Chapter Two
Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
POV: Shella
Yang pertama menyambutku bukan laki-laki itu, melainkan burung perkutut.
Kuk-kurruk.
Sangkarnya tergantung tepat setinggi kepalaku, dan burung abu-abu itu memiringkan kepala, menatapku dengan satu mata hitam kecil seperti petugas imigrasi yang mencurigai paspor palsu.
“Itu Presiden,” kata sebuah suara serak. “Jangan diliatin lama-lama, Neng. Dia gampang GR.”
Laki-laki tua bertubuh gempal itu muncul dari balik tumpukan besi hollow, mengelap tangannya di celana kain yang sudah tidak jelas warnanya. Kumisnya tebal dan putih, perutnya bulat, dan ia memakai kaus partai politik dari pemilu dua periode lalu.
“Mau pesan apa, Neng? Pagar? Kanopi? Teralis? Pintu harmonika?” Ia menghitung dengan jari. “Kita bisa semua. Kecuali bikin hati yang patah. Itu bukan bidang kita.”
Ia tertawa sendiri mendengar leluconnya. Presiden ikut berbunyi, seolah setuju.
“Saya…” Aku menelan ludah. Semua kalimat yang kulatih semalam mendadak bergeser dari tempatnya. “Saya mau ketemu Mas Arya.”
Tawa laki-laki tua itu berhenti.
Ia menatapku dari atas ke bawah. Blus krem, celana bahan, flat shoes yang harganya mungkin lebih mahal dari semua pagar di halaman ini. Lalu wajahku. Aku melihat sesuatu bergerak di matanya. Ia mencoba mengingat sesuatu, lalu ingatannya menemukan tempat.
“Neng ini…” katanya pelan.
“Shella,” kataku. “Shella Wijaya.”
Nama itu jatuh di antara kami seperti batu ke dalam sumur.
Di belakangnya, bunyi desis alat las berhenti.
Laki-laki itu berdiri pelan-pelan dari posisi jongkoknya. Topeng las masih terangkat di kepalanya. Ia memegang alat las yang sudah dimatikan di tangan kanan, dan untuk sesaat ia terlihat seperti tidak tahu harus meletakkannya di mana.
Ia menatapku.
Lagi-lagi menatap. Tidak menunduk.
“Shella,” katanya.
Suaranya lebih berat dari yang kuingat. Lebih serak. Mungkin karena asap las. Mungkin karena penjara.
Aku merasakan sesuatu yang panas naik dari perutku ke tenggorokan. Jijik. Marah. Keinginan untuk meraih besi terdekat dan memukulkannya ke kepala laki-laki itu. Semuanya kudorong turun lagi, seperti menelan pil besar tanpa air.
Aku tersenyum. Senyum kecil. Ragu-ragu. Senyum perempuan yang datang dengan niat baik dan takut ditolak.
“Hai, Mas Arya.”
Laki-laki tua itu menoleh bergantian ke arahku dan ke arah laki-laki itu, seperti penonton pertandingan tenis yang lupa siapa yang sedang memegang bola.
“Ehm,” katanya. “Saya… bikin kopi lagi kali, ya.”
Ia menghilang ke dalam bengkel. Tapi tidak cukup jauh. Aku bisa melihat ujung kaus partainya di balik pintu.
Laki-laki itu meletakkan alat lasnya di atas meja kayu. Ia melepas topeng las dan sarung tangannya, lalu berdiri dengan tangan kosong di sisi tubuh, seperti tidak tahu tangannya untuk apa.
Ada bekas luka bakar kecil di punggung tangan kirinya. Bulat, mengilap, berwarna lebih terang dari kulit di sekitarnya.
“Kamu…” Ia berhenti. Mencoba lagi. “Ada perlu apa?”
Aku menarik napas. Aku sudah melatih kalimat ini di depan cermin, di mobil, di kamar mandi rumah sakit di antara jadwal visite. Aku tahu di mana harus berhenti, di mana suaraku harus sedikit bergetar.
“Aku nggak tahu harus mulai dari mana,” kataku. Getaran pertama. “Tiga tahun ini aku… marah banget sama Mas. Mungkin Mas inget di ruang sidang.”
“Aku inget.”
“Aku capek, Mas.” Aku menunduk sebentar, lalu kembali menatapnya. “Capek marah. Capek benci. Setiap malam aku mikirin Ayah, dan yang muncul bukan wajah Ayah, tapi wajah Mas. Aku nggak mau begitu terus.”
