← Hukuman Kedua

Chapter Fifteen

Bab 15 — Wajah di Televisi

POV: Shella

Program itu tayang Kamis malam, pukul sembilan, di salah satu stasiun televisi swasta. Namanya Jejak Perkara. Program investigasi setengah jam yang biasanya membahas kasus pembunuhan berantai, penipuan investasi, atau artis yang terjerat narkoba.

Episode malam itu berjudul Bebas Setelah Tiga Nyawa.

Aku menontonnya di pantry koas, dengan Mitha, dua koas lain, dan seorang perawat yang sedang istirahat makan malam. Televisi kecil di sudut pantry selalu menyala, dan tidak ada yang pernah mengganti salurannya.

Pembukaannya adalah rekaman berita lama dari tiga tahun lalu. Ruko yang runtuh di Bekasi, tumpukan beton dan besi yang mencuat seperti tulang patah. Tim SAR yang menggali dengan tangan. Seorang ibu yang menangis di balik garis polisi.

Lalu suara narator, berat dan dramatis.

Tiga orang tewas. Seorang insinyur muda mengaku bersalah. Ia divonis dua tahun penjara. Kini, ia sudah bebas. Bagaimana kehidupannya sekarang? Dan apakah dua tahun cukup untuk tiga nyawa?

Mitha berhenti mengunyah pisang gorengnya.

“Shel,” katanya pelan. “Ini kan…”

Aku tidak menjawab. Aku menatap layar.

Foto laki-laki itu muncul. Foto dari sidang, dengan rompi tahanan oranye. Lalu foto-foto baru.

Laki-laki itu meniup lilin di atas kue tart cokelat. Laki-laki itu duduk di pojok ruangan sempit dengan kipas angin berdebu. Retak di dinding. Noda di langit-langit. Laki-laki itu mendorong gerobak berisi kasur lipat di gang becek.

Semua fotoku.

Wajah-wajah lain di foto itu sudah diburamkan. Kinan. Tanganku yang memegang pisau kue. Tapi wajah laki-laki itu jelas. Tidak diburamkan sama sekali.

Mantan narapidana ini terlihat merayakan ulang tahunnya dengan kue mewah, kata narator. Sementara itu, keluarga para korban masih menanggung duka yang tidak akan pernah sembuh.

Lalu wawancara dengan seorang laki-laki yang wajahnya diburamkan, disebut sebagai warga sekitar. Suaranya diubah menjadi berat dan sengau.

Ya kita takut, Mbak. Dia kan pernah bikin orang mati. Masa tinggal di tengah-tengah kita, nggak ada yang ngawasin. Anak-anak kita main di gang.

Lalu seorang perempuan, juga diburamkan.

Katanya dia sekarang kuli. Ya kuli juga bisa bikin bangunan ambruk, kan?

Lalu narator lagi, menutup segmen pertama.

Di mana keadilan bagi para korban?

Iklan sabun cuci piring.


Pantry itu hening.

Perawat yang sedang makan malam meletakkan sendoknya. Dua koas lain saling pandang dengan canggung, lalu menatapku diam-diam, karena semua orang di angkatan kami tahu siapa salah satu korban itu.

Mitha menatapku.

Ia tidak berkata apa-apa selama beberapa detik. Lalu ia mencondongkan tubuh ke arahku, dan berbisik, sangat pelan.

“Shel. Lo kok senyum?”

Aku tersentak.

Aku menyentuh wajahku sendiri. Sudut bibirku. Ia benar. Bibirku terangkat. Aku tidak menyadarinya. Aku tidak tahu sejak kapan aku tersenyum. Sejak foto pertama? Sejak narator menyebut tiga nyawa? Sejak suara sengau warga sekitar itu bilang kita takut?

“Gue nggak senyum,” kataku.

“Lo senyum. Barusan.” Mitha menatapku dengan matanya yang besar dan berisik, tapi kali ini matanya tidak berisik. Matanya diam. Bingung. Sedikit takut. “Lo senyum liat berita kasus bokap lo sendiri.”

“Gue… lega aja.” Aku memilih kata dengan cepat. “Lega ada yang angkat lagi. Biar orang-orang inget. Biar dia nggak bisa hidup tenang.”

Mitha tidak menjawab.

Ia menatapku sedikit lebih lama. Lalu ia kembali ke pisang gorengnya, dan ia tidak menyentuhnya lagi sampai pisang goreng itu dingin.


Video potongan program itu muncul di TikTok keesokan paginya.

Pukul sepuluh pagi, sudah ditonton tiga ratus ribu kali. Pukul dua siang, satu koma dua juta. Seseorang di kolom komentar menemukan alamat bengkel lama tempat laki-laki itu dulu bekerja. Seseorang lagi menemukan nama gangnya. Seseorang menulis, pantesan gang gue rame wartawan kemarin.

Komentar-komentar lain lebih buruk.

