Chapter Twenty Three
Bab 23 — Menang
POV: Shella
Tiga minggu setelah hari itu, aku berhenti memakai stetoskop itu.
Aku tidak memutuskannya. Aku hanya bangun suatu pagi dan tidak bisa memasukkannya ke saku jas. Tanganku berhenti di atas kotak kardus berlapis flanel, lalu menutup laci, lalu mengambil stetoskop lamaku dari lemari. Yang bocor. Yang ujung telinganya retak dan ditempel selotip bening.
Suara jantung pasien terdengar seperti orang mengetuk pintu dari balik bantal.
Aku menekannya lebih keras ke dada pasien. Pasiennya protes.
“Dok, sakit.”
“Maaf, Pak.”
Residen mengulang pemeriksaanku lagi. Seperti dulu.
Aku tidak keberatan. Aku tidak keberatan dengan apa pun akhir-akhir ini.
Aku menang.
Aku mengatakannya pada diriku sendiri setiap pagi, di depan cermin kamar mandi, saat menggosok gigi. Aku menang. Rencanaku berhasil. Semua yang ada di daftar sudah dicoret. Ia sudah pergi. Ia sudah hancur. Ayah sudah bisa beristirahat.
Aku menang.
Aku mengatakannya sampai kata itu kehilangan bentuk. Seperti kata yang diulang terlalu sering sampai terdengar asing. Menang. Menang. Menang. Bunyi tanpa arti.
Aku tidak tahu ia pergi ke mana. Aku tidak mencarinya. Tidak ada alasan untuk mencarinya.
Aku tahu ia pergi karena aku lewat laundry itu.
Bukan sengaja. Aku tidak sengaja menyetir ke Cipayung pada hari Minggu sore. Aku tidak sengaja berhenti di depan papan nama CIK LANI LAUNDRY KILOAN yang lampunya berkedip. Aku tidak sengaja menatap tangga besi yang sempit dan curam ke lantai dua.
Cik Lani keluar membawa ember cucian. Ia melihat mobilku. Ia berhenti.
Ia berjalan ke jendela mobilku dan mengetuknya. Aku menurunkan kaca.
“Cari Arya?” tanyanya.
“Nggak,” kataku. “Lewat.”
Cik Lani menatapku dengan mata sipitnya yang tajam. Lama.
“Dia udah pergi,” katanya. “Tanggal dua belas. Bawa ransel doang. Nggak bilang ke mana.”
Tanggal dua belas.
Hari itu juga. Beberapa jam setelah ia berjalan melewatiku ke celah pagar seng.
“Adiknya udah ambil barang-barangnya,” lanjut Cik Lani. “Kotak merah. Buku-buku. Kertas-kertas di dinding.” Ia diam sebentar. “Adiknya nangis di tangga. Lama. Saya kasih teh.”
Aku mencengkeram setir.
“Kamu pacarnya, kan? Yang bantu angkat galon.”
Aku tidak menjawab.
Cik Lani menatapku lagi. Lalu ia mengangguk pelan, seolah aku sudah menjawab, dan jawabannya bukan jawaban yang ia harapkan.
“Hati-hati di jalan,” katanya, lalu kembali ke laundry.
Aku menyetir pergi. Aku tidak menyetir ke rumah.
Aku menyetir ke jalan raya Cipayung, ke depan bekas Bengkel Las Gondo.
Spanduk vinil putih PT Sinar Karya Logam masih terpasang. Pohon jambu yang dipangkas habis mulai bertunas lagi, daun-daun kecil hijau muda di batang yang botak. Seratus meter pagar abu-abu antrasit sudah tidak ada. Mungkin dijual. Mungkin dipindahkan.
Bengkel itu tutup. Hari Minggu.
Di depan pintu gesernya yang tertutup, di atas bangku kayu panjang tempat dulu aku duduk menunggu, ada sebuah kardus kecil.
Aku turun dari mobil.
Kardus itu sudah basah dan kering beberapa kali. Kertasnya bergelombang. Lakbannya terkelupas di satu sisi. Seseorang, mungkin karyawan baru, sudah memindahkannya ke bangku supaya tidak menghalangi pintu, lalu melupakannya.
Di atasnya, ditulis dengan spidol hitam, huruf besar-besar yang miring dan gemetar seperti tulisan orang tua:
UNTUK ARYA. BUAT SAMBEL.
Aku membuka tutupnya.
Cabai merah. Sekilo, mungkin lebih. Sebagian besar sudah busuk. Hitam, lembek, berjamur putih. Baunya menyengat. Beberapa yang di bawah masih merah, tapi kulitnya sudah keriput.
Di sela-sela cabai itu ada secarik kertas, sobekan dari buku tulis bergaris.
Ar, ini panen pertama. Pedes banget. Bikin sambel yang banyak, kasih Kinan sama Neng Shella juga. Presiden sehat. Saya sehat. Telepon saya ya. — Gondo
Aku berdiri di depan bangku kayu itu dengan kertas di tanganku.
