Chapter Forty Nine
Bab 49 — Pecah
POV: Shella
Mitha memutuskan untuk tidak pulang.
“Badai,” katanya, sambil menatap langit dari jendela kamar kos yang mulai gelap pukul tiga sore. “Travel nggak jalan. Gue liat grup WA sopir travel, katanya jalur Cikidang longsor kecil. Gue nginep semalem lagi.”
“Lo cuti dua hari doang, Mit.”
“Gue bilang ke residen gue diare. Diare bisa tiga hari.” Ia menatap kasur busa yang kempis. “Diare juga bisa disebabkan tidur di kasur kardus.”
Bu Atin mengetuk pintu dengan membawa dua gelas teh jahe dan wajah yang serius.
“Radio bilang anginnya sampai enam puluh kilo per jam,” katanya. “Nelayan udah narik perahu ke darat semua. Dokter jaga malem?”
“Iya, Bu.”
“Jangan keluar dari puskesmas,” kata Bu Atin. “Kalau badai dari selatan, laut naik.”
Pukul tujuh malam, aku berangkat ke puskesmas di bawah hujan yang miring.
Angin menghantam dari arah laut. Payungku terbalik di langkah kesepuluh dan aku membuangnya. Daun-daun kelapa di pinggir jalan melambai seperti tangan-tangan yang panik. Atap seng warung-warung berderak. Dari kejauhan, aku mendengar ombak. Bukan bunyi ombak biasa yang menghantam karang di ujung teluk. Bunyi yang lebih rendah, lebih berat, seperti sesuatu yang besar sedang berguling-guling di dasar laut.
Mitha ikut. Ia bilang ia tidak mau sendirian di kamar kos yang jendelanya bergetar.
“Gue bisa bantu,” katanya, sambil memeras ujung kemejanya yang basah kuyup di teras puskesmas. “Gue juga dokter. Kadang-kadang.”
UGD puskesmas sepi pada jam-jam pertama. Seorang ibu dengan anak yang demam karena kehujanan. Seorang nelayan tua dengan luka di kaki karena terpeleset di dermaga saat menarik perahu. Bu Nengsih datang pukul delapan dengan jas hujan plastik dan wajah yang tidak terkejut sama sekali melihat Mitha.
“Ini teman Dokter yang pendek?” tanyanya.
“Iya, Bu,” kata Mitha. “Saya yang pendek.”
“Bagus. Bantu saya angkat tabung oksigen.”
Pukul sembilan lewat empat puluh, lampu puskesmas berkedip dua kali, lalu mati.
Genset di belakang bangunan menyala dengan bunyi seperti batuk, dan lampu darurat menyala kuning redup. Lampu sorot di UGD tidak ikut menyala. Bu Nengsih membawa senter kepala dari lemari dan memasangkannya di kepalaku tanpa bertanya.
Pukul sepuluh lewat lima, pintu UGD terbuka dengan keras.
Asep. Basah kuyup. Sandal jepitnya hilang dua-duanya. Napasnya terengah-engah.
“Dok! Dok! Dermaga! Proyek!”
Di belakangnya, dua pekerja menggotong seseorang di antara mereka. Laki-laki muda. Wajahnya pucat. Kaki kanannya tertekuk ke arah yang salah.
“Ombak naik sampai tiang pancang,” kata Asep cepat, sambil membantu mengangkat laki-laki itu ke ranjang tindakan. “Bekisting tiang yang baru dicor kemarin roboh. Ujang ketiban papan. Mandor nyuruh semua orang lari ke darat, tapi Ujang balik buat ngambil HP-nya…”
Aku memasang sarung tangan. Aku memeriksa kaki Ujang. Fraktur tertutup di tulang kering. Tidak ada perdarahan besar. Nadi di kaki masih teraba.
“Bu, bidai. Mitha, infus. Ringer laktat.”
Mitha sudah bergerak sebelum aku selesai bicara.
“Siapa yang angkat Ujang dari bawah papan?” tanyaku sambil memasang bidai.
Asep diam.
Aku mengangkat wajah. Senter di kepalaku menyorot wajahnya.
“Sep.”
“Bang Diem, Dok,” kata Asep pelan.
Tanganku berhenti.