Ia diam.
“Ayah orangnya pemaaf banget,” lanjutku. Ini bagian yang paling sulit kuucapkan, karena ini satu-satunya kalimat yang benar. “Kalau Ayah masih ada, Ayah pasti nggak mau aku hidup kayak gini. Ayah pasti ingin aku memaafkan Mas.”
Aku berhenti.
“Jadi… aku datang buat itu. Aku maafin Mas.”
Hening.
Presiden berbunyi sekali, lalu diam, seolah ikut merasakan suasana.
Laki-laki itu menatapku. Lama sekali. Terlalu lama untuk ukuran orang yang baru dimaafkan. Matanya bergerak pelan di wajahku, dari dahiku, ke mataku, ke bibirku yang masih menahan senyum kecil itu, lalu kembali ke mataku dan berhenti di sana.
Aku tidak berkedip. Aku membiarkannya melihat. Aku sudah berlatih untuk ini.
Lalu ia mengatakan sesuatu yang tidak ada dalam latihanku.
“Kamu nggak perlu.”
Aku mengerjap. “Apa?”
“Kamu nggak perlu maafin aku.” Suaranya datar, tapi pelan. “Kamu boleh tetap benci. Itu hak kamu.”
Untuk sesaat, aku kehilangan pijakan. Aku sudah menyiapkan jawaban untuk banyak kemungkinan: kalau ia menangis, kalau ia berterima kasih berlebihan, kalau ia curiga dan mengusirku. Aku tidak menyiapkan jawaban untuk laki-laki yang menolak dimaafkan.
“Tapi aku mau,” kataku akhirnya, dan aku menambahkan sedikit kekeraskepalaan dalam suaraku. Perempuan yang tulus pasti keras kepala. “Aku nggak datang jauh-jauh buat ditolak, Mas.”
Sudut bibirnya bergerak. Bukan senyum. Lebih seperti sesuatu yang hampir menjadi senyum, lalu dibatalkan.
“Cipayung nggak jauh dari Pondok Indah,” katanya.
“Macetnya jauh.”
Dari balik pintu bengkel, terdengar suara tawa yang ditahan dan berubah jadi batuk.
“Mas bisa keluar sebentar?” tanyaku. “Ngopi. Di mana aja. Aku cuma mau ngobrol.”
“Aku lagi kerja.”
“Sebentar aja.”
“Pagarnya harus jadi Senin—”
“Sana!”
Laki-laki tua itu keluar dari persembunyiannya sambil membawa dua gelas kopi yang jelas sudah dingin. Ia menyerahkan satu padaku, satu pada laki-laki itu, lalu mengibas-ngibaskan tangan.
“Sana, sana. Pagarnya biar saya yang terusin. Lagian saya juga masih bisa ngelas, Ar. Saya yang ngajarin kamu, inget?”
“Pak Gondo, tangan Bapak gemeteran kalau pegang las lebih dari sepuluh menit.”
“Itu namanya gaya.” Pak Gondo mengangkat dagu. “Udah, pergi. Bengkel ini nggak bakal runtuh cuma gara-gara kamu tinggal sejam—”
Ia berhenti.
Kata runtuh menggantung di udara pagi yang lembap.
Wajah Pak Gondo berubah warna, dari cokelat jadi merah, lalu jadi pucat, seperti lampu lalu lintas yang rusak. Ia menatapku, lalu laki-laki itu, lalu Presiden, seolah berharap burung itu akan menyelamatkannya.
“Maksud saya… ambruk. Eh. Bubar. Eh—” Ia menutup mulutnya dengan tangan. “Ya Allah. Saya ke belakang aja. Saya ke belakang.”
Ia kabur ke dalam bengkel, dan kali ini benar-benar menghilang.
Aku hampir tertawa. Hampir. Tawa itu sudah ada di tenggorokan, dan aku harus menelannya dengan susah payah, karena tertawa bersama laki-laki ini bukan bagian dari rencana.
Laki-laki itu menghela napas, lalu meletakkan gelas kopinya di atas meja.
“Warung di ujung jalan,” katanya. “Kopinya lebih enak dari buatan Pak Gondo.”
Warung kopi itu berupa bangunan kayu dengan bangku panjang dan meja yang lengket. Seorang ibu berkerudung menyalakan kompor di belakang etalase berisi gorengan. Dua bapak tua bermain catur di sudut, dan keduanya menoleh saat kami masuk, lalu menoleh lagi, lalu berbisik.
