Chapter Fifty Three
Bab 53 — Pulang
POV: Shella
Putusan peninjauan kembali itu keluar empat bulan kemudian, pada hari Selasa, pukul sepuluh pagi.
Aku sedang memeriksa kakek yang datang setiap hari untuk diukur tensinya. Seratus tiga puluh per delapan puluh lima. Membaik. Ia sudah minum obatnya dengan teratur sejak bulan lalu, katanya, karena dokter yang tidak kabur bilang begitu.
Ponselku bergetar di saku jas putih.
Mbak Dewanti.
Aku tidak mengangkatnya. Aku sedang memeriksa pasien. Aku memberikan permen jahe pada kakek itu. Ia memasukkannya ke saku kemeja dengan wajah puas.
Ponselku bergetar lagi. Dan lagi. Tiga kali.
Bu Nengsih, di meja sebelah, mengangkat wajahnya dari buku register.
“Angkat, Dok,” katanya. “Kalau orang telepon tiga kali, itu bukan mau nawarin asuransi.”
Aku mengangkatnya.
“Mbak Shella.” Suara Mbak Dewanti terdengar aneh. Lebih tinggi dari biasanya. Seperti suara seseorang yang sudah dua puluh tahun bekerja di kantor bantuan hukum di atas toko fotokopi, dan baru pertama kali mendengar kabar yang ia tunggu sejak hari pertama. “Dikabulkan.”
Aku tidak bisa bicara.
“Mahkamah Agung mengabulkan permohonan peninjauan kembali. Putusan pengadilan negeri dibatalkan. Saudara Arya Mahesa dinyatakan tidak terbukti bersalah. Dipulihkan hak, kedudukan, harkat, dan martabatnya.” Mbak Dewanti menarik napas. “Rehabilitasi penuh, Mbak.”
Tanganku gemetar di sekitar ponsel.
“Dia udah tahu, Mbak?”
“Saya belum bisa hubungi dia. Nomornya sibuk terus. Saya pikir Mbak…”
Aku sudah berdiri.
Aku tidak ingat melepas jas putihku. Aku tidak ingat keluar dari puskesmas. Aku hanya tahu bahwa Bu Nengsih berteriak sesuatu di belakangku, sesuatu tentang pasien masih antre, Dok, lalu berteriak lagi, ya udah, pergi, saya tanganin.
Aku berlari di jalan utama. Melewati warung Mak Ijah. Mak Ijah sedang menggoreng bakwan dan menoleh dengan spatula di tangan.
“Neng! Kenapa?!”
Aku tidak menjawab. Aku terus berlari.
Gerbang proyek. Papan biru dengan tulisan putih. Lahan luas di pinggir laut yang dipagari seng, dengan tiang-tiang pancang beton yang berbaris menjorok ke laut.
Aku berhenti di gerbang. Napasku terengah.
Aku mencarinya di antara para pekerja. Punggung. Bahu. Cara berjalan.
Ia tidak sedang memanggul semen.
Ia duduk di atas tumpukan karung semen di pinggir lahan, di bawah bayangan gudang material. Ponsel murah di tangannya. Ia menatap layar ponsel itu. Tidak bergerak.
Di sampingnya, mandor berdiri dengan wajah bingung. Asep berdiri di belakangnya, membaca layar ponsel itu dari balik bahunya, dengan mulut terbuka.
Asep yang pertama melihatku.
“DOK!” Ia berteriak begitu keras sampai pekerja-pekerja lain berhenti bekerja dan menoleh. “DOK! BANG DIEM! BANG DIEM BUKAN PEMBUNUH! MAHKAMAH AGUNG BILANG!”
Seluruh proyek berhenti.
Mesin molen berhenti berputar. Gerinda berhenti menjerit. Puluhan pekerja dengan kaus lusuh dan topi caping menoleh ke arah tumpukan karung semen.
Arya mengangkat wajah dari ponselnya.
Ia melihatku di gerbang.
