Chapter Twenty Five
Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
POV: Shella
Aku tidak menoleh ke ranjang sebelas selama tiga minggu.
Aku menukar jadwal dengan Mitha supaya bukan aku yang memeriksa bangsal bagian timur. Mitha menyetujuinya tanpa bertanya. Ia hanya menatapku, mengangguk, dan mengambil rekam medis bed sebelas dari tanganku.
Setiap pagi, ia melaporkan tanpa kuminta.
“Bed sebelas udah dipasang WSD ulang. Cairannya berkurang.”
“Bed sebelas makan setengah porsi.”
“Bed sebelas nanyain lo.”
“Bed sebelas nulis surat lagi. Yang kedua.”
Aku tidak menjawab. Aku menulis status pasienku sendiri dan tidak mengangkat wajah.
Di minggu kedua, Mang Udin dipindahkan ke ruang perawatan paliatif di lantai tujuh. Prosedur pleurodesis berhasil. Sesaknya berkurang. Ia mungkin bisa pulang dalam beberapa minggu, kata residen. Pulang untuk menunggu di rumah, di antara keluarganya, sampai waktunya tiba.
Surat yang ia titipkan malam itu masih ada di saku jas putihku. Terlipat empat. Belum dibuka.
Aku memindahkannya ke laci paling bawah meja riasku, di atas map plastik berisi dua puluh tiga lembar hitungan lapangan.
Laci itu sekarang sulit ditutup.
Upacara sumpah dokter diadakan hari Sabtu, di auditorium kampus.
Aku memakai kebaya putih di bawah toga. Mama yang memilihnya. Kebaya brokat dengan bordir halus di kerah, yang ia pesan dua bulan lalu dari penjahit langganannya di Kebayoran. Rambutku disanggul rendah oleh perias yang datang ke rumah jam lima pagi.
Mama menangis saat melihatku turun tangga.
“Cantik banget, Shel,” katanya. Ia memegang wajahku dengan kedua tangannya. Tangannya dingin dan sedikit gemetar. “Ayahmu pasti…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Ia tidak perlu.
Auditorium itu penuh. Dua ratus lebih dokter baru dengan toga hitam, dan keluarga mereka di kursi-kursi berjajar di belakang. Lampu sorot. Bunga anggrek di panggung. Paduan suara mahasiswa menyanyikan lagu yang membuat ibu-ibu di barisan keluarga mengusap mata.
Aku duduk di barisanku dan menatap kursi Mama di barisan keluarga.
Ada dua kursi yang disediakan untuk setiap lulusan. Satu terisi Mama. Satu kosong.
Sama seperti upacara jas putih, tiga tahun lalu.
Sumpah dibacakan. Kami berdiri. Kami mengangkat tangan kanan. Kami mengulang kalimat demi kalimat, mengikuti suara dekan yang bergema di pengeras suara.
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila.
Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita.
Suaraku bergabung dengan dua ratus suara lain. Kata-kata itu keluar dari mulutku dengan lancar, seperti yang sudah kulatih.
Saya tidak akan mempergunakan pengetahuan dokter saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam.
Di kepalaku, sebuah tangan dengan jarum infus di punggungnya terangkat dari kasur dan mencoba meraih lenganku.
Saya dosa besar, Neng.
Suaraku berhenti di tengah kalimat. Hanya sedetik. Tidak ada yang menyadarinya. Dua ratus suara lain terus berjalan.
Aku menyusul kalimat berikutnya.
Saya akan menaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia.
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.
Tepuk tangan.
Kami semua berdiri sebagai dokter.
Di barisan keluarga, Mama berdiri dan bertepuk tangan dengan air mata di wajahnya. Kursi di sebelahnya kosong.
Ayah mau lihat kamu pakai jas putih. Sekali aja.
Aku tersenyum ke arah Mama. Senyum yang kubuat. Yang sudah kulatih.
Ini senyum terakhir yang berhasil kubuat hari itu.
Malam itu ada makan malam di rumah. Om Freddy, Pak Darmawan dan istrinya, beberapa kerabat dari Bandung. Mama memesan katering. Ada kue tart putih dengan tulisan Selamat, dr. Shella Florentina Wijaya dengan huruf emas.
Semua orang memberiku selamat. Semua orang bilang Ayah pasti bangga.
Pak Darmawan mengangkat gelas jus jeruknya.
“Untuk dr. Shella,” katanya. “Dan untuk almarhum Pak Hendra. Beliau selalu bilang, dari semua yang beliau bangun, yang paling beliau banggakan itu kamu, Shel. Bukan gedung. Bukan perusahaan. Kamu.”
Semua orang mengangkat gelas.
Aku mengangkat gelasku.
Aku tidak minum.
