← Hukuman Kedua

Chapter Twenty Eight

Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari

POV: Shella

Mitha yang membawanya.

Hari Kamis, pukul empat sore. Satpam kompleks menelepon. Mbak Shella, ada tamu. Dua perempuan. Satu dokter, katanya teman Mbak. Satu lagi anak SMA.

Aku turun ke pos jaga dengan sandal rumah. Lagi.

Mitha berdiri di samping motornya, masih memakai jas putih yang lengannya kotor saus. Di sampingnya, seorang gadis kurus dengan seragam putih abu-abu dan kacamata berbingkai hitam yang terlalu besar untuk wajahnya.

Kinan.

Ia memeluk sesuatu di dadanya. Sebuah buku kecil bersampul cokelat.

“Dia datang ke rumah sakit,” kata Mitha pelan, sebelum aku sempat bertanya. “Ke apotek. Nanyain dokter muda namanya Shella Wijaya. Petugas apotek manggil gue karena gue koas yang paling sering nongkrong di sana.” Mitha menatapku. “Gue nggak tanya apa-apa ke dia, Shel. Gue cuma anter.”

Kinan tidak menatap Mitha. Kinan menatapku.

Matanya.

Mata kakaknya. Tatapan yang tidak menunduk.

Tapi mata itu sekarang merah dan bengkak, dan di bawahnya ada lingkaran hitam seperti orang yang sudah berhari-hari tidak tidur.

“Kinan,” kataku.

Ia berjalan melewati palang gerbang. Satpam bergerak untuk menghentikannya, tapi aku mengangkat tangan.

Kinan berhenti di depanku. Jaraknya satu lengan.

Lalu ia melempar buku itu ke wajahku.


Buku itu mengenai pipiku. Sudutnya yang melengkung menggores kulit di bawah mata kiri. Lalu buku itu jatuh ke aspal di depan pos jaga, terbuka, dan halaman-halamannya bergetar tertiup angin sore.

Beberapa struk ATM yang terselip di dalamnya terlepas dan berserakan di aspal.

Satpam berdiri dari kursinya. Mitha menarik napas tajam.

Aku tidak bergerak.

“Kakak baca,” kata Kinan.

Suaranya tidak keras. Suaranya rendah dan bergetar, seperti kawat yang ditarik terlalu kencang.

“Kakak harus baca.”

“Kinan—”

“Kak Arya ninggalin itu di kamar kos. Di lantai. Di tempat kasurku dulu.” Kinan menatapku tanpa berkedip. “Ada kertas di atasnya. Katanya, buku ini buang aja. Isinya bukan buat siapa-siapa.”

Ia menelan ludah.

“Aku nggak bisa buang. Aku baca. Aku baca semuanya. Tiga malam aku baca. Di kamar Dita, pakai senter HP, biar nggak ada yang liat aku nangis.”

Air mata jatuh dari balik kacamatanya. Ia tidak mengusapnya.

“Kakak yang cabut beasiswaku.”

Aku tidak menjawab.

“Kakak yang kirim foto ulang tahun Kak Arya ke TV. Kakak yang bikin muka Kak Arya ada di stiker WA anak-anak kelasku. Kakak yang bikin aku duduk tiga hari di atas tulisan adik pembunuh.” Suaranya pecah. “Kakak yang bikin aku teriak ke Kak Arya, kenapa Kakak nggak mati aja di penjara.”

Mitha menutup mulutnya dengan tangan.

“Dan Kak Arya tahu,” kata Kinan. Sekarang suaranya naik. Sekarang ia berteriak. “Dia TAHU! Dari hari pertama! Dari hari pertama Kakak dateng ke bengkel Pak Gondo dan bilang Kakak udah maafin dia! Dia tahu semuanya! Kertas di papan RT! Pagar! Kaleng biskuit! Semuanya! Dia nulis semuanya! Dan dia BIARIN!”

Ia menunjuk buku di aspal dengan tangan yang gemetar.

“Dia biarin Kakak ambil semuanya! Kerjaannya! Rumahnya! Sertifikasinya! Aku! Dia biarin Kakak ambil aku! Dan dia nggak pernah bilang apa-apa! Ke siapa pun! Dia cuma nulis di buku itu terus bilang nggak apa-apa, nggak apa-apa, nggak apa-apa!”

Kinan tersedak tangisnya sendiri. Bahunya berguncang.

Mitha melangkah maju dan memeluk Kinan dari belakang. Kinan tidak menolak. Ia membiarkan dirinya dipeluk oleh orang asing di depan gerbang kompleks orang kaya, sambil menangis dengan suara yang membuat satpam memalingkan wajah.

“Kenapa, Kak?” bisik Kinan di sela tangisnya. “Kenapa Kakak tega?”

Aku membuka mulut.

Tidak ada jawaban yang pantas.

