← Hukuman Kedua

Chapter Twenty

Bab 20 — Malam Sebelumnya

POV: Arya

Tanggal sepuluh, aku ke ATM.

ATM di minimarket dekat pasar, yang layarnya sudah buram di pojok kiri dan tombol angka delapannya harus ditekan dua kali. Aku mengantre di belakang seorang ibu yang menarik uang untuk bayar arisan.

Dua transfer. Seperti setiap tanggal sepuluh, sejak dua tahun empat bulan lalu.

Dua rekening di Bekasi. Nominal yang sama untuk keduanya. Nama pengirim yang sama, yang kuketik dengan dua huruf saja.

Saldo setelahnya: empat puluh tujuh ribu rupiah.

Aku mencetak struknya. Aku melipat struk itu dan memasukkannya ke buku cokelat, di antara halaman-halaman yang sudah penuh. Ada dua puluh delapan struk di sana sekarang. Yang pertama dicetak dari ATM di dekat Lapas Cipinang, dengan uang dari upah kerja di bengkel kayu penjara. Seribu dua ratus rupiah per jam.

Aku keluar dari minimarket. Matahari pukul sepuluh pagi sudah panas.


Aku tidak punya pekerjaan tetap.

Setelah proyek Pak Rusdi, aku ikut kerja harian di mana saja yang mau menerima. Bongkar muat di gudang beras di Pasar Induk, dua hari. Gali saluran air di perumahan baru di Cibubur, tiga hari, sampai mandornya melihat TikTok. Angkat barang pindahan dengan truk sewaan, satu hari. Upahnya dibayar tunai di akhir hari, dan aku tidak pernah tahu besok ada kerja atau tidak.

Kemarin tidak ada. Hari ini juga tidak.

Aku pulang ke kamar kos.

Kamar itu lebih besar sekarang. Kasur lipat Kinan sudah tidak ada. Ia mengambilnya seminggu lalu, bersama lemari plastik tiga susun dan kardus-kardus bukunya. Ia datang dengan ayah Dita yang membawa mobil bak. Ia tidak menatapku. Ia hanya bilang, aku ambil barang-barangku, lalu mengangkat semuanya dengan cepat, seperti ingin selesai sebelum aku sempat bicara.

Ia meninggalkan satu hal. Piagam-piagam di dinding. Ia tidak mencopotnya.

Piagam olimpiade kimia. Piagam beasiswa Yayasan Pendidikan Wijaya.

Aku duduk di tikar di tengah kamar dan menatap piagam itu. Tanda tangan di pojok kanan bawah. Huruf H besar dengan garis panjang yang melengkung ke bawah seperti kail pancing.

Aku ingat hari Pak Hendra menandatanganinya. Di ruang kerjanya di kantor Bekasi, dengan pulpen tinta biru yang selalu ia simpan di saku kemeja. Ia menandatangani tiga puluh piagam sekaligus, satu per satu, sambil bersiul sumbang. Saat sampai di piagam Kinan, ia berhenti dan menatap namanya.

Ini adikmu, Ar?

Iya, Pak.

Juara olimpiade. Pinter. Kayak kakaknya. Ia tertawa terlalu keras. Nanti jadi apa?

Apoteker, katanya.

Bagus. Nanti kalau saya sakit, saya beli obat di apoteknya. Minta diskon.

Aku menatap tanda tangan itu sampai mataku perih.

Lalu aku berhenti menatapnya.


Pukul dua siang, Pak Gondo menelepon.

“Ar! Cabai saya berbuah! Merah semua! Saya kirim ke kamu ya, sekilo! Buat sambel!”

“Nggak usah, Pak.”

“Udah saya bungkus! Lewat travel! Sampai besok!”

Aku tidak bisa menolak. Pak Gondo tidak pernah bisa ditolak.

“Gimana bengkel?”

Aku menatap dinding kamar kos.

“Baik, Pak.”

“Kinan gimana? Udah mau ujian, kan?”

“Baik, Pak. Lagi belajar.”

“Neng Shella?”

Aku diam sebentar.

“Baik, Pak.”

“Kamu kok baik baik terus. Kayak robot. Yang nggak baik apa?”

“Nggak ada, Pak.”

“Hm.” Pak Gondo diam di ujung telepon. Aku mendengar Presiden berbunyi di belakangnya. “Ar.”

“Pak.”

“Saya ini tua, tapi saya nggak bodoh. Kalau ada apa-apa, telepon saya. Saya masih bisa naik travel ke Jakarta. Tiga jam.”

“Iya, Pak.”

“Janji?”

“Janji.”

Ia menutup telepon. Aku memegang ponsel itu lama.