Pukul sebelas malam, setelah semua tamu pulang dan Mama tertidur di kamarnya dengan riasan yang belum dihapus, aku turun ke gudang.
Aku tidak tahu persis apa yang kucari. Aku hanya tahu aku tidak bisa tidur. Aku tahu kalimat-kalimat Mang Udin sudah tiga minggu berputar di kepalaku seperti kipas angin yang tidak bisa dimatikan. Aku tahu aku harus membuktikan bahwa ia bohong.
Aku harus menemukan sesuatu yang membuktikan Ayah tidak mungkin.
Gudang di belakang rumah adalah ruangan yang tidak pernah dibuka sejak pemakaman. Setelah Ayah meninggal, sekretarisnya mengirim tiga kardus berisi barang-barang dari ruang kerjanya di kantor Bekasi. Mama tidak sanggup membukanya. Ia menyuruh Pak Mamat, sopir kami, meletakkannya di gudang. Di sana kardus-kardus itu tinggal selama tiga tahun.
Lampu gudang berkedip saat kunyalakan. Udaranya pengap, bau debu dan kapur barus.
Kardus-kardus itu ada di pojok, di bawah meja pingpong lama yang tidak pernah dipakai. Lakbannya sudah menguning.
Aku membuka kardus pertama.
Buku-buku. Majalah konstruksi. Plakat-plakat penghargaan. Foto berbingkai: Ayah dan Mama di hari pernikahan mereka. Ayah menggendongku di pantai Anyer, aku umur lima tahun, memakai pelampung bebek kuning. Aku menyentuh wajah Ayah di foto itu. Lalu aku meletakkannya kembali.
Kardus kedua. Map-map. Dokumen. Kontrak proyek. Aku membukanya satu per satu. Aku tidak mengerti setengahnya.
Lalu, di bawah tumpukan map, sebuah map biru dengan label tulisan tangan Ayah.
Keuangan — Pribadi.
Aku membukanya.
Laporan keuangan. Tabel-tabel dengan angka yang sangat besar. Kolom-kolom berjudul Kewajiban, Jatuh Tempo, Tunggakan. Surat-surat dari bank dengan kop merah dan kata-kata yang dicetak tebal. Peringatan Kedua. Peringatan Terakhir. Restrukturisasi.
Tanggal-tanggalnya. Setahun sebelum ruko itu runtuh. Delapan bulan sebelumnya. Lima bulan. Dua bulan.
Aku tidak mengerti semua angka itu. Tapi aku mengerti satu hal. Angka di kolom Kewajiban jauh, jauh lebih besar dari angka di kolom mana pun yang lain.
Perusahaan lagi susah. Banyak utang.
Tanganku mulai gemetar.
Itu bukan bukti. Banyak perusahaan punya utang. Itu tidak membuktikan apa-apa.
Aku menutup map itu.
Kardus ketiga lebih berat dari dua yang lain.
Di dalamnya ada kotak perkakas. Kotak logam berwarna hijau tua, dengan pegangan yang sudah aus dan stiker Wijaya Konstruksi yang sudah memudar di tutupnya.
Kotak perkakas Ayah. Yang selalu ada di bagasi mobilnya. Yang ia bawa ke setiap proyek, meski ia pemilik perusahaan dan tidak perlu memegang perkakas sendiri. Biar tukang-tukang tahu saya juga bisa kerja, katanya dulu.
Aku membuka gemboknya. Gemboknya tidak dikunci.
Obeng-obeng. Kunci pas. Tang. Waterpass kecil. Pensil tukang yang diraut dengan pisau. Gulungan benang.
Dan meteran pita kecil dari kuningan, sebesar tutup botol.
Aku mengambilnya.
Aku mengeluarkan kunci mobilku dari saku piyama. Meteran pita kuningan berayun di gantungannya. Aku meletakkan keduanya berdampingan di telapak tanganku.
Kembar. Persis sama. Kuningan yang sama. Pita kuning yang sama. Goresan kecil di sisi kanan yang sama.
Ayah punya satu lagi. Biar kita kembaran.
Aku menggenggam keduanya. Erat. Sampai sudut-sudutnya menekan telapak tanganku.
Lalu aku melihatnya. Di dasar kotak perkakas, di bawah semua alat, terselip sebuah buku tulis kecil bersampul biru. Buku tulis bergaris biasa, yang dijual di warung seharga dua ribu rupiah. Sampulnya sudah lecek.
Aku mengeluarkannya.
Halaman pertama kosong. Halaman kedua juga.
Di halaman ketiga, tulisan tangan Ayah. Huruf-huruf besar yang miring ke kanan. Pulpen tinta biru.
Proyek Bekasi — Ruko 3 lt.