Aku berjongkok dan memungut buku cokelat itu dari aspal. Aku memungut struk-struk ATM yang berserakan, satu per satu, dan menyelipkannya kembali di antara halaman.

Saat aku berdiri lagi, Kinan sudah melepaskan diri dari pelukan Mitha.

Ia menatapku sekali lagi. Lalu ia menatap buku di tanganku.

“Itu bukan punyaku,” katanya. Suaranya habis sekarang, tinggal bisikan serak. “Kak Arya bilang isinya bukan buat siapa-siapa. Dia bohong. Itu buat Kakak. Semuanya buat Kakak.”

Ia berbalik dan berjalan pergi. Tidak ke motor Mitha. Ke jalan raya. Dengan seragam putih abu-abu dan tas sekolah dan sandal jepit yang talinya pernah diperbaiki kakaknya.

Mitha menatapku. Wajahnya pucat.

“Gue anter dia pulang,” katanya. Suaranya bergetar. “Lo… lo baca itu. Gue nggak mau tahu isinya. Tapi lo baca.”

Ia naik ke motornya dan menyusul Kinan.


Aku membacanya di kamar.

Aku duduk di lantai, bersandar ke tempat tidur, dengan lampu meja rias sebagai satu-satunya cahaya. Seperti malam aku memilih baju hitam.

Halaman pertama.

Tulisan tangan yang kecil, tegak, presisi. Pensil, di halaman-halaman awal. Lalu pulpen.

Transfer 10 Jan. Rumah Bu Sarip & Bu Waluyo. Masing-masing 50rb. Dari upah bengkel kayu. Sisa: 3.400.

Ulang tahun Kinan 14 Maret. Tidak bisa datang. Titip surat lewat petugas.

Catatan dari penjara. Puluhan halaman. Tanggal transfer. Nominal. Jadwal kunjungan. Nomor rekening. Daftar pelajaran Kinan yang nilainya turun.

Lalu, di tengah buku, sebuah halaman dengan tulisan yang berbeda. Lebih tebal. Seperti ditekan lebih keras.

Hari ke-1. Dia bilang memaafkanku. Matanya tidak.

Aku berhenti bernapas.

Aku menatap kalimat itu.

Hari pertama. Bengkel Pak Gondo. Blus krem. Flat shoes. Kalimat yang kulatih di depan cermin, di mobil, di kamar mandi rumah sakit. Senyum kecil yang ragu-ragu.

Matanya tidak.

Ia tahu. Dari detik pertama. Saat ia menatapku terlalu lama, di halaman bengkel itu. Aku pikir ia mencari tanda bahwa ia benar-benar dimaafkan.

Ia tidak mencari. Ia sudah menemukan.

Aku membalik halaman.


Hari ke-4. Makam. Dia menangis. Yang ini sungguhan, kurasa. Dia tidak tahu harus ke mana dengan air matanya. Aku tidak bisa memberinya apa-apa selain sapu tangan.

Hari ke-9. Dia pesan teh manis lagi. Dia tidak suka teh manis. Mukanya waktu minum seperti minum obat. Kenapa orang memesan sesuatu yang tidak ia suka? Supaya terlihat seperti orang lain, mungkin.

Hari ke-18. Kopi manis lagi. Dua pompa gula aren. Dia ingat aku tidak suka manis. Dia ingat dari hari pertama. Orang tidak lupa sesuatu yang sengaja ia ingat.

Hari ke-18. Dia bilang aku ganteng kalau ngelas. Dia bilang itu sambil menahan sesuatu di tenggorokannya. Aku tidak tahu harus apa dengan kalimat itu. Aku tulis saja.

Hari ke-18. Dua catatan.

Aku membalik halaman. Lagi. Lagi.

Hari ke-25. Kertas di papan RT. Ditulis tangan di bawahnya, spidol. Bukan tulisan dia. Tapi dia datang hari Jumat, menawarkan antar pulang padahal biasanya tidak, dan berhenti tepat di depan papan itu. Dia ingin melihat aku membacanya.

Aku simpan kertasnya. Separuh kalimatnya benar.

Separuh kalimatnya benar.

Aku menatap kalimat itu. Aku teringat laci lemari plastik tiga susun. Kertas A4 yang terlipat dua kali, di antara obeng dan paku dan daftar tujuh belas lamaran.

Aku pikir ia menyimpannya karena itu pengakuan.

Ia menyimpannya karena separuhnya memang benar. Tiga orang mati. Dan ia tahu dua hari sebelumnya.

Hari ke-31. Penyuluhan hipertensi. Dia pakai jas putih. Pak Hendra harusnya lihat ini. Aku duduk di belakang supaya dia tidak perlu melihatku waktu dia sedang bahagia.

