← Hukuman Kedua

Chapter Fifty Four

Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap

POV: Arya

Gedung asosiasi itu masih sama.

Enam lantai. Kaca biru. Lobi berlantai marmer yang dingin. Lift yang sama, dengan bunyi ding yang sama saat pintunya terbuka.

Aku memakai kemeja abu-abu muda. Kemeja yang sama. Ujung lengannya sudah kutambal tiga kali sekarang, dengan benang yang warnanya hampir sama. Shella menawarkan membelikan yang baru. Aku bilang tidak.

“Kenapa?” tanyanya.

“Kemeja ini udah liat semuanya,” kataku. “Biar dia liat yang ini juga.”

Ia tidak membantah.

Ia menunggu di lobi. Di kursi yang sama dengan setahun lalu, kalau ingatanku benar. Kursi kulit hitam di dekat pot tanaman plastik.

“Doain,” kataku sebelum masuk lift.

Kata yang sama.

Ia menatapku. Matanya tidak menusuk kali ini. Matanya basah sedikit di sudut.

“Pasti, Mas,” katanya.


Wawancaranya empat puluh menit. Sama seperti dulu.

Tapi ruangannya berbeda. Bukan ruang rapat kecil di lantai empat dengan meja panjang dan tiga asesor yang menatapku seperti menatap tersangka. Ruang rapat besar di lantai enam, dengan jendela kaca yang menghadap Jakarta Selatan, dan lima orang di balik meja.

Ketua tim asesornya sama. Laki-laki berusia enam puluhan dengan rambut putih yang disisir ke belakang dan kacamata berbingkai tanduk. Laki-laki yang setahun lalu bilang, dengan adanya surat keberatan itu, kami tidak bisa mempertimbangkan permohonan ulang sampai ada perkembangan baru.

Ia membuka sesi dengan sesuatu yang tidak ada di formulir.

“Saudara Arya,” katanya. “Sebelum kita mulai, saya ingin menyampaikan sesuatu atas nama tim.”

Aku menunggu.

“Setahun lalu, kami menolak permohonan Saudara dengan tiga alasan. Lampiran yang dianggap tidak asli. Berkas digital yang tidak bisa dibuka. Dan surat keberatan dari keluarga korban.” Ia melepas kacamatanya. “Ketiga alasan itu ternyata dibuat-buat. Oleh orang yang sama. Kami tidak memeriksanya dengan teliti. Kami menolak Saudara karena kami takut.”

Aku diam.

“Takut kalau Saudara salah lagi,” lanjutnya. “Itu bukan alasan profesional. Itu alasan pengecut. Saya minta maaf.”

Ia memakai kacamatanya lagi. Ia membuka map di depannya. Laporan hard cover biru tua. Seratus dua belas halaman, dicetak ulang, dijilid ulang. Dengan dua puluh tiga lembar hitungan lapangan asli di bagian lampiran, dimasukkan ke dalam kantong plastik bening supaya tidak rusak.

“Baik,” katanya. “Kita mulai. Ceritakan pada kami tentang kolom ini.”


Aku keluar dari lift empat puluh menit kemudian.

Ia berdiri dari kursi kulit hitam itu begitu pintu lift terbuka. Ia tidak menghampiriku. Ia hanya berdiri, dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya, dan menatap wajahku.

Mencari.

Setahun lalu, ia menunggu di kursi yang sama dan aku berjalan melewatinya tanpa berkata apa-apa. Keluar dari lobi. Keluar dari gedung. Ke halte bus.

Aku berhenti di depannya.

“Lulus,” kataku.

Ia tidak bergerak.

“Sertifikatnya keluar dua minggu lagi,” kataku. “Ahli Muda dulu. Dua tahun lagi bisa naik.”

Ia masih tidak bergerak.

Lalu, pelan, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya basah. Bahunya bergetar.

Seorang satpam lobi menatap kami dengan wajah bingung.

Aku menunggu sampai ia bisa bernapas lagi.

Lalu aku mengulurkan tanganku. Tangan kiri. Telapak terbuka. Dua bekas luka.

Ia menurunkan tangannya dari mulutnya dan meletakkannya di atas tanganku.

Aku menggenggamnya.

Kami keluar dari gedung itu bergandengan tangan. Melewati pintu kaca. Ke trotoar. Ke halte bus di depan gedung.

Halte yang sama. Bangku besi panjang yang sama. Aku duduk di sana setahun lalu dengan laporan biru tua di sampingku dan tidak berkata apa-apa sampai matahari terbenam.

Aku duduk di sana lagi. Ia duduk di sampingku. Tidak ada laporan di antara kami.

Tangannya masih di tanganku.

Bus berhenti. Pintunya terbuka. Kernet berteriak. Kami tidak naik.

“Waktu itu,” kataku pelan, “aku duduk di sini sampai lampu jalan nyala.”

“Aku tahu,” katanya. “Aku di sebelahmu.”