“Dia dateng dari Cisolok,” kata Asep. “Jam sembilan. Naik motor pinjeman. Di tengah badai. Dia telepon mandor tadi sore, bilang bekisting tiang yang baru itu nggak bakal kuat kalau ombak naik, harus dibongkar sebelum gelap. Mandor nggak percaya. Bang Diem langsung dateng sendiri.”
“Terus?”
“Terus dia nyuruh semua orang pergi dari tiang pancang. Teriak-teriak. Saya baru pertama kali denger Bang Diem teriak, Dok.” Asep menelan ludah. “Terus pas ombak gede dateng, bekistingnya roboh. Ujang ketiban. Bang Diem yang angkat papannya. Sendiri. Terus dia gotong Ujang sampai darat, terus nyerahin ke kita, terus…”
“Terus apa, Sep?”
Asep menatapku.
“Terus dia balik lagi ke dermaga, Dok. Bukan dermaga proyek. Dermaga lama. Yang di sebelah.” Suara Asep bergetar. “Saya teriak, Bang, mau ke mana, Bang. Dia nggak jawab. Dia jalan ke ujung dermaga. Di tengah badai.”
Aku menyelesaikan bidai Ujang.
Aku tidak tahu bagaimana. Tanganku gemetar begitu keras sampai Bu Nengsih harus memegangi kaki Ujang dengan kedua tangannya. Aku memastikan nadi distal masih teraba. Aku memastikan infus mengalir. Aku memberikan antinyeri. Aku menulis rujukan ke RSUD untuk operasi besok pagi.
Lalu aku melepas sarung tanganku.
“Mit,” kataku.
Mitha menatapku dari samping tiang infus. Senter di kepalanya menyorot wajahku.
“Pergi,” katanya. “Gue jaga. Gue bisa. Bu Nengsih ada.”
“Mit, kalau ada pasien lain…”
“Gue dokter juga, Shel. Kadang-kadang.” Ia mendorong bahuku ke arah pintu. “Pergi.”
Bu Nengsih tidak berkata apa-apa. Ia hanya melepas jas hujan plastiknya sendiri dan menyodorkannya padaku.
Aku memakainya. Aku berlari keluar.
Dermaga lama itu dua ratus meter dari puskesmas. Aku sudah berjalan ke sana puluhan kali, sore-sore, dengan kopi atau tanpa kopi. Lima menit jalan kaki.
Malam ini, aku butuh lima belas menit.
Angin menghantam dari depan. Hujan tidak turun, ia menyerang, miring dan tajam seperti jarum-jarum kecil yang dilempar ke wajahku. Jas hujan plastik Bu Nengsih berkibar dan robek di bahu dalam lima langkah pertama. Air di jalan sudah setinggi mata kaki. Di beberapa tempat, setinggi lutut.
Dan laut.
Laut tidak lagi berada di tempatnya. Laut naik. Ombak menghantam tembok pembatas pantai dan airnya meloncat ke jalan, putih dan berbuih di bawah cahaya lampu jalan yang berkedip-kedip. Bunyinya memekakkan. Seperti gedung yang runtuh berulang-ulang.
Aku sampai di pangkal dermaga lama.
Senter di kepalaku menyorot ke depan. Papan-papan kayu yang basah. Tiang-tiang yang miring. Air laut yang menyembur dari sela-sela papan setiap kali ombak datang.
Di ujung dermaga, sesosok tubuh berdiri.
Tidak duduk. Berdiri. Di tepi paling ujung, di tempat ia biasa duduk dengan kaki menggantung. Punggungnya ke arahku. Kausnya basah dan menempel di tubuhnya. Ia menatap laut yang hitam dan marah.
Ia tidak bergerak.
Ombak datang. Besar. Lebih tinggi dari dermaga. Aku melihatnya naik di belakang tubuhnya seperti tembok hitam.
“ARYA!”
Ombak itu menghantam ujung dermaga.
Aku tidak ingat berlari.
Aku hanya tahu bahwa aku sudah berada di tengah dermaga, lalu di ujungnya, dengan air laut yang menyapu kakiku dan papan-papan kayu yang bergetar di bawahku. Ombak itu surut. Ia masih berdiri. Basah dari kepala sampai kaki. Ia terhuyung satu langkah ke depan, ke arah tepi.
Tanganku menangkap kausnya.
Bagian belakang kausnya. Aku mencengkeramnya dengan seluruh kekuatanku dan menariknya ke belakang. Keras. Kami berdua jatuh ke papan dermaga yang basah. Punggungku menghantam kayu. Ia jatuh di sampingku.
