← Hukuman Kedua

Chapter Forty Six

Bab 46 — Kopinya Pas

POV: Arya

Sembilan jahitan.

Aku menghitungnya setiap pagi, di tangga mess, setelah salat subuh, sebelum langit terang. Aku membuka perban sedikit di ujungnya dan melihat benang-benang nilon hitam itu. Kecil-kecil. Jaraknya sama. Simpulnya rapi, semuanya miring ke arah yang sama, seperti barisan tukang yang berbaris menunggu dipanggil mandor.

Jahitan yang bagus. Lebih bagus dari jahitan dokter di IGD rumah sakit umum dulu, saat Bapak membawaku dengan pelipis robek karena jatuh dari sepeda, umur sembilan tahun.

Dibuat oleh tangan yang gemetar.

Aku tidak mengerti bagaimana tangan yang gemetar bisa membuat jahitan serapi itu. Aku memikirkannya berhari-hari. Mungkin tangannya sudah terlatih. Mungkin tubuhnya tahu cara melakukannya meski kepalanya tidak bisa berhenti berpikir.

Aku tahu soal itu. Tubuhku juga tahu cara melakukan banyak hal meski kepalaku sudah lama berhenti.


Aku harus mengganti perban dua hari sekali di puskesmas.

Aku tidak mau. Aku bilang pada Asep aku bisa menggantinya sendiri. Asep bilang, Bang, Abang ganti sendiri pakai satu tangan, nanti kena kotoran, terus infeksi, terus tangan Abang diamputasi, terus Abang nggak bisa ngangkat semen, terus Abang dipecat, terus Abang jadi pengemis di depan masjid. Ia mengatakannya dalam satu tarikan napas.

Aku pergi ke puskesmas.

Ia selalu ada di ruang tindakan setiap kali aku datang. Pukul enam sore, setelah sirene proyek. Aku tidak tahu bagaimana ia tahu jam berapa aku akan datang. Mungkin Mak Ijah. Mungkin Asep. Mungkin ia hanya menunggu.

Setiap kali, sebelum menyentuh tanganku, ia bertanya.

“Boleh?”

Setiap kali. Tidak pernah lupa. Tidak pernah melewatkannya, meski aku sudah datang empat kali dan ia sudah tahu jawabannya.

“Boleh,” kataku. Setiap kali.

Lalu ia membuka perban itu pelan-pelan, membersihkan lukanya, memeriksa tepinya, menutupnya kembali dengan kasa baru. Tangannya masih gemetar sedikit. Kurang dari malam itu. Tapi masih.

Ia tidak bicara selama mengganti perban. Aku juga tidak.

Hari kesepuluh, ia melepas jahitannya.

Gunting kecil. Pinset. Ia memotong setiap simpul dan menarik benangnya keluar, satu per satu. Sembilan kali. Rasanya seperti cubitan kecil, lalu tidak ada apa-apa.

Yang tersisa adalah garis merah muda yang panjang, melintang di telapak tangan kiriku, dari pangkal jempol sampai pergelangan. Dengan titik-titik kecil di kedua sisinya, bekas tusukan jarum.

Ia menatap garis itu lama.

“Bekasnya bakal ada,” katanya. “Nggak bakal ilang sepenuhnya.”

“Nggak apa-apa.”

Ia mengangkat wajahnya dan menatapku.

“Aku tahu kamu bakal bilang itu,” katanya.

Aku tidak menjawab.

Ia menunduk lagi ke tanganku. Ke garis merah muda yang baru, di samping bekas luka bakar yang bulat dan lama.

“Dua bekas,” katanya pelan. Lebih pada dirinya sendiri daripada padaku. “Satu dari las. Satu dari aku.”

“Bukan dari kamu. Dari seng.”

“Jahitannya dari aku.”

Aku menatap garis itu.

Ia benar. Bekas ini akan ada di tanganku seumur hidup. Setiap kali aku memegang alat las, setiap kali aku memanggul semen, setiap kali aku membuka telapak tangan untuk menerima kembalian di warung, garis ini akan ada di sana.

Dari tangannya. Yang gemetar.


Kinan datang setiap Sabtu.

Aku menjemputnya di terminal pukul sepuluh pagi. Ia turun dari travel dengan tas ransel penuh buku dan wajah yang masih belum memaafkanku sepenuhnya, dan memelukku dengan kasar di depan kernet-kernet yang berteriak, lalu memukul lenganku.

“Itu buat Kakak pergi nggak bilang-bilang,” katanya, Sabtu pertama.

Sabtu kedua, ia memukul lenganku lagi.

“Itu buat Kakak tidur di lantai dua bulan nggak bilang-bilang.”

Sabtu ketiga.

“Itu buat Kakak tahu nilaiku dari orang lain, bukan dari aku.”

Aku tidak membalas. Aku membiarkannya memukul. Pukulannya tidak sakit. Pukulannya hampir seperti pelukan.

