← Hukuman Kedua

Chapter Sixty

Bab 60 — Sudah?

POV: Shella

Mama ingin gedung.

Aku tahu Mama ingin gedung karena ia tidak mengatakannya. Ia hanya menyebutkan, sambil lalu, saat kami makan rendang di apartemen Kalibata dengan KRL yang lewat setiap lima belas menit, bahwa ballroom hotel tempat ia dan Ayah menikah dulu sekarang sudah direnovasi. Lalu ia diam, dan menunggu.

“Ma,” kataku.

“Mama cuma bilang.”

“Kami mau di masjid, Ma. Yang kecil. Di Cipayung.”

Mama meletakkan sendoknya. Bukan pisau. Sendok. Ia sudah lama tidak meletakkan pisau di piring dengan cara itu.

“Masjid yang mana?”

“Yang ada kotak amal hijaunya,” kataku.

Mama tidak tahu artinya. Mas Arya tahu. Ia duduk di sebelahku, menyendok rendang Mbok Sum untuk ketiga kalinya, dan berhenti mengunyah.

Malam itu, di pinggir jalan raya Kalibata, sambil menunggu ojek online, ia bertanya.

“Kotak amal itu,” katanya. “Yang kamu bilang di lahan bekas ruko. Tiga juta dua ratus lima puluh ribu. Dari kaleng Khong Guan.”

Aku membeku.

Aku memang mengatakannya. Malam itu, di depan bunga melati dan kertas kusut yang kulempar ke punggungnya, dengan suara yang sengaja kubuat setajam mungkin. Aku masukin ke kotak amal masjid. Semuanya. Aku cuma mau Pak Gondo liat Mas kayak maling.

Aku mengambilnya dari laci di bengkel Pak Gondo, di hari Sabtu saat ia memasang teralis di rumah Pak RW dan menyuruhku menjaga Presiden. Uang yang ia kumpulkan untuk cicilan Koh Ahong.

“Kamu inget,” kataku.

“Aku cuma nggak pernah tahu masjid yang mana,” katanya.

Ia menatap jalan raya. Lalu ia tersenyum sedikit.

“Ya udah,” katanya. “Di situ aja. Biar uangnya ada yang nemenin.”


Akadnya hari Minggu pagi, pukul delapan, di masjid kecil di pinggir jalan raya Cipayung.

Masjid itu tidak muat untuk semua orang. Itu yang pertama kali dikatakan marbotnya, Pak Endang, seorang laki-laki tua dengan peci yang miring, saat melihat dua bus elf dari Pelabuhanratu berhenti di depan masjidnya pukul tujuh kurang sepuluh.

Mak Ijah turun pertama, dengan kebaya ungu dan sandal jepit, membawa dua ekor kakap merah dalam kantong es. Bu Nengsih di belakangnya, dengan kerudung yang terlalu berkilau. Bu Atin. Asep, yang sudah lulus SMK dan memakai kemeja dengan lipatan setrika yang tajam seperti pisau. Tiga mandor dari proyek dermaga. Dua perawat dari puskesmas.

“Neng Dokter,” kata Mak Ijah, memelukku dengan bau laut dan bedak tabur. “Mak bawa kakap. Buat Si Diem. Biar kuat.”

“Mak, kakapnya buat apa…”

“Buat kuat,” ulang Mak Ijah dengan tegas, dan tidak menjelaskan lagi.

Bu Sarip datang dari Bekasi dengan Dodi dan dandang nasi uduk sebesar drum, yang ia masak sejak pukul dua pagi. Bu Waluyo dengan termos teh. Bu Imas dengan es kelapa dalam galon. Mbak Dewanti dengan kebaya biru dan map yang ia tidak sadar masih ia pegang. Cik Lani dari laundry, dengan selembar kain batik yang ia setrika sendiri untuk pengantin laki-laki, karena menurutnya kemeja abu-abu itu sudah ditambal terlalu banyak.

Mas Arya tidak memakai kemeja abu-abu. Untuk pertama kalinya.

Ia memakai beskap putih sederhana, sewaan dari Pasar Jatinegara, dengan peci hitam. Rambutnya dipotong kemarin oleh tukang cukur di gang hijau, yang menolak dibayar.

Aku melihatnya dari balik tirai pembatas di saf perempuan.

Dulu, di hari keempat, di makam Ayah, aku berpikir: kalau aku harus berpura-pura mencintai laki-laki ini, setidaknya ia tidak jelek. Aku berpikir itu dengan jijik. Seolah wajahnya adalah satu-satunya keringanan dalam hukuman yang kusiapkan untuk diriku sendiri.

