← Hukuman Kedua

Chapter Thirty One

Bab 31 — Neng Dokter

POV: Shella

Puskesmas Palabuhanratu adalah bangunan bercat hijau-putih dengan atap genteng yang sebagian sudah berlumut, di pinggir jalan utama, tiga ratus meter dari pantai. Kalau angin bertiup dari laut, ruang periksa berbau garam dan ikan asin dari pasar di seberang jalan.

Bu Nengsih, perawat senior yang sudah bekerja di sana selama dua puluh tujuh tahun, menyambutku di pintu depan hari Senin pagi pukul tujuh kurang lima.

Ia perempuan bertubuh pendek dan bulat, dengan kerudung putih yang disematkan rapi dan kacamata baca yang tergantung di rantai manik-manik di lehernya. Ia menatapku dari ujung kaki ke ujung kepala dengan ketelitian yang sama seperti Kinan di ambang pintu kontrakan, berbulan-bulan lalu.

“Dokter Shella?”

“Iya, Bu.”

“Cantik,” katanya. Datar. Seperti melaporkan suhu badan pasien. “Bakal repot.”

“Repot kenapa, Bu?”

“Nanti pasien laki-laki pura-pura sakit semua.” Ia berbalik dan berjalan masuk. “Ayo. Pasien udah antre dari subuh. Nelayan. Pulang melaut langsung ke sini. Bau ikannya nempel di kursi.”


Hari pertama, aku memeriksa empat puluh tujuh pasien.

Nelayan dengan luka tusuk kail di telapak tangan. Ibu-ibu dengan tekanan darah dua ratus karena makan ikan asin setiap hari. Anak-anak dengan diare karena minum air sumur. Seorang kakek yang datang hanya untuk diukur tensinya, setiap hari, karena katanya dokter internsip sebelumnya selalu memberinya permen.

“Dokter yang lama kabur,” katanya padaku, sambil menunggu tensimeter mengempis. “Nggak tahan sama saya.”

“Saya tahan, Kek.”

“Dokter yang lama juga bilang gitu.”

Bu Nengsih, yang sedang menulis di buku register di meja sebelah, tertawa pendek tanpa mengangkat wajah.

Aku membuka laci meja periksa dan menemukan sebungkus permen jahe yang ditinggalkan dokter sebelumnya. Aku memberikan satu pada kakek itu.

Ia menatap permen itu, lalu menatapku, lalu memasukkannya ke saku kemejanya dengan wajah puas.

“Besok saya dateng lagi,” katanya.

Aku memakai stetoskop yang mengilap. Stetoskop dengan selang silikon empat koma lima milimeter. Aku memakainya untuk empat puluh tujuh dada, empat puluh tujuh punggung, empat puluh tujuh jantung yang berdetak dengan irama masing-masing.

Setiap kali aku memasang ujung telinganya, aku tahu persis di mana orang yang memperbaikinya berada. Tiga ratus meter ke barat. Di ujung pelabuhan perikanan. Memanggul karung semen di bawah matahari.


Pukul dua belas, saat istirahat siang, Bu Nengsih duduk di sebelahku di bangku kayu di teras belakang puskesmas. Ia membuka kotak bekal berisi nasi, ikan tongkol balado, dan sayur daun singkong.

Ia menyodorkan kotak itu ke arahku. Aku menggeleng. Ia tetap menyodorkannya.

“Makan, Dok. Dokter yang nggak makan bikin pasien takut.”

Aku mengambil sepotong tongkol dengan tangan. Pedas. Sangat pedas.

Bu Nengsih memperhatikanku makan, lalu bertanya tanpa basa-basi.

“Dokter ngapain milih ke sini?”

Aku berhenti mengunyah.

“Dokter nilai ujiannya bagus,” lanjutnya. “Saya liat di surat pengantar. Dokter dari kampus bagus di Jakarta. Dokter bisa pilih rumah sakit gede. Kenapa milih puskesmas kecil di pinggir laut yang dokter sebelumnya kabur?”

Aku menelan tongkol itu. Pedasnya naik ke mata.

“Ada orang yang saya cari di sini, Bu.”

Bu Nengsih mengangguk pelan, seolah aku baru saja menjawab dengan jawaban yang sudah ia tebak.

“Laki-laki?”

“Iya.”

“Pacar?”

“Bukan.”

“Suami?”

“Bukan.”

“Utang?”

Aku menatapnya. Bu Nengsih menatapku balik dari balik kacamata yang tergantung di dadanya.

“Iya,” kataku. “Utang.”

Bu Nengsih mengangguk lagi. Lalu ia menunjuk ke arah laut dengan sendoknya.

“Dok tahu ikan kerapu?”

“Tahu, Bu.”

“Kerapu itu kalau kena pancing, terus lepas, dia nggak pernah balik ke batu yang sama. Dia cari batu lain. Lebih dalem. Lebih gelap.” Bu Nengsih menyendok nasinya. “Nelayan di sini bilang, kalau mau nangkep kerapu yang pernah lepas, jangan pakai pancing lagi. Dia udah kenal rasanya kail.”

