← Hukuman Kedua

Chapter Nineteen

Bab 19 — Beasiswa

POV: Shella

Yayasan Pendidikan Wijaya didirikan Ayah lima belas tahun lalu, dengan uang pertama yang ia dapat dari proyek besar pertamanya.

Aku masih ingat malam peresmiannya. Aku berumur sembilan tahun, memakai gaun pink dengan pita besar di pinggang, dan Ayah menggendongku ke panggung kecil di aula hotel. Ia memberikan pidato pendek. Aku tidak ingat semua kalimatnya. Aku hanya ingat satu.

Saya dulu anak tukang batu. Saya bisa sekolah karena ada orang baik yang bayarin. Sekarang giliran saya.

Setiap tahun, yayasan itu memberikan beasiswa kepada tiga puluh anak berprestasi dari keluarga tidak mampu. Kebanyakan anak-anak dari pekerja proyek Wijaya Konstruksi. Anak tukang. Anak mandor. Anak sopir truk.

Dan adik dari seorang insinyur muda, yang bapaknya tewas tertimpa beton di proyek jalan tol.

Pengurus yayasan sekarang adalah tiga orang. Mama sebagai ketua kehormatan yang tidak pernah datang rapat. Seorang pensiunan kepala sekolah bernama Bu Widya. Dan Pak Darmawan, direktur operasional Wijaya Konstruksi, yang duduk di seberangku di makan malam direksi dan bercerita tentang lamaran kerja yang ditolak di mana-mana.

Pak Hadi tidak perlu bicara dengan Bu Widya.

Ia hanya perlu bicara dengan Pak Darmawan. Tentang video yang viral. Tentang nama baik yayasan. Tentang bagaimana perasaan donatur-donatur lain kalau tahu yayasan milik almarhum Hendra Wijaya membiayai sekolah adik dari orang yang membunuhnya.

Pak Darmawan tidak butuh banyak meyakinkan.


Surat itu tiba di sekolah Kinan hari Senin.

Aku tidak melihatnya. Tapi aku tahu isinya, karena Pak Hadi mengirimiku salinannya Minggu malam, sebelum surat itu dikirim.

Berdasarkan hasil evaluasi berkala terhadap penerima beasiswa, dengan mempertimbangkan kriteria prestasi, karakter, dan nama baik, dengan berat hati kami sampaikan bahwa beasiswa atas nama Kinan Mahesa tidak dapat dilanjutkan, terhitung mulai semester berjalan.

Nama baik.

Kinan ranking satu sejak kelas sepuluh. Kinan juara olimpiade kimia. Kinan tidak pernah bolos, tidak pernah menyontek, tidak pernah melanggar aturan apa pun. Satu-satunya hal yang mencemari nama baiknya adalah nama kakaknya.

Aku membaca surat itu Minggu malam di tempat tidur, dan aku menunggu rasa puas itu datang.

Yang datang adalah suara Kinan di anak tangga besi kamar kos itu, dengan napas terengah dan tutup kardus di tangannya.

Makanya beasiswa Wijaya itu penting. Kalau beasiswanya putus, aku nggak bisa kuliah.

Aku mematikan lampu dan menarik selimut sampai ke dagu.


Senin pagi, aku bangun dengan demam.

Tiga puluh delapan koma sembilan. Tenggorokanku seperti diampelas, dan kepalaku berat seperti diisi pasir basah. Aku menelepon kepala ruangan dan izin sakit, lalu menelan paracetamol dan kembali ke tempat tidur.

Mama sedang di Singapura untuk pemeriksaan kesehatan rutin. Mbok Sum membuatkanku teh jahe dan bubur, lalu menyuruhku tidur.

Aku tidak bisa tidur. Aku berbaring menatap langit-langit, dengan lampu kristal yang berkilauan seperti es, dan aku memikirkan surat yang sedang dalam perjalanan ke sebuah SMA negeri di Jakarta Timur.

Pukul sepuluh, aku mengirim pesan pada laki-laki itu. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena demam membuat orang melakukan hal-hal bodoh.

Mas, aku demam. Nggak masuk hari ini.

Balasannya datang dalam waktu kurang dari satu menit.

Berapa?

38,9.

Udah minum obat?

Udah.

Udah makan?

Bubur sedikit.

Lalu jeda.

Lalu:

Aku ke sana. Jam satu.

Aku menatap pesan itu.

Mas, nggak usah. Rumahku jauh. Lagian Mas kan…

Aku berhenti mengetik. Lagian Mas kan tidak boleh datang ke rumahku. Ia tidak pernah datang ke rumahku. Ia tidak tahu alamatku. Aku tidak pernah memberitahunya. Bagaimana caranya laki-laki yang membunuh Ayah berdiri di depan rumah Ayah?

Aku tunggu di depan kompleks aja, balasnya, seolah membaca pikiranku. Nggak masuk. Kirim alamat kompleksnya.