Hukum di negara ini lucu. Bunuh tiga orang cuma dua tahun. Kalau gue keluarga korban, udah gue datengin. Mukanya aja keliatan psikopat. Rajam aja.

Aku membaca komentar-komentar itu di toilet rumah sakit, duduk di atas tutup kloset, dengan pintu terkunci.

Aku membacanya satu per satu. Seratus. Dua ratus. Aku tidak bisa berhenti menggulir.

Mukanya aja keliatan psikopat.

Aku teringat wajahnya saat ia menyerahkan kotak kardus kecil berisi stetoskop. Penuh harap. Sedikit buram karena bergerak.

Aku mengunci ponselku dan menatap pintu toilet.

Ini yang kuinginkan. Seluruh negeri tahu wajahnya. Seluruh negeri membencinya. Ia tidak bisa bersembunyi di mana pun.

Ini yang kuinginkan.


Sabtu sore, ia mengajakku ke pasar.

Itu yang pertama kalinya. Ia tidak pernah mengajakku ke mana pun. Selalu aku yang datang, aku yang mengajak, aku yang menjemput. Tapi pesan itu datang Sabtu siang, pendek dan kaku seperti biasa.

Aku mau belanja buat Kinan. Mau ikut?

Aku tidak tahu kenapa ia mengajakku. Mungkin karena ia tidak mau sendirian di tempat ramai setelah wajahnya muncul di televisi. Mungkin karena ia ingin terlihat seperti laki-laki biasa yang belanja bersama pacarnya.

Mungkin karena ia ingin aku melihat.

Pasar Kramat Jati pada Sabtu sore penuh sesak. Lorong-lorong sempit di antara lapak sayur dan ikan basah, lantai licin oleh air dan sisa sayuran, bau terasi dan amis dan kemenyan dari lapak bunga. Pedagang berteriak menawarkan dagangan. Ibu-ibu menawar dengan suara melengking.

Ia memakai topi dan masker. Itu juga yang pertama kalinya.

Kami berhenti di lapak ayam potong. Ia membeli setengah kilo dada ayam. Kinan sedang persiapan ujian, katanya, dan butuh protein. Pedagangnya, seorang bapak bertubuh besar dengan celemek berlumur darah ayam, menimbang daging itu sambil mengobrol dengan pedagang di lapak sebelah.

Lalu bapak itu mengangkat wajah untuk menyerahkan kantong plastik.

Dan berhenti.

Ia menatap laki-laki itu. Menatap topi itu, masker itu, dan mata di atas masker itu. Mata yang sama yang ditampilkan dalam ukuran besar di televisi dua hari lalu, dalam slow motion, dengan musik latar yang menegangkan.

“Lho,” kata bapak itu. “Lho, kamu…”

Laki-laki itu mengulurkan uang. “Berapa, Pak?”

“Kamu yang di TV.”

“Berapa, Pak?”

“Kamu yang bikin gedung ambruk.” Suara bapak itu naik. Pedagang di lapak sebelah menoleh. Ibu-ibu yang sedang menawar ikan menoleh. “Woi! Ini dia nih! Yang di TikTok! Yang bunuh tiga orang!”

Kerumunan bergeser. Orang-orang menoleh, berbisik, mengangkat ponsel. Aku melihat lensa-lensa kamera kecil terarah pada kami dari segala sisi.

Laki-laki itu tidak bergerak dari depan lapak. Ia masih mengulurkan uang itu. Lima puluh ribu, terlipat.

“Saya bayar, Pak,” katanya pelan.

“Gue nggak sudi terima duit lo!”

Bapak itu melempar kantong plastik berisi dada ayam ke lantai pasar yang becek. Kantong itu jatuh di genangan air dan sisa kangkung.

Lalu seorang laki-laki di belakang kami, laki-laki kurus dengan kaus partai dan rokok di bibir, maju selangkah. Ia menatap laki-laki itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Lalu ia meludah.

Ludahnya jatuh di lantai pasar, tepat di samping sepatu laki-laki itu. Sejengkal dari ujung sepatunya. Gumpalan putih yang berbuih di atas air becek.

“Pembunuh,” kata laki-laki kurus itu.

Kata itu. Kata yang sama yang kuteriakkan di ruang sidang tiga tahun lalu.

Laki-laki itu menatap ludah di samping sepatunya.

Lalu ia bergerak. Bukan ke arah laki-laki kurus itu. Ke arahku. Tangannya meraih pergelangan tanganku, cepat tapi tidak kasar, dan menarikku ke belakang tubuhnya. Ia memosisikan tubuhnya yang besar di antara aku dan kerumunan itu, di antara aku dan semua lensa kamera yang terarah.

“Jangan direkam,” katanya ke kerumunan. Suaranya tidak keras, tapi cukup tegas sampai beberapa orang menurunkan ponselnya. “Dia nggak ada hubungannya. Rekam saya aja.”

Lalu ia membungkuk, mengambil kantong plastik berisi dada ayam dari genangan air. Ia meletakkan uang lima puluh ribu itu di atas meja lapak, di samping timbangan.

