← Hukuman Kedua

Chapter Forty

Bab 40 — Rumah yang Dijual

POV: Shella

Gugatan itu didaftarkan di Pengadilan Negeri Bekasi tiga minggu setelah konferensi pers.

Penggugat satu: Ibu Sarah binti Rohman, istri almarhum Sarip. Penggugat dua: Ibu Juminten, istri almarhum Waluyo. Kuasa hukum: Lembaga Bantuan Hukum, diwakili Dewanti, S.H.

Tergugat: PT Wijaya Konstruksi.

Mbak Dewanti mengirimiku salinan berkasnya lewat email. Aku membacanya di meja periksa, pukul enam pagi, sebelum puskesmas buka.

Ganti rugi materiil dan imateriil atas kematian akibat perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh direksi tergugat.

Angka di bagian bawah halaman lebih besar dari angka yang pernah kulihat di laporan keuangan Ayah.

Aku menutup email itu. Lalu membukanya lagi. Lalu menutupnya.

Bu Sarip yang tidak bisa membaca. Bu Waluyo yang suaminya suka memancing dan selalu pulang tanpa ikan. Mereka tidak pernah menggugat siapa pun seumur hidup mereka. Mereka menerima santunan sekali, lalu diam selama tiga tahun.

Mereka menggugat sekarang karena aku membuka semuanya.

Ini yang Mama takutkan. Ini yang Om Freddy teriakkan di ruang tengah. Tiga ratus karyawan. Rumah. Nama Ayah.

Aku menatap tanganku di atas meja periksa.

Aku tidak menyesalinya. Aku tidak tahu apakah itu artinya aku benar atau artinya aku sudah kehilangan kemampuan untuk menyesal.


Gugatan itu baru permulaan.

Perusahaan asuransi mengirim surat pada minggu yang sama. Klaim yang dibayarkan tiga tahun lalu didasarkan pada keterangan yang ternyata tidak benar. Kelalaian individu insinyur, bukan kelalaian korporasi. Mereka menuntut pengembalian seluruh dana. Ditambah bunga.

Bank mengirim surat seminggu kemudian. Fasilitas kredit dibekukan. Pinjaman yang sedang berjalan dipercepat jatuh temponya.

Tiga proyek yang sedang dikerjakan Wijaya Konstruksi dihentikan oleh pemiliknya. Mereka tidak mau namanya dikaitkan dengan perusahaan yang sedang ramai di TikTok.

Pak Darmawan mengundurkan diri. Lalu dua direksi lain.

Aku tahu semua ini dari berita. Dari portal-portal online yang sekarang menulis tentang keluargaku setiap hari, dengan foto-foto rumah Pondok Indah yang diambil dari luar pagar dan foto Ayah dari acara peresmian yayasan, menggendong anak perempuan bergaun pink.

Aku. Umur sembilan tahun.

Pendiri Yayasan Pendidikan Ternyata Koruptor Material.

Aku tidak tahu dari mana mereka mendapatkan foto itu.


Mama menelepon hari Minggu malam.

Pertama kalinya sejak aku meninggalkan rumah dengan koper dan bekal rendang dari Mbok Sum. Lima minggu.

Aku menatap nama Mama di layar ponsel selama tiga dering sebelum mengangkatnya.

“Ma.”

Hening di ujung telepon. Aku mendengar napasnya. Pelan. Teratur. Seperti orang yang sudah memutuskan untuk tidak menangis sebelum menelepon.

“Rumahnya laku,” kata Mama.

Aku memejamkan mata.

“Om Freddy bilang harus dijual. Buat bayar sebagian utang bank. Rumah itu jaminan kredit perusahaan sejak lima tahun lalu. Mama nggak tahu. Ayahmu yang tanda tangan.” Mama berhenti. “Mama nggak tahu banyak hal.”

“Kapan, Ma?”

“Serah terima hari Sabtu depan. Pembelinya mau pakai buat kantor.”