Aku mengirimnya.


Ia datang pukul satu kurang lima.

Satpam kompleks meneleponku dari pos jaga. Mbak Shella, ada tamu. Laki-laki, naik motor. Katanya mau ngasih titipan. Namanya Arya. Suara satpam itu ragu-ragu. Aku tahu kenapa. Laki-laki dengan motor bebek tua yang knalpotnya batuk-batuk, di depan gerbang kompleks perumahan termahal di Jakarta Selatan.

“Saya ke sana, Pak,” kataku.

Aku memakai sweter tebal di atas piyama, dan berjalan ke pos jaga dengan sandal rumah, karena kepalaku terlalu berat untuk mencari sepatu.

Ia berdiri di samping motornya, di luar palang gerbang. Ia memakai jaket parasut hijau tentara dan helm yang sudah dilepas, dipegang di tangan kiri. Di tangan kanannya, ia memegang rantang. Rantang susun tiga dari aluminium, yang catnya sudah pudar dan gagangnya dililit karet ban dalam supaya tidak panas.

“Kamu kenapa keluar?” tanyanya begitu melihatku. Wajahnya berkerut. “Harusnya kamu di tempat tidur. Biar satpam yang ambil.”

“Nggak apa-apa, Mas.”

Ia menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sweter yang terlalu besar. Rambut yang kusut. Wajahku yang pucat dan bibir yang pecah-pecah. Ia menatapku dengan cara yang sama seperti di atap parkiran, saat ia mengira aku kenapa-kenapa. Mencari luka.

“Ini,” katanya, menyodorkan rantang itu melalui celah di samping palang gerbang. “Sup ayam. Jahe sama bawang putihnya banyak. Bagus buat tenggorokan.”

Aku menerima rantang itu. Hangat. Masih hangat, setelah perjalanan satu setengah jam dari Cipayung.

“Mas masak sendiri?”

“Iya.”

“Di kos? Kan nggak ada dapur.”

“Kompor di lantai.”

Aku membayangkannya. Laki-laki bertubuh besar berjongkok di lantai kamar tiga kali tiga meter, di pojok, di depan kompor dua tungku, memotong-motong jahe dan bawang putih untuk perempuan yang menghancurkan hidupnya.

“Yang paling atas sup,” lanjutnya. “Yang tengah nasi. Yang bawah jeruk, udah dikupas. Kamu harus banyak vitamin C.”

“Mas…”

“Makan selagi hangat. Minum obat tiap enam jam. Minum air yang banyak.” Ia berhenti, lalu menambahkan, hampir seperti bercanda, tapi wajahnya tidak bercanda. “Kamu dokter. Kamu tahu.”

Aku memeluk rantang itu di dada.

“Mas mau masuk dulu? Minum?”

“Nggak.” Ia memakai helmnya. “Kamu istirahat.”

Ia menyalakan motornya. Knalpotnya batuk. Satpam kompleks menatapnya dari pos jaga dengan wajah curiga.

Sebelum pergi, ia menoleh padaku sekali lagi, dari balik kaca helm yang sudah tergores.

“Kalau panasnya naik lewat tiga puluh sembilan setengah, ke IGD,” katanya. “Jangan ditahan.”

Lalu ia pergi.


Sup itu enak.

Kinan benar. Bener semua, tapi tegang. Setiap rasa ditakar dengan presisi. Jahenya cukup untuk menghangatkan tenggorokan tanpa membuatnya pedas. Bawang putihnya digoreng dulu sampai harum sebelum dimasukkan. Ayamnya dada ayam, dipotong kecil-kecil dan direbus sampai lunak.

Dada ayam.

Aku berhenti mengunyah.

Aku teringat lapak ayam di Pasar Kramat Jati. Kantong plastik yang dilempar ke genangan air becek. Ludah di samping sepatunya. Ia membeli dada ayam itu untuk Kinan, yang sedang persiapan ujian dan butuh protein.

Aku tidak tahu apakah ini dada ayam yang sama. Tidak mungkin. Itu sudah berminggu-minggu lalu. Ini pasti dada ayam yang baru, dibeli dengan uang yang tidak ia punya, dari seseorang yang mungkin tidak mengenali wajahnya.

Aku menghabiskan sup itu. Semuanya. Nasinya. Jeruknya.

Lalu aku tidur. Tidur yang dalam dan berat, tanpa mimpi, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu.


Aku terbangun pukul tujuh malam. Demamku sudah turun ke tiga puluh tujuh koma delapan.

Ponselku penuh notifikasi. Tiga pesan dari Mitha yang menanyakan keadaanku. Satu dari Mama yang mengirim foto makanan di Singapura. Satu dari laki-laki itu.

Udah makan? Panasnya gimana?

Dan satu pesan dari K, dikirim pukul empat sore.

