← Hukuman Kedua

Chapter Forty One

Bab 41 — Pak Gondo

POV: Shella

PT Sinar Karya Logam tidak pernah benar-benar ada.

Mbak Dewanti menjelaskannya padaku lewat telepon, dengan suara seseorang yang sedang menahan diri untuk tidak berkomentar.

“Perusahaannya terdaftar. Aktanya sah. Tapi direkturnya orang yang dibayar untuk tanda tangan. Pemegang sahamnya perusahaan lain, yang pemegang sahamnya perusahaan lain lagi. Uangnya dari rekening yang terhubung ke dana perwalian Mbak.” Ia diam sebentar. “Pak Hadi Kusuma membangunnya dengan sangat rapi.”

“Bisa dibalikin, Mbak? Bengkelnya?”

“Bisa. Kalau Pak Hadi mau kerja sama. Hanya dia yang pegang semua dokumen dan semua tanda tangan nominee.”

Aku menatap dinding kamar kos yang hijau muda.

“Dia nggak mau kerja buat saya lagi.”

“Saya tahu,” kata Mbak Dewanti. “Saya sudah menghubunginya.”

Aku menahan napas.

“Dia tidak mau bicara dengan Mbak. Tapi dia mengirim semua dokumennya ke kantor saya kemarin. Lengkap. Akta pengalihan yang sudah ditandatangani semua pihak, tinggal nama penerima yang dikosongkan.” Mbak Dewanti berhenti. “Ada satu kertas kecil di dalam map. Tulisan tangan. Untuk Mbak.”

“Apa isinya?”

“Ini bukan untuk Mbak. Ini untuk bapak tua dengan burung perkutut.”


Pak Gondo tinggal di Ciawi, di rumah anak perempuannya, sebuah rumah bercat kuning pucat di kaki bukit dengan halaman belakang yang luas.

Aku menemukannya di halaman belakang itu, hari Minggu pukul sembilan pagi, sedang berjongkok di antara bedeng-bedeng cabai dengan topi caping dan kaus partai politik yang sama.

Sangkar Presiden tergantung di dahan pohon jambu air di pinggir kebun. Burung itu melihatku lebih dulu.

Kuk-kurruk.

Pak Gondo mengangkat wajah.

Ia menatapku dari balik caping. Lama. Ia tidak berdiri. Ia tidak menyapaku dengan Neng Shella dan tawa yang terlalu keras.

Ia hanya menatapku, dengan tangan yang masih memegang segenggam tanah.

“Saya nonton,” katanya.

Aku berdiri di ujung bedeng cabai dengan map di tanganku.

“Anak saya yang nunjukin. Di HP. Neng di depan kamera, ngomong panjang.” Ia menjatuhkan tanah dari genggamannya. “Pagar seratus meter. Kaleng biskuit. Bengkel saya.”

“Iya, Pak.”

“Neng yang beli bengkel saya.”

“Iya, Pak.”

“Neng yang ambil duit di kaleng.”

“Iya, Pak.”

Pak Gondo berdiri. Pelan. Satu tangan menekan lutut. Ia melepas capingnya dan menatapku dengan mata yang merah.

Lalu ia meledak.


“SAYA NANEM CABAI!”

Suaranya menggelegar di halaman belakang itu. Presiden berhenti berbunyi. Seekor ayam tetangga lari terbirit-birit ke balik pagar bambu.

“Saya nanem cabai buat dia! Panen pertama! Saya kirim sekilo lewat travel ke bengkel! Saya tulis gede-gede, UNTUK ARYA, BUAT SAMBEL! Saya telepon dia, saya bilang cabainya udah dikirim! Dia bilang makasih, Pak! Dia bilang bengkel baik, Pak! Manajernya baik, Pak!”

Pak Gondo melempar capingnya ke tanah.

“Dia bohong! Ke saya! Arya nggak pernah bohong ke saya! Lima tahun saya kenal dia, nggak pernah sekali pun! Dia bohong karena Neng! Karena dia nggak mau saya tahu bengkel saya dibeli buat ngancurin dia!”