“Terus pakai apa?”

“Nggak usah ditangkep.” Bu Nengsih mengunyah dengan tenang. “Tunggu aja. Duduk di perahu. Diem. Jangan lempar apa-apa. Lama-lama dia keluar sendiri dari batunya, liat siapa yang nunggu.”

“Berapa lama?”

Bu Nengsih mengangkat bahu. “Tergantung seberapa dalem kailnya dulu nancep.”


Mak Ijah sudah tahu siapa aku sebelum aku memperkenalkan diri.

“Neng dokter puskesmas!” serunya begitu aku duduk di bangku kayu warungnya, pukul enam pagi, hari Selasa. “Udah satu kampung tahu! Dokter cantik dari Jakarta! Kemarin si Ujang pura-pura sakit perut biar bisa diperiksa sama Neng!”

“Ujang yang mana, Mak?”

“Yang giginya ompong satu. Dia nggak sakit apa-apa. Dia cuma mau dipegang perutnya sama dokter cantik.” Mak Ijah tertawa terbahak, sampai perutnya yang besar berguncang. “Saya udah jewer kupingnya.”

Aku tertawa kecil. Mak Ijah menatapku dengan puas.

Lalu ia mencondongkan tubuh ke arahku, menurunkan suaranya, dan matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.

“Neng ke sini buat Si Diem, kan?”

Aku tidak menjawab.

“Mak liat Neng ngikutin dia ke dermaga lama, Minggu sore. Mak liat Neng berdiri di sana sampai gelap.” Mak Ijah menatapku dengan mata menyipit. “Neng siapanya? Mantan?”

“Bukan, Mak.”

“Istri yang ditinggal?”

“Bukan.”

“Terus siapa?”

Aku menatap gelas kopi hitam di depanku.

“Orang yang nyakitin dia, Mak.”

Mak Ijah diam.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, perempuan tua itu tidak punya kalimat apa pun. Ia hanya menatapku, lalu menatap ke arah gerbang proyek di seberang jalan, lalu menatapku lagi.

“Pantesan,” katanya pelan. “Pantesan dia kayak gitu.”


Aku membeli sarapan untuknya setiap pagi.

Nasi uduk dari warung Mak Ijah, dengan telur balado dan tempe orek. Aku membayarnya dan meminta Mak Ijah menyimpannya sampai ia lewat.

“Bilang aja dari warung, Mak. Jangan bilang dari aku.”

Mak Ijah menatapku seolah aku baru saja menyuruhnya menipu malaikat.

“Neng, Si Diem itu nggak bego. Dia tahu Mak nggak pernah ngasih gratis ke siapa-siapa. Mak ini orang Sunda, Neng, bukan Sinterklas.”

“Coba aja, Mak.”

Mak Ijah mencoba.

Pukul tujuh lewat lima belas, ia berdiri di depan warungnya dengan bungkusan nasi uduk di tangan dan senyum yang dibuat-buat. Laki-laki itu lewat dari arah mess, dengan kaus pudar dan handuk di leher.

“Diem! Sini! Ada sarapan!”

Ia berhenti. Ia menatap bungkusan itu. Lalu ia menatap ke arah warung, ke bangku kayu tempat aku duduk di bawah terpal biru.

Ia menatapku sedetik.

Lalu ia menatap Mak Ijah lagi.

“Makasih, Mak,” katanya. “Saya udah makan.”

Ia berjalan masuk ke proyek.

Mak Ijah kembali ke warung, menatap bungkusan nasi uduk di tangannya, lalu duduk di sebelahku dengan napas berat.

“Mak bilang apa,” katanya. “Dia nggak bego.”

Ia membuka bungkusan itu dan mulai memakannya sendiri.

“Sayang kalau dibuang,” katanya dengan mulut penuh. “Neng udah bayar.”


Hari Kamis, ia datang ke puskesmas.

Bukan untuk dirinya. Ia menggendong seorang pekerja muda di punggungnya, anak laki-laki mungkin sembilan belas tahun, yang kakinya tertusuk besi tulangan. Darah membasahi celana pendek anak itu dan menetes ke lantai teras puskesmas.

Bu Nengsih berteriak memanggil brankar. Aku keluar dari ruang periksa.

Ia menurunkan anak itu ke brankar dengan hati-hati. Tangannya penuh darah anak itu. Kausnya penuh darah anak itu.

Ia mengangkat wajah dan melihatku.

“Selamat pagi, Dok,” katanya.

Sopan. Datar. Seperti pekerja proyek mana pun yang membawa temannya ke puskesmas.

“Besinya tembus dari telapak sampai punggung kaki. Sudah saya cabut di lokasi, soalnya kakinya kejepit. Mungkin harusnya nggak dicabut. Maaf.”

Ia melaporkannya seperti melaporkan hasil pengukuran. Lengkap. Presisi.

“Nggak apa-apa,” kataku. Suaraku keluar normal. Aku tidak tahu bagaimana. “Pendarahannya terkontrol. Kamu udah tekan lukanya?”