Ombak berikutnya datang. Lebih kecil. Menyapu ujung dermaga, satu meter dari tempat kami terbaring.
Aku masih mencengkeram kausnya.
Lalu aku menyadarinya.
Tanganku. Di tubuhnya. Tanpa bertanya. Tanpa izin. Tangan yang ia takuti. Tangan yang membuatnya tersentak sampai bangku plastik hampir terbalik di bawah terpal biru.
Ia tidak tersentak.
Ia terbaring di sana, di atas papan dermaga yang basah, dengan tanganku mencengkeram kausnya, dan ia tidak bergerak menjauh.
Aku melepaskan kausnya. Pelan.
Aku duduk. Ia juga duduk. Kami berhadapan di atas papan kayu, di tengah dermaga, di bawah hujan yang miring dan angin yang meraung.
Senter di kepalaku menyorot wajahnya.
“Kamu ngapain?” Suaraku keluar sebagai teriakan, karena tidak ada cara lain untuk didengar di tengah badai. “Kamu ngapain berdiri di situ?!”
Ia menatapku.
Wajahnya basah. Air hujan. Air laut. Matanya merah.
“Kamu ngapain ke sini?” balasnya.
Bukan teriakan. Tapi suaranya lebih keras dari yang pernah kudengar. Lebih keras dari di halte bus.
“Aku…”
“Kamu ngapain ke sini?!”
Ia berteriak sekarang. Untuk pertama kalinya. Di depanku. Suaranya pecah di tengah, seperti beton yang retak.
“Kamu ngapain ke Pelabuhanratu?! Kamu ngapain ke puskesmas?! Kamu ngapain beliin aku sarapan tiap pagi?! Ngecat rumahku?! Ganti lampu jalan?! Bikin sambel pakai tangan kiri?!”
Aku tidak bergerak.
“Kamu ngapain bawain aku kopi pahit?!”
Ia menatapku dengan mata yang terbakar.
“Seratus delapan puluh tujuh hari!” Ia menghantam papan dermaga dengan telapak tangannya. Telapak tangan kiri. Dengan dua bekas luka. “Kopi manis! Tiap Selasa! Tiap Jumat! Dua pompa gula aren! Aku minum sampai habis! Kamu tahu kenapa aku minum sampai habis?!”
“Arya…”
“Karena aku pikir kalau aku minum sampai habis, kamu bakal berhenti!” Suaranya pecah sepenuhnya. “Aku pikir kalau aku nerima semuanya, kalau aku nggak ngelawan, kalau aku bilang nggak apa-apa, lama-lama kamu bakal capek! Kamu bakal liat aku udah nggak punya apa-apa! Kamu bakal berhenti!”
Ombak menghantam ujung dermaga. Air laut menyembur di antara kami.
“Kamu nggak berhenti!”
“Kamu meluk aku di trotoar,” katanya. Suaranya turun. Lebih buruk dari teriakan. “Habis aku dipecat. Pakai kemeja dari kamu. Kamu meluk aku, kamu bilang ikut sedih, terus aku denger.” Ia menatapku. “Bunyi keyboard. Di belakang punggungku. Kamu ngetik. Sambil meluk aku.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Aku nggak tahu kamu ngetik apa. Aku nggak perlu tahu.” Ia menelan sesuatu yang naik ke tenggorokannya. “Aku cuma meluk kamu balik. Karena itu satu-satunya pelukan yang aku dapet dalam tiga tahun. Palsu pun aku terima.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Kamu cium aku,” katanya. “Di kontrakan. Terus kamu ke kamar mandi. Pintunya rusak. Kebuka sejengkal. Cermin bulat di atas wastafel.” Suaranya bergetar. “Aku liat kamu gosok bibir pakai sabun. Pakai tangan. Lama. Sampai merah.”
“Aku tahu, Arya. Aku baca…”
“Kamu baca!” Ia berteriak lagi. “Kamu baca di buku! Aku yang liat! Aku yang berdiri di dapur! Aku yang ngambil gelas! Aku yang ngisi air dingin dari kulkas! Supaya tanganku punya sesuatu buat dipegang! Supaya aku nggak…”
Ia berhenti. Napasnya tersengal.
