Chapter Fifty Two
Bab 52 — Matanya Juga
POV: Arya
Aku membaca surat itu malam itu juga. Di ujung dermaga lama, dengan senter kecil pinjaman Asep, saat langit sudah gelap dan laut sudah tenang.
Empat halaman. Kertas folio bergaris. Tulisan tangan yang berusaha tegak tapi tidak berhasil.
Arya.
Ini yang aku tahu sekarang.
Aku tahu isinya. Aku bilang begitu padanya, di pangkal dermaga, berbulan-bulan lalu. Aku tidak salah. Semua yang kuduga ada di sana. Buku tulis biru ayahnya. Besi enam belas yang jadi tiga belas. Mang Udin. Bu Sarip. Transfer tanggal sepuluh. Buku cokelatku.
Lalu daftar. Semua yang ia lakukan. Kertas di papan RT. Pagar. Kaleng. Bengkel. Kontrakan. Foto. Lampiran. Flashdisk. Surat keberatan. Beasiswa.
Ludah.
Ia menuliskannya seperti laporan teknis. Tanpa alasan. Tanpa karena. Seperti seseorang yang mencatat kerusakan di struktur yang ia bangun sendiri, dan tidak mencari siapa pun untuk disalahkan selain tangannya sendiri.
Aku tahu semua itu.
Yang tidak kuketahui adalah bagaimana rasanya membacanya dalam tulisan tangannya.
Huruf-hurufnya tidak tegak. Di beberapa tempat, tintanya melebar, seperti pernah terkena tetesan air. Di halaman ketiga, ada satu kata yang dicoret berkali-kali sampai kertasnya hampir sobek, dan aku tidak bisa membaca apa kata aslinya.
Di halaman terakhir, satu-satunya kalimat yang bukan fakta.
Aku tidak minta dimaafkan. Aku tidak berhak. Aku cuma ingin kamu tahu bahwa aku tahu. Dan bahwa aku akan memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, satu per satu, dengan tanganku sendiri. Bahkan kalau kamu tidak mau melihatnya.
Aku membaca kalimat itu lagi.
Dengan tanganku sendiri.
Aku memikirkan semua yang terjadi sejak ia menulis surat ini. Konferensi pers. Rumah Pondok Indah yang dijual. Perhiasan dan tas yang ia jual untuk Bu Sarip. Pak Gondo yang berteriak di kebun cabai. Air cucian yang disiramkan Riko. Dinding hijau muda yang ia amplas empat akhir pekan. Lampu jalan di tengah gang.
Sambal yang diulek dengan tangan kiri.
Sembilan jahitan dengan tangan yang gemetar.
Kopi hitam tanpa gula.
Bahkan kalau kamu tidak mau melihatnya.
Aku tidak mau melihatnya. Aku lewat jalan belakang. Aku pindah ke Cisolok. Aku mengembalikan suratnya tanpa membaca.
Ia melakukannya juga.
Aku melipat surat itu kembali. Rapi. Empat halaman. Aku memasukkannya ke saku kausku, di dada kiri.
Aku duduk di ujung dermaga sampai senter Asep mati karena baterainya habis.
Saat aku kembali ke mess, Asep masih terjaga. Ia duduk di ranjang atas dengan kaki menggantung, menatapku masuk dalam gelap.
“Senternya mati, Bang?”
“Mati.”
“Abang baca surat cinta?”
“Bukan surat cinta.”
“Terus surat apa?”
Aku menggantung handuk di paku di dinding.
“Laporan,” kataku.
Asep diam sebentar. Lalu ia berbaring dan menarik sarungnya sampai ke dagu.
“Laporan yang dibaca sampai senter mati,” gumamnya ke langit-langit, “itu namanya surat cinta, Bang. Saya emang bego. Tapi nggak segitu begonya.”
Aku tidak menjawab. Aku berbaring di ranjang bawah, di atas kasur. Bukan di lantai.
Minggu pagi, aku membeli ponsel baru.
Ponsel murah dari konter di dekat pasar ikan. Penjualnya anak muda yang menatapku lama, seperti mencoba mengingat sesuatu, lalu menyerah. Wajahku tidak lagi seperti wajah di TikTok. Rambutku terlalu panjang. Kulitku terlalu hitam. Mungkin itu bagus.
Aku memasukkan kartu SIM baru. Aku mengetik satu nomor dari ingatan. Nomor yang tidak pernah kusimpan karena aku tidak pernah perlu menyimpannya.
Dering ketiga.
“Halo? Siapa ini?”
“Pak.”
Hening di ujung telepon.
Lalu suara yang terlalu keras untuk ruangan mana pun.
“ARYA!”
Di belakangnya, samar, kuk-kurruk.
“Ar! Ya Allah! Kamu ke mana aja?! Saya telepon nomor kamu tiga bulan nggak aktif! Saya kira kamu mati! Saya udah suruh anak saya cari di berita! Kamu di mana?!”
“Pelabuhanratu, Pak.”
“Pelabuhanratu! Jauh! Ngapain di sana?!”
