Chapter Eight
Bab 8 — Aku Tahu
POV: Shella
“Lo mau nembak dia,” kata Mitha. “Gue bisa liat dari muka lo.”
Kami duduk di tangga darurat lantai empat, satu-satunya tempat di rumah sakit yang tidak dijangkau residen, perawat kepala, maupun keluarga pasien yang ingin menanyakan hasil lab. Mitha sedang makan cilok dari plastik, saus kacangnya menetes ke jas putihnya, dan ia tidak peduli.
“Muka gue biasa aja.”
“Muka lo kayak orang mau presentasi kasus di depan konsulen. Tegang, tapi sok tenang.” Ia menusuk cilok terakhir dengan tusuk sate. “Gue setuju, by the way. Udah dua bulan lo bolak-balik ke bengkel. Kalau cowoknya nggak nembak-nembak, berarti dia nunggu lo.”
“Dia nggak nunggu apa-apa.”
“Semua cowok nunggu sesuatu, Shel. Kadang mereka nunggu dikasih izin.” Mitha mengunyah dengan wajah filsuf. “Apalagi cowok kayak dia. Gue cuma liat sekali di penyuluhan, tapi gue tahu tipenya. Tipe yang duduk paling belakang. Tipe yang pergi sebelum acara selesai biar nggak ngerepotin. Cowok kayak gitu nggak bakal maju duluan. Dia mikir dia nggak pantas.”
Aku menatap Mitha.
Untuk orang yang sering mengira ICU adalah singkatan dari I See You, Mitha kadang terlalu tajam.
“Terus menurut lo gue harus gimana?” tanyaku.
“Ya lo yang maju.” Mitha mengelap mulutnya dengan lengan jas. “Bilang aja langsung. Jangan pake kode-kode. Cowok kayak gitu nggak ngerti kode. Kalau lo bilang ‘aku suka hujan’, dia bakal beliin lo payung.”
Aku hampir tertawa. Ia sudah membelikanku payung, dalam arti tertentu. Ia memberiku cara melawan dr. Ronald.
“Oke,” kataku.
“Oke apa?”
“Oke, gue maju.”
Mitha menjerit kecil, cukup keras sampai suaranya memantul di tangga beton. Lalu ia memelukku dengan tangan yang masih bau saus kacang.
“Gue ikut seneng,” katanya di bahuku. “Serius. Lo udah lama nggak keliatan kayak manusia, Shel. Sejak bokap lo… ya. Lo kayak robot. Kerja, belajar, pulang. Sekarang lo kadang senyum sendiri liat HP.”
Aku membeku di pelukannya.
Aku tidak pernah tersenyum sendiri melihat ponsel. Kalau pun aku pernah, itu karena pesan Pak Hadi. Itu karena rencanaku berjalan dengan baik.
Itu pasti karena itu.
“Satu lagi,” kata Mitha setelah melepas pelukannya, sambil menunjuk wajahku dengan tusuk sate. “Kalau dia nyakitin lo, gue suntik dia pake KCl.”
“Mit, itu pembunuhan.”
“Itu namanya cinta sahabat.” Ia berdiri dan menepuk-nepuk debu tangga dari celananya. “Tapi kalau lo yang nyakitin dia, gue juga marah. Cowok yang duduk paling belakang itu jangan disakitin. Mereka udah cukup jauh dari panggung.”
Aku tertawa, karena itu yang diharapkan dariku.
Mitha turun lebih dulu, bersenandung lagu dangdut yang salah lirik. Aku tetap duduk di tangga darurat itu lebih lama, menatap anak tangga beton di bawah kakiku, sampai panggilan dari bangsal memaksaku berdiri.
Aku mengiriminya pesan pukul delapan malam, setelah jaga sore.
Mas, bisa ke RS? Aku butuh ketemu. Atap parkiran gedung B.
Balasannya datang dalam waktu kurang dari satu menit.
Kamu kenapa?
Nggak kenapa-kenapa. Pengin ketemu aja.
Ada jeda. Lalu:
40 menit.
Ia datang dalam tiga puluh dua menit. Aku menghitungnya. Dari Cipayung ke rumah sakit dengan motor bebek tua yang knalpotnya berbunyi seperti batuk kering, pada jam pulang kantor. Ia pasti melanggar beberapa aturan lalu lintas untuk sampai secepat itu.
Atap parkiran gedung B adalah tempat favoritku. Tidak ada mobil yang parkir di lantai teratas kecuali di hari Senin, dan dari pagar pembatasnya, kau bisa melihat lampu-lampu Jakarta Selatan menyebar sampai ke kaki langit. Kadang aku naik ke sini setelah jaga malam yang buruk, setelah pasien meninggal, setelah aku tidak bisa menangis di mana pun.
Aku belum pernah membawa siapa pun ke sini.