“Saya tetap bayar, Pak,” katanya pada bapak pedagang itu.

Ia berbalik, menggenggam pergelangan tanganku, dan membawaku keluar dari pasar.


Kami duduk di mobilku di parkiran pasar. Mesin menyala, AC menyala, jendela tertutup.

Ia melepas maskernya. Ia melepas topinya. Rambut cepaknya basah oleh keringat. Ia menatap kantong plastik di pangkuannya. Kantong itu masih meneteskan air becek ke celananya.

“Maaf,” katanya.

Aku menoleh. “Kenapa Mas yang minta maaf?”

“Kamu jadi kena.”

“Aku nggak kena apa-apa, Mas.”

“Mereka rekam kamu.”

“Mas yang ngalangin. Nggak ada yang dapat mukaku.”

Ia diam. Lalu ia mengambil tisu dari dasbor mobilku dan mulai mengelap kantong plastik itu. Pelan-pelan. Satu sisi, lalu sisi lain. Seolah dada ayam setengah kilo itu adalah barang paling berharga di dunia.

“Mas,” kataku. “Mas nggak marah?”

Tangannya berhenti.

“Ke siapa?”

“Ke bapak itu. Ke cowok yang ludahin itu. Ke TV. Ke siapa pun yang ngirim foto-foto ulang tahun Mas ke TV.”

Ia tidak langsung menjawab.

Ia menatap kaca depan mobil. Di luar, parkiran pasar sibuk dengan motor-motor yang keluar masuk dan tukang parkir yang meniup peluit.

“Foto ulang tahun itu,” katanya pelan. “Cuma ada di HP dua orang.”

Darahku membeku.

Ia tidak menatapku. Ia terus menatap kaca depan.

Aku memaksa otakku bekerja. Cepat. Lebih cepat.

“Kinan,” kataku. “Kinan kan suka posting. Mungkin dia upload di Instagram terus ada yang—”

“Akun Kinan dikunci. Pengikutnya dua puluh tiga orang. Teman sekelasnya semua.”

“Atau HP Mas. Atau HP-ku dibobol. Atau—”

“Shella.”

Aku berhenti.

Ia menoleh padaku. Matanya tenang. Terlalu tenang. Seperti permukaan danau di pagi hari, ketika kau tidak bisa melihat seberapa dalam airnya.

“Mungkin ada yang ambil dari HP-ku,” katanya. “Aku sering lupa kunci. Atau dari mana aja. Udah.”

“Tapi—”

“Udah. Nggak usah dicari.”

Ia kembali mengelap kantong plastik itu.

Aku duduk di kursi pengemudi dengan tangan mencengkeram setir. Jantungku berdetak begitu keras sampai aku bisa mendengarnya di telinga, tanpa stetoskop.

Ia tidak bertanya. Ia tidak menuduh. Ia memberiku jalan keluar. Ia bahkan membuatkan alasan untukku. Aku sering lupa kunci. Ia tidak pernah lupa mengunci apa pun. Ia orang yang mengukur diameter selang stetoskop dengan jangka sorong.

Ia tidak curiga. Ia tidak mungkin curiga. Kalau ia curiga, ia akan marah. Kalau ia curiga, ia akan menjauhiku. Kalau ia curiga, ia tidak akan menarikku ke belakang tubuhnya di pasar tadi dan berkata rekam saya aja.

Ia tidak curiga.

Kan?


Aku mengantarnya ke kos di atas laundry. Ia turun dengan kantong dada ayam yang sudah ia lap bersih.

Sebelum menutup pintu mobil, ia membungkuk sedikit.

“Makasih udah nemenin,” katanya.

“Mas…”

“Hm.”

Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku tidak tahu apa. Kata-kata itu ada di ujung lidahku, berdesakan, dan tidak ada satu pun yang aman untuk diucapkan.

“Hati-hati di tangga,” kataku akhirnya. “Licin.”

Ia mengangguk. Ia menutup pintu mobil, lalu berdiri di pinggir jalan sampai aku pergi. Seperti biasa.

Di kaca spion, aku melihatnya mengeluarkan buku cokelat kecil dari saku celananya. Ia menulis sesuatu di bawah papan nama laundry yang lampunya berkedip. Lalu ia naik tangga besi yang sempit dan curam.

Malam itu, aku tidak menulis apa pun di folder Proyek.

Aku duduk di lantai kamar mandiku dengan punggung bersandar ke bathtub, dan aku membuka komentar-komentar di video TikTok itu lagi. Sekarang sudah empat juta penonton.

Mukanya aja keliatan psikopat.

Aku membaca komentar itu berulang-ulang. Sepuluh kali. Dua puluh kali.

Lalu aku menulis balasan di bawahnya. Aku menulis, Kamu nggak kenal dia.

Aku menatap kalimat itu lama sekali.

Lalu aku menghapusnya, satu huruf demi satu huruf, sampai kolom balasan itu kosong lagi.