Chapter Thirty Five
Bab 35 — Novum
POV: Shella
Kantor Lembaga Bantuan Hukum itu berada di lantai dua sebuah ruko tua di Jakarta Pusat, di atas toko fotokopi yang mesinnya berbunyi tanpa henti. Tangganya sempit. Catnya mengelupas. Di dinding lorong, ada poster-poster kasus lama: buruh yang di-PHK sepihak, warga yang digusur, petani yang tanahnya diambil.
Aku datang hari Sabtu pagi, setelah menyetir lima jam dari Pelabuhanratu.
Pengacara yang menemuiku bernama Mbak Dewanti. Perempuan berusia empat puluhan, rambut pendek beruban di pelipis, kacamata berbingkai tebal, dan kemeja batik yang lengannya digulung sampai siku. Ia duduk di balik meja yang penuh tumpukan map, dan ia mendengarkanku tanpa mencatat apa pun selama satu jam penuh.
Aku menceritakan semuanya. Buku tulis biru. Mang Udin. Pengakuan di sidang. Surat keberatan ke asosiasi. Aku tidak menyembunyikan bagianku. Aku tidak memperhalus apa pun.
Saat aku selesai, Mbak Dewanti melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya.
“Saya sudah dua puluh tahun di sini,” katanya. “Saya sudah dengar banyak cerita. Ini termasuk yang paling…” Ia mencari kata. “Yang paling berat buat didengar.”
“Saya tahu, Mbak.”
Ia memakai kacamatanya lagi dan menatapku.
“Saya jelaskan dulu apa yang bisa dan nggak bisa dilakukan. Supaya Mbak nggak berharap pada hal yang salah.”
Aku mengangguk.
“Satu. Peninjauan kembali atas putusan Saudara Arya hanya bisa diajukan oleh terpidana sendiri, atau ahli warisnya kalau ia sudah meninggal. Bukan oleh Mbak. Bukan oleh saya. Kalau Saudara Arya tidak mau mengajukan, putusan itu tetap berlaku. Namanya tetap tercatat sebagai orang yang bersalah.”
“Dia nggak akan mau,” kataku pelan.
“Kenapa Mbak yakin?”
“Karena dia percaya dia pantas dihukum.”
Mbak Dewanti diam sebentar.
“Dua,” lanjutnya. “Yang bisa Mbak lakukan adalah membuat laporan baru ke kepolisian. Bukan soal Saudara Arya, tapi soal tindak pidana yang sebenarnya terjadi: pengurangan spesifikasi material, penjualan material proyek, yang mengakibatkan kematian. Pelakunya yang masih hidup bisa diproses. Mang Udin. Dan siapa pun yang menerima barang hasil penjualan itu.”
“Toko Sumber Rejeki. Cikarang.”
“Ada di buku itu?”
“Ada.”
Mbak Dewanti mencatat untuk pertama kalinya.
“Tiga. Buku catatan ayah Mbak itu bukti tertulis. Tapi buku catatan bisa dibantah. Bisa dibilang palsu, bisa dibilang ditulis belakangan. Yang paling kuat adalah keterangan saksi yang terlibat langsung. Mang Udin.” Ia menatapku. “Kondisinya bagaimana?”
“Kanker paru stadium empat. Sudah pulang ke rumah. Paliatif.”
“Berapa lama lagi?”
Aku tidak menjawab. Aku dokter. Aku tahu jawabannya. Aku tidak sanggup mengucapkannya.
Mbak Dewanti mengerti dari diamku.
“Kalau begitu kita harus cepat,” katanya. “Keterangannya harus diambil secara resmi. Di depan penyidik, atau setidaknya dalam bentuk pernyataan tertulis di bawah sumpah, disaksikan notaris dan saksi. Sebelum terlambat. Itu novum. Bukti baru. Kalau suatu hari Saudara Arya berubah pikiran dan mau mengajukan PK, itu yang akan dipakai.”