“Aku tahu kamu di sebelahku,” kataku. “Aku tahu lampirannya ada di kamu. Aku tahu surat keberatannya dari kamu.”

Ia menunduk.

“Aku duduk di sini sampai lampu jalan nyala,” lanjutku, “karena aku nunggu kamu bilang. Sekali aja. Aku pikir, kalau dia bilang sekarang, aku bakal maafin semuanya. Saat itu juga.”

Ia mengangkat wajah. Matanya lebar.

“Kamu nggak bilang,” kataku. “Kamu bilang, jembatannya. Terus aku bilang, bisa dibangun orang lain.”

Ia tidak bisa bicara.

“Aku nggak nyalahin kamu,” kataku. “Aku cuma mau kamu tahu. Hari itu aku nunggu.”

Bus lain berhenti. Pergi.

“Sekarang aku nggak nunggu lagi,” kataku.

Ia menatapku.

Aku menatap tangannya di tanganku.

“Jembatannya,” kataku. “Aku yang bangun.”


Malam itu, aku mengantarnya pulang.

Bukan dengan mobil. Mobilnya sudah tidak ada. Bukan dengan motor. Motor bebek tua yang knalpotnya batuk-batuk itu kujual sebelum ke Pelabuhanratu.

Kami jalan kaki. Dari rumah petak di ujung gang hijau, ke mulut gang, ke jalan raya, ke kos-kosannya di dekat klinik di Kramat Jati. Dua kilometer.

Kami tidak banyak bicara. Kami tidak perlu.

Di mulut gang, di bawah papan pengumuman dengan kaca buram, ia berhenti.

Kertas yang ia tempel dulu masih ada di sana. Pudar. Sudutnya sudah ditambal selotip oleh seseorang, berkali-kali. Seseorang di gang ini menjaganya.

Ia menatap kertas itu.

Lalu ia menoleh ke dalam gang. Ke arah lampu jalan di tengah. Kuning. Hangat. Tidak berkedip.

“Riko yang ganti bohlamnya sekarang,” katanya. “Kalau mati. Dia bilang ke Kinan, itu tugasnya.”

Aku menatap lampu itu.

Di bawah cahayanya, gang hijau terlihat sama seperti dulu. Sempit. Lembap. Tiang listrik dengan kabel yang kusut. Teras-teras rumah petak dengan pot-pot tanaman dan jemuran.

Tapi tidak ada yang menarik anaknya masuk ke rumah saat aku lewat tadi. Ibu pemilik warung mengangguk padaku. Riko melambaikan tangan dari terasnya. Anak laki-laki kecil dengan sandal jepit yang talinya diperbaiki dengan paku berteriak, Om!, dan menunjukkan sandalnya padaku, yang talinya putus lagi.

Aku berjanji memperbaikinya besok.

Shella berdiri di bawah lampu jalan di mulut gang. Cahayanya jatuh di wajahnya. Rambutnya digerai malam ini, jatuh sampai ke punggung. Ia memakai kemeja putih sederhana dan celana kain, baju klinik yang belum sempat ia ganti.

Ia cantik.

Aku sudah melihatnya cantik dengan banyak cara. Di halaman bengkel Pak Gondo dengan blus krem yang dipilih dengan hati-hati. Di kontrakan hijau dengan gaun hijau pupus. Di balik jendela puskesmas pukul enam pagi, retak tapi belum pecah. Di kursi plastik ruang observasi, tertidur dengan dahi di tepi kasur.

Malam ini ia cantik dengan cara yang tidak bisa kuukur.

Ia tidak menata wajahnya. Ia tidak menyiapkan senyumnya. Ia hanya berdiri di sana, di bawah lampu yang ia ganti sendiri dengan tangan yang melepuh, dan menatapku.


Aku melangkah mendekat.

Satu langkah. Jarak satu lengan menjadi setengah.

Ia tidak bergerak. Tapi aku melihat napasnya berubah.

Aku mengangkat tanganku. Pelan. Ke arah wajahnya.

Lalu berhenti.

Sejengkal dari pipinya. Di udara. Seperti tangannya di bawah terpal biru, saat hujan, saat ada semen di pipiku dan ia ingin menyekanya, dan badanku melempar dirinya ke belakang.

Aku tidak menyentuhnya.

“Boleh?” tanyaku.

Ia menatapku.

Matanya basah. Langsung. Seperti mata seseorang yang mendengar kata yang ia ucapkan sendiri berkali-kali, sekarang kembali padanya dari mulut orang lain.

Boleh aku pegang tanganmu?

Boleh?

Boleh aku peluk kamu?

Ia selalu bertanya. Setiap kali. Tidak pernah lupa. Tidak pernah melewatkannya.

Sekarang aku yang bertanya.

Ia mengangguk. Kecil. Tidak bisa bicara.

Aku menyentuh pipinya.

