← Hukuman Kedua

Chapter Fourteen

Bab 14 — Kontrakan

POV: Shella

Bu Romlah menjual rumah kontrakan itu dalam waktu sembilan hari.

Ia sudah lama ingin menjualnya, kata Kinan. Anak-anaknya di Kalimantan menyuruhnya pindah. Tapi tidak ada yang mau membeli deretan rumah petak tua di ujung gang sempit dengan harga yang ia minta.

Lalu tiba-tiba ada yang mau. Seorang investor properti yang mengoleksi rumah-rumah kontrakan tua di Jakarta Timur, untuk direnovasi dan disewakan lagi dengan harga lebih tinggi. Ia membayar sedikit di atas harga yang Bu Romlah minta. Tunai. Tanpa tawar-menawar.

Bu Romlah pamit ke semua penghuni dengan wajah lega dan sekantong rambutan untuk masing-masing rumah. Ke rumah Kinan, ia tidak membawa rambutan. Ia hanya berdiri di depan pintu dan bicara pada Kinan tanpa menatap ke dalam, ke tempat laki-laki itu sedang duduk.

“Pemilik barunya nanti yang ngurus. Ibu udah nggak ada urusan.”

Lalu ia pergi.

Pemilik baru itu tidak pernah datang sendiri. Ia mengirim seorang agen, laki-laki muda dengan rambut klimis dan kemeja ketat, yang membawa map dan surat pemberitahuan.

Semua unit akan direnovasi bertahap. Harga sewa akan disesuaikan. Unit paling ujung, unit milik laki-laki itu, akan direnovasi lebih dulu dan dijadikan gudang material. Kalau penghuninya ingin tetap tinggal setelah renovasi, harga sewanya tiga kali lipat.

Tenggatnya akhir bulan. Tiga minggu.


“Ini gila,” kata Kinan. “Ini gila, Kak. Tiga kali lipat? Itu lebih mahal dari kos-kosan mahasiswa kedokteran!”

Ia mengatakannya padaku, karena kakaknya tidak mau berdebat. Kami duduk di teras kontrakan hari Minggu sore, dan Kinan memegang surat pemberitahuan itu seperti memegang surat tilang.

“Kenapa unit kita duluan? Kenapa bukan unit Bu Darsih yang atapnya bocor? Kenapa bukan unit Pak Rahmat yang pintunya udah copot?” Kinan meremas surat itu. “Karena Kak Arya. Pasti karena Kak Arya. Gara-gara kertas di papan RT itu. Semua orang tahu sekarang. Mereka mau kita pergi.”

Laki-laki itu sedang duduk di kursi plastik di sampingnya, memperbaiki sandal jepit Kinan yang talinya putus. Ia memasukkan paku kecil ke lubang sandal dengan obeng.

“Kinan,” katanya. “Udah.”

“Nggak udah! Kakak selalu bilang udah, udah, udah! Udah apanya? Kita mau tinggal di mana?”

Ia tidak menjawab. Ia menekan paku itu sampai pas, lalu mencoba menarik tali sandal. Talinya bertahan.

Ia meletakkan sandal itu di depan kaki Kinan.

“Kakak udah cari,” katanya. “Ada kamar kos di gang belakang pasar. Di atas laundry.”

Kinan menatapnya. “Kamar kos? Satu kamar?”

“Satu kamar.”

“Buat berdua?”

“Kakak tidur di lantai.”

Kinan membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Matanya berkaca-kaca. Ia mengambil sandal jepit itu, memakainya dengan kasar, lalu berdiri dan masuk ke dalam rumah. Pintu tidak dibanting. Itu lebih buruk dari dibanting.

Aku duduk di sana bersama laki-laki itu dan pot lidah buaya.

“Mas,” kataku.

Aku sudah merencanakan bagian ini. Aku bahkan sudah menyiapkan nominalnya.

“Biar aku yang bayar sewanya. Yang tiga kali lipat itu. Setahun dulu. Nggak usah dipikirin. Nanti kalau Mas udah dapat kerja yang bener, Mas ganti pelan-pelan.”

Aku tahu ia akan menolak. Aku menawarkannya karena aku tahu ia akan menolak. Laki-laki dengan harga diri yang tidak punya apa-apa selain harga diri.

“Nggak, Shella.”

“Mas—”

“Nggak.”

Ia menatapku. Ada lelah di matanya. Lelah yang dalam, yang sudah menetap seperti debu di sudut rumah.

“Kamu udah kasih banyak,” katanya. “Jangan kasih lagi.”

Aku belum memberinya apa pun. Kopi manis. Kemeja abu-abu. Kue ulang tahun. Pelukan yang kuperankan. Itu bukan pemberian. Itu umpan.

Tapi ia menatapku seolah aku sudah memberinya sesuatu yang terlalu besar untuk ia balas.


Hari pindahan jatuh pada hari Sabtu terakhir di bulan itu.