Aku tahu apa yang mereka lihat. Perempuan dari dunia yang berbeda, duduk dengan laki-laki yang semua orang di jalan ini tahu pernah dipenjara.
Laki-laki itu memesan kopi hitam. “Nggak pakai gula, Bu.”
Aku memesan teh manis hangat. Aku tidak suka teh manis. Tapi teh manis terdengar seperti pesanan perempuan yang lembut.
Kami duduk berhadapan. Meja di antara kami terasa terlalu sempit. Lutut kami hampir bersentuhan di bawah meja, dan aku menggeser kakiku menjauh dengan gerakan sekecil mungkin.
“Mas kerja di sini dari kapan?” tanyaku, meski aku tahu jawabannya.
“Tiga hari setelah keluar.” Ia memutar gelas kopinya pelan dengan ujung jari. “Pak Gondo dulu langganan proyek kami. Bikin railing tangga. Dia yang nawarin.”
“Baik ya, Pak Gondo.”
“Iya.”
“Lucu juga.”
“Kadang.”
Ia menjawab semua pertanyaan dengan kalimat sependek mungkin, seperti orang yang terbiasa membayar setiap kata dengan mahal.
“Mas tinggal di mana sekarang?”
“Deket sini. Kontrakan.”
“Sendiri?”
Ia diam sebentar.
“Sama adikku.”
“Oh, Mas punya adik?” Aku membuat suaraku sedikit terkejut. “Cewek atau cowok?”
“Cewek. Kelas tiga SMA.”
“Namanya siapa?”
Ia mengangkat matanya dari gelas kopi dan menatapku.
Hanya sedetik. Mungkin dua.
“Kinan,” katanya.
Lalu ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul cokelat. Sampulnya sudah lusuh, sudutnya melengkung. Ia membukanya, menulis sesuatu dengan pulpen pendek, lalu menutupnya lagi dan memasukkannya ke saku.
“Catatan apa?” tanyaku.
“Ukuran pagar. Takut lupa.”
Aku mengangguk. Tukang las memang harus mencatat ukuran. Masuk akal.
Kami bicara sekitar satu jam. Lebih tepatnya, aku yang bicara dan ia mendengarkan. Aku bercerita tentang koas, tentang stase penyakit dalam, tentang nenek yang menyebut temanku tukang tambal ban. Aku mengatur semua ceritaku agar terdengar ringan dan hangat, cerita perempuan yang sedang mencoba membuka pintu.
Ia mendengarkan dengan cara yang aneh. Ia tidak menyela, tidak mengangguk-angguk palsu, tidak sibuk dengan ponselnya. Ia hanya mendengarkan, seolah setiap kalimatku adalah sesuatu yang perlu diukur dengan benar sebelum disimpan.
Itu membuatku tidak nyaman. Aku tidak suka diperhatikan sebaik itu oleh orang yang kubenci.
Di tengah ceritaku, dua bapak di sudut warung mulai bicara lebih keras. Mereka tidak lagi bermain catur. Mereka menatap ke arah kami.
“Itu kan yang di TV dulu,” kata salah satunya, tidak repot-repot berbisik. “Yang gedungnya ambruk. Orang mati tiga.”
“Masa sih?”
“Iya. Gue inget mukanya. Kok udah keluar aja, ya. Enak bener.”
Laki-laki itu tidak menoleh. Ia tidak berubah ekspresi sama sekali. Tapi ia berdiri, mengambil gelas kopinya, lalu pindah duduk ke sisi bangku yang lain. Sekarang tubuhnya yang lebar berada di antara aku dan kedua bapak itu, menutupi pandangan mereka ke arahku.
“Lanjut,” katanya. “Nenek yang galak itu. Terus gimana?”
Aku menatapnya. Butuh beberapa detik sebelum aku mengerti apa yang baru saja ia lakukan. Ia tidak sedang melindungi dirinya dari tatapan mereka. Ia melindungiku. Supaya tidak ada yang melihat anak korban duduk semeja dengan orang yang dianggap pembunuh. Supaya namaku tidak ikut disebut-sebut di warung itu.
Sesuatu bergerak di dadaku. Kecil. Tidak jelas bentuknya.
Aku menekannya sampai diam. Itu bukan kebaikan, kataku pada diriku sendiri. Itu rasa bersalah. Orang yang bersalah memang suka membayar dengan hal-hal kecil, supaya utangnya terasa berkurang. Utangnya tidak akan pernah berkurang.