Aku sudah terlalu banyak berbohong pada Pak Gondo. Aku tidak suka. Tapi tekanan darahnya seratus delapan puluh, dan ia sedang menanam cabai di Ciawi, dan ia bahagia. Ada kebohongan yang menahan beban. Kalau dicabut, sesuatu runtuh.

Aku tahu soal itu.


Pukul tujuh malam, aku mencuci kemeja abu-abu muda.

Kemeja itu tidak kotor. Aku sudah mencucinya setelah wawancara sertifikasi. Tapi aku mencucinya lagi, di ember di kamar mandi umum di ujung lorong lantai dua, dengan sabun batangan dan tangan.

Ujung lengannya yang kutambal sudah sedikit lepas jahitannya. Aku menjahitnya lagi dengan jarum dan benang yang kupinjam dari Cik Lani. Jahitan kecil-kecil, rapat, supaya tidak terlihat.

Cik Lani menatapku dari pintu laundry saat aku mengembalikan jarumnya.

“Mau kondangan?”

“Ziarah, Cik.”

“Oh.” Ia diam sebentar. “Pakai kemeja bagus buat ziarah?”

“Buat orang yang penting.”

Cik Lani mengangguk pelan, seolah mengerti sesuatu yang tidak kukatakan. Lalu ia menyodorkan setrika uap dari meja laundry.

“Setrika di sini. Jangan pakai setrika arang punya kamu. Nanti gosong.”

Aku menyetrika kemeja itu sampai lipatannya tajam.


Pukul delapan, aku pergi ke pasar bunga.

Pasar bunga di dekat makam umum, yang buka sampai malam untuk peziarah. Aku membeli sedap malam dan melati. Dua bungkus. Harganya dua puluh ribu.

Saldoku sekarang dua puluh tujuh ribu.

Aku membawa bunga itu pulang dan merendam tangkainya di ember air supaya tetap segar sampai besok pagi.

Besok tanggal dua belas.

Tiga tahun.


Dalam perjalanan pulang, aku lewat depan rumah Dita.

Rumah bercat kuning dengan pagar besi rendah dan pohon mangga di halaman. Lampu kamar di lantai dua menyala. Kamar Dita, yang sekarang juga kamar Kinan.

Aku tidak mengetuk. Aku berdiri di depan pagar sebentar, lalu ibu Dita keluar untuk menutup gorden teras dan melihatku.

“Mas Arya.”

“Malam, Bu.”

“Mau ketemu Kinan? Saya panggilin.”

“Nggak usah, Bu.” Aku menyodorkan kantong plastik berisi dua bungkus nasi rames dan sebotol vitamin C yang kubeli di apotek tadi siang, dengan uang yang seharusnya untuk makanku dua hari. “Titip ini aja. Dia kalau belajar suka lupa makan.”

Ibu Dita menerima kantong itu. Ia menatapku lama, dengan wajah seorang ibu yang ingin mengatakan sesuatu tapi memilih tidak.

“Nanti saya kasih,” katanya.

“Makasih, Bu.”

Aku berbalik. Di jendela lantai dua, gorden bergeser sedikit. Ada bayangan seseorang berdiri di baliknya, dengan kacamata yang memantulkan cahaya lampu jalan.

Bayangan itu tidak turun.

Aku tidak menunggunya turun. Ada hal-hal yang tidak bisa dipercepat. Kalau dipaksa, retak. Aku berjalan pulang lewat gang yang gelap, dengan tangan kosong.


Pukul sembilan, aku menelepon Shella.

Ia mengangkat di dering kedua. Suaranya sudah tidak serak lagi. Demamnya sudah sembuh minggu lalu.

“Mas?”

“Kamu sibuk?”

“Nggak. Baru selesai belajar. Kenapa?”

Aku menatap ember berisi bunga sedap malam dan melati di pojok kamar.

“Besok tanggal dua belas,” kataku.

Ia diam.

Aku mendengar napasnya di ujung telepon. Pelan. Tertahan.

“Tiga tahun,” lanjutku. “Aku mau ke tempatnya. Lahan bekas rukonya. Di Bekasi. Aku mau doain ayahmu di sana.”

Ia diam lebih lama.

“Kamu mau ikut?”

Aku menunggu.

Di bawah, mesin pengering laundry berbunyi untuk terakhir kali malam itu, lalu berhenti. Kamar menjadi sangat sunyi. Aku bisa mendengar napas Shella di ujung telepon dengan jelas. Tidak teratur. Seperti orang yang menahan sesuatu.

“Iya,” katanya akhirnya. Suaranya aneh. Lebih rendah dari biasanya. “Aku ikut, Mas.”

“Jam berapa kamu bisa?”

“Pagi. Jam delapan. Aku jemput.”

“Oke.”

“Mas.”

“Hm.”

Ia diam lagi. Lama. Aku menunggu.

“Nggak,” katanya. “Nggak apa-apa. Sampai besok.”

