← Hukuman Kedua

Chapter Twenty Four

Bab 24 — Mang Udin

POV: Shella

Bed sebelas.

Laki-laki itu kurus sekali. Kulitnya kuning keabuan, menempel di tulang pipi dan tulang selangka seperti kain basah di atas rangka kawat. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Di sisi kanan dadanya, sebuah selang drainase mengalirkan cairan kekuningan ke botol plastik di bawah ranjang.

Napasnya pendek dan cepat. Setiap tarikan berbunyi seperti kertas yang diremas.

“Selamat pagi, Pak,” kataku. “Saya dokter muda yang jaga hari ini. Saya periksa dulu, ya.”

Ia mengangguk lemah. Matanya setengah terbuka.

Aku memasang stetoskop. Yang lama. Yang ujung telinganya diselotip.

Aku menempelkannya ke dada kirinya. Lalu kanan. Aku tidak bisa mendengar apa-apa dengan jelas. Bunyi napasnya teredam, seperti suara dari balik bantal, bercampur desis kebocoran dari ujung telinga yang retak.

Aku menekannya lebih keras.

Ia meringis.

“Maaf, Pak.”

Aku menarik stetoskop itu. Aku menatapnya di tanganku. Lalu, tanpa benar-benar memutuskannya, tanganku masuk ke saku jas putih yang lain.

Aku membawanya hari ini. Aku tidak tahu kenapa. Aku memasukkannya ke saku pagi tadi, di samping stetoskop lama, seperti membawa jimat yang tidak boleh dipakai.

Kepala dada baja yang mengilap seperti cermin. Selang silikon hitam yang lembut.

Aku memasangnya.

Aku menempelkan diafragmanya ke dada kanan laki-laki itu.

Suaranya jelas. Sangat jelas. Bunyi napas bronkial yang kasar di lapang atas. Hilang sama sekali di lapang bawah, tempat cairan menumpuk. Suara-suara kecil di antaranya, seperti gemeresik daun kering. Aku mendengar semuanya. Seolah aku menempelkan telingaku langsung ke paru-parunya.

Tangan yang mengukur diameter selang ini dengan jangka sorong. Empat koma lima milimeter. Supaya suaranya tidak berubah.

Aku menelan sesuatu yang naik ke tenggorokanku dan terus memeriksa.


Saat aku selesai dan menegakkan tubuh, laki-laki itu sudah membuka matanya lebar-lebar.

Ia menatapku.

Bukan tatapan pasien kepada dokter. Tatapan orang yang sedang mencoba mengingat sesuatu. Matanya bergerak di wajahku, dari dahiku, ke mataku, ke hidungku, ke papan nama di dada jas putihku.

Shella F. Wijaya.

Napasnya berubah. Lebih cepat. Monitor di samping ranjang berbunyi pelan, saturasi oksigen turun dua angka.

“Pak, tenang dulu. Tarik napas pelan-pelan.”

“Neng…” Suaranya serak, tinggal setengah. “Neng Shella?”

Aku membeku.

“Anaknya… Pak Hendra?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak perlu menjawab. Ia sudah tahu. Aku melihatnya tahu.

Lalu laki-laki itu menangis.

Tidak bersuara. Air mata mengalir dari sudut matanya yang cekung, turun ke pelipis, membasahi bantal. Bibirnya yang pecah-pecah bergetar. Tangannya yang kurus, dengan jarum infus di punggungnya, terangkat dari kasur dan mencoba meraih lenganku.

Aku mundur selangkah.

“Bapak kenal saya?”

“Saya… Udin.” Ia terbatuk. Batuk yang panjang dan basah. Aku menunggu. “Mang Udin. Tukang besi. Wijaya Konstruksi. Dua puluh tahun… sama ayah Neng.”

Mang Udin.

Aku pernah mendengar nama itu. Dulu. Di meja makan. Mang Udin itu tangan kanan Ayah di lapangan, Shel. Besi sebanyak apa pun, kalau Mang Udin yang pegang, beres.

Aku pernah melihatnya. Di pemakaman Ayah. Laki-laki bertubuh gempal dengan kopiah hitam, yang berdiri paling belakang dan menangis paling keras.

Laki-laki gempal itu sekarang tinggal tulang.

“Bapak dulu di proyek Bekasi?” tanyaku. Suaraku datar. Suara dokter.

Ia mengangguk.

“Waktu ruko itu runtuh?”

Ia mengangguk lagi. Air matanya terus mengalir.

“Saya… dosa, Neng,” katanya. “Saya dosa besar.”


Aku harus pergi. Aku tahu aku harus pergi. Aku harus menyelesaikan visite, menulis status, melapor ke residen. Ada dua puluh pasien lain di bangsal ini.

Aku tidak pergi.

Aku menarik tirai di sekeliling ranjang sebelas. Aku duduk di kursi plastik di sampingnya.

“Dosa apa, Pak?”

Mang Udin menatap langit-langit. Napasnya terdengar seperti kertas diremas. Lama sekali ia tidak bicara, dan aku mulai berpikir ia tidak akan bicara.