“Terus,” kataku, kembali tersenyum, “nenek itu minta aku yang pasang infusnya terus sampai pulang. Temanku sampai ngambek dua hari.”
Di sudut, salah satu bapak itu mendengus, lalu kembali ke papan caturnya.
Saat aku mengulurkan tangan untuk mengambil gelas teh, jari-jari kami hampir bersentuhan di atas meja. Ia sedang meletakkan gelas kopinya di tempat yang sama. Hanya beberapa senti.
Ia yang menarik tangannya lebih dulu.
Aku tersenyum, seolah tidak terjadi apa-apa. Di bawah meja, tangan kiriku mencengkeram ujung blus sampai kusut.
“Mas,” kataku saat teh di gelasku tinggal setengah dan aku tidak sanggup meminum sisanya. “Boleh aku ketemu Mas lagi?”
Ia tidak langsung menjawab.
“Kenapa?” tanyanya.
Pertanyaan itu sederhana, tapi ada sesuatu di bawahnya yang membuat tengkukku dingin.
“Karena…” Aku memilih kata dengan hati-hati. “Karena aku nggak mau maafin Mas cuma di mulut. Aku mau beneran. Dan buat beneran, aku harus kenal Mas. Bukan Mas yang ada di ruang sidang. Mas yang sekarang.”
Ia menatapku lagi. Lama. Seperti tadi di bengkel.
Aku menahan tatapan itu dengan seluruh kekuatanku.
“Kalau itu yang kamu mau,” katanya akhirnya.
“Itu yang aku mau.”
“Ya udah.”
Ia berdiri, membayar kopi dan teh kami sebelum aku sempat membuka dompet, lalu menunggu di depan warung sampai aku keluar.
Ia mengantarku sampai ke mobil. Ia tidak berkomentar tentang mobilku, tidak menatapnya terlalu lama, tidak bertanya apa-apa. Ia hanya berdiri di sisi jalan sampai aku masuk dan menyalakan mesin.
“Hati-hati,” katanya melalui jendela yang setengah terbuka. “Jalannya licin.”
“Iya, Mas. Makasih kopinya.”
“Tehnya.”
“Apa?”
“Kamu minum teh.”
Aku tertawa kecil. Tawa yang kubuat. “Iya. Tehnya.”
Aku menyetir sampai lampu merah pertama sebelum aku membuka laci dasbor dan mengeluarkan botol kecil cairan pembersih tangan.
Aku menuangkannya ke telapak tanganku. Banyak. Terlalu banyak. Aku menggosok jari-jariku, terutama ujung-ujung jari yang tadi nyaris bersentuhan dengan jari laki-laki itu. Aku menggosoknya sampai kulitku perih dan bau alkohol memenuhi mobil.
Lampu berubah hijau. Mobil di belakangku membunyikan klakson.
Aku menyetir lagi.
Di kepalaku, aku mengulang pertemuan itu dari awal. Ia tidak curiga, kurasa. Ia kaget, canggung, berhati-hati. Itu wajar untuk laki-laki yang tiba-tiba didatangi anak dari orang yang ia bunuh. Ia menatapku terlalu lama, tapi orang yang merasa bersalah memang begitu. Mencari-cari tanda di wajah korban. Mencari-cari apakah ia benar-benar dimaafkan.
Biar saja ia mencari. Aku sudah menyembunyikan semuanya dengan rapi.
Satu-satunya yang mengganjal hanyalah kalimatnya tadi.
Kamu nggak perlu maafin aku.
Kenapa ada orang yang menolak dimaafkan?
Aku menyingkirkan pertanyaan itu. Mungkin itu cuma rasa bersalah yang dibuat-buat. Mungkin ia ingin terlihat rendah hati. Mungkin penjara mengajarinya cara memainkan peran.
Tidak apa-apa. Aku juga sedang memainkan peran. Dan aku punya lebih banyak uang, lebih banyak waktu, dan lebih banyak alasan untuk memenangkan permainan ini.
Di gantungan kunci, meteran pita kuningan berayun pelan setiap kali mobil berbelok.
Hari pertama, pikirku. Sudah dimulai.
Aku tidak tahu apa yang ia tulis di buku cokelat kecilnya pagi itu. Dan untuk waktu yang sangat lama, aku tidak peduli.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf reading
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365