“Kalau dia nggak pernah berubah pikiran?”
“Maka setidaknya kebenaran itu tercatat. Di kepolisian. Di pengadilan. Di tempat yang bisa diakses publik.” Mbak Dewanti meletakkan pulpennya. “Dan itu membawa kita ke nomor empat.”
Ia menatapku lama sebelum melanjutkan.
“Kalau ini dibuka, Mbak, keluarga dua korban lain bisa menggugat perusahaan ayah Mbak secara perdata. Asuransi bisa menuntut kembali pembayaran klaim, karena klaimnya didasarkan pada keterangan yang ternyata tidak benar. Perusahaan bisa diaudit. Aset bisa disita. Nama ayah Mbak akan tercatat sebagai pelaku. Dan nama Mbak…”
Ia berhenti.
“Nama saya akan tercatat sebagai anak koruptor yang membalas dendam pada orang yang menyelamatkan keluarganya,” kataku.
Mbak Dewanti tidak membantah.
“Mbak baru disumpah jadi dokter, kan?” tanyanya pelan. “Internsip?”
“Iya.”
“Mbak siap?”
Aku menatap tanganku di pangkuan. Tangan yang memegang pulpen Pak Hadi di lounge hotel Senayan. Tangan yang mengangkat diri ke arah wajahnya di bawah terpal biru, lalu membeku di udara.
“Saya nggak tahu siap atau nggak, Mbak,” kataku. “Tapi saya nggak punya pilihan lain yang bisa saya jalani.”
Mbak Dewanti mengangguk pelan.
“Itu jawaban yang jujur,” katanya. “Saya lebih percaya itu daripada saya siap.”
Rumah Mang Udin berada di sebuah gang di Bekasi Timur, tidak jauh dari bekas proyek ruko. Rumah kecil berlantai keramik putih yang retak-retak, dengan teras yang penuh sandal dan sebuah kursi roda yang dilipat di pojok.
Istrinya membuka pintu. Perempuan bertubuh kecil dengan kerudung hitam dan mata yang sembap, seperti orang yang sudah lama menangis dan sudah lupa cara berhenti.
“Dokter Shella?” tanyanya.
Aku belum memperkenalkan diri.
“Mang Udin cerita,” katanya, sebelum aku sempat bertanya bagaimana ia tahu. “Dia bilang dokter cantik, anaknya Pak Hendra. Dia bilang dokter itu pasti datang.” Ia membuka pintu lebih lebar. “Masuk, Dok.”
Mang Udin berbaring di kasur di ruang tengah, karena kamarnya terlalu sempit untuk tabung oksigen. Ia lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya di bangsal paru. Napasnya lebih pendek. Kulitnya lebih kuning.
Tapi matanya terbuka. Dan saat ia melihatku, sesuatu di wajahnya berubah. Bukan senyum. Sesuatu yang lebih tenang.
“Neng,” katanya. Suaranya tinggal bisikan.
Aku berlutut di samping kasurnya. Aku tidak memeriksanya. Aku tidak memasang stetoskop. Aku hanya berlutut di sana.
“Mang,” kataku. “Maaf saya bentak Mamang waktu itu.”
Mang Udin menggeleng lemah di atas bantal.
“Neng nggak salah,” katanya. “Neng nggak tahu.”
Aku tidak menjawab. Aku tahu. Aku hanya memilih tidak tahu. Itu berbeda.
Istri Mang Udin duduk di kursi plastik di ujung kasur. Ia menatap suaminya, lalu menatapku.
“Kemarin Mas Arya dateng, Dok,” katanya.
Aku membeku.
“Dateng subuh-subuh,” lanjut istri Mang Udin pelan. “Jam sepuluh pagi udah di depan pintu. Pakai kemeja abu-abu. Bawa jeruk sekilo.”
Jeruk.
Ia membawakanku jeruk yang sudah dikupas, di rantang aluminium yang gagangnya dililit karet ban dalam, saat aku demam.