Kami belajar di warung Mak Ijah. Fisika, kimia, matematika. Kinan mengeluh tentang soal-soal yang terlalu sulit, tentang guru les yang mengajarkan rumus tanpa menjelaskan kenapa. Aku menjelaskan kenapa. Dengan apa pun yang ada di meja.

Momentum dengan dua butir kacang goreng yang ditabrakkan. Gaya sentripetal dengan gelas kopi yang diputar di atas piring. Hukum Hooke dengan karet gelang dari bungkus nasi.

Hidrostatika dengan saus sambal di piring.

“Kakak tahu nggak,” kata Kinan, sambil menatap saus sambal yang kugambar menjadi diagram tekanan, “ada yang pernah ngajarin aliran darah pakai saus tomat juga.”

Aku berhenti.

“Kak Shella cerita,” lanjut Kinan, tanpa menatapku. “Ke Kak Mitha. Kak Mitha cerita ke aku. Katanya dulu Kakak ngajarin dia farmakologi pakai saus tomat di restoran cepat saji jam satu pagi. Terus dia ketawa sampai kasirnya noleh.”

Aku tidak menjawab.

Kinan menatap diagram saus sambal itu.

“Kakak masih sama,” katanya pelan. “Ngajarin orang pakai saus.”


Sabtu ketiga, saat aku mengantar Kinan kembali ke terminal, ia berhenti di depan travel yang sudah menyala mesinnya.

“Kak.”

“Hm.”

“Kak Shella ngecat rumah kita.”

Aku menatapnya.

“Rumah petak yang paling ujung. Yang dulu.” Kinan memegang tali tasnya dengan kedua tangan. “Ada tulisan di dindingnya. Pakai cat semprot merah. Gede-gede. Pembunuh. Ditulis waktu Kakak udah pergi.”

Aku tidak tahu itu. Aku tidak pernah kembali ke sana.

“Dia ngapus sendiri,” kata Kinan. “Empat minggu. Tiap Sabtu sama Minggu. Pakai amplas.” Ia menatapku. “Nomor dua ratus, empat ratus, delapan ratus.”

Aku diam.

“Itu nomor yang Kakak pakai buat mejaku,” kata Kinan. “Dia tahu. Aku yang cerita ke dia. Waktu aku marah-marah di gerbang sekolah.”

Kernet travel berteriak. Jakarta! Jakarta! Terakhir!

“Terus dia ganti lampu jalan,” kata Kinan cepat. “Yang di tengah gang. Yang Kakak ganti tiga kali. Udah mati sejak Kakak pergi. Pak RT nggak mau ganti. Dia ganti sendiri. Naik tangga. Riko yang pegangin. Riko anaknya Bu Sumi, yang dulu…”

“Aku tahu Riko.”

“Riko dulu nyiram Kak Shella pakai air cucian.”

Aku menatap adikku.

“Kak Shella nggak bilang,” kata Kinan. “Aku tahu dari Dita. Dita tahu dari ibunya. Satu gang tahu.” Kinan menarik napas. “Kak Shella nggak pernah bilang apa-apa soal itu. Ke siapa pun. Dia cuma dateng, ngamplas, pulang.”

Kernet berteriak lagi.

Kinan memelukku. Kali ini tidak kasar. Kali ini tidak ada pukulan.

“Aku belum maafin dia,” bisiknya di bahuku. “Tapi aku liat dia ngamplas, Kak. Sebulan. Tangannya diplester semua.”

Ia naik ke travel. Pintunya tertutup. Travel itu pergi.

Aku berdiri di terminal sampai travel itu hilang di tikungan.


Hari Senin, aku makan nasi uduk.

Mak Ijah mencegatku di mulut gang kebun kelapa seperti biasa. Bungkusan nasi uduk di tangannya. Daun pisang yang dilipat rapi. Karet gelang hijau.

“Diem! Udah dibayar!”

Aku berhenti.

Aku menatap bungkusan itu.

Lalu aku mengambilnya.

Mak Ijah membeku. Tangannya masih terulur di udara, kosong, seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang ia pegang selama tiga bulan.

“Makasih, Mak,” kataku.

Aku membuka bungkusan itu di tempat. Berdiri. Di mulut gang. Nasi uduk yang masih hangat. Telur balado. Tempe orek.

Aku memakannya.

Mak Ijah menatapku makan dengan mulut terbuka. Lalu wajahnya berubah. Dari kaget, ke senang, ke sesuatu yang mirip panik.

“Terus Mak makan apa?!”

Aku berhenti mengunyah.

“Tiga bulan Mak makan nasi uduk ini tiap pagi!” Mak Ijah menunjuk bungkusan di tanganku dengan tatapan seorang perempuan yang dirampok. “Mak udah biasa! Perut Mak udah nyetel! Sekarang kamu makan, Mak makan apa?!”

“Mak masak sendiri.”

“Mak males!”

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, sesuatu bergerak di wajahku. Sudut bibirku. Sedikit. Ke atas.