“Supaya aku nggak ke kamar mandi itu dan bilang, kamu nggak perlu gosok sampai berdarah. Aku nggak bakal cium kamu lagi. Aku janji.”
Air mata. Akhirnya. Mengalir dari matanya, bercampur dengan hujan, dan aku tidak bisa membedakan mana yang mana.
Tapi ia belum menangis. Wajahnya masih keras. Rahangnya masih terkunci.
“Ludah itu,” katanya.
Aku menunggu.
“Rasanya bukan kayak ludah.” Ia menatap papan dermaga di antara kami. “Rasanya kayak kamu bilang, semua yang aku tanggung itu sampah. Dua tahun di penjara. Ambulans. Tangan Pak Hendra di lenganku. Jangan sampai Shella tahu. Aku tanggung semua itu buat kamu. Buat jas putihmu. Terus kamu ludahin.” Suaranya hampir tidak terdengar sekarang. “Kamu ludahin semuanya. Di tanah tempat ayahmu ditemuin. Di tempat aku ngegali beton pakai tangan buat nyari dia.”
Aku menangis. Aku tidak bisa menahannya. Aku tidak mencoba menahannya.
“Dan di ulang tahun itu,” katanya. “Bolu pandan. Kamu senyum. Asep foto. Klik.”
Ia mengangkat wajahnya dan menatapku.
“Aku tahu itu bukan senyum yang dulu,” katanya. “Aku tahu. Kepalaku tahu. Tapi badanku nggak tahu. Badanku cuma inget dua puluh tiga kali klik. Badanku cuma inget kamu senyum, terus aku kehilangan sesuatu.”
Ia berhenti.
Napasnya terengah-engah. Dadanya naik turun dengan keras di bawah kaus yang basah. Hujan terus turun. Angin terus meraung.
Ia menatap laut. Lalu menatap tangannya sendiri di atas papan dermaga. Lalu menatap ke kejauhan, ke arah yang tidak ada apa-apa.
“Sudah?” bisiknya.
Pada dirinya sendiri. Bukan padaku.
Seperti seseorang yang sudah terlalu lama mengatakan kata itu pada orang lain, dan sekarang, untuk pertama kalinya, bertanya pada dirinya sendiri. Apakah sudah. Apakah sudah cukup. Apakah ia sudah boleh berhenti.
Aku menatapnya.
“Belum,” kataku.
Ia mengangkat wajahnya.
“Belum,” ulangku. Suaraku pecah. Aku tidak peduli. “Keluarin semua, Arya. Semuanya. Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana.”
Ia menatapku lama.
Lalu sesuatu di wajahnya runtuh.
“Tiga orang mati,” katanya.
Suaranya bukan lagi teriakan. Bukan lagi suara yang dingin atau keras. Suara yang retak di setiap kata, seperti kolom yang sudah terlalu lama menahan beban dan akhirnya, akhirnya, mulai gagal.
“Tiga orang mati karena aku nunggu. Aku bisa paksa. Aku bisa lapor. Aku bisa telepon polisi. Aku bisa suruh semua orang turun dari gedung itu hari itu juga. Aku nggak ngelakuin. Aku nurut. Karena Pak Hendra yang bayarin sekolah Kinan. Karena Pak Hendra yang dateng ke pemakaman Ibu.”
“Arya…”
“Pak Sarip punya anak. Pak Waluyo suka mancing. Aku tahu. Aku kenal mereka. Aku kerja bareng mereka tiap hari. Aku tahu besinya tiga belas milimeter. Aku tahu dua hari sebelumnya.” Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku pantas. Aku pantas dipenjara. Aku pantas kamu benci. Aku pantas kertas di papan RT. Aku pantas dipecat. Aku pantas diludahin. Aku pantas semuanya.”
“Nggak.”
“Aku pantas!” Ia menurunkan tangannya. Wajahnya basah dan merah dan hancur. “Kenapa kamu dateng?! Kenapa kamu bikin semua orang tahu aku nggak salah?! Aku salah! Aku yang nunggu! Kalau aku nggak salah, terus kenapa aku dipenjara? Kenapa aku kehilangan semuanya? Kalau aku nggak pantas, terus semua itu buat apa?!”
Ia menatapku dengan mata yang memohon.
“Kamu bikin aku nggak pantas lagi,” bisiknya. “Aku nggak tahu harus jadi apa kalau aku nggak pantas.”
