa.
Hari ke-179. Kinan dapat nilai tryout 720. Mitha nangis. Kinan pura-pura nggak nangis.
Hari ke-186. Kopi di warung ujung jalan. Satu sama.
Hari ke-200, saat ia sedang mandi, aku mengambil pulpen dan menulis di bawah catatannya hari itu.
Hari ke-200. Dia makin ganteng. Ini fakta medis.
—dr. S.
Aku meletakkan buku itu kembali di tempatnya. Terbuka. Di halaman yang sama.
Ia keluar dari kamar mandi dengan handuk di leher. Ia melihat buku itu. Ia membacanya.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia mengambil pulpen.
Ia menulis sesuatu di bawah tulisanku. Lalu ia menutup buku itu dan memasukkannya ke saku celana.
Aku menunggunya pergi ke dapur. Lalu aku mengambil buku itu dari saku celananya, yang ia gantung di paku di dinding.
Di bawah tulisanku, dengan huruf kecil yang tegak:
Diagnosis ditolak. Pemeriksa bias. Minta second opinion.
—Ir. A.
Aku tertawa terbahak-bahak sampai Kinan menjulurkan kepala dari kamar dan bertanya apakah aku kesurupan.
Hujan turun hari Kamis malam, saat aku sedang membantunya merapikan bengkel setelah tutup.
Hujan Jakarta, yang turun lurus dan deras dan membuat atap seng bengkel bergemuruh seperti genderang. Bukan hujan pesisir yang miring dan marah. Hujan yang membuat orang terjebak.
Kami terjebak.
Lampu bengkel satu-satunya yang menyala adalah lampu neon panjang di atas meja kerja. Bau besi dan oli dan cat. Trafo las yang sudah dimatikan. Kulkas Pak Gondo yang berbunyi seperti mesin cuci.
Ia sedang menggantung kunci-kunci pas di papan kayu di dinding. Satu per satu. Berdasarkan ukuran. Delapan. Sepuluh. Dua belas. Empat belas.
Aku duduk di bangku kayu dan menatapnya.
Punggungnya. Bahu yang lebar, yang sudah tidak lagi sesempit di Pelabuhanratu. Ia makan tiga kali sehari sekarang. Kinan memastikannya. Rambutnya sudah dipotong, tapi tidak cepak lagi. Sedikit lebih panjang. Pilihannya sendiri.
Ia menggantung kunci pas terakhir. Ia berbalik.
Ia melihatku menatapnya.
Ia berhenti.
Atap seng bergemuruh. Hujan tidak mereda.
Ia berjalan ke arahku. Pelan. Ia berhenti di depan bangku kayu.
Aku berdiri.
Kami berdiri di sana, di bawah lampu neon, di antara trafo las dan kulkas yang berbunyi seperti mesin cuci, dengan jarak setengah lengan.
“Boleh?” tanyanya.
Ia masih bertanya. Selalu. Sejak malam di bawah lampu jalan.
“Kamu nggak perlu nanya lagi, Mas,” kataku.
“Aku mau nanya,” katanya. “Aku suka jawabannya.”
Aku tidak menjawab dengan kata-kata.
Aku menariknya dengan kerah kaus abu-abunya dan menciumnya.
Bukan pelan. Bukan hati-hati. Tidak seperti di bawah lampu jalan.
Ia diam sepersekian detik. Terkejut. Lalu tangannya naik ke wajahku, ke rambutku, ke tengkukku, dan ia membalas. Lebih dalam. Lebih lama. Seperti seseorang yang sudah menahan sesuatu sangat lama dan baru diizinkan melepaskannya.
Bau besi. Bau oli. Bau sabun batangan. Bau kopi hitam yang kami minum satu jam lalu.
Aku tidak menahan apa pun. Aku tidak memikirkan apa pun. Aku tidak menghitung apa pun.
Hujan bergemuruh di atap seng.
Tanganku di dadanya. Aku bisa merasakan jantungnya di bawah telapak tanganku. Tanpa stetoskop.
Cepat. Sangat cepat. Tidak teratur sama sekali.
Kuk-kurruuuk.
Kami berdua membeku.
Di sudut bengkel, di bawah atap yang bocor sedikit, sangkar Presiden tergantung di paku di dinding. Pak Gondo memindahkannya ke dalam setiap malam supaya tidak kehujanan.
Burung perkutut itu menatap kami. Satu mata hitam kecil. Kepala miring.
Kuk-kurruk. Kuk-kurruk. Kuk-kurruuuuk.
Lebih keras dari yang pernah kudengar. Seperti protes. Seperti saksi yang akhirnya memutuskan untuk bicara.
Mas Arya menjauhkan wajahnya. Ia menatap burung itu.
“Dia ngadu,” katanya pelan.
“Presiden nggak pernah ngadu,” kataku. Napasku masih terengah. “Kata Pak Gondo.”
“Kalau ini, dia ngadu.”
Aku menatapnya. Rambutnya berantakan karena tanganku. Bibirnya sedikit bengkak. Wajahnya merah sampai ke telinga.
Ia menatapku. Dan ia tertawa.
Tawa yang pelan, rendah, di tenggorokannya. Bunyi yang belum pernah kudengar darinya sebelum malam di mulut gang hijau. Bunyi yang sekarang mulai kudengar lebih sering. Di warung kopi. Di teras rumah petak. Di bengkel.
Aku menyandarkan dahiku di dadanya. Ia memelukku.
Presiden terus berbunyi sampai hujan reda, seperti komentator yang tidak tahu kapan harus diam.
Malam itu, saat ia sudah mengantarku pulang dan aku sudah berbaring di kasur kos yang tidak kempis sampai ke papan, aku membuka buku cokelatku sendiri.
Buku tiga ribuan yang dimulai di mobil di pinggir jalan Pondok Indah. Hari ke-1 aku menebus.
Aku membalik ke halaman terakhir yang terisi.
Hari ke-389.
Aku sudah tidak menulis setiap hari. Aku sudah tidak menulis tentang menebus. Halaman-halaman terakhir lebih seperti miliknya sekarang. Pendek. Miring. Kadang ada gambar.
Aku menulis.
Hari ke-390. Bengkel. Hujan. Presiden ngadu.
Aku berhenti. Lalu aku menambahkan satu baris di bawahnya.
Jantungnya berdetak tidak teratur. Tanpa stetoskop. Aku dokter. Aku tahu artinya.
Bukan penyakit.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran reading
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365