Kantor. Rumah tempat Ayah bersiul sumbang di kamar mandi. Tempat aku belajar naik sepeda di halaman depan. Tempat Ayah menyelundupkan martabak manis ke kamarku jam sebelas malam.

Akan jadi kantor.

“Mama pindah ke mana?”

“Apartemen. Di Kalibata. Sewa. Dua kamar.” Mama diam sebentar. “Mbok Sum ikut. Pak Mamat pulang kampung.”

“Ma…”

“Mama nggak telepon buat marah,” potong Mama. Suaranya tetap rata. “Mama masih marah. Tapi Mama nggak telepon buat itu.”

“Terus buat apa, Ma?”

Mama diam lama.

“Barang-barangmu,” katanya akhirnya. “Di kamarmu. Masih banyak. Mama nggak tahu mana yang mau kamu simpan. Mama nggak mau buang barang-barangmu tanpa tanya.”

Aku menatap dinding kamar kos yang hijau muda.

“Aku ke sana, Ma,” kataku. “Hari Jumat.”


Rumah itu terlihat lebih kecil dari yang kuingat.

Mungkin karena aku sudah dua bulan tinggal di kamar tiga kali empat meter. Mungkin karena halaman depannya sekarang penuh kardus dan perabotan yang dibungkus plastik gelembung. Mungkin karena tidak ada lagi lampu yang menyala di jendela-jendela lantai dua.

Mbok Sum membukakan pintu. Ia melihatku dan menutup mulutnya dengan tangan.

“Mbak Shella. Ya Allah. Kurus banget.”

Ia memelukku. Bau bawang goreng. Minyak kayu putih.

Mama ada di ruang tengah. Ruang tengah yang sudah kosong. Sofa sudah diangkut. Televisi sudah diangkut. Karpet Turki yang dulu kami duduki berdua, malam itu, sudah digulung dan diikat tali rafia di sudut.

Mama berdiri di tengah ruangan kosong itu, memakai kaus dan celana panjang biasa, rambut diikat asal. Tanpa riasan. Tanpa masker wajah hijau.

Ia terlihat lebih tua lima tahun dari terakhir kali aku melihatnya.

Kami saling menatap dari ujung ke ujung ruangan.

“Kamarmu di atas,” kata Mama. “Mama belum sentuh.”


Kamarku masih sama.

Tempat tidur. Meja rias. Lemari. Rak buku dengan buku-buku kuliah kedokteran yang tebal. Lampu gantung kristal yang berkilauan seperti es.

Hanya laci paling bawah meja rias yang kosong. Aku membawa semua isinya ke Pelabuhanratu.

Aku duduk di tepi tempat tidur dan menatap kamar itu. Kamar tempat aku berdiri di depan cermin dan berjanji pada wajahku sendiri bahwa penjara tidak cukup. Kamar tempat aku memilih baju hitam. Kamar tempat aku menangis di lantai sampai subuh dengan buku cokelat di dadaku.

Aku tidak merasakan apa-apa saat menatapnya. Seperti menatap foto rumah orang lain.

Aku membuka lemari.

Di rak paling atas, di kotak beludru biru, ada perhiasan. Kalung mutiara dari Mama untuk ulang tahun kedua puluh. Gelang emas dari nenek di Bandung. Anting berlian yang kupakai di upacara sumpah dokter. Jam tangan yang Ayah belikan saat aku lulus SMA.

Di rak bawah, tas-tas. Lima. Merek-merek yang dulu kuanggap biasa. Satu di antaranya tas jinjing kulit cokelat. Tas yang kubawa ke bengkel Pak Gondo setiap Selasa dan Jumat. Tas yang saku dalamnya menyimpan sapu tangan abu-abu selama seratus delapan puluh tiga hari.

Aku mengeluarkan semuanya. Aku meletakkannya di atas tempat tidur.