“Kerja, Pak.”
“Jadi kuli! Neng Shella bilang!” Pak Gondo diam sebentar. Lalu suaranya turun. “Neng Shella dateng ke sini. Ke Ciawi. Kamu tahu?”
“Tahu, Pak.”
“Saya teriakin dia. Saya nangis. Saya kasih dia makan.” Pak Gondo menghela napas. “Saya belum maafin dia, Ar.”
“Iya, Pak.”
“Tapi dia ukur tensi saya. Seratus enam puluh lima. Dia bilang saya harus minum amlodipin tiap pagi.” Suaranya pecah sedikit. “Saya minum sekarang, Ar. Tiap pagi. Anak saya beliin.”
Aku menatap laut dari jendela konter ponsel.
“Bagus, Pak.”
“Ar. Bengkelnya.”
“Saya udah liat aktanya, Pak.”
“Terus?”
“Saya belum bisa jawab, Pak. Saya…” Aku berhenti. “Saya baru aja tanda tangan PK. Saya belum tahu saya mau jadi apa. Insinyur lagi, atau tukang las, atau…”
“Jadi Arya aja dulu,” potong Pak Gondo. “Yang lain nanti. Bengkelnya nggak ke mana-mana. Presiden juga nggak ke mana-mana. Saya juga.”
Aku menutup mataku.
“Makasih, Pak.”
“Telepon saya tiap minggu.”
“Iya, Pak.”
“Janji?”
“Janji.”
“Kali ini jangan bohong,” kata Pak Gondo. “Kalau nggak baik, bilang nggak baik.”
Aku menatap laut.
“Pak,” kataku. “Saya baik.”
Pak Gondo diam lama di ujung telepon.
“Kali ini kedengerannya bener,” katanya pelan.
Setelah menutup telepon, aku berjalan ke warung kecil di samping konter. Warung yang menjual rokok ketengan dan pulsa dan alat tulis anak sekolah.
Di rak paling bawah, di antara buku gambar dan pensil warna, ada buku tulis kecil bersampul cokelat. Tiga ribu rupiah.
Aku membelinya.
Penjaga warung, seorang nenek dengan kacamata tebal, menatapku dengan heran. Laki-laki dewasa dengan kaus pudar, membeli satu buku tulis tiga ribuan pada hari Minggu pagi.
“Buat anaknya?”
“Buat saya, Nek.”
Sore itu, ia sudah ada di dermaga lama sebelum aku sampai.
Di tiang kayu di pangkal dermaga. Seperti biasa. Ia tidak membawa kopi hari ini. Ia tidak membawa apa-apa. Ia hanya duduk di sana dengan tangan di pangkuan, menatap laut.
Aku berhenti di sampingnya.
Aku tidak berjalan ke ujung dermaga.
Aku duduk di tiang kayu yang lain. Di sebelahnya. Satu meter.
Ia menoleh padaku. Matanya lebar. Ia tidak berkata apa-apa.
Kami menatap laut yang sama. Dari tempat yang hampir sama.
Matahari turun pelan. Oranye. Lalu merah.
“Aku udah baca,” kataku.
Ia diam. Tangannya di pangkuan terkepal sedikit.
“Suratnya.”
“Aku tahu,” katanya. Hampir tidak terdengar. “Kinan bilang kamu baca di dermaga. Sampai senternya mati.”
Aku menatapnya.
“Asep yang cerita ke Kinan,” katanya. “Asep yang pinjemin senter.”
Aku menghela napas. Satu kampung tahu semuanya.
“Kamu bilang,” kataku, “kamu nggak minta dimaafin.”
“Iya.”
“Kamu bilang kamu nggak berhak.”
“Iya.”
Aku menatap laut.
“Aku nggak tahu apa aku bisa maafin semuanya,” kataku pelan. “Aku jujur. Aku nggak tahu. Kadang aku bangun pagi, dan aku inget cermin bulat itu. Atau bunyi keyboard. Atau rasa ludahnya. Dan aku nggak bisa napas sebentar.”
Ia tidak menjawab. Ia menunduk.
“Mungkin itu nggak bakal ilang,” lanjutku. “Mungkin bertahun-tahun lagi aku masih inget.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku juga inget yang lain sekarang,” kataku.
Ia mengangkat wajahnya.
“Dinding hijau. Sambal tangan kiri. Sembilan jahitan. Kopi pahit.” Aku menatap telapak tangan kiriku. Dua bekas luka. “Tanganmu di kausku. Di dermaga. Waktu ombak.”
Ia menatap tanganku.
“Dulu badanku cuma inget satu hal soal tanganmu,” kataku. “Sekarang badanku inget dua.”
Matanya basah.
“Aku nggak bisa bilang aku udah maafin,” kataku. “Tapi aku bisa bilang ini.”
Aku menatapnya. Shella. Di tiang kayu di pangkal dermaga, satu meter dariku, dengan rambut yang tertiup angin pesisir dan mata yang basah dan tangan yang terkepal di pangkuan.
“Jangan pergi,” kataku.
Ia menatapku lama.