Lama.
Lalu aku menutup kardus itu kembali, mengangkatnya, dan memasukkannya ke jok belakang mobilku.
Aku tidak tahu kenapa. Cabainya sudah busuk. Tidak ada yang bisa dimakan.
Aku hanya tidak bisa membiarkannya di sana. Kardus itu ditujukan untuk seseorang yang tidak akan pernah datang mengambilnya, dan pengirimnya tidak tahu. Pengirimnya masih menunggu telepon. Pengirimnya masih percaya bengkelnya baik-baik saja.
Aku pulang. Aku membuang cabai-cabai busuk itu ke tempat sampah di belakang rumah, di dekat pos satpam, sebelum Mbok Sum melihatnya.
Kertas Pak Gondo aku simpan.
Di laci paling bawah meja riasku, sekarang ada: jaket parasut hitam. Kotak kardus berlapis flanel berisi stetoskop. Map plastik berisi dua puluh tiga lembar hitungan lapangan dengan tulisan pensil. Dan secarik kertas bergaris dengan tulisan spidol yang gemetar.
Aku menutup laci itu.
Tidak penting. Tidak ada yang penting.
Aku menang.
Sarapan hari Senin, Mama menatapku dari seberang meja panjang.
“Shel.”
“Hm.”
“Pak Darmawan cerita kemarin. Soal yayasan.” Mama meletakkan cangkir tehnya. “Katanya ada beasiswa yang dicabut bulan lalu. Atas nama Kinan Mahesa.”
Sendok di tanganku berhenti.
“Mama nggak pernah tanda tangan pencabutan itu,” lanjut Mama pelan. “Mama ketua kehormatan. Biasanya Mama yang tanda tangan terakhir. Tapi yang ini lewat Pak Darmawan langsung. Katanya ada desakan. Dari donatur.”
“Terus?”
“Terus Mama mikir.” Mama menatapku. Matanya lelah, dengan lelah yang sudah menetap sejak tiga tahun lalu. “Anak itu juara olimpiade, Shel. Ayahmu sendiri yang pilih dia. Ayahmu cerita ke Mama waktu itu. Katanya, adiknya Arya pintar sekali, nanti mau jadi apoteker.”
Aku menatap piringku.
“Kamu tahu sesuatu soal itu?”
“Nggak, Ma.”
Mama diam lama. Lalu ia mengangguk dan kembali ke tehnya.
“Ya sudah,” katanya. “Mama cuma nanya.”
Kebohongan. Satu lagi. Aku sudah berhenti menghitungnya.
Tapi saat aku berdiri untuk berangkat, Mama memegang pergelangan tanganku. Hanya sebentar. Seperti di bawah meja makan direksi, berbulan-bulan lalu.
“Kamu kurus banget,” katanya. “Makan yang bener.”
Stase terakhirku adalah paru, di bangsal lantai lima.
Empat minggu lagi, aku selesai koas. Sumpah dokter. Lalu ujian kompetensi. Lalu internsip. Semuanya sudah dijadwalkan. Semuanya berjalan sesuai rencana, seperti mesin yang sudah diminyaki.
Aku bekerja lebih keras dari sebelumnya. Aku datang paling pagi dan pulang paling malam. Aku mengambil jaga tambahan. Aku membaca jurnal di kantin, di lift, di toilet. Aku tidak memberi ruang di kepalaku untuk apa pun selain pasien.
Mitha memperhatikan.
“Lo kurusan lagi,” katanya hari Rabu, di pantry. Ia menyodorkan setengah gorengan bakwannya. “Makan.”
“Udah makan.”
“Kapan?”
“Tadi.”
“Tadi kapan?”
Aku tidak ingat.
Mitha meletakkan bakwan itu di tanganku dan memaksaku menggenggamnya.
“Lo putus sama dia?” tanyanya pelan.
Aku menatap bakwan di tanganku. Minyaknya meresap ke tisu.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Nggak cocok.”
Mitha menunggu. Aku tidak mengatakan apa-apa lagi.
“Lo yang mutusin?”
“Iya.”
“Terus kenapa lo kayak orang yang diputusin?”
Aku menatapnya. Ia menatapku balik, dengan matanya yang besar dan berisik, yang akhir-akhir ini terlalu sering diam.
“Gue nggak kayak orang yang diputusin,” kataku.
“Lo kayak orang yang ditinggal mati,” kata Mitha. “Gue pernah liat muka kayak gitu. Di bangsal. Di muka keluarga pasien. Sama persis.”
Aku berdiri. Bakwan itu kutaruh di meja.
“Gue visite,” kataku.
Hari Jumat ada pesta kecil di rumah Mitha. Untuk merayakan koas yang tinggal tiga minggu lagi.
Aku tidak mau datang. Mitha menjemputku di depan rumah dengan motornya dan berteriak namaku dari luar pagar sampai Mbok Sum menyuruhku turun karena malu sama tetangga.