Hari ke-41. Pagar seratus meter. Map plastik bening surat pesanannya ada stiker kecil di pojok bawah. Toko alat tulis di Pondok Indah.

Aku yang bayar Koh Ahong. Ini bukan salah Pak Gondo.

Hari ke-39. Malam ketujuh. Dia tertidur di bangku. Aku selimuti pakai jaket. Dia pura-pura masih tidur. Aku pura-pura tidak tahu.

Jaket parasut hitam. Masih di laci paling bawah meja riasku.

Aku pura-pura tidur malam itu, dan ia tahu. Ia tahu aku pura-pura. Ia membiarkanku pura-pura.


Hari ke-53. Dia minta jadi pacarnya. Aku diam lama. Aku tahu ini bagian dari rencananya. Aku bilang iya.

Dia bilang sayang. Aku bilang aku tahu. Itu satu-satunya jawaban jujur yang bisa kuberikan.

Atap parkiran gedung B. Lampu-lampu Jakarta Selatan. Tiga puluh detik hening sebelum ia menjawab.

Aku tahu.

Aku pikir ia canggung. Aku mencubit lengannya dan bilang, harusnya bilang aku juga. Ia tersenyum, dan senyum itu tidak sampai ke matanya, dan ia bilang, nanti.

Hari ke-70.

Halaman ini berbeda. Tulisannya lebih tebal, seperti ditulis berulang-ulang di atas tulisan yang sama. Di bawahnya, samar, ada bekas tulisan lain yang dihapus.

Kaleng kosong. Hari Sabtu hanya dia di bengkel. Bapak curiga padaku. Itu wajar.

Malamnya dia menciumku.

Pintu kamar mandi kontrakan rusak sejak Lebaran. Selotnya patah. Aku belum sempat ganti. Pintunya terbuka sejengkal. Cermin bulat di atas wastafel menghadap ke pintu.

Aku melihatnya.

Dia menggosok bibirnya pakai sabun. Pakai tangan. Lama. Sampai merah.

Aku berdiri di dapur dan mengambil gelas. Aku mengisinya dengan air dingin dari kulkas. Aku memegang gelas itu supaya tanganku punya sesuatu untuk dipegang.

Waktu dia keluar, bibirnya ditutup lipstik. Aku kasih dia air. Supaya bibirnya tidak terlalu perih.

Buku itu jatuh dari tanganku.

Aku menatapnya di lantai. Terbuka di halaman itu.

Pintu kamar mandi yang terbuka sejengkal. Aku tidak memikirkannya. Aku menulis di folder Proyek, aku tidak menulis tentang pintu kamar mandi yang terbuka sejengkal, karena aku tidak memikirkannya.

Ia melihatku. Di cermin bulat. Menggosok bibirku sampai merah karena bibirnya ada di bibirku.

Lalu ia mengisi gelas dengan air dingin. Untukku. Supaya bibirku tidak terlalu perih.

Dan tangannya, saat meletakkan gelas itu, tidak benar-benar stabil.

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.


Aku tidak tahu berapa lama aku duduk seperti itu.

Saat aku mengambil buku itu lagi, tanganku gemetar begitu keras sampai aku harus menahannya di lutut.

Hari ke-89. PT Sinar Karya Logam. Gedung yang sama dengan kantor Om Freddy.

Hari ke-97. Ulang tahun. Dua puluh tiga foto. Dia ambil waktu aku tidak senyum.

Dia dengar jantungnya sendiri pakai stetoskop. Matanya basah. Sebentar. Lalu dia tarik lagi.

Aku tidak tahu jantungnya berdetak untuk apa. Aku harap bukan cuma untuk benci.

Hari ke-106. Dipecat. Aku pakai kemeja dari dia. Aku bohong ke Pak Gondo. Pertama kali.

Hari ke-131. Pindah. Dia bantu angkat galon. Dia bungkus piagam Kinan pakai koran tiga lapis. Tangannya gemetar. Aku tidak tahu kenapa tangannya gemetar.

Ia melihat. Ia melihat tanganku gemetar.

Hari ke-140. Foto ulang tahun di televisi. Cuma ada di HP dua orang. Kinan tidak akan pernah.

Aku kasih dia alasan. Aku bilang aku sering lupa kunci HP. Dia kelihatan lega.

Hari ke-152. Dia tertawa karena saus tomat di nampan. Lama. Sampai kasir menoleh.

Aku ingin dia tertawa seperti itu lebih sering. Bahkan kalau harganya aku.

Aku tidak bisa melihat tulisan itu dengan jelas lagi. Halaman-halaman itu kabur.

Hari ke-162. Tempat jilid di Fatmawati buka sampai jam sembilan malam. Aku telepon jam delapan. Mereka bilang tidak pernah ada map plastik yang hilang.

Lampirannya ada di dia. Tidak apa-apa. Kalau itu yang dia butuhkan.