Ombak datang. Pergi. Datang.
Lalu ia bicara. Pelan. Dengan suara yang bergetar, tapi tidak pecah.
“Aku mau bilang sesuatu,” katanya. “Kamu nggak harus jawab. Kamu nggak harus percaya. Aku cuma mau bilang. Sekali. Dengan jujur.”
Aku menunggu.
“Dulu aku bilang sayang ke kamu,” katanya. “Di atap parkiran. Aku latihan di depan cermin tiga kali. Aku bayangin muka Ayah supaya suaraku kedengeran tulus.”
“Aku tahu.”
“Ini bukan itu.”
Ia menarik napas.
“Aku nggak tahu sejak kapan,” katanya. “Mungkin sejak saus tomat. Mungkin sejak stetoskop. Mungkin sejak sup ayam di depan gerbang kompleks, waktu kamu baru terima surat beasiswa Kinan dan kamu nggak bilang apa-apa. Aku nggak tahu. Aku nggak ngerasainnya waktu itu. Aku ngerasainnya belakangan. Kayak luka yang baru sakit setelah biusnya habis.”
Ia menatapku. Lurus. Tidak menunduk.
Seperti di ruang sidang. Seperti aku menatapnya di ruang sidang, tiga tahun lalu, saat ia berdiri dan berteriak, dan aku tidak menunduk karena aku pikir setidaknya ia berhak melihat wajah orang yang ia benci tanpa terhalang apa pun.
Ia tidak menunduk sekarang.
“Aku mencintaimu, Arya,” katanya.
Matanya.
Aku menatap matanya lama. Seperti hari pertama di halaman bengkel Pak Gondo. Saat aku menatapnya terlalu lama, dari dahinya, ke matanya, ke bibirnya, lalu kembali ke matanya dan berhenti di sana. Mencari.
Hari itu, mulutnya bilang memaafkan. Matanya tidak.
Hari ini.
Aku menatap matanya, dan aku tidak perlu mencari.
“Aku tahu,” kataku.
Ia menatapku. Lalu, pelan, ia tersenyum.
Senyum kecil. Basah. Tidak dilatih. Tidak dibuat.
Aku tidak tersentak. Badanku tidak mundur.
Badanku melihat senyum itu, dan untuk pertama kalinya, badanku tidak ingat dua puluh tiga kali klik.
“Kamu dulu bilang,” kataku, “harusnya aku bilang aku juga.”
Senyumnya membeku.
“Di atap parkiran,” kataku. “Kamu cubit lenganku. Kamu bilang, Mas tuh ya, harusnya bilang aku juga. Terus aku bilang…”
“Nanti,” bisiknya.
“Nanti,” ulangku.
Aku menatap laut. Matahari sudah menyentuh garis air. Merah. Lalu ungu.
“Aku juga,” kataku.
Ia tidak bergerak. Ia tidak bersuara. Ia hanya duduk di tiang kayu di sampingku, dengan air mata yang jatuh tanpa diusap, dan tangan yang tidak lagi terkepal di pangkuannya.
Aku tidak menyentuhnya. Ia tidak menyentuhku.
Kami duduk di sana, satu meter, sampai matahari tenggelam sepenuhnya dan lampu-lampu perahu nelayan mulai menyala satu per satu di kejauhan, seperti untaian manik-manik di atas air yang gelap.
Malam itu, di tangga mess, setelah Asep mendengkur seperti mesin molen yang kurang oli, aku membuka buku tulis cokelat yang baru.
Halamannya putih. Garis-garisnya biru muda. Belum ada apa-apa di sana.
Aku memegang pulpen di atas halaman pertama cukup lama.
Buku yang lama ada di Jakarta. Di tangan Kinan, lalu di tangan Shella, lalu entah di mana sekarang. Seratus delapan puluh tujuh hari. Setiap kehilangan dicatat dengan huruf kecil yang tegak dan presisi. Halaman terakhirnya hanya berisi satu kata.
Sudah.
Aku menulis di halaman pertama buku yang baru.
Hari ke-1.
Aku berhenti. Aku menatap angka itu.
Lalu aku menulis kelanjutannya. Dengan huruf yang kecil dan tegak, tapi tidak sepresisi dulu. Sedikit miring. Seperti tangan yang tidak lagi perlu menghitung beban.
Dia bilang mencintaiku.
Aku berhenti lagi.
Aku teringat halaman pertama buku yang lama. Warung kopi di ujung jalan bengkel Pak Gondo. Teh manis yang tidak ia suka. Mata yang menatapku dari seberang meja yang lengket.
Hari ke-1. Dia bilang memaafkanku. Matanya tidak.
Aku menulis dua kata terakhir.
Matanya juga.
Aku menutup buku itu dan memasukkannya ke saku celana.
Lalu aku duduk di tangga mess dan menatap langit, tanpa menghitung apa pun, sampai aku tertidur di sana. Bukan karena tidak bisa tidur di dalam.
Karena malam itu, untuk pertama kalinya, aku ingin melihat bintang.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga reading
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365