Lalu ia mulai.

“Besinya,” katanya. “Besinya… saya yang ganti.”

Aku tidak bergerak.

“Di gambar… enam belas. Saya pasang… tiga belas.” Ia berhenti untuk bernapas. “Semennya… saya kurangin. Sisanya… saya jual. Ke toko. Di Cikarang.”

“Bapak korupsi?”

“Bukan… bukan buat saya.” Ia menggeleng lemah di atas bantal. “Pak Hendra… yang suruh.”

Kalimat itu jatuh di antara kami.

Aku mendengarnya. Telingaku mendengarnya. Tapi kepalaku menolaknya, seperti tubuh yang menolak transfusi darah dengan golongan yang salah. Kalimat itu masuk dan langsung dikeluarkan lagi.

“Apa?”

“Pak Hendra… yang suruh, Neng.” Mang Udin menatapku sekarang. Matanya basah dan merah. “Perusahaan… lagi susah. Banyak utang. Pak Hendra bilang… sedikit aja. Buat bayar gaji. Buat… Neng kuliah.”

“Bohong.”

Kata itu keluar dari mulutku sebelum aku memutuskannya.

“Bapak bohong.”

“Neng—”

“Ayah saya nggak mungkin.” Suaraku naik. Aku tidak peduli lagi dengan tirai tipis di sekeliling ranjang. “Ayah saya bikin yayasan buat anak tukang. Ayah saya datang ke pemakaman tukang-tukangnya. Ayah saya nggak mungkin nyuruh orang ngurangin besi.”

Mang Udin menangis lebih keras. Tubuhnya yang kurus bergetar. Monitor berbunyi lagi.

“Mas Arya…” katanya di sela batuk. “Mas Arya… yang nemu.”

Aku berhenti.

“Dua hari… sebelum runtuh. Mas Arya ukur besinya. Pakai jangka sorong. Dia… tanya saya. Saya nggak bisa jawab.” Napasnya tersengal. “Dia ke kantor Pak Hendra… sore itu. Saya nunggu di luar. Saya dengar… Mas Arya bilang harus dibongkar. Semua. Hari itu juga.”

“Berhenti.”

“Pak Hendra… minta seminggu. Buat cari uang. Mas Arya… setuju.” Ia menatapku dengan mata yang memohon. “Dua hari kemudian… runtuh. Pak Hendra… Pak Sarip… Pak Waluyo.”

“Berhenti, Pak.”

“Mas Arya nggak salah, Neng.” Tangannya terangkat lagi, gemetar, mencoba meraihku. “Mas Arya dipenjara… gantiin kami. Gantiin saya. Gantiin Pak Hendra. Saya pengecut, Neng. Saya diem. Saya diem tiga tahun. Saya…”

Ia terbatuk. Panjang. Darah merah tipis muncul di sudut bibirnya.

Aku berdiri.

Kursi plastik itu terdorong ke belakang dan jatuh ke lantai dengan bunyi yang terlalu keras.


“Bapak sakit,” kataku. Suaraku bergetar, dan aku membencinya. “Bapak sakit parah. Bapak hipoksia. Saturasi Bapak delapan puluh tujuh. Otak Bapak kekurangan oksigen. Bapak bingung. Bapak ngomong ngelantur.”

“Neng…”

“Bapak nggak tahu apa yang Bapak omongin.”

“Saya mau ketemu Mas Arya,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar sekarang. “Sebelum saya mati. Saya mau minta maaf. Tolong, Neng. Bilang ke Mas Arya…”

Aku menyibak tirai.

Seluruh bangsal menatapku. Pasien di bed sepuluh. Keluarga pasien di bed dua belas. Dua perawat di stasiun jaga. Mitha, yang berdiri di ujung bangsal dengan rekam medis di tangannya, menatapku dengan mata lebar.

Aku berjalan keluar dari bangsal.

Aku tidak berlari. Aku berjalan. Lurus. Cepat. Melewati stasiun perawat, melewati lift, menuruni tangga darurat. Lantai lima. Lantai empat. Lantai tiga.

Aku masuk ke toilet perempuan di lantai tiga dan mengunci diri di bilik paling ujung.


Bohong.

Ia bohong.

Ia sakit. Hipoksia. Kanker stadium empat. Metastasis ke otak, mungkin. Belum dicek. Harus dicek. CT scan kepala. Orang dengan metastasis otak bisa berhalusinasi. Bisa mengarang cerita. Bisa yakin pada hal-hal yang tidak pernah terjadi.

Ia bohong.

Atau ia salah ingat.

Atau ia yang sebenarnya korupsi, sendirian, dan sekarang menjelang mati ia ingin melemparkan dosanya pada orang yang sudah meninggal dan tidak bisa membela diri.

Ya. Itu. Itu masuk akal.

Ayah tidak mungkin.

Ayah yang menggendongku ke panggung peresmian yayasan. Saya dulu anak tukang batu. Ayah yang menyelundupkan martabak ke kamarku jam sebelas malam. Ayah yang menangis tanpa suara saat aku diterima di fakultas kedokteran.