Ia keluar dari tangga darurat dengan napas sedikit terengah, helm masih di tangan. Jaket parasutnya yang lain, warna hijau tentara, basah di bahu karena gerimis. Ia menatapku dari ujung kaki ke ujung kepala dengan cepat, seperti dokter jaga IGD yang memeriksa korban kecelakaan. Mencari luka.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya.
“Nggak apa-apa, Mas.”
Ia menghela napas. Bahunya turun sedikit. Lalu ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kantong plastik bening. Roti sobek rasa cokelat dari minimarket, dan sekotak susu.
“Kamu habis jaga,” katanya. “Pasti belum makan.”
Aku menatap roti itu. Aku memang belum makan sejak siang. Aku tidak memberitahunya. Ia hanya tahu, seperti ia tahu jadwal jagaku, seperti ia tahu suaraku serak setelah mengomel.
“Mas mampir minimarket dulu? Katanya buru-buru.”
“Lewat.”
Aku mengambil roti itu dan memakannya sambil berdiri, karena tidak ada tempat duduk, dan karena aku memang lapar. Ia menunggu sampai aku selesai. Ia membukakan kotak susunya dan menancapkan sedotannya sebelum menyerahkannya padaku.
Lalu ia berjalan mendekat dan berdiri di sampingku di pagar pembatas, dengan jarak satu lengan di antara kami.
Kami menatap lampu-lampu kota.
“Aku kira kamu kenapa-kenapa,” katanya pelan.
“Maaf. Aku nggak mikir bakal bikin Mas khawatir.”
“Nggak apa-apa.”
Kata itu lagi. Nggak apa-apa. Ia mengucapkannya untuk kopi yang kemanisan, untuk kertas di papan RT, untuk delapan belas juta utang yang bukan miliknya. Aku mulai bertanya-tanya, berapa banyak hal di dunia ini yang ia sebut nggak apa-apa padahal bukan.
Aku sudah menyiapkan kalimatnya sejak siang. Pendek, sederhana, tanpa kode, seperti saran Mitha.
Tapi saat aku membuka mulut, kalimat itu terasa berat. Bukan karena gugup. Karena aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Setelah malam ini, aku bukan lagi perempuan yang sedang mencoba memaafkan. Aku akan jadi pacarnya. Aku akan punya akses ke semua hal dalam hidupnya. Rumahnya, adiknya, rahasia-rahasianya, rencana-rencananya. Aku akan bisa menyentuh semuanya, dan merusak semuanya, dari dalam.
Itu tujuannya sejak awal.
Aku menarik napas.
“Mas.”
“Hm.”
“Mas mau jadi pacarku?”
Ia tidak bergerak.
Angin malam berembus di atap parkiran, membawa bau hujan dan knalpot. Di bawah sana, sebuah ambulans melaju dengan sirene meraung, lalu menghilang di tikungan. Lampu-lampu kota berkedip.
Ia tidak menoleh padaku. Ia tetap menatap ke depan, ke kejauhan, dengan wajah yang sama sekali tidak bisa kubaca.
Lima detik.
Sepuluh.
Aku mulai menghitung dalam hati, seperti menghitung kompresi dada saat resusitasi. Lima belas. Dua puluh. Dua puluh lima.
Kenapa ia diam selama ini?
Apakah ia akan menolak? Apakah ia curiga? Apakah aku terlalu cepat? Apakah Mitha salah, dan laki-laki ini sebenarnya tidak menungguku sama sekali?
Tiga puluh.
Ia akhirnya menoleh padaku.
Dan aku melihat sesuatu di matanya yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Sesuatu yang dalam dan lelah dan sangat sedih, seperti orang yang berdiri di depan pintu yang ia tahu tidak seharusnya ia buka. Tapi juga ada hal lain di sana. Sesuatu yang hampir seperti… penerimaan.
Seperti orang yang sudah memutuskan untuk membukanya.
“Iya,” katanya.
Hanya itu.
Aku tersenyum. Senyum yang sudah kulatih. Senyum yang membuat mataku sedikit berkaca-kaca, karena perempuan yang baru diterima cintanya pasti terharu.
“Beneran?”
“Beneran.”
Lalu ia menambahkan sesuatu, pelan, sambil kembali menatap lampu-lampu kota.
“Tapi kalau suatu hari kamu nggak mau lagi, bilang aja. Kapan pun. Aku nggak akan nahan kamu.”
Aku mengerutkan dahi. “Kok ngomongnya gitu? Baru juga jadian.”
“Biar jelas dari awal.”
“Aku nggak akan berubah pikiran, Mas.”
Ia tidak menjawab itu. Ia hanya mengangguk sekali, kecil, seperti orang yang mendengar janji yang ia tahu tidak akan ditepati, tapi tetap memilih untuk menerimanya.
