Chapter Twenty Six
Bab 26 — A.M.
POV: Shella
Alamatnya ada di map biru itu juga.
Di halaman belakang laporan keuangan, terselip daftar santunan yang dibayarkan perusahaan setelah kecelakaan. Dua nama. Dua alamat di Bekasi. Satu kali pembayaran untuk masing-masing, dari dana asuransi, ditandatangani Pak Darmawan.
Ahli waris Sdr. Sarip — Kp. Rawa Bambu, Bekasi Utara.
Ahli waris Sdr. Waluyo — Gg. Masjid, Babelan.
Aku menatap dua alamat itu selama dua hari sebelum menyetir ke sana.
Aku tidak tahu apa yang ingin kucari. Aku hanya tahu bahwa ada tiga keluarga yang kehilangan seseorang di bawah beton itu. Dan selama tiga tahun, aku hanya memikirkan satu.
Rumah Bu Sarip berada di ujung jalan tanah yang becek, di antara sawah yang sudah separuh berubah jadi perumahan. Rumah kecil berdinding batako yang belum diplester, dengan atap seng dan teras sempit yang dipenuhi pot kaleng berisi cabai dan seledri.
Seorang perempuan berusia lima puluhan duduk di teras, memilah kacang panjang di atas tampah. Kerudungnya cokelat dan sudah pudar. Tangannya keriput dan cepat.
“Assalamualaikum, Bu.”
Ia mengangkat wajah. Matanya menyipit, menatapku dari ujung kaki ke ujung kepala. Blus. Celana bahan. Mobil yang kuparkir di ujung jalan karena tidak muat masuk.
“Waalaikumsalam. Cari siapa, Neng?”
“Ibu… Bu Sarip?”
“Iya.”
Aku sudah menyiapkan kalimat di mobil. Aku sudah memutuskan apa yang akan kukatakan. Tapi saat aku berdiri di depan perempuan itu, dengan tampah kacang panjang di pangkuannya, semua kalimat itu runtuh.
“Saya Shella,” kataku. “Anaknya Pak Hendra Wijaya. Yang punya perusahaan. Yang… proyek Bekasi.”
Tangan Bu Sarip berhenti memilah kacang.
Ia menatapku lama. Lalu ia meletakkan tampah itu di lantai teras, berdiri, dan menepuk-nepuk kain bawahannya.
“Masuk, Neng,” katanya. “Masuk. Duduk.”
Ruang tamunya hanya berisi dua kursi plastik, satu meja kecil, dan televisi tabung di atas lemari. Di dinding ada foto berbingkai: seorang laki-laki berkulit gelap dengan kumis tipis, memakai kopiah dan baju koko putih, tersenyum kaku ke kamera.
“Itu bapaknya Dodi,” kata Bu Sarip, mengikuti arah pandangku. “Foto nikahan anak tetangga. Satu-satunya foto dia yang bagus.”
Ia meletakkan segelas teh manis di depanku.
“Neng ngapain ke sini? Udah tiga tahun. Nggak ada yang pernah ke sini dari perusahaan. Kecuali yang ngasih santunan, sekali, terus nggak pernah lagi.”
Aku memegang gelas teh itu dengan dua tangan.
“Saya… mau tahu kabar Ibu.”
Bu Sarip tertawa kecil. Bukan tawa yang menyenangkan.
“Kabar saya ya gini, Neng. Suami mati ketimpa gedung. Santunannya habis buat bayar utang sama biaya tahlilan. Saya jualan sayur. Anak saya kuliah.”
“Kuliah?”
“Di politeknik negeri. Teknik mesin. Semester empat.” Untuk pertama kalinya, sesuatu yang hangat muncul di wajahnya. “Pinter dia. Kayak bapaknya. Bapaknya nggak sekolah, tapi pinter.”
“Kuliahnya… dari mana biayanya, Bu?”
Bu Sarip diam sebentar.
Lalu ia berdiri, masuk ke kamar di balik tirai kain, dan keluar lagi membawa sebuah buku tabungan bersampul biru dari bank pemerintah. Ia menyodorkannya padaku.
“Saya nggak bisa baca, Neng,” katanya. “Dodi yang biasa bacain. Tapi tiap bulan tanggal sepuluh, ada uang masuk. Dari orang. Nggak tahu siapa.”
Aku membuka buku tabungan itu.
Halaman demi halaman. Kolom tanggal, kolom keterangan, kolom nominal.
Tanggal sepuluh. Setiap bulan. Sejak dua tahun empat bulan lalu.
Keterangannya selalu sama.
TRF DR A.M.
Nominal di bulan-bulan pertama kecil. Sangat kecil. Lima puluh ribu. Tujuh puluh ribu. Enam puluh ribu. Lalu naik sedikit demi sedikit. Seratus ribu. Dua ratus. Lalu, sekitar enam bulan lalu, tiga ratus ribu. Lalu turun lagi. Seratus lima puluh. Seratus.
Aku menghitung bulan-bulan itu di kepalaku.