Rumah Mitha di Rawamangun kecil dan berisik dan penuh orang. Teman-teman seangkatan kami duduk di karpet ruang tamu, makan martabak dan pizza dan seblak yang dimasak ibu Mitha di dapur. Ada yang membawa gitar. Ada yang memutar lagu dangdut koplo dari pengeras suara Bluetooth.
Aku duduk di pojok, dekat jendela, dengan segelas sirup merah yang tidak kuminum.
Mitha berdiri di tengah ruangan dengan sendok sayur sebagai mikrofon.
“PERHATIAN SEMUANYA! Gue mau bacain ramalan masa depan kalian!”
Semua orang bersorak.
“Bagus! Lo bakal jadi dokter bedah, tapi takut darah. Lo bakal operasi sambil merem.”
Tawa.
“Rina! Lo bakal nikah sama pasien. Pasien yang lo infus lima kali gagal. Dia jatuh cinta karena dia pikir lo sengaja.”
Tawa lebih keras.
“Shella!”
Semua orang menoleh padaku.
Mitha menatapku dari tengah ruangan. Sendok sayur di tangannya turun sedikit. Untuk sesaat, wajahnya tidak bercanda.
Lalu ia mengangkat sendok itu lagi dan tersenyum lebar.
“Shella bakal jadi dokter paling pinter di angkatan kita! Terus jadi spesialis jantung! Terus nemu obat buat patah hati! Terus dia minum sendiri obatnya duluan!”
Semua orang tertawa dan bersorak. Seseorang menepuk bahuku. Seseorang lain berteriak amin!
Aku tersenyum. Senyum yang kubuat.
Mitha menatapku dari tengah ruangan, masih tersenyum lebar, tapi matanya tidak tersenyum.
Mitha mengantarku pulang pukul sebelas malam.
Di depan pagar rumahku, setelah aku turun dari motornya, ia tidak langsung pergi. Ia mematikan mesin. Ia melepas helmnya.
“Shel.”
“Hm.”
“Lo inget nggak waktu gue bilang, kalau lo nyakitin cowok itu, gue juga marah?”
Aku membeku.
“Cowok yang duduk paling belakang,” lanjut Mitha pelan. “Gue bilang jangan disakitin. Mereka udah cukup jauh dari panggung.”
“Mit—”
“Gue nggak nanya apa yang terjadi. Gue nggak mau tahu. Gue takut tahu.” Mitha menatap helmnya, memutarnya di tangannya. “Tapi lo senyum liat dia di TV, Shel. Gue nggak bisa lupa itu. Gue udah coba. Gue nggak bisa.”
Aku tidak menjawab.
Mitha memakai helmnya lagi. Ia menyalakan motornya.
“Gue sayang sama lo,” katanya dari balik kaca helm. “Itu nggak berubah. Tapi gue nggak tahu lagi lo siapa.”
Ia pergi.
Aku berdiri di depan pagar rumahku, di bawah lampu jalan Pondok Indah yang terang dan rapi dan tidak pernah berkedip.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Lagi.
Aku sudah tidak bisa tidur sejak hari itu. Bukan insomnia yang dramatis. Aku tidur, tapi dangkal. Terbangun setiap jam. Terbangun karena mimpi yang tidak kuingat isinya, hanya rasa yang tertinggal. Rasa seperti jatuh. Seperti lantai yang tiba-tiba tidak ada.
Pukul tiga pagi, aku turun ke dapur.
Aku membuat kopi. Kopi instan, dari stoples Mbok Sum. Dua sendok gula. Tiga. Aku mengaduknya dan meminumnya sambil berdiri di depan jendela dapur yang menghadap taman belakang.
Kopinya terlalu manis.
Aku tidak suka kopi manis. Aku tidak pernah suka. Aku meminum kopi hitam tanpa gula sejak kuliah.
Aku menatap gelas di tanganku.
Kenapa aku menambahkan gula?
Aku meminumnya sampai habis. Sampai tetes terakhir. Rasa manisnya menempel di lidahku, di gigiku, di tenggorokanku. Memuakkan.
Aku mencuci gelasnya. Aku kembali ke kamar.
Itu cuma capek, kataku pada diriku sendiri. Capek. Koas tinggal tiga minggu. Semua orang capek.
Aku menang.
Aku berbaring dan menatap langit-langit, menunggu pagi.
Senin, ada pasien baru di bangsal paru.
Laki-laki, enam puluh tahun, kanker paru stadium empat, rujukan dari rumah sakit daerah di Bekasi. Sesak napas berat. Efusi pleura masif di paru kanan. Bed nomor sebelas, dekat jendela.
Aku membaca namanya di papan status saat visite pagi.
Udin Saepudin.
Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku. Satu nama di antara puluhan nama lain di papan putih bangsal, ditulis dengan spidol biru oleh perawat jaga malam.
Belum. Tidak pagi itu.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang reading
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365