Aku melangkah mendekat, menghapus jarak satu lengan itu. Aku menyandarkan kepalaku di lengannya. Jaketnya dingin dan basah. Ia tidak bergerak, tidak merangkulku, tapi ia juga tidak menjauh.
“Aku sayang kamu, Mas,” bisikku.
Kalimat itu meluncur dengan mudah. Lebih mudah dari yang kubayangkan. Aku sudah mengucapkannya di depan cermin tiga kali tadi pagi, dan setiap kali aku mengucapkannya, aku membayangkan wajah Ayah, dan kemarahan itu membuat kata-katanya terdengar penuh perasaan.
Laki-laki itu diam sebentar.
Lalu ia berkata pelan, nyaris seperti bisikan.
“Aku tahu.”
Aku mengangkat kepala dari lengannya dan menatapnya.
Aku tahu.
Bukan aku juga. Bukan aku juga sayang kamu. Hanya aku tahu.
Ia menatap lampu-lampu kota lagi, dan rahangnya terlihat kaku di bawah cahaya lampu parkiran yang kekuningan.
Aku hampir tertawa. Laki-laki ini benar-benar tidak tahu cara menjadi pacar. Mitha benar. Ia tidak mengerti kode, dan ia juga tidak mengerti kalimat-kalimat dasar yang semua orang tahu. Orang lain akan menjawab aku juga. Ia malah menjawab seperti sedang mengonfirmasi data.
Canggung. Itu saja. Laki-laki yang terlalu lama di penjara, yang terlalu lama tidak disayangi siapa pun, sampai lupa bagaimana menjawab kalimat itu.
“Mas tuh ya,” kataku sambil tersenyum dan mencubit lengannya pelan. “Harusnya bilang ‘aku juga’.”
Sudut bibirnya bergerak. Senyum kecil. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
“Nanti,” katanya.
Ia mengantarku sampai ke mobil di lantai tiga. Gerimis sudah berhenti. Lantai parkiran basah dan memantulkan cahaya lampu.
Sebelum aku masuk ke mobil, ia memanggilku.
“Shella.”
Aku menoleh.
Ia berdiri di sana dengan helm di tangan, jaket hijau tentara yang basah, rambut cepak yang meneteskan air. Ia menatapku seperti tadi di atap. Seperti sedang mengukur sesuatu yang tidak bisa diukur.
“Hati-hati,” katanya akhirnya.
Hanya itu.
“Mas juga. Jangan ngebut.”
Ia mengangguk. Lalu ia berbalik dan berjalan ke arah tangga, ke tempat motor bebeknya diparkir di lantai dasar.
Aku masuk ke mobil dan menutup pintu. Aku duduk di sana dalam gelap, tanganku masih di setir, dan aku menunggu jantungku berhenti berdetak terlalu keras.
Berhasil. Semuanya berjalan sesuai rencana. Ia milikku sekarang. Seluruh hidupnya terbuka di depanku seperti pasien di meja operasi, dan aku memegang pisaunya.
Aku seharusnya merasa menang.
Tapi yang terus terulang di kepalaku adalah tiga puluh detik itu. Tiga puluh detik ketika ia diam sebelum menjawab. Dan wajahnya ketika akhirnya ia menoleh. Bukan wajah laki-laki yang bahagia karena ditembak perempuan yang ia suka.
Wajah laki-laki yang baru saja menerima vonis.
Aku menggeleng keras. Aku terlalu banyak berpikir. Aku terlalu capek.
Itu cuma capek.
Ponselku bergetar saat aku berhenti di lampu merah Pondok Indah. Nomor yang tidak kukenal.
Kak Shella ini Kinan. Nomor Kakak aku ambil dari HP Kak Arya diem-diem.
Satu pesan lagi.
Kak Arya barusan pulang. Basah. Terus dia duduk di teras sejam nggak masuk-masuk. Terus pas masuk dia nyuci piring yang udah bersih. Dua kali. Kakak apain kakak aku??
Aku menatap layar.
Lalu pesan ketiga.
Kalau Kakak nyakitin dia, aku cari Kakak. Aku tahu rumah sakit Kakak. Aku punya kenalan anak farmasi.
Lampu berubah hijau. Mobil di belakangku membunyikan klakson panjang.
Aku tidak membalas pesan Kinan malam itu. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku menyetir pulang, masuk ke kamar, membuka folder Proyek, dan menulis:
Hari ke-53. Dia bilang iya. Aku bilang aku sayang dia. Dia bilang: aku tahu.
Lalu, setelah menatap layar sangat lama, aku menambahkan:
Adiknya mengancamku. Lucu.
Aku tidak tertawa. Aku menyimpan nomor Kinan di ponselku dengan nama yang hanya berisi satu huruf, K, lalu mematikan lampu dan menatap langit-langit kamar sampai lewat tengah malam.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu reading
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365