Enam bulan lalu. Saat ia mulai bekerja di Bengkel Las Gondo, dengan gaji tukang las.
Tiga bulan lalu, turun. Saat ia dipecat dan menjadi kuli harian.
Bulan-bulan pertama, lima puluh ribu, enam puluh ribu. Dari mana? Dari mana seseorang yang di penjara bisa mengirim lima puluh ribu rupiah?
Dari upah kerja, mungkin. Aku pernah membaca bahwa narapidana bisa bekerja di bengkel lapas dengan upah yang sangat kecil, beberapa ribu rupiah sehari. Aku menghitungnya, dan angka itu tidak punya penjelasan lain.
Halaman terakhir. Transfer terakhir.
Tanggal sepuluh, bulan ini. Tiga minggu setelah ia pergi.
TRF DR A.M. — 100.000.
Ia masih mengirim.
Di mana pun ia berada sekarang, ia masih hidup. Dan ia masih mengirim.
Tanganku gemetar begitu keras sampai buku tabungan itu hampir jatuh.
“Neng kenapa?” tanya Bu Sarip.
“Nggak apa-apa, Bu.” Suaraku aneh. “Ibu… nggak tahu A.M. itu siapa?”
“Nggak. Dodi udah nanya ke bank. Bank nggak mau kasih tahu. Katanya rahasia nasabah.” Bu Sarip duduk kembali di kursinya. “Dulu saya pikir dari perusahaan. Dari yayasan bapak Neng. Saya pernah mau datang ke kantor buat bilang makasih. Tapi Dodi bilang jangan, Bu, nanti malah dihentikan.”
“Bukan dari perusahaan,” kataku. Kata-kata itu keluar sebelum aku memutuskannya.
“Terus dari siapa?”
Aku menatapnya. Aku membuka mulut.
Pintu depan terbuka.
Seorang laki-laki muda masuk dengan ransel di bahu dan helm di tangan. Tinggi, kurus, berkulit gelap seperti laki-laki di foto berbingkai di dinding. Ia memakai kaus politeknik berwarna biru tua.
Ia berhenti saat melihatku.
“Dodi, ini Neng Shella,” kata Bu Sarip. “Anaknya Pak Hendra. Yang punya perusahaan Bapak dulu.”
Wajah Dodi berubah.
Ia meletakkan helmnya di meja dengan bunyi yang terlalu keras.
“Ngapain ke sini?” tanyanya. Bukan padaku. Pada ibunya. Seolah aku tidak ada.
“Dodi.”
“Tiga tahun nggak ada yang datang, Bu. Terus tiba-tiba datang. Mau apa? Mau minta maaf? Mau kasih santunan lagi?” Dodi menatapku sekarang. Matanya keras. “Perusahaan bapak Mbak udah bayar. Sekali. Udah. Kami nggak minta apa-apa lagi.”
“Saya nggak datang buat itu,” kataku.
“Terus buat apa?”
Aku tidak bisa menjawab.
Dodi menatapku sedikit lebih lama. Lalu matanya turun ke buku tabungan di tanganku.
“Itu buku tabungan Ibu,” katanya. “Kenapa Mbak pegang?”
“Ibu kamu yang kasih liat.”
Dodi mengambil buku tabungan itu dari tanganku. Tidak kasar, tapi tegas. Ia menutupnya dan memegangnya di dada, seperti melindungi sesuatu.
“Ini dari orang baik,” katanya. “Kami nggak tahu siapa. Tapi orang ini yang bikin saya bisa kuliah. Orang ini yang tiap bulan nggak pernah telat. Bukan perusahaan Mbak. Bukan yayasan bapak Mbak.”
“Saya tahu,” kataku pelan.
Dodi mengerutkan dahi.
“Mbak tahu siapa?”
Aku tidak menjawab pertanyaan itu.
Aku tidak bisa. Bukan karena aku tidak mau. Karena aku tahu apa yang terjadi kalau aku menjawabnya. Aku tahu, dari cara Dodi menatap foto ayahnya di dinding, dari cara suaranya mengeras saat menyebut perusahaan Ayah, apa yang ada di kepalanya tentang laki-laki yang mengaku salah hitung.
Aku ingin memastikan.
“Dodi,” kataku. “Insinyur proyek itu. Yang dipenjara. Kamu…”
Dodi tertawa. Pendek. Tajam.
“Arya Mahesa.” Ia mengucapkan nama itu seperti meludahkannya. “Saya liat dia di TikTok, Mbak. Bulan lalu. Udah bebas. Udah jalan-jalan di pasar. Kerja jadi kuli. Ngerayain ulang tahun pakai kue tart.” Rahangnya mengeras. “Bapak saya nggak pernah ngerayain ulang tahun. Bapak saya nggak pernah makan kue tart. Bapak saya kerja dari subuh sampai magrib, ngangkat bata, buat saya. Terus dia mati gara-gara orang itu salah hitung.”
Bu Sarip menunduk. Tangannya meremas ujung kerudung.