“Mamang langsung nangis begitu liat dia,” kata istri Mang Udin. “Kayak anak kecil. Mamang mau bangun, mau sujud di kakinya, tapi nggak kuat. Mas Arya tahan bahunya. Bilang, jangan, Mang. Jangan.”
Mang Udin memejamkan mata. Air mata mengalir dari sudutnya, turun ke pelipis, membasahi bantal. Seperti di bangsal paru.
“Mas Arya duduk di situ.” Istri Mang Udin menunjuk lantai di samping kasur, tempat aku berlutut sekarang. “Di lantai. Nggak mau di kursi. Pegang tangan Mamang. Lama. Dua jam lebih.”
“Dia bilang apa?” tanyaku. Suaraku nyaris tidak keluar.
Istri Mang Udin menatap suaminya.
“Mamang minta maaf terus. Berulang-ulang. Mamang bilang Mamang pengecut. Mamang bilang Mamang diem tiga tahun sementara Mas Arya di penjara.” Ia menelan ludah. “Terus Mas Arya bilang…”
“Saya juga salah, Mang,” bisik Mang Udin dengan mata terpejam. Suaranya serak dan putus-putus, tapi ia mengucapkan setiap kata dengan jelas, seolah ia sudah mengulangnya di kepala ratusan kali sejak kemarin. “Saya yang setuju nunggu seminggu. Saya bisa paksa. Saya bisa lapor. Saya nggak lakuin. Tiga orang mati karena saya nunggu.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Mamang bilang bukan, Mas. Bukan. Itu salah Mamang sama Pak Hendra.” Mang Udin terbatuk. Panjang. Istrinya mengangkat kepalanya dan mengelap darah tipis di sudut bibirnya dengan tisu. Ia melanjutkan setelah napasnya kembali. “Mas Arya cuma geleng. Dia bilang, kita semua salah, Mang. Tapi Mamang udah bayar. Mamang udah sakit. Mamang udah cukup.”
Mamang udah cukup.
Ia bisa mengatakannya pada Mang Udin. Pada orang yang menjual besi di gedung yang runtuh di atas tiga orang.
Ia tidak bisa mengatakannya pada dirinya sendiri.
“Terus Mamang bilang,” lanjut istri Mang Udin, “Mamang mau ngaku. Ke polisi. Mamang mau semua orang tahu Mas Arya nggak salah hitung.”
“Terus dia bilang apa?”
Istri Mang Udin menunduk.
“Dia bilang jangan, Dok.”
“Jangan, Mang,” ulang Mang Udin, dengan mata yang kini terbuka dan menatap langit-langit. “Biar. Biar aja. Udah lewat. Jangan bikin keluarga Pak Hendra susah. Jangan bikin Neng Shella…”
Ia berhenti.
“Jangan bikin aku apa, Mang?”
Mang Udin menoleh padaku. Pelan, karena lehernya sudah tidak punya tenaga.
“Jangan bikin Neng Shella malu,” katanya. “Dia bilang Neng baru jadi dokter. Dia bilang Neng nggak boleh jadi anak koruptor di depan orang-orang. Dia bilang, biar dia aja. Dia udah biasa.”
Aku tidak bisa bernapas.
Ia datang ke sini. Dari Pelabuhanratu. Travel jam empat subuh. Kemeja abu-abu. Jeruk sekilo. Ia duduk di lantai dua jam memegang tangan orang yang menjual besi itu. Ia memaafkannya.
Lalu ia memintanya diam.
Untukku.
Setelah seratus delapan puluh tujuh hari. Setelah ludah. Setelah ia tahu aku pindah ke Pelabuhanratu, tidur di kasur kardus, membelikannya sarapan yang tidak pernah ia makan. Setelah ia mengembalikan suratku tanpa membukanya.
Ia masih menjaga namaku.
Aku menekan dahiku ke tepi kasur Mang Udin. Kasur itu bau obat dan keringat dan minyak kayu putih.