Mama berdiri di ambang pintu. Aku tidak mendengarnya naik.

“Mau kamu bawa?” tanyanya.

“Mau aku jual, Ma.”

Mama diam.

“Buat apa?”

“Buat Bu Sarip. Bu Waluyo. Istri Mang Udin.” Aku menatap kalung mutiara di atas seprai. “Gugatan itu bakal lama, Ma. Bertahun-tahun, kata Mbak Dewanti. Mereka butuh uangnya sekarang. Dodi masih kuliah.”

“Gaji internsipmu berapa?”

“Cukup buat makan sama sewa kos.”

Mama menatapku lama. Lalu ia masuk ke kamar dan duduk di tepi tempat tidur, di sebelahku. Di samping perhiasan dan tas-tas itu.

Ia mengambil jam tangan dari kotak beludru. Jam tangan perempuan dengan tali kulit cokelat dan wajah putih yang sederhana.

“Ayahmu beli ini di Singapura,” kata Mama pelan. “Waktu kamu lulus SMA. Dia bilang, biar Shella nggak telat masuk kuliah.” Ia memutar jam itu di tangannya. “Mama baru tahu minggu lalu, dari laporan keuangan yang dibuka pengacara bank. Tahun itu perusahaan udah mulai susah. Dia beli jam ini pakai uang dari menjual jam tangannya sendiri.”

Aku menatap jam itu.

Mama liat dia jual jam tangan kesayangannya diam-diam.

“Ayahmu bukan orang jahat, Shel,” kata Mama. Suaranya bergetar untuk pertama kalinya. “Dia orang yang takut. Kayak Mama. Takut kehilangan. Takut kalian kecewa. Takut nggak bisa ngasih apa yang udah dia janjiin.”

“Aku tahu, Ma.”

“Takut bikin orang ngelakuin hal-hal yang jahat.”

“Aku tahu.”

Mama meletakkan jam itu kembali di kotak beludru. Pelan. Hati-hati.

“Jual,” katanya. “Semuanya. Jam ini juga.”

Aku menatapnya.

“Ayahmu beli jam ini supaya kamu nggak telat,” kata Mama. “Kamu udah telat tiga tahun buat Bu Sarip sama Bu Waluyo. Jangan telat lagi.”


Aku menjual semuanya hari Sabtu pagi, di sebuah toko emas dan barang bekas mewah di Blok M yang alamatnya kudapat dari Mitha.

Penjualnya laki-laki tua keturunan Tionghoa yang memeriksa setiap barang dengan kaca pembesar. Ia tidak bertanya kenapa aku menjual semuanya sekaligus. Ia hanya menghitung, menawar, menghitung lagi.

Jumlahnya tidak sebesar angka di gugatan itu. Jauh. Tapi lebih besar dari yang pernah dikirim A.M. ke Bekasi selama dua tahun empat bulan.

Tas jinjing kulit cokelat itu yang terakhir.

Penjual itu membukanya untuk memeriksa bagian dalam. Ia merogoh saku dalam.

“Ada yang ketinggalan,” katanya. Ia mengeluarkan sesuatu. “Ini.”

Selembar kertas kecil. Terlipat. Sobekan dari buku tulis bergaris.

Cicilan Koh Ahong. Minggu ke-3. Rp 3.250.000.

Bukan. Itu tidak mungkin. Kertas itu kulempar ke punggungnya di lahan bekas ruko. Ia memungutnya dari atas bunga melati dan memasukkannya ke saku celana.

Aku membuka lipatannya.

Bukan kertas yang sama. Tulisan tangan yang sama, kecil, tegak, presisi. Tapi kertasnya berbeda.

Cicilan Koh Ahong. Minggu ke-2. Rp 2.800.000.

Minggu kedua. Sebelum kaleng itu kosong. Ia pasti menulisnya untuk Pak Gondo, dan kertas itu tertinggal di bangku kayu bengkel, dan aku memungutnya tanpa sadar, entah kapan, dan memasukkannya ke saku tas bersama semua barang lain yang tidak bisa kubuang.