“Saya doain dia tiap malam,” lanjut Dodi. Suaranya bergetar. “Saya doain dia nggak pernah tenang. Saya doain dia ngerasain apa yang Ibu rasain. Apa yang saya rasain.”
Aku menatap buku tabungan biru yang ia peluk di dadanya.
TRF DR A.M.
Tiap tanggal sepuluh. Lima puluh ribu dari bengkel kayu penjara. Tidak pernah telat.
Dodi mendoakan laki-laki itu tidak pernah tenang, setiap malam, dengan biaya kuliah dari laki-laki itu sendiri.
Dan laki-laki itu tahu. Ia pasti tahu. Ia tidak pernah memberitahu mereka. Ia membiarkan mereka membencinya, sambil membayar kuliah anak mereka, setiap bulan, tanpa nama.
Sama seperti ia membiarkanku.
Aku tidak ingat bagaimana aku pamit.
Aku ingat Bu Sarip mengantarku sampai ke teras, dan memegang tanganku sebentar di depan pot-pot kaleng berisi cabai dan seledri.
“Neng,” katanya pelan, supaya Dodi tidak mendengar. “Neng tahu siapa A.M. itu, kan?”
Aku menatap tangannya yang keriput di atas tanganku.
“Iya, Bu.”
“Orang baik?”
Aku tidak bisa bernapas.
“Iya, Bu,” kataku. “Orang paling baik yang pernah saya kenal.”
Bu Sarip mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lagi. Ia hanya menepuk tanganku dua kali, seperti ibu yang menenangkan anaknya, lalu melepaskannya.
“Bilang makasih dari Ibu,” katanya. “Kalau ketemu.”
Rumah Bu Waluyo di Babelan lebih kecil lagi.
Ia janda tanpa anak. Ia membuka warung kecil di teras rumahnya, menjual gorengan, kopi sachet, dan rokok ketengan. Warung itu dibangun dua tahun lalu, katanya, dengan uang yang masuk setiap bulan dari orang yang tidak ia kenal.
Buku tabungannya sama. TRF DR A.M. Tanggal sepuluh. Nominal yang sama dengan Bu Sarip, setiap bulan, sampai ke rupiah.
Bu Waluyo tidak membenci siapa pun. Ia sudah terlalu tua dan terlalu lelah untuk membenci. Ia hanya bercerita tentang suaminya yang suka memancing di kali dan selalu pulang tanpa ikan.
“Dia bilang, yang penting duduknya, Bu,” kata Bu Waluyo sambil tertawa kecil. “Ikannya mah bonus.”
Lalu ia bertanya apakah aku mau kopi. Aku bilang tidak usah. Ia membuatkannya juga.
Kopi sachet dalam gelas kaca. Manis. Sangat manis.
Aku meminumnya sampai habis. Bu Waluyo tersenyum puas, seperti orang yang senang tamunya tidak menyisakan apa-apa.
Di mobil, di pinggir jalan Babelan yang berdebu, aku duduk dengan mesin mati.
Aku mengeluarkan ponselku dan membuka foto yang kuambil diam-diam di rumah Bu Sarip, saat Dodi pergi ke dapur. Foto halaman terakhir buku tabungan.
TRF DR A.M. — 100.000.
Tanggal sepuluh bulan ini.
Seratus ribu. Turun dari bulan sebelumnya. Ia pasti tidak punya pekerjaan tetap di mana pun ia sekarang. Ia pasti mengirim uang itu dari sisa yang tidak cukup untuk dirinya sendiri.
Aku memperbesar foto itu. Mencari kode. Mencari lokasi. Mencari apa pun.
Tidak ada. Hanya TRF DR A.M.
Dua huruf.
Arya Mahesa.
Aku menyandarkan kepala ke setir.
Selama tiga tahun, aku memikirkan satu keluarga. Keluargaku. Kehilanganku. Ayahku. Aku tidak pernah sekali pun datang ke Kampung Rawa Bambu atau Babelan. Aku tidak pernah sekali pun bertanya apakah Dodi bisa kuliah, apakah Bu Waluyo punya cukup uang untuk makan.
Laki-laki yang kubenci sudah datang lebih dulu. Dari penjara. Lima puluh ribu demi lima puluh ribu.
Tanpa nama.
Tanpa pernah meminta mereka berhenti membencinya.
Aku membuka folder Proyek di ponselku. Folder yang sudah tidak kubuka sejak hari itu.
Hari ke-187.
Catatan terakhir. Kosong di bawahnya.
Aku mengetik. Jari-jariku gemetar.
Bu Sarip tidak bisa membaca.
Aku tidak tahu kenapa aku menulis itu. Aku hanya tahu kalimat itu penting. Bahwa entah bagaimana, kalimat itu adalah jawaban untuk sesuatu yang belum kutanyakan.
Surat keberatan ke asosiasi. Atas nama keluarga salah satu korban.
Bu Sarip tidak bisa membaca. Bu Waluyo tidak tahu namanya.
Hanya satu keluarga yang tersisa.
Ia tahu.
Ia pasti tahu.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M. reading
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365