Lalu tabel. Kolom-kolom yang digaris dengan penggaris, rapi, seperti cara Ayah mengajariku membuat tabel waktu SD.
Tanggal | Material | Spek gambar | Terpasang | Selisih (kg/sak) | Dijual ke | Rp
Baris demi baris.
Besi D16 → D13. Selisih 1,2 ton. Toko Sumber Rejeki, Cikarang.
Semen. Selisih 85 sak. Toko Sumber Rejeki.
Besi D13 → D10 (balok anak lt. 2). Selisih 0,6 ton.
Angka-angka rupiah di kolom terakhir. Dijumlahkan di bagian bawah halaman.
Tanganku gemetar begitu keras sampai halaman-halaman itu bergetar.
Halaman berikutnya. Kolom yang lain.
Dipakai untuk:
Gaji tukang bulan Maret.
Cicilan Bank — tunggakan Feb.
THR mandor.
Lalu baris terakhir. Ditulis dengan pulpen yang sama, tapi hurufnya lebih kecil. Lebih hati-hati. Seperti ditulis oleh seseorang yang tahu ia sedang menulis sesuatu yang tidak boleh dibaca siapa pun.
Uang semester Shella — semester 6.
Dan di bawahnya, satu baris lagi. Dengan gambar kecil di ujungnya. Gambar yang dulu selalu Ayah gambar di pojok kartu ucapan ulang tahunku, di surat izin study tour, di kotak bekal makan siangku waktu SD.
Wajah tersenyum. Dua titik dan satu lengkung.
Untuk jas putih Shella. ☺
Aku tidak ingat jatuh.
Aku hanya tahu bahwa beberapa saat kemudian aku sudah duduk di lantai gudang yang berdebu, dengan punggung bersandar ke kaki meja pingpong, dengan buku tulis biru di pangkuanku dan dua meteran pita kuningan di tanganku.
Aku membaca baris itu lagi.
Untuk jas putih Shella.
Lagi.
Untuk jas putih Shella.
Jas putih yang kupakai setiap hari selama tiga tahun. Yang kumasukkan tanganku ke lengannya setiap pagi sambil mengingat siapa yang membuat Ayah tidak bisa melihatnya.
Jas putih itu dibeli dengan besi tiga belas milimeter.
Jas putih itu dibeli dengan delapan puluh lima sak semen yang tidak pernah sampai ke kolom.
Jas putih itu dibeli dengan gedung yang runtuh di atas Pak Sarip. Di atas Pak Waluyo. Di atas Ayah sendiri.
Aku membuka halaman berikutnya. Kosong. Halaman berikutnya. Kosong.
Halaman terakhir. Ada satu baris lagi. Tanggalnya dua hari sebelum ruko itu runtuh.
Tulisan tangan Ayah, tapi berantakan. Miring ke berbagai arah. Seperti ditulis di dalam mobil yang bergerak, atau oleh tangan yang tidak stabil.
Arya tahu. Dia ukur sendiri. Minggu depan bongkar semua. Ya Allah, ampuni saya.
Aku tidak menangis.
Aku mencoba. Aku ingin menangis. Aku menunggu air mata itu datang, seperti di makam San Diego Hills, seperti di toilet lantai tiga. Aku menunggu sesuatu pecah dan mengalir keluar.
Tidak ada yang keluar.
Yang ada hanya suara. Bukan suaraku. Suara-suara lain yang datang dari tempat yang sangat jauh, satu per satu, seperti orang yang mengetuk pintu dari balik bantal.
Saya mengakui, Yang Mulia. Semua kesalahan ada pada saya.
Kamu nggak perlu maafin aku.
Cuma itu yang boleh aku bilang.
Mereka nggak jahat. Mereka cuma takut. Takut kalau aku salah lagi.
Nggak apa-apa. Bisa dibangun orang lain.
Sudah?
Aku menekan buku tulis biru itu ke dadaku.
Lalu, akhirnya, sesuatu keluar dari mulutku. Bukan tangisan. Sesuatu yang lebih rendah dan lebih buruk. Seperti bunyi beton yang retak di dalam kolom, jauh di bawah permukaan, sebelum ada yang bisa melihatnya.
Aku meringkuk di lantai gudang, di antara kardus-kardus yang sudah tiga tahun tidak dibuka, dengan dua meteran pita kembar di tanganku.
Di atas sana, di kamarnya, Mama tidur dengan riasan yang belum dihapus.
Dan di suatu tempat yang tidak kuketahui, laki-laki yang dipenjara dua tahun untuk jas putihku sedang tidur. Atau tidak tidur. Atau duduk di anak tangga di depan pintu entah di mana, menunggu subuh.
Aku tidak tahu di mana ia.
Aku tidak tahu apakah ia masih hidup.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella reading
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365