Aku tidak ingat memungutnya.

Penjual itu menatapku. Ia menatap kertas kecil di tanganku, lalu wajahku.

“Mau dibawa?” tanyanya.

“Iya,” kataku. “Ini nggak dijual.”


Serah terima rumah dilakukan Sabtu sore. Mama tidak ikut. Om Freddy yang mengurusnya.

Mama dan Mbok Sum sudah pindah ke apartemen di Kalibata sejak pagi. Aku membantu mengangkut kardus-kardus terakhir dengan mobil boks sewaan.

Apartemen itu kecil. Dua kamar, satu kamar mandi, dapur yang menyatu dengan ruang tamu. Jendelanya menghadap rel kereta api. Setiap lima belas menit, KRL lewat dan jendela-jendelanya bergetar.

Mama berdiri di tengah ruang tamu yang penuh kardus dan menatap jendela itu.

“Berisik,” katanya.

“Nanti biasa, Ma.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Kos di atas laundry,” kataku. “Mesin pengeringnya bunyi sampai jam sembilan malam. Lama-lama nggak kedengeran.”

Mama menoleh padaku. Ia tahu kos mana yang kumaksud. Ia sudah mendengar semuanya malam itu, di lantai ruang tengah, di atas karpet Turki.

Ia tidak berkata apa-apa.

Sebelum aku pergi, Mama membuka salah satu kardus dan mengeluarkan sesuatu. Ia menyodorkannya padaku.

Foto berbingkai. Ayah menggendongku di pantai Anyer. Aku umur lima tahun, memakai pelampung bebek kuning.

“Bawa,” katanya. “Di Pelabuhanratu ada laut, kan?”

“Ada, Ma.”

“Ayahmu suka laut.” Mama menatap foto itu. “Dia bilang, laut itu nggak pernah bohong. Kalau mau marah, ya marah. Kalau mau tenang, ya tenang.”

Aku mengambil foto itu.

Mama tidak memelukku. Ia tidak bilang ia memaafkanku. Ia hanya mengantarku sampai pintu apartemen, dan berdiri di sana sampai aku masuk lift.

Seperti seseorang yang menunggu sampai aku pergi.


Di travel malam menuju Sukabumi, aku membuka buku cokelat.

Hari ke-118. Rumah Pondok Indah dijual. Akan jadi kantor.

Mama pindah ke apartemen di Kalibata. Ada rel kereta. Berisik.

Aku menjual semua perhiasan dan tas. Jam tangan dari Ayah juga. Uangnya ke LBH, untuk Bu Sarip, Bu Waluyo, dan istri Mang Udin.

Di saku tas jinjing, ada kertas cicilan Koh Ahong minggu kedua. Aku tidak ingat memungutnya.

Mama memberiku foto di Anyer. Mama bilang laut tidak pernah bohong.

Aku menatap tulisan itu. Lalu aku menghitung.

Arya kehilangan bengkel. Kontrakan. Kamar kos di atas laundry. Tiga tempat tinggal. Satu pekerjaan tetap. Satu masa depan. Satu adik.

Aku kehilangan satu rumah. Satu mobil. Satu rekening. Perhiasan dan tas.

Belum seimbang, aku menulis. Jauh.

Aku menutup buku itu dan menyandarkan kepala ke jendela travel. Di luar, lampu-lampu tol berderet, lalu menghilang, lalu digantikan gelap pegunungan dan bau hujan.

Di pangkuanku, foto Ayah di Anyer. Di saku celanaku, dua meteran pita kuningan dan secarik kertas cicilan minggu kedua.

Laut tidak pernah bohong, kata Ayah.

Aku ingin percaya bahwa aku juga bisa belajar tidak bohong. Pada siapa pun. Termasuk pada diriku sendiri.