Ayah mau lihat kamu pakai jas putih.

Ayah tidak mungkin menyuruh orang mengurangi besi di gedung tempat orang bekerja. Tempat orang bisa mati.

Ayah tidak mungkin.

Aku duduk di atas tutup kloset dengan kepala di antara lutut. Napasku pendek-pendek. Terlalu cepat. Satu. Dua. Tiga. Seperti yang diajarkan di stase psikiatri. Tidak berhasil.

Mas Arya ukur besinya. Pakai jangka sorong.

Jangka sorong.

Ia mengukur diameter selang stetoskop dengan jangka sorong. Empat koma lima milimeter.

Ia mengukur retak rambut di kolom proyek Pak Rusdi dengan penggaris retak. Diam-diam. Lalu menelepon pemiliknya. Dua kali. Meski dimaki mandor. Meski ia hanya kuli.

Kolom ini harus dibongkar. Ada keluarga yang akan tinggal di atasnya.

Tulisan pensil yang tipis di halaman terakhir. Di laci paling bawah meja riasku.

Berhenti.

Berhenti. Berhenti. Berhenti.

Di CV-nya ditulis, kata Kinan waktu itu, di depan kertas folio berisi tujuh belas lamaran yang ditolak. Dia bilang lebih baik ditolak di awal daripada ketahuan belakangan. Jujur kok sampai bodoh begitu.

Orang sejujur itu. Mengaku salah hitung. Di depan hakim. Di bawah sumpah.

Berhenti.

Aku menutup telinga dengan kedua tangan.

Di dalam toilet yang sunyi, dengan lampu neon yang berdengung, aku mendengar jantungku sendiri. Tanpa stetoskop.

Cepat. Terlalu cepat. Tidak teratur.


Mitha menemukanku dua puluh menit kemudian.

Ia mengetuk pintu bilik pelan. Tiga kali.

“Shel.”

Aku tidak menjawab.

“Shel, gue tahu lo di dalem. Sepatu lo keliatan.”

Aku menatap sepatuku. Flat shoes hitam. Mitha bisa melihatnya dari celah di bawah pintu.

“Pasien bed sebelas desaturasi,” kata Mitha pelan. “Delapan puluh dua. Residen udah naikin oksigennya. Udah stabil sekarang. Dia nanyain lo terus.”

Aku menutup mata.

“Dia bilang apa?” tanyaku. Suaraku serak.

Mitha diam sebentar.

“Dia bilang, tolong bilang ke Neng Shella, saya nggak bohong.” Mitha menelan ludah di balik pintu. “Terus dia minta kertas sama pulpen. Katanya mau nulis surat. Buat seseorang namanya Arya.”

Aku membuka mata.

Di balik pintu bilik itu, aku mendengar Mitha bersandar ke dinding. Ia tidak pergi. Ia tidak memaksaku keluar. Ia hanya menunggu.

Seperti seseorang yang bersedia menunggu.

“Shel,” katanya akhirnya. “Arya itu… cowok yang di bengkel? Cowok yang di TV?”

Aku tidak menjawab.

Aku tidak perlu menjawab. Keheningan di balik pintu bilik itu sudah menjawabnya.

Lama sekali kami di sana. Aku di dalam bilik, Mitha di luar, dengan pintu kayu tipis di antara kami dan lampu neon yang berdengung di atas.

“Lo nggak usah cerita sekarang,” kata Mitha akhirnya. “Tapi lo harus keluar. Lo masih dokter jaga bangsal lima. Ada dua puluh pasien di atas.”

Ia benar.

Aku berdiri. Kakiku gemetar. Aku membuka kunci bilik.

Mitha menatapku. Wajahku pasti mengerikan. Ia tidak berkata apa-apa tentang itu. Ia hanya mengeluarkan tisu dari saku jasnya dan menyodorkannya padaku.

Aku menatap tisu itu.

Sapu tangan abu-abu di makam San Diego Hills. Disodorkan tanpa kata, oleh tangan dengan bekas luka bakar, lalu pemiliknya memalingkan wajah supaya aku bisa menangis tanpa ditonton.

Aku mengambil tisu itu. Aku mengelap wajahku.

Lalu aku berjalan kembali ke tangga darurat, dan naik ke lantai lima, dan menyelesaikan visite dua puluh pasien tanpa sekali pun menoleh ke ranjang sebelas.

Saat aku pulang pukul sembilan malam, perawat jaga malam menghentikanku di lorong. Ia menyodorkan secarik kertas yang dilipat empat.

“Dok, ini dari pasien bed sebelas. Katanya titip buat Dokter Shella. Katanya tolong disampaikan ke yang namanya Arya.”

Aku mengambil kertas itu.

Aku tidak membukanya.

Aku memasukkannya ke saku jas putihku, di samping stetoskop dengan kepala dada yang mengilap, dan aku berjalan ke parkiran tanpa merasakan kakiku menyentuh lantai.