Aku datang pukul tujuh pagi dengan jeans, kaus lengan panjang, dan sarung tangan karet dari rumah sakit. Kinan menatapku dari ambang pintu dengan wajah tidak percaya.

“Kakak beneran mau bantu angkat-angkat?”

“Beneran.”

“Kakak kan anak orang kaya.”

“Anak orang kaya juga punya tangan.”

Kinan menyipitkan mata. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia tersenyum padaku. Senyum kecil, miring, tapi asli.

“Oke. Kakak angkat kardus buku. Itu yang paling berat. Biar tahu rasanya jadi orang miskin.”

Barang mereka tidak banyak. Kasur lipat. Lemari plastik tiga susun. Kompor dua tungku dan tabung gas tiga kilo. Galon air. Kipas angin. Rak buku kayu. Tiga kardus pakaian. Lima kardus buku, kebanyakan buku pelajaran Kinan dan buku-buku teknik sipil tebal yang sampulnya sudah menguning. Kotak perkakas merah milik almarhum bapak mereka.

Laki-laki itu menyewa gerobak dorong dari pengepul barang bekas di ujung gang. Kamar kos itu hanya berjarak tiga gang, terlalu dekat untuk menyewa mobil bak, terlalu jauh untuk diangkat dengan tangan.

Ia mendorong gerobak itu bolak-balik enam kali.

Aku membantu mengemas barang-barang terakhir di dalam rumah. Aku melepas bingkai-bingkai foto dari dinding, membungkusnya dengan koran bekas. Foto keluarga yang pudar. Piagam olimpiade kimia Kinan.

Dan piagam beasiswa itu.

YAYASAN PENDIDIKAN WIJAYA.

Aku memegangnya dengan dua tangan. Tanda tangan Ayah melengkung di sudut kanan bawah, huruf H besar dengan garis seperti kail pancing.

“Hati-hati yang itu,” kata Kinan dari belakangku. “Itu yang paling penting. Kalau beasiswanya putus, aku nggak bisa kuliah.”

Aku membungkusnya dengan koran. Pelan-pelan. Tiga lapis. Seperti membungkus sesuatu yang bisa pecah.

Tanganku gemetar sedikit. Untuk pertama kalinya, tanganku gemetar.


Lemari plastik tiga susun itu yang terakhir.

Laki-laki itu memintaku mengosongkan laci-lacinya sebelum ia mengangkatnya. Laci pertama berisi pakaian dalam dan kaus kaki, yang kubiarkan untuk Kinan. Laci kedua berisi dokumen. Akta kelahiran. Ijazah. Rapor-rapor Kinan. Surat-surat dari lapas.

Laci ketiga berisi barang-barang kecil yang tidak jelas kategorinya.

Obeng-obeng kecil. Gulungan selotip. Sebungkus paku. Kertas folio bergaris berisi daftar tujuh belas lamaran yang ditolak, terlipat rapi.

Dan selembar kertas A4 yang terlipat dua kali.

Aku tahu kertas itu sebelum aku membukanya.

Insinyur Akui Salah Hitung, Ruko Runtuh Tewaskan Tiga Orang.

Foto laki-laki itu dengan rompi tahanan. Dan di bagian bawah, tulisan spidol yang tidak kuperintahkan tapi juga tidak kularang.

SEKARANG TINGGAL DI GANG INI. HATI-HATI. JAGA ANAK-ANAK KALIAN.

Ia menyimpannya. Ia melepasnya dari papan RT di bawah gerimis, melipatnya dengan sangat rapi, dan menyimpannya di laci yang sama dengan obeng dan paku dan daftar lamarannya yang ditolak.

Kenapa?

Kenapa orang menyimpan kertas yang menghinanya?

Aku berjongkok di depan laci itu dengan kertas di tanganku, dan untuk sesaat aku tidak bisa berpikir.

Lalu sesuatu dalam diriku bergerak. Sesuatu yang dingin dan keras, yang sudah tiga tahun menjadi tulang punggungku. Ia berdiri dan mengambil alih.

Ia menyimpannya karena ia tahu itu benar, kata suara itu. Ia menyimpannya karena ia memang pembunuh. Orang yang bersalah menyimpan bukti kesalahannya sendiri. Supaya ingat. Supaya menghukum diri. Itu bukan kebaikan, Shella. Itu bukan kesucian. Itu pengakuan.

Kamu sudah hampir lupa. Kamu sudah hampir lunak. Lihat kertas ini. Lihat apa yang ia lakukan pada Ayah.

Aku melipat kertas itu kembali, persis seperti lipatannya, dan memasukkannya ke dalam kardus dokumen.


Kamar kos itu berukuran tiga kali tiga meter, di lantai dua sebuah ruko yang lantai satunya adalah laundry kiloan. Tangga besinya sempit dan curam. Udaranya bau deterjen dan uap panas dari mesin pengering yang menyala sampai jam sembilan malam.