Sekarang aku menatapnya duduk bersila di depan penghulu, dengan punggung tegak dan tangan di lutut dan telinga yang merah sampai ke leher, dan aku berpikir: aku tidak pernah melihat laki-laki setampan ini seumur hidupku.

Itu bukan gombal. Itu laporan.


Waliku wali hakim.

Ayah anak tunggal. Kakek sudah meninggal sebelum aku lahir. Tidak ada laki-laki dari garis Ayah yang tersisa untuk menyerahkanku.

Mama sempat menangis karena itu, seminggu sebelumnya. Bukan karena aturannya. Karena ia membayangkan Ayah. Duduk di depan penghulu dengan batik cokelat kesukaannya, menjabat tangan Mas Arya, dan menyerahkanku dengan suara yang bergetar.

“Ayahmu pasti nangis duluan,” kata Mama. “Sebelum ijab. Dia selalu nangis duluan. Waktu kamu wisuda SD aja dia nangis.”

Aku tahu. Aku ingat.

Pagi ini, sebelum akad, Mas Arya merogoh saku beskapnya dan meletakkan sesuatu di telapak tangan Pak Gondo, yang duduk di sebelahnya sebagai saksi.

Meteran pita kuningan. Milikku. Hadiah ulang tahun ketujuh belas. Yang kutitipkan padanya semalam.

“Pegangin, Pak,” katanya. “Selama ijab.”

Pak Gondo menatap benda kecil itu. Ia tidak bertanya kenapa. Ia hanya menggenggamnya di tangan kirinya yang besar dan berbintik luka bakar las, di atas lututnya. Seperti memegang tangan seseorang.

Penghulu menjabat tangan Mas Arya.

“Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Arya Mahesa bin Darmaji, dengan Shella Florentina Wijaya binti Hendra Wijaya, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan sebuah buku tulis, dibayar tunai.”

Sebuah buku tulis. Itu permintaanku. Penghulu sempat bertanya dua kali apakah ia tidak salah dengar.

“Saya terima nikah dan kawinnya Shella Florentina Wijaya binti Hendra Wijaya dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

Satu napas. Tidak tersendat. Tidak gemetar.

“Sah?”

“Sah,” kata Pak Gondo, dengan suara yang pecah di tengah. Ia sudah menangis sejak saya nikahkan.

“Sah,” kata saksi yang satunya. Dodi. Yang meminta sendiri untuk menjadi saksi, dan yang tangannya gemetar saat menandatangani buku nikah, dan yang menulis namanya dengan huruf yang sangat rapi, seperti tulisan di buku catatan kerja praktiknya.

Di saf perempuan, Mama memelukku dari samping. Mbok Sum memelukku dari sisi yang lain. Kinan, di depanku, tidak memeluk siapa pun. Ia hanya menunduk, melepas kacamatanya, dan mengelapnya dengan ujung kerudung, berulang kali, lebih lama dari yang diperlukan.

Mitha menangis dengan suara yang membuat marbot masjid menoleh.

Dan dari pelataran masjid, dari sangkar kecil yang digantung di paku bekas kalender di dekat rak sandal, Presiden berbunyi.

Sekali. Panjang.

“Nah,” kata Pak Gondo keras, sambil terisak. “Presiden setuju.”


Sebelum kami pulang, aku berhenti di teras masjid. Di samping rak sandal.

Kotak amal kayu bercat hijau dengan gembok kecil. Catnya sudah mengelupas di sudut-sudut. Gemboknya sudah diganti, lebih baru.

Aku membuka tas kecil di lenganku dan mengeluarkan sebuah amplop putih.

Tiga juta dua ratus lima puluh ribu rupiah. Dari gaji klinik Kramat Jati, yang kusisihkan tiga bulan.

Aku tidak memasukkannya untuk menebus. Aku sudah tidak percaya penebusan bekerja seperti itu. Uang yang dulu kucuri tidak bisa kukembalikan ke kaleng Khong Guan di laci bengkel, ke cicilan Koh Ahong yang sudah lunas, ke minggu-minggu ketika ia makan mi instan dua kali sehari karena uangnya hilang dan ia tidak bertanya ke mana.

Aku memasukkannya karena dulu aku berdiri di sini dengan tangan yang mencuri. Dan hari ini aku ingin berdiri di sini dengan tangan yang memberi.

Amplop itu masuk ke celah sempit di tutup kotak. Terdengar bunyi kertas yang jatuh di atas kertas.

Mas Arya berdiri di belakangku. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya memegang tanganku yang baru saja kosong.