Kulitnya hangat dan basah. Ibu jariku di bawah matanya. Ia memejamkan mata dan menyandarkan pipinya ke telapak tanganku. Telapak tangan kiri. Dua bekas luka.

Lalu aku menciumnya.

Pelan. Hati-hati. Seperti meletakkan sesuatu yang tidak bisa diganti, dengan kedua tangan, di tempat yang aman.

Bibirnya gemetar di bawah bibirku. Lalu berhenti gemetar.

Lalu ia membalas.


Aku tidak tahu berapa lama. Tidak lama. Mungkin lima detik. Mungkin sepuluh.

Saat aku menjauhkan wajahku, matanya masih terpejam. Air mata mengalir dari sudutnya, turun ke pipinya, ke telapak tanganku.

Ia membuka mata.

Ia menatapku.

Dan aku menunggu.

Aku tidak tahu apa yang kutunggu. Aku hanya tahu tubuhku menunggu sesuatu. Seperti di kontrakan hijau, setahun lalu, dengan lap di tanganku, setelah bibirnya menyentuh bibirku dan menjauh.

Aku ke kamar mandi bentar ya, Mas.

Pintu yang terbuka sejengkal. Cermin bulat. Sabun batangan. Tangan yang menggosok, dan menggosok, dan menggosok.

Aku berdiri di dapur dengan gelas air dingin supaya tanganku punya sesuatu untuk dipegang.

Tubuhku menunggu itu.

Ia tidak bergerak.

Ia tidak berbalik. Ia tidak mencari kamar mandi. Ia tidak mengangkat tangan ke mulutnya.

Ia hanya berdiri di bawah lampu jalan, menatapku, dengan air mata di pipinya dan bibir yang sedikit bengkak.

Lalu ia mengangkat tangannya.

Pelan. Ke bibirnya sendiri.

Aku berhenti bernapas.

Ujung jarinya menyentuh bibirnya. Ringan. Hampir tidak menyentuh. Bukan mengusap. Bukan menggosok.

Menyentuh. Seperti seseorang yang menyentuh sesuatu yang baru saja ia terima, untuk memastikan itu masih ada.

“Aku nggak mau ngusap,” katanya.

Suaranya pecah.

“Dulu aku ngusap sampai berdarah,” katanya. “Kamu liat. Di cermin. Kamu berdiri di dapur.”

“Aku tahu.”

“Sekarang aku nggak mau ngusap.” Ia menatapku dengan jari masih di bibirnya. “Aku mau nyimpen.”

Aku tidak bisa bicara.

Seratus delapan puluh tujuh hari. Gelas air dingin. Tangan yang tidak stabil saat meletakkannya di rak piring. Halaman di buku cokelat yang kutulis tiga kali karena dua kali pertama hurufnya tidak terbaca.

Waktu dia keluar, bibirnya ditutup lipstik. Aku kasih dia air. Supaya bibirnya tidak terlalu perih.

Ia tidak butuh air malam ini.

Aku menariknya ke dalam pelukanku. Tanpa bertanya kali ini. Tanganku di punggungnya. Wajahnya di dadaku. Di atas kemeja abu-abu muda dengan ujung lengan yang ditambal tiga kali.

Ia tidak menahan muntah. Ia tidak mengetik apa-apa di belakang punggungku.

Ia memelukku balik. Erat. Seperti seseorang yang tidak akan melepaskan.


“KAK!”

Kami berdua tersentak.

Suara itu datang dari dalam gang. Dari teras rumah petak paling ujung, di bawah dinding hijau muda.

Kinan. Berdiri di terasnya dengan buku soal kimia di tangan dan kacamata yang memantulkan cahaya lampu jalan. Di sampingnya, Dita, dengan tangan menutup mulut.

“KAK! LAMPUNYA TERANG!” teriak Kinan. “SATU GANG LIAT!”

Aku menoleh ke dalam gang.

Ibu pemilik warung berdiri di teras warungnya dengan sapu di tangan, berhenti menyapu. Riko menjulurkan kepala dari jendela rumahnya. Pak Rahmat berdiri di terasnya dengan rokok di bibir. Bu Darsih membuka pintu dengan daster bunga-bunga dan rol rambut di kepala.

Anak laki-laki kecil dengan sandal jepit yang talinya putus berdiri di tengah gang, di bawah lampu jalan, menunjuk kami dengan mulut terbuka.

“OM CIUM TANTE!” teriaknya.

Shella menyembunyikan wajahnya di dadaku.

Aku merasakan bahunya bergetar.

Ia tertawa.

Tawa yang keras dan basah dan tidak bisa dihentikan, di dadaku, di bawah lampu jalan yang ia ganti sendiri, di mulut gang tempat dulu seorang ibu menarik anaknya masuk ke rumah supaya tidak dekat-dekat denganku.

Aku menatap gang itu. Semua orang yang menatap kami.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku keluar dari Cipinang, aku tertawa.

Keras.