Aku membukanya.

Kak. Beasiswaku dicabut.

Satu pesan lagi.

Suratnya dateng tadi pagi. Katanya karena nama baik. Kak Arya dipanggil ke sekolah jam sembilan. Dia yang terima suratnya.

Satu lagi.

Dia pulang, terus diem aja. Terus dia masak. Aku pikir buat aku. Ternyata dia bungkus di rantang terus pergi. Katanya Kakak sakit.

Aku membaca pesan itu tiga kali.

Jam sembilan pagi, ia menerima surat yang menghancurkan masa depan adiknya.

Jam sepuluh, aku mengirim pesan bahwa aku demam.

Jam sebelas, ia berjongkok di lantai kamar kos dan memotong jahe.

Jam satu, ia berdiri di depan gerbang kompleksku dengan rantang hangat, dan menyuruhku makan selagi hangat dan minum air yang banyak. Ia tidak mengatakan apa pun tentang surat itu. Tidak satu kata pun. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun.

Ia menyimpannya. Seperti ia menyimpan kertas A4 dari papan RT. Seperti ia menyimpan semuanya.

Pesan terakhir dari Kinan dikirim pukul enam sore.

Aku pindah ke rumah Dita. Orang tuanya bolehin. Aku nggak bisa tinggal sama Kak Arya lagi. Tiap liat dia aku inget semua ini gara-gara dia. Jangan bilang aku cerita. Dia pasti nggak cerita ke Kakak, kan? Dia nggak pernah cerita apa-apa ke siapa pun.


Aku duduk di tempat tidur dengan ponsel di tangan dan rantang aluminium kosong di meja samping.

Retakan itu datang tanpa izin.

Aku merasakannya. Seperti retak rambut di kolom beton yang dibuka bekistingnya terlalu cepat. Kecil. Hampir tidak terlihat. Tapi ada. Sesuatu di dadaku yang selama tiga tahun berdiri tegak dan keras, sekarang punya garis tipis yang membelahnya.

Bagaimana kalau aku salah?

Pertanyaan itu muncul, utuh, dalam satu kalimat. Untuk pertama kalinya, aku tidak memotongnya sebelum ia selesai.

Bagaimana kalau orang yang memasak sup ayam untuk perempuan yang baru saja mencabut beasiswa adiknya, tanpa tahu, tanpa bertanya, tanpa mengeluh, adalah orang yang tidak mungkin salah hitung tiga lantai beton sampai tiga orang mati?

Aku menatap pertanyaan itu di kepalaku.

Lalu aku bangkit dari tempat tidur. Kakiku masih lemas. Aku berjalan ke meja rias dan membuka laci paling atas, tempat aku menyimpan meteran pita kuningan milik Ayah.

Aku menariknya sepanjang lengan.

Semua yang berdiri itu ada hitungannya, Shel.

Aku teringat ruang sidang. Laki-laki itu berdiri di depan hakim dengan kemeja putih dan suara yang terdengar sampai ke barisan belakang. Saya mengakui, Yang Mulia. Saya salah menghitung beban struktur lantai dua dan tiga. Semua kesalahan ada pada saya.

Ia mengakuinya sendiri. Di bawah sumpah. Di depan hakim. Tidak ada yang memaksanya.

Orang tidak mengaku membunuh kalau ia tidak membunuh.

Kan?

Aku melepas pita meteran itu.

Crek.

Retakan itu masih ada. Tapi aku menekannya. Aku menekannya dengan seluruh tenaga yang tersisa di tubuhku yang demam, seperti menekan luka yang berdarah, sampai ia berhenti mengalir.

Itu cuma demam, kataku pada diriku sendiri. Demam membuat orang berpikir aneh.

Ayah sudah meninggal. Ayah ada di bawah beton yang ia hitung. Ia mengaku. Selesai.

Aku membalas pesan laki-laki itu.

Udah turun, Mas. 37,8. Supnya enak banget. Makasih.

Balasannya datang dalam waktu kurang dari satu menit.

Syukur. Istirahat.

Ia tidak menyebut surat itu. Tidak menyebut Kinan. Tidak menyebut apa pun.

Aku mematikan ponselku.

Di folder Proyek yang tidak kubuka malam itu, ada daftar yang kutulis di lounge hotel Senayan, berbulan-bulan lalu, dengan pulpen Pak Hadi dan tangan yang tidak gemetar.

1. Tempat tinggal. 2. Pekerjaan. 3. Nama baik. 4. Masa depan. 5. Adiknya. Apa pun yang dia sayangi.

Semuanya sudah dicoret.

Tidak ada lagi yang tersisa di daftar itu. Tidak ada lagi yang bisa diambil darinya.

Kecuali satu hal. Satu hal yang tidak pernah kutulis di daftar mana pun, karena sejak awal hal itu memang sudah milikku.