Mak Ijah melihatnya.

Ia berhenti mengomel. Ia menatap wajahku seolah ia baru saja melihat ikan terbang.

“Kamu senyum,” katanya pelan.

Aku menunduk ke nasi uduk.

“Kamu senyum, Diem,” ulang Mak Ijah. Matanya tiba-tiba basah. “Ya Allah. Semen di proyek beneran kering duluan kayaknya.”

Di proyek, Asep melihatku masuk gerbang dengan sisa daun pisang di tangan.

“Bang,” katanya, berhenti mendorong gerobak pasir. “Bang Diem makan?”

“Makan.”

“Pagi-pagi?”

“Iya.”

Asep meletakkan gerobaknya. Ia menatapku dari atas sampai bawah, seperti mandor yang memeriksa tiang pancang yang tiba-tiba berdiri miring.

“Bang Diem sakit?”

“Nggak.”

“Bang Diem mau mati?”

“Sep.”

“Soalnya di film-film, Bang, orang yang tiba-tiba berubah itu biasanya mau mati.” Asep mengangkat gerobaknya lagi, lalu berhenti. “Atau jatuh cinta.”

Aku mengambil karung semen pertama dan memanggulnya tanpa menjawab.

Di belakangku, Asep tertawa keras sampai mandor berteriak menyuruhnya kerja.


Sore itu, setelah sirene, aku pergi ke ujung dermaga lama.

Ia sudah ada di sana. Duduk di tiang kayu di pangkal dermaga. Di tempatnya sekarang. Ia tidak pernah lagi duduk di ujung, sejak sore aku memilih tiang kayu itu dan meninggalkan ujungnya untuknya. Sekarang ia yang meninggalkan ujungnya untukku.

Di sampingnya, di atas papan dermaga, ada sebuah gelas plastik dengan tutup. Dari kedai kopi kecil di dekat pasar ikan.

Aku berhenti.

Ia tidak menatapku. Ia menatap laut. Tapi ia mendorong gelas itu sedikit, dengan ujung jarinya, ke arah tengah papan. Ke arah jalan yang akan kulewati menuju ujung dermaga.

Lalu ia menarik tangannya kembali ke pangkuan.

Aku berjalan melewatinya. Aku berhenti di samping gelas itu.

Aku mengambilnya.

Hangat. Aku membuka tutupnya.

Hitam.

Aku menyesapnya.

Pahit. Tanpa gula. Tanpa sirup gula aren. Tanpa apa pun. Hanya kopi hitam yang diseduh dengan air panas, yang pahitnya langsung menyentuh lidah dan turun ke tenggorokan seperti sesuatu yang kukenal sejak lama.

Seperti rasaku.

Aku berdiri di sana dengan gelas di tangan kanan, dan tangan kiri dengan dua bekas luka di telapaknya, dan aku tidak bisa bergerak.

Seratus delapan puluh tujuh hari, ia memberiku kopi manis. Setiap Selasa. Setiap Jumat. Dua pompa sirup gula aren. Aduh, Mas. Aku selalu lupa.

Ia tidak lupa. Ia tidak pernah lupa.

Ia juga tidak lupa sekarang.

Aku menatapnya. Ia masih menatap laut. Tangannya di pangkuan, terkepal sedikit. Rambutnya diikat rendah, beberapa helai terlepas dan tertiup angin pesisir. Wajahnya lebih kurus dari bulan lalu, dan ada plester kecil di dua jari tangan kanannya.

Plester. Dari amplas.

“Shella,” kataku.

Ia tersentak sedikit. Aku belum pernah memanggil namanya sejak Jakarta. Sejak lahan bekas ruko. Selama ini hanya Dok.

Ia menoleh padaku. Matanya lebar.

Aku mengangkat gelas itu sedikit.

“Kopinya…” Aku berhenti. Aku mencari kata. Ada banyak kata. Tidak ada yang cukup.

“…pas,” kataku.

Ia menatapku.

Lalu matanya basah. Sebentar. Satu kedipan. Dua.

Ia tidak menariknya kembali kali ini.

Ia membiarkan air mata itu jatuh, satu, di pipinya, dan tidak mengusapnya, dan tidak menunduk. Ia hanya menatapku, dari tiang kayu di pangkal dermaga, dengan kopi hitam di tanganku dan matahari terbenam di belakangku.

“Syukur,” katanya pelan. Suaranya pecah di tengah kata. “Syukur pas.”

Aku berjalan ke ujung dermaga. Aku duduk di tempatku. Aku meminum kopi itu pelan-pelan, sambil menatap laut yang abu-abu.

Ia tetap di tiang kayunya.

Kami tidak bicara lagi sore itu. Matahari tenggelam pelan di depan kami, oranye lalu merah lalu ungu, dan ombak menghantam tiang-tiang dermaga yang lapuk.

Tapi untuk pertama kalinya sejak ia datang ke Pelabuhanratu, aku tidak merasa sedang duduk sendirian.