Resepsinya di gang hijau.

Tenda biru disewa dari RT sebelah. Kursi plastik dipinjam dari tiga masjid. Riko yang memasang lampu-lampu kecil di sepanjang kabel listrik, di atas gang. Riko yang dulu menyiramkan air cucian ke kepalaku. Ia memanjat tiang listrik dengan tangga bambu dan memasang lampu sambil berteriak-teriak pada adiknya untuk memegang tangga dengan benar.

Lampu jalan di tengah gang menyala terang. Yang dulu kuganti bohlamnya bersama Riko.

Papan pengumuman RT di mulut gang masih ada. Kacanya buram. Kertas pudar dengan sudut yang ditambal selotip masih tertempel di sana. Suratku. Saya yang menyuruh orang menempelnya.

Bu Darsih bilang tidak ada yang mau mencabutnya. Katanya biar anak-anak gang belajar membaca dari situ.

Nasi uduk Bu Sarip habis dalam satu jam. Kakap Mak Ijah dibakar oleh Asep dan dua anak Riko di ujung gang, dengan asap yang membuat seluruh gang berbau laut. Bu Nengsih bercerita pada Mama soal ikan kerapu yang harus diam di karang, dan Mama, yang tidak pernah bicara dengan penjual ikan seumur hidupnya, mendengarkan dengan serius dan mengangguk-angguk.

Bu Sarip dan Mama duduk bersebelahan di dua kursi plastik di ujung tenda. Tidak banyak bicara. Bu Sarip menyuapkan nasi uduk ke piring Mama setiap kali piring itu kosong. Mama tidak menolak.

Dodi menghampiri Mas Arya saat acara hampir selesai, saat lampu-lampu kecil sudah lebih terang dari langit.

“Bang,” katanya.

Bukan Pak. Bukan Pak Insinyur.

Mas Arya menatapnya.

“Selamat, Bang,” kata Dodi. Ia menjabat tangan Mas Arya. Lalu ia menarik tangan itu dan memeluknya. Lebih tidak canggung dari di bawah tenda proyek. “Ibu bilang, mulai bulan depan, nggak usah transfer lagi.”

“Dod…”

“Ibu bilang, dia udah punya istri. Uangnya buat istrinya.” Dodi tersenyum. Matanya merah. “Ibu bilang, kalau masih transfer juga, Ibu bakal ke bengkelnya bawa ulekan.”

Mas Arya tertawa. Lalu ia menutup matanya.

Tiga tahun. Tanggal sepuluh. Pukul sepuluh pagi.

“Iya,” katanya. “Bilang Ibu, iya.”


Rumah kami kontrakan dua kamar di belakang bengkel Las Gondo.

Kinan sudah pindah ke kos di Depok, dekat kampus, tiga minggu lalu, dengan dua kardus buku dan satu poster tabel periodik yang ia pasang miring di dinding dan menolak memperbaikinya. Rumah petak di ujung gang hijau masih atas namanya. Ia bilang ia akan pulang setiap Sabtu. Atau setiap Kakak masak rendang. Mana yang duluan.

Kontrakan itu kecil. Dapur sempit. Kamar mandi dengan pintu yang harus diangkat sedikit supaya bisa ditutup. Kamar tidur dengan satu jendela menghadap ke tembok bengkel, dan sprei biru muda yang dibelikan Mitha dengan pesan JANGAN DIPAKAI BUAT YANG ANEH-ANEH, ITU SPREI MAHAL, yang tidak masuk akal sama sekali.

Pukul sepuluh malam, semua tamu sudah pulang. Bus elf sudah kembali ke Pelabuhanratu. Pak Gondo sudah membawa Presiden pulang ke Ciawi, untuk pertama kalinya dalam setahun. Ia bilang Presiden butuh bulan madu juga.

Aku duduk di tepi tempat tidur dengan kebaya yang sudah kuganti dengan daster batik.

Mas Arya berdiri di ambang pintu kamar dengan kaus putih dan sarung. Rambutnya masih basah. Ia baru selesai mandi.

Ia tidak masuk.

Ia hanya berdiri di sana, dan menatapku.

Dan aku mulai bicara.


Aku bicara soal penghulu yang bertanya dua kali soal buku tulis. Soal Mak Ijah yang bersikeras kakap itu buat kuat dan tidak mau menjelaskan kuat untuk apa. Soal Bu Nengsih yang menurutku sudah menceritakan metafora kerapu yang sama pada empat orang berbeda. Soal pintu kamar mandi yang harus diangkat. Soal sprei Mitha.