Pemilik laundry, Cik Lani, perempuan setengah baya yang bicara secepat mesin cuci di mode putar, menyambut kami di kaki tangga.

“Air mati jam sepuluh malam, nyala lagi jam lima pagi. Jemuran di atap, jangan di jendela. Jangan masak ikan asin, bau. Jangan nyetel musik keras. Jangan bawa pacar ke kamar.” Ia menatapku. “Kecuali pacarnya bantu angkat galon.”

Aku sedang mengangkat galon.

“Boleh,” kata Cik Lani. “Kamu boleh.”

Kinan tertawa keras. Itu tawa pertamanya hari itu.

Saat kakaknya turun lagi untuk mengambil gerobak terakhir, Kinan duduk di anak tangga besi di sebelahku, mengipasi wajahnya dengan tutup kardus.

“Kak,” katanya. “Kakak tahu farmasi UI passing grade-nya berapa?”

“Tinggi.”

“Tinggi banget. Aku harus masuk lewat jalur prestasi. Makanya beasiswa Wijaya itu penting. Kalau nilaiku turun, beasiswanya bisa dicabut, terus aku nggak bisa daftar jalur prestasi, terus aku harus tes biasa, terus aku pasti kalah sama anak-anak bimbel mahal.” Ia mengatakannya dalam satu tarikan napas, seperti sudah ribuan kali memikirkannya. “Kak Arya bilang aku harus jadi apoteker. Biar nanti kalau ada orang sakit di keluarga, kita nggak bingung lagi soal obat. Kayak dulu waktu Ibu.”

Aku menatap tembok ruko di seberang tangga.

“Kamu pasti bisa,” kataku.

“Kakak ngomong gitu karena Kakak pacarnya Kak Arya.”

“Aku ngomong gitu karena kamu juara olimpiade kimia.”

Kinan menatapku. Lalu ia menyikut lenganku pelan, dengan cara yang hampir seperti adik pada kakaknya.

“Makasih, Kak.”

Aku tidak menjawab. Aku berdiri dan mengambil kardus berikutnya, karena aku tidak sanggup duduk di sebelahnya lebih lama.

Barang-barang mereka masuk ke kamar itu seperti barang-barang yang dijejalkan ke dalam koper yang terlalu kecil. Kasur lipat di satu sisi, untuk Kinan. Lemari plastik di sisi lain. Rak buku di bawah jendela. Kompor di lantai di pojok. Ruang yang tersisa di tengah hanya cukup untuk satu orang berbaring meringkuk.

Laki-laki itu menggelar tikar di ruang sempit itu.

“Kakak di sini,” katanya.

Kinan menatap tikar itu, lalu menatap kakaknya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di kasur lipatnya, memeluk lutut, dan menatap jendela yang menghadap tembok ruko sebelah, berjarak satu meter.

Aku mulai menggantung bingkai-bingkai foto di dinding, dengan paku yang dipinjamkan Cik Lani.

Foto keluarga. Piagam olimpiade.

Piagam beasiswa Yayasan Pendidikan Wijaya, dengan tanda tangan Ayah, kugantung di tengah. Di tempat yang paling terlihat.


Aku pulang pukul tujuh malam, dengan kaus basah keringat dan tangan yang bau deterjen.

Di mobil, sebelum menyalakan mesin, aku membuka galeri foto.

Dua puluh tiga foto ulang tahun.

Lalu aku membuka foto yang baru kuambil sore tadi, diam-diam, saat laki-laki itu sedang mendorong gerobak di gang sempit. Seorang laki-laki bertubuh besar mendorong gerobak berisi kasur lipat dan kompor bekas, di gang becek di antara rumah-rumah petak. Keringatnya mengilap di leher. Wajahnya menunduk.

Narasi, kata Pak Hadi. Media butuh narasi.

Aku memilih semuanya. Dua puluh empat foto.

Aku menekan tombol kirim ke nomor yang tidak tersimpan.

Bar biru di layar bergerak pelan dari kiri ke kanan. Satu foto terkirim. Lima foto. Dua belas. Dua puluh empat.

Terkirim.

Aku menatap kata itu.

Lalu aku menyalakan mesin dan menyetir pulang, dan aku tidak menyalakan radio, dan aku tidak memikirkan tikar di lantai kamar tiga kali tiga meter, dan aku tidak memikirkan laki-laki yang akan tidur meringkuk di atasnya malam ini, dengan bau deterjen dan bunyi mesin pengering dari lantai bawah.

Aku tidak memikirkannya sama sekali.

Di folder Proyek, aku menulis:

Hari ke-131. Pindah. Satu kamar untuk berdua. Dia tidur di lantai. Dia menyimpan kertas dari papan RT.

Foto sudah dikirim.

Aku tidak menulis tentang tanganku yang gemetar saat membungkus piagam itu.

Aku sudah berhenti menulis tentang hal-hal yang tidak penting.