“Sampai besok.”

Ia menutup telepon.


Malam itu aku tidak bisa tidur.

Aku duduk di tikar di tengah kamar yang terlalu besar untuk satu orang, dengan lampu yang dimatikan dan cahaya papan nama laundry yang berkedip masuk lewat jendela. Merah. Biru. Merah. Biru.

Aku mengeluarkan buku cokelat dari saku celana.

Buku itu sudah hampir penuh. Sampulnya lusuh, sudutnya melengkung, dan beberapa halaman di bagian tengah mulai lepas dari jahitannya. Di antara halaman-halamannya terselip dua puluh delapan struk ATM, dan selembar kertas folio yang dilipat kecil.

Aku membukanya dari halaman pertama.

Aku tidak membaca semuanya. Hanya beberapa. Di bawah cahaya merah dan biru yang bergantian, tulisan tanganku sendiri terlihat seperti tulisan orang lain.

Aku membalik halaman-halaman itu pelan. Satu per satu. Seratus delapan puluh lima catatan. Kebanyakan pendek. Satu atau dua baris. Beberapa lebih panjang. Ada satu halaman yang tintanya luntur karena terkena gerimis, malam itu, di tengah gang, di bawah satu-satunya lampu jalan yang menyala.

Aku sampai di halaman kosong.

Aku memegang pulpen di atas halaman itu cukup lama.

Lalu aku memikirkan hal-hal yang tidak ada di buku ini.

Aku memikirkan Kinan, yang tidur di kasur lipat di rumah Dita, dua gang dari sini, dan tidak membalas pesanku sejak seminggu lalu. Aku memikirkan surat yayasan dengan kata nama baik. Aku memikirkan meja kayu di baris kedua dekat jendela, dengan lekukan tipis yang warnanya lebih terang dari bagian lain.

Aku memikirkan Pak Gondo dan cabai merahnya yang akan sampai besok lewat travel, ke alamat bengkel yang sudah bukan bengkelnya.

Aku memikirkan jembatan gantung kecil yang akan dibangun orang lain.

Aku memikirkan Shella.

Cara ia tertawa melihat saus tomat di atas nampan plastik. Cara ia memasang stetoskop di dadanya sendiri dan matanya basah sebentar, lalu tidak lagi. Cara ia memeluk rantang aluminium di depan gerbang kompleksnya, dengan sweter yang terlalu besar dan rambut yang kusut dan wajah yang pucat karena demam.

Ia cantik bahkan saat sakit. Terutama saat sakit. Saat ia lupa menata wajahnya.

Aku memikirkan suaranya di telepon tadi. Aku ikut, Mas. Lebih rendah dari biasanya. Seperti seseorang yang sudah lama menunggu sesuatu, dan sekarang sesuatu itu sudah sangat dekat, dan ia tidak yakin lagi apakah ia masih menginginkannya.

Aku menulis di halaman kosong itu.

Hari ke-186.

Aku berhenti.

Lalu aku menambahkan dua kata.

Besok, kurasa.

Aku menutup bukunya.


Pukul empat pagi, aku bangun dari tikar. Aku tidak tidur sama sekali, tapi tubuhku sudah terbiasa dengan itu.

Aku mandi di kamar mandi umum dengan air yang sangat dingin. Aku memakai kemeja abu-abu muda yang sudah kusetrika, celana bahan hitam, sepatu pantofel yang solnya tipis tapi kusemir sampai mengilap. Aku menyisir rambut cepakku.

Aku mengambil bunga sedap malam dan melati dari ember dan membungkusnya dengan koran.

Lalu aku berdiri sebentar di tengah kamar.

Aku menatap piagam-piagam di dinding. Aku menatap tikar di lantai. Aku menatap kotak perkakas merah milik Bapak di pojok, dengan kunci inggris tua di dalamnya yang gagangnya sudah aus karena tangan Bapak, lalu tanganku.

Aku menatap ransel lusuh di samping kotak perkakas. Laporan hard cover warna biru tua masih ada di dalamnya. Aku tidak membuangnya.

Aku memasukkan buku cokelat ke saku celana.

Lalu aku turun tangga besi, pelan, supaya tidak membangunkan Cik Lani, dan duduk di anak tangga paling bawah di depan pintu laundry yang masih tertutup.

Langit mulai terang. Abu-abu. Lalu biru pucat. Lalu jingga di ujung timur, di balik tower BTS dan atap-atap rumah.

Azan subuh terdengar dari masjid di ujung gang. Aku berjalan ke sana, salat di saf paling belakang, lalu kembali ke anak tangga yang sama.

Aku duduk di sana dan menunggu.

Pukul delapan kurang sepuluh, sebuah mobil berhenti di depan laundry.

Aku berdiri. Bunga di tanganku masih wangi.