Ia tidak berdiri. Ia tidak berlari ke arahku. Ia tidak tersenyum atau menangis atau berteriak.
Ia hanya duduk di atas tumpukan karung semen itu, dengan ponsel di tangan, dan menatapku dari seberang lahan proyek.
Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Melewati gunungan pasir dan ikatan besi tulangan. Para pekerja membuka jalan, menatapku, berbisik-bisik.
Aku berhenti di depannya.
“Mbak Dewanti telepon,” kataku. “Nomormu sibuk.”
“Dimas yang telepon,” katanya. Suaranya datar. Sangat datar. Seperti orang yang belum tahu harus merasakan apa. “Dari asosiasi. Dia baca di sistem duluan. Dia teriak di telepon.”
Ia menatap layar ponselnya lagi.
“Dipulihkan hak, kedudukan, harkat, dan martabatnya,” bacanya pelan. “Dimas kirim fotonya.”
Ia mengangkat wajah dan menatapku.
“Harkat,” katanya. “Aku nggak tahu artinya apa.”
Aku berlutut di depannya. Di atas tanah proyek yang berdebu.
“Artinya kamu nggak salah,” kataku.
Ia menatapku lama.
Lalu, pelan, ia meletakkan ponsel itu di atas karung semen di sampingnya. Ia menunduk. Ia menatap kedua tangannya di atas lutut. Telapak kiri. Dua bekas luka. Satu dari las, satu dari jahitanku.
Bahunya bergetar.
Hanya sedikit. Hanya sebentar.
Mandor, laki-laki kurus berkacamata hitam yang dulu memakinya karena berani mengajari mandor, maju selangkah. Ia melepas kacamata hitamnya. Ia mengulurkan tangannya.
“Pak Insinyur,” katanya.
Arya mengangkat wajah.
Mandor itu tidak menarik tangannya. Ia menunggu.
Arya menatap tangan itu. Lalu ia mengulurkan tangannya sendiri, tangan kiri dengan dua bekas luka, dan menjabatnya.
Di belakang mereka, Asep mulai bertepuk tangan. Sendirian. Keras. Lalu seorang pekerja lain ikut bertepuk tangan. Lalu yang lain. Lalu seluruh proyek.
Puluhan kuli dengan kaus lusuh dan topi caping, berdiri di antara gunungan pasir dan ikatan besi, bertepuk tangan di bawah matahari pesisir.
Untuk Si Diem.
Arya tidak tahu harus melakukan apa dengan wajahnya. Ia menunduk lagi.
Aku tetap berlutut di depannya, di atas tanah berdebu. Aku tidak menyentuhnya.
Ia yang mengulurkan tangannya padaku. Tangan kanan. Telapak terbuka. Di udara di antara kami.
Aku menatap tangan itu.
Aku meletakkan tanganku di atasnya.
Ia menggenggamnya.
Internsipku berakhir enam minggu kemudian.
Satu tahun. Tiga ratus enam puluh lima hari di puskesmas hijau-putih tiga ratus meter dari pantai. Tiga belas ribu lebih pasien, kata Bu Nengsih, yang menghitungnya dari buku register untuk laporan ke Dinas.
“Paling banyak dari semua dokter internsip yang pernah di sini,” katanya, sambil menyerahkan laporan itu padaku. “Dua kali lipat yang kedua.”
“Makasih, Bu.”
“Bukan pujian,” kata Bu Nengsih. “Laporan. Fakta.”
Hari terakhirku, Bu Nengsih membawa kotak bekal berisi tongkol balado. Dua kotak. Satu untukku, satu lagi yang ia sodorkan pada Arya, yang datang menjemputku pukul empat sore dengan ransel di bahu.
“Buat di jalan,” kata Bu Nengsih. “Kalian berdua kurus. Pasien jadi kasihan liat kalian.”
Arya menerima kotak itu.
“Makasih, Bu.”
Bu Nengsih menatapnya lama dari balik kacamata yang tergantung di rantai manik-manik.