Hari ke-165. Ditolak. Surat keberatan atas nama keluarga salah satu korban. Bu Sarip tidak bisa membaca. Bu Waluyo tidak tahu namaku. Hanya satu keluarga yang tersisa.

Hari ke-174. Beasiswa Kinan. Yayasan Pak Hendra.

Hanya satu baris. Sisanya kosong.

Halaman berikutnya.

Hari ke-174. Dia demam. 38,9. Ibunya di Singapura.

Sup ayam. Jahe. Bawang putih digoreng dulu.

Dia bilang supnya enak banget.

Hari yang sama. Ia menerima surat pencabutan beasiswa adiknya di pagi hari. Di siang hari, ia berjongkok di lantai kamar kos memotong jahe.

Untukku.

Tahu bahwa itu aku.


Hari ke-186. Besok, kurasa.

Aku menatap dua kata itu.

Malam sebelum lahan bekas ruko. Malam ia meneleponku dan bertanya apakah aku mau ikut mendoakan Ayah. Malam suaraku lebih rendah dari biasanya.

Ia tahu aku akan membuka semuanya hari itu. Ia tahu.

Ia membeli bunga sedap malam dan melati dengan uang terakhirnya. Ia mencuci kemeja abu-abu muda yang kuberikan dan menjahit ujung lengannya yang lepas. Ia membeli sebotol air mineral dingin. Untukku. Karena Bekasi panas, dan aku pasti haus.

Ia berdiri di sana dan mendengarkan semuanya. Setiap kata. Setiap sabotase yang sudah ia tahu. Setiap pelukan yang kutahan muntah. Setiap ciuman yang kugosok. Kopi manis. Seharusnya Mas yang mati.

Ia sudah tahu semuanya.

Dan ia tetap datang.

Ia tetap berdiri di sana dan membiarkanku meludahi wajahnya, lalu memungut sapu tangan dari rumput, lalu bertanya, sudah?

Dengan nada yang sama.

Bukan karena ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Karena ia mengerti.

Karena ia ingin memastikan aku sudah mengeluarkan semuanya. Karena ia bersedia menunggu, kalau masih ada yang tersisa.


Halaman terakhir.

Hari ke-187.

Satu kata di bawahnya.

Sudah.

Lalu halaman-halaman kosong. Belasan halaman putih bergaris yang tidak pernah ditulisi.

Di bagian paling belakang buku itu, ada bekas sobekan. Selembar kertas yang dirobek. Kertas yang ia tinggalkan untuk Kinan di lantai kamar kos.

Buku ini buang aja. Isinya bukan buat siapa-siapa.

Aku memeluk buku itu di dadaku.

Seratus delapan puluh tujuh hari.

Aku menghitungnya dengan dendam. Ia menghitungnya dengan sesuatu yang tidak punya nama di kamus mana pun yang pernah kubaca.

Aku mengambil semuanya darinya. Satu per satu. Dan ia tahu, satu per satu, dan ia mencatat setiap kehilangan dengan huruf kecil yang tegak dan presisi, seperti seorang insinyur mencatat beban di kolom yang ia tahu akan runtuh.

Dan ia tetap berdiri.

Sampai aku sendiri yang mendorongnya.


Malam itu, di lantai kamarku, di antara tempat tidur dan meja rias, aku akhirnya mengerti apa yang dimaksud Pak Hadi.

Ada sesuatu yang lebih mengerikan dari membenci orang yang salah.

Yaitu dicintai olehnya. Sepanjang waktu. Tanpa pernah ia meminta apa pun kembali.

Aku menangis.

Bukan tangisan yang kubuat. Bukan tangisan yang bocor dan kutarik kembali. Tangisan yang tidak bisa kuhentikan. Yang keluar dari tempat yang sudah tiga tahun kututup rapat dengan kemarahan. Yang membuat seluruh tubuhku berguncang dan napasku putus-putus dan suara yang keluar dari tenggorokanku tidak terdengar seperti suara manusia.

Aku menangis untuk Ayah, untuk pertama kalinya sejak pemakaman.

Aku menangis untuk Pak Sarip dan Pak Waluyo, yang tidak pernah kutangisi.

Aku menangis untuk Kinan, yang duduk tiga hari di atas tulisan adik pembunuh.

Aku menangis untuk laki-laki yang minum kopi manis sampai habis, setiap Selasa, setiap Jumat, karena ia tahu itu yang kuinginkan.

Mama mengetuk pintu kamarku pukul dua pagi. Aku tidak membukanya. Ia tidak memaksa. Aku mendengarnya duduk di lantai di luar pintu, bersandar ke kayu, dan menunggu.

Seperti seseorang yang bersedia menunggu.

Aku menangis sampai subuh, dengan buku cokelat itu di dadaku, dan tidak ada satu pun yang bisa menghentikannya.