Aku bergeser di atas papan dermaga. Mendekat. Tidak menyentuhnya.
“Kamu nunggu dua hari,” kataku. Pelan. Supaya ia mendengar di antara bunyi badai. “Karena orang yang kamu percaya minta kamu nunggu. Orang yang bayarin sekolah adikmu. Orang yang dateng ke pemakaman ibumu. Orang yang bilang kamu nggak sendiri, Ar.”
Ia menatapku.
“Ayahku bohong ke kamu,” kataku. “Ayahku bilang seminggu. Ayahku bilang dia bakal bongkar semua. Kamu percaya. Karena kamu orang yang percaya sama orang yang kamu sayang.” Aku menelan ludah. “Itu bukan dosa, Arya. Itu bukan kesalahan hitung. Itu cuma… kamu.”
Ia tidak bergerak.
“Aku juga bohong ke kamu,” lanjutku. “Seratus delapan puluh tujuh hari. Dan kamu juga percaya. Bukan percaya aku sayang kamu. Kamu tahu aku bohong. Tapi kamu percaya kalau kamu nerima semuanya, aku bakal sembuh.” Suaraku pecah. “Kamu salah soal itu. Aku nggak sembuh dengan kamu nerima semuanya. Aku cuma tambah sakit. Kita berdua tambah sakit.”
Ombak datang. Kecil. Menyapu ujung dermaga, jauh dari kami.
“Kamu nggak pantas dipenjara,” kataku. “Kamu nggak pantas dibenci. Kamu nggak pantas diludahin. Kamu nggak pernah pantas, Arya. Nggak sekali pun.”
Ia menatapku.
Lama.
Dan lalu, akhirnya, ia menangis.
Bukan tangisan yang pelan. Bukan air mata yang mengalir diam-diam di pipi.
Tangisan yang keluar dari tempat yang sangat dalam. Dari ambulans, tiga kilometer dari rumah sakit. Dari sel di Cipinang dengan dua puluh orang. Dari kamar kos di atas laundry, dari anak tangga besi pukul tiga pagi, dari lahan bekas ruko dengan bunga sedap malam di atas tanah.
Tangisan yang sudah ditahan tiga tahun.
Bahunya berguncang. Napasnya putus-putus. Suara yang keluar dari tenggorokannya bukan suara manusia dewasa. Suara anak laki-laki sembilan belas tahun yang baru kehilangan bapaknya, dan tidak sempat menangis karena adiknya baru tujuh tahun dan ibunya sakit dan seseorang harus mengatur obat dan menulis dosis dan menghitung uang belanja sampai ke perak.
Ia menangis untuk semuanya.
Dan ia membungkuk ke depan, karena tubuhnya tidak bisa lagi menahan dirinya tegak.
Aku tidak menyentuhnya. Aku duduk di depannya di atas papan dermaga yang basah, dengan tangan di pangkuanku, dan menunggu.
“Arya,” kataku. Pelan. Di antara tangisnya. “Boleh aku peluk kamu?”
Ia tidak menjawab.
Ia tidak bisa menjawab. Napasnya terlalu putus-putus. Tubuhnya terlalu berguncang.
Tapi ia mengangkat wajahnya sedikit. Dan ia menatapku dengan mata yang basah dan merah dan hancur dan, untuk pertama kalinya sejak hari pertama di halaman bengkel Pak Gondo, tidak menyembunyikan apa pun.
Lalu ia condong ke depan.
Dahinya menyentuh bahuku.
Hanya itu. Dahinya di bahuku. Tubuhnya masih berguncang. Tangannya masih di atas papan dermaga, terkepal.
Aku mengangkat tanganku. Pelan. Sangat pelan. Ke punggungnya.
Ia tidak tersentak.
Aku memeluknya.
Di tengah badai, di atas papan dermaga lama yang basah dan bergetar setiap kali ombak datang, dengan senter di kepalaku yang menyorot ke langit hitam dan jas hujan plastik Bu Nengsih yang robek berkibar di bahuku.
Aku memeluknya. Dan ia membiarkanku.
Ia menangis di bahuku sampai suaranya habis.
Aku tidak mengatakan apa pun. Tidak sudah. Tidak nggak apa-apa. Tidak aku di sini.
Aku hanya memeluknya, dan menunggu, selama apa pun yang ia butuhkan.
Seperti seseorang yang bersedia menunggu.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah reading
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365