“Kamu tahu ikan kerapu?” tanyanya.
Arya menatapku. Aku menahan tawa.
“Tahu, Bu.”
“Kerapu yang pernah kena kail,” kata Bu Nengsih, “nggak pernah balik ke batu yang sama. Dia cari batu lain. Lebih dalem.”
“Iya, Bu.”
“Tapi kadang,” lanjut Bu Nengsih, dan untuk pertama kalinya selama setahun aku mengenalnya, suaranya bergetar, “kadang ada kerapu yang keluar dari batunya. Pelan-pelan. Liat siapa yang nunggu di perahu. Terus berenang ke sana.”
Ia menepuk lengan Arya dua kali. Keras.
“Jangan balik ke batu,” katanya. “Perahunya udah nunggu setahun.”
Mak Ijah menangis lebih keras dari Bu Nengsih.
Ia menangis sambil menggoreng bakwan, sambil membungkus nasi uduk, sambil memukul lengan Arya dengan spatula.
“Kamu! Kamu bikin Mak makan nasi uduk tiga bulan! Terus kamu makan sendiri! Terus kamu pergi! Terus Mak makan apa?!”
“Mak masak sendiri,” kata Arya.
“MAK MALES!”
Ia memeluk Arya. Lalu memelukku. Lalu memeluk Asep, yang datang terlambat dengan kemeja batik pinjaman yang sama dengan hari ulang tahun itu.
“Bang Diem,” kata Asep, matanya merah. “Bang Diem jangan lupa sama saya.”
“Nggak lupa, Sep.”
“Bang Diem kalau jadi insinyur lagi, terus bangun jembatan, ajak saya jadi kuli.”
Arya menatapnya lama.
“Kamu jadi mandor,” katanya.
Asep membeku.
“Saya kasih tahu cara liat retak,” kata Arya. “Nanti. Kalau ada proyek.”
Asep menangis seperti anak kecil di depan warung Mak Ijah.
Bu Atin tidak menangis. Ia hanya berdiri di teras rumahnya dengan gembor plastik di tangan dan menatap koperku yang sudah dikemas.
“Dokter tahan,” katanya. “Setahun.”
“Tahan, Bu.”
“Dokter internsip yang sebelumnya kabur dua bulan.”
“Saya tahu, Bu.”
Bu Atin menatap Arya yang berdiri di belakangku dengan ransel di bahu dan dua kotak tongkol balado di tangan.
“Surat yang ditulis sembilan kali,” katanya padaku pelan, “akhirnya dibaca?”
“Dibaca, Bu.”
“Satu kalimat?”
Aku memikirkannya. Empat halaman. Sembilan malam. Ia membacanya sampai senter Asep mati.
Dan jawabannya hanya dua kata. Di dermaga. Aku juga.
“Satu kalimat, Bu,” kataku.
Bu Atin tersenyum kecil, lalu kembali menyiram tanaman.
Kami naik travel yang sama ke Jakarta.
Kursi paling belakang. Ia di dekat jendela. Aku di sampingnya.
Travel itu berangkat dari terminal Pelabuhanratu pukul lima sore. Saat kami melewati jalan pantai, aku menoleh ke jendela, melewati bahunya, dan melihat dermaga lama di kejauhan. Tiang-tiang kayu yang miring. Ujungnya yang menjorok ke laut abu-abu kebiruan.
Ia juga menatapnya.
“Aku nemu dermaga ini,” katanya pelan. Mengulang kalimatnya sendiri di ruang observasi.
“Aku tahu,” kataku.
Dermaga itu menghilang di balik bukit.
Ia pulang ke rumah petak paling ujung di gang hijau. Rumah Kinan sekarang, atas nama Kinan, dengan dinding hijau muda yang dicat ulang dan lampu jalan yang tidak berkedip di tengah gang.
Kinan sudah menunggu di teras dengan Dita dan semangkuk mi instan yang sudah dingin.