Aku bicara soal fakta medis. Soal bagaimana adrenalin bekerja pada orang gugup, peningkatan denyut jantung, vasokonstriksi perifer, kenapa tanganku dingin padahal kamarnya panas. Soal kenapa dokter seharusnya tidak gugup karena dokter tahu persis apa yang terjadi di dalam tubuhnya, dan kenapa itu sama sekali tidak membantu.

Aku bicara soal Ayah. Soal Ayah yang selalu nangis duluan. Soal bagaimana aku sempat mencari wajahnya di saf laki-laki tadi pagi, sebentar, sebelum ingat.

Aku bicara soal dinding hijau muda. Soal ludah. Soal hari ke-187. Soal hari keempat, di makam, waktu aku menangis sungguhan dan ia memberiku sapu tangan dan aku membencinya karena ia baik.

Aku bicara sampai suaraku serak. Mungkin sepuluh menit. Mungkin lebih.

Mas Arya tidak menyela sekali pun.

Ia bersandar di ambang pintu. Ia tidak mengangguk-angguk. Ia tidak berkata sudah, jangan dipikirin atau namanya juga gugup. Ia hanya menatapku dengan perhatian yang tenang, menunggu.

Seperti dulu. Di bengkel. Di tumpukan besi, dengan gelas kopi manis yang tidak ia suka.

Akhirnya aku kehabisan napas. Aku berhenti, terengah, dan menatap tanganku sendiri di pangkuan. Cincin emas kuning di jari manis kiri.

Hening sebentar.

Lalu ia bertanya pelan.

“Sudah?”

Aku mengangkat wajah.

Nadanya sama. Persis sama. Lembut. Hati-hati. Seolah ia sedang memeriksa apakah masih ada yang tersisa di dalam diriku yang perlu dikeluarkan, dan ia bersedia menunggu kalau masih ada.

Dulu, di bengkel, aku menjawab belum, dengan ketus. Karena aku sedang berbohong, dan aku butuh lebih banyak waktu untuk berbohong.

Aku menatapnya. Laki-laki di ambang pintu kamar kontrakan dua kamar, dengan rambut basah dan cincin ayahku yang berputar longgar di jari manisnya. Yang tahu sejak hari pertama. Yang menunggu sampai hari ini.

“Sudah,” kataku.

Dan untuk pertama kalinya, itu bukan pertanyaan, dan bukan pisau, dan bukan jalan keluar.

Itu jawaban.

Mas Arya tersenyum.

Senyum yang pelan, yang mulai di matanya lebih dulu, lalu turun ke sudut bibirnya. Senyum yang tidak menunggu pisau.

Ia masuk ke kamar. Ia menutup pintu di belakangnya. Pintunya tidak perlu diangkat.

Ia berlutut di depanku, di lantai, di samping tempat tidur, dan memegang kedua tanganku yang dingin.

“Tangan kamu dingin,” katanya.

“Vasokonstriksi perifer,” kataku.

“Aku tahu,” katanya. “Kamu udah jelasin.”

Ia mengangkat tanganku ke bibirnya. Telapak tangan kanan. Lalu yang kiri.

Lalu ia mengangkat wajahnya padaku.

“Boleh?” tanyanya.

Aku menyentuh wajahnya. Rahangnya, yang baru dicukur tadi pagi oleh tukang cukur di gang hijau. Pipinya, tempat dulu aku meludah.

“Boleh,” kataku.

Lampu kamar dimatikan.

Dari balik tembok, bengkel Las Gondo sunyi. Tidak ada gerinda. Tidak ada kompresor. Tidak ada burung perkutut.

Hanya kami.


Subuh, aku terbangun karena bunyi pulpen.

Mas Arya duduk di lantai, bersandar di tempat tidur, dengan sarung dan kaus putih yang terbalik. Buku cokelat yang ketiga terbuka di lututnya.

Ia menulis di bawah satu baris yang sudah ada. Hari ke-1:

Aku tidak mengintip. Aku menunggu sampai ia selesai, menutup bukunya, dan meletakkannya di sebelah bantalku.

Lalu, saat ia ke dapur untuk merebus air, aku membukanya.

Hari ke-1: Dia bilang sudah.

Aku juga.

Aku mengambil pulpen yang ia tinggalkan. Aku menulis di bawahnya, dengan tulisan yang tidak perlu berusaha tegak lagi.

Hari ke-1: Dia bikin kopi. Tanpa gula. Aku nggak perlu ngecek.

Dari dapur, aku mendengar air mendidih, dan sendok yang beradu dengan gelas.

Hanya sekali. Karena tidak ada gula yang perlu diaduk.