Aku tidak menangis. Aku sudah tidak punya air mata yang tersisa sejak malam di lantai kamar Pondok Indah. Yang keluar hanya napas. Panjang. Putus-putus.
Sebuah tangan menyentuh kepalaku.
Tangan Mang Udin. Kurus. Dingin. Gemetar. Dengan jarum infus yang sudah dicabut dan meninggalkan bekas biru di punggungnya.
“Neng,” bisiknya. “Mamang nggak mau nurut.”
Aku mengangkat wajah.
“Mamang udah mau mati,” kata Mang Udin. Matanya basah, tapi tatapannya jernih. Lebih jernih dari yang pernah kulihat di bangsal. “Mamang nggak mau mati bawa dosa ini. Mamang nggak mau Mas Arya hidup pakai nama pembunuh sampai tua. Gara-gara Mamang.”
Ia menggenggam tanganku dengan sisa tenaganya.
“Bawa pengacara, Neng. Bawa polisi. Bawa siapa aja. Mamang mau ngomong.” Ia menarik napas. Pendek. Seperti kertas yang diremas. “Mamang mau tanda tangan. Sebelum…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Ia tidak perlu.
Aku menelepon Mbak Dewanti dari teras rumah Mang Udin, di antara sandal-sandal dan kursi roda yang dilipat.
“Besok,” kataku. “Bisa besok, Mbak? Dia mau. Dia mau tanda tangan.”
Mbak Dewanti diam sebentar di ujung telepon. Aku mendengar bunyi mesin fotokopi dari lantai bawah kantornya.
“Saya bawa notaris dan dua saksi,” katanya. “Jam sembilan pagi. Dan saya akan hubungi kenalan saya di Polda, supaya ada penyidik yang bisa ambil keterangan awal di tempat.”
“Makasih, Mbak.”
“Mbak Shella.”
“Iya?”
“Saudara Arya minta Mang Udin diam. Mbak tahu itu, kan? Mbak tahu Mbak sedang melakukan sesuatu yang dia minta untuk tidak dilakukan.”
Aku menatap jalan gang di depan rumah. Anak-anak kecil bermain kelereng di bawah tiang listrik. Seorang ibu menjemur kerupuk di atas tampah.
“Saya tahu, Mbak.”
“Dia mungkin tidak akan memaafkan Mbak untuk ini.”
“Dia belum memaafkan saya untuk yang lain,” kataku. “Saya nggak sedang minta dimaafkan.”
Mbak Dewanti diam lagi. Lalu ia berkata sesuatu yang membuatku memegang pagar teras lebih erat.
“Kadang,” katanya, “hal yang benar untuk dilakukan bagi seseorang adalah hal yang paling ia takuti. Saya sudah lihat itu berkali-kali. Orang yang terlalu lama memikul kesalahan orang lain, lama-lama lupa bahwa beban itu bukan miliknya.” Ia menghela napas. “Sampai jumpa besok, Mbak Shella.”
Malam itu aku menginap di hotel kecil dekat stasiun Bekasi. Aku tidak pulang ke Pondok Indah. Aku belum sanggup menatap Mama.
Aku membuka buku cokelat di atas kasur hotel yang seprainya bau pemutih.
Hari ke-94.
LBH. Mbak Dewanti. PK hanya bisa diajukan Arya sendiri. Dia tidak akan mau.
Rumah Mang Udin. Arya datang kemarin. Duduk di lantai dua jam. Pegang tangan Mang Udin. Bilang: Mamang udah cukup.
Dia minta Mang Udin diam. Untukku. Supaya aku tidak malu.
Mang Udin bilang dia tidak mau nurut.
Besok jam sembilan, Mang Udin tanda tangan.
Aku berhenti.
Lalu aku menulis satu kalimat lagi.
Aku melakukan sesuatu yang dia minta untuk tidak dilakukan. Aku tahu harganya.
Aku akan membayarnya.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum reading
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365