Ia tidak memukul lengan kakaknya kali ini. Ia hanya memeluknya. Lama. Tanpa berkata apa-apa.
Lalu ia menatapku dari balik bahu kakaknya.
“Kakak tinggal di mana?” tanyanya.
“Kos. Deket rumah sakit. Aku diterima kerja di klinik di Kramat Jati.”
Kinan menatapku. Lalu menatap rumah petak di belakangnya.
Ia tidak berkata apa-apa lagi. Tapi ia menggeser badannya sedikit dari ambang pintu, seperti di hari pertama aku membawa bolu pandan. Membuka jalan.
“Masuk,” katanya. “Tapi aku masih nilai.”
Tiga minggu kemudian, asosiasi menjadwalkan wawancara sertifikasi ulang.
Dimas yang mengabarkannya, lewat telepon, dengan suara yang terlalu bersemangat untuk seorang insinyur berusia tiga puluh tahun. Tanpa menunggu dua tahun. Dengan rekomendasi yang tidak pernah ia tarik. Dengan kajian kolom retak proyek Pak Rusdi sebagai laporan teknis, kali ini dengan lampiran hitungan lapangan yang asli.
Dua puluh tiga lembar. Tulisan pensil. Noda debu semen di pojok.
Ia belajar di teras rumah petak setiap malam. Laptop tua yang tombol E-nya ditekan dengan ujung pulpen. Kalkulator ilmiah yang layarnya buram. Kotak kayu tipis berisi alat gambar dengan dua rapido yang bisa dipakai dan satu yang patah.
Aku datang setiap malam setelah klinik tutup.
Malam pertama, aku duduk di kursi plastik di sebelahnya dengan buku jurnal kedokteran. Aku sedang mempersiapkan pendaftaran program spesialis, tahun depan.
Ia menatapku dari atas laptopnya.
“Masih mau nyuruh aku belajar sampai jam dua pagi?” tanyanya.
Aku membeku.
Restoran cepat saji dua puluh empat jam. Saus tomat di atas nampan plastik. Flashdisk yang kuformat pukul empat pagi.
Aku menatapnya. Ia tidak bercanda. Tapi ia juga tidak menuduh. Matanya tenang, dengan sesuatu di sudutnya yang hampir seperti senyum.
“Kali ini,” katanya pelan, “temenin beneran.”
Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.
“Beneran,” kataku akhirnya. Suaraku pecah sedikit. “Sampai jam berapa pun.”
Ia kembali ke laptopnya. Menekan huruf E dengan ujung pulpen.
Aku membuka jurnalku.
Kami belajar sampai jam dua pagi. Di teras rumah petak di ujung gang hijau, di bawah lampu jalan yang tidak berkedip. Kinan tertidur di dalam dengan buku soal kimia di dadanya. Seekor kucing kampung lewat dan duduk di dekat kakiku.
Pukul dua lewat sepuluh, ia menutup laptopnya.
“Udah malam,” katanya.
Kalimat yang sama. Bengkel Pak Gondo. Jam sepuluh malam. Topeng las yang diangkat.
Dulu aku menjawab, sebentar lagi.
“Iya,” kataku. “Aku pulang, Mas.”
Ia membeku.
Aku juga membeku. Kata itu keluar sebelum aku memutuskannya. Kata yang sudah setahun tidak kuucapkan. Kata yang dulu kupakai sebagai pisau. Mas Arya, dengan suara manis yang dilatih di depan cermin.
Aku menunggunya mundur.
Ia tidak mundur. Ia menatapku lama dari kursi plastiknya.
“Kamu nggak pernah manggil aku gitu lagi,” katanya pelan. “Sejak Jakarta.”
“Kata itu dulu pisau,” kataku.
Ia diam.
Lalu ia berkata sesuatu yang membuatku tidak bisa bernapas.
“Pakai lagi,” katanya. “Biar badanku inget yang baru.”
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang reading
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365