“Pakai kaus. Lima belas menit.”

“Bagus.”

Aku menangani anak itu. Membersihkan luka, memeriksa tulang, menjahit, memberikan suntikan antitetanus. Bu Nengsih membantu di sebelahku. Laki-laki itu berdiri di pintu ruang tindakan, menunggu, dengan tangan yang penuh darah kering.

Saat aku selesai dan keluar, ia masih di sana.

“Dia nggak apa-apa,” kataku. “Nggak ada tulang yang patah. Seminggu jangan kerja. Ganti perban tiap dua hari di sini.”

“Makasih, Dok.”

Ia mengangguk sekali. Lalu ia berbalik untuk pergi.

“Arya.”

Ia berhenti. Ia tidak menoleh.

“Tanganmu,” kataku. “Cuci dulu. Di wastafel sana. Ada sabun.”

Ia menatap tangannya sendiri, seolah baru menyadari darah di sana.

“Makasih, Dok,” katanya lagi.

Ia mencuci tangannya di wastafel di ujung lorong. Lama. Teliti. Sela-sela jari. Kuku. Punggung tangan, di sekitar bekas luka bakar yang bulat dan mengilap.

Lalu ia pergi tanpa menoleh.

Bu Nengsih berdiri di sampingku dan menatap punggungnya yang menjauh.

“Itu kerapunya?” tanyanya pelan.

Aku tidak menjawab.

“Sopan banget,” kata Bu Nengsih. “Kayak tamu.”

Ia benar. Itu yang paling menyakitkan.

Ia tidak marah padaku. Ia tidak menghindar dengan kasar. Ia memanggilku Dok, mengucapkan selamat pagi dan makasih, mencuci tangannya saat disuruh. Ia memperlakukanku persis seperti dokter puskesmas mana pun yang tidak pernah ia kenal.

Seperti orang asing yang sopan.

Kemarahan bisa dihadapi. Kemarahan punya pintu. Sopan santun ini tidak punya pintu sama sekali. Hanya dinding yang licin dan dingin, tanpa celah untuk dipegang.


Hari Jumat pagi, Mak Ijah menceritakan sesuatu padaku.

“Neng,” katanya sambil menuang kopi. “Neng tahu nggak, Si Diem sekarang lewat jalan belakang.”

“Jalan belakang?”

“Dari mess ke proyek. Dulu dia lewat jalan depan, lewat warung Mak, lewat depan puskesmas.” Mak Ijah menunjuk jalan utama dengan dagunya. “Sejak Senin, dia lewat jalan belakang. Lewat kebun kelapa, terus nyebrang kali kecil, terus masuk dari pagar samping proyek. Becek. Banyak nyamuk. Muter setengah kilo.”

Aku menatap kopi di depanku.

“Kenapa, Mak?”

Mak Ijah menatapku dengan wajah yang tiba-tiba lembut. Wajah seorang nenek.

“Biar nggak lewat depan puskesmas, Neng,” katanya. “Biar nggak liat Neng.”

Aku tidak bisa bicara.

“Tapi Mak bilang ya,” lanjut Mak Ijah, menurunkan suaranya. “Orang yang beneran nggak peduli, nggak bakal repot-repot muter setengah kilo lewat kebun becek tiap pagi. Orang yang nggak peduli lewat jalan biasa aja, liat Neng, terus lewat. Gampang.”

Aku menatap Mak Ijah.

“Dia muter,” kata Mak Ijah, “karena dia belum bisa liat Neng. Itu beda sama nggak mau liat.”

Aku membuka buku cokelat di pangkuanku. Mak Ijah melirik isinya, tapi tidak bertanya.

Hari ke-68. Dia lewat jalan belakang. Kebun kelapa, kali kecil, setengah kilo. Supaya tidak melihatku.

Bu Nengsih bilang kerapu yang pernah lepas tidak pernah kembali ke batu yang sama.

Mak Ijah bilang dia muter karena belum bisa, bukan karena tidak mau.

Aku tidak tahu siapa yang benar.

Aku akan duduk di perahu. Diam. Tidak melempar apa-apa.

Di sebelahku, Mak Ijah menuang segelas kopi hitam lagi, tanpa gula, dan meletakkannya di depanku tanpa kuminta.

“Gratis,” katanya. “Sekali ini aja. Jangan bilang-bilang.”

Lalu, sambil membersihkan meja dengan lap yang sudah lusuh, ia bergumam pada dirinya sendiri, cukup keras untuk kudengar.

“Mak belum pernah liat dia senyum. Tapi Mak yakin, kalau dia senyum, semen di proyek itu bakal kering duluan.”

Aku menunduk menatap kopiku.

Aku pernah melihatnya senyum. Di bengkel Pak Gondo, sudut bibir yang terangkat dan tidak dibatalkan. Di restoran cepat saji, mata yang berkerut di atas nampan berlumur saus tomat.

Aku yang menghapus senyum itu. Satu per satu. Sampai tidak ada lagi.