Aku tidak bergerak. Aku tidak membela diri. Aku membiarkannya.

“Saya jual bengkel itu karena saya pikir saya bego!” Suara Pak Gondo pecah. “Saya pikir saya bego nerima pesanan pagar palsu! Saya pikir saya orang tua yang nggak bisa jaga duit! Saya curiga sama Arya! Sebulan saya nggak bisa liat mukanya! Saya peluk dia di depan pikap sambil nangis minta maaf, padahal yang harusnya minta maaf…”

Ia menunjukku dengan jari yang gemetar.

“…Neng!”

“Iya, Pak.”

“Neng berdiri di situ! Di bawah pohon jambu! Waktu saya pamit! Neng teriak janji, Pak! Neng janji jagain Arya!”

“Iya, Pak.”

“Terus Neng apain dia?!”

Aku membuka mulut.

“Saya ludahin dia, Pak.”

Pak Gondo berhenti.

Seluruh halaman belakang itu hening. Bahkan angin di daun-daun jambu air berhenti.

Lalu Pak Gondo duduk. Bukan duduk dengan sengaja. Lututnya menyerah begitu saja, dan ia jatuh terduduk di atas tanah di antara bedeng cabai, dengan kaus partai yang kotor dan kumis putih yang bergetar.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang penuh tanah.

Dan ia menangis.


Aku berlutut di sampingnya.

Aku tidak menyentuhnya. Aku hanya berlutut di tanah yang basah, di antara tanaman cabai yang buahnya mulai memerah, dan menunggu.

Pak Gondo menangis lama. Tangisan laki-laki tua yang keras dan berantakan, dengan napas yang tersengal dan bahu yang berguncang. Di dahan jambu air, Presiden diam.

“Dia anak baik,” kata Pak Gondo di balik tangannya. “Dia anak paling baik yang pernah saya kenal. Istri saya bilang, Gondo, anak itu kayak anak kita sendiri. Istri saya bilang gitu sebelum meninggal. Anak itu dateng ke pemakaman istri saya pakai helm proyek, langsung dari lapangan, nggak sempet ganti baju.”

Aku menunduk.

“Waktu dia keluar penjara, dia dateng ke bengkel. Tiga hari setelah bebas. Dia berdiri di depan bengkel, nggak berani masuk. Saya liat dia dari dalem. Saya bilang, Ar, masuk. Kerja di sini. Dia bilang, Pak, saya mantan napi. Saya bilang, saya juga mantan bujang. Masuk.”

Ia mengusap matanya dengan punggung tangan, meninggalkan noda tanah di pipinya.

“Saya nggak bisa jaga dia,” katanya pelan. “Saya janji ke istri saya mau jaga dia. Saya nggak bisa.”

“Bukan salah Bapak.”

“Saya tahu bukan salah saya!” Ia menatapku tajam. “Salah Neng!”

“Iya, Pak.”

“Neng ngomong iya-iya terus! Neng kayak Arya! Ngaku salah terus! Saya jadi nggak bisa marah!”

Aku hampir tertawa. Hampir. Di tengah tangisan Pak Gondo, di atas tanah basah, di antara bedeng cabai, sesuatu di dadaku bergerak ke arah tawa, lalu berhenti, lalu berubah jadi sesuatu yang lain.

Pak Gondo menatapku.

“Neng ngapain ke sini?” tanyanya. “Mau minta maaf? Saya nggak mau maafin.”

“Saya nggak minta dimaafin, Pak.”

Aku membuka map di tanganku. Aku mengeluarkan akta pengalihan. Lembar-lembar kertas dengan cap notaris dan tanda tangan orang-orang yang tidak pernah kukenal. Di kolom penerima, sekarang tertulis dengan huruf ketik:

Gondo Wiryanto.

Aku menyodorkannya.

“Bengkelnya, Pak,” kataku. “Saya balikin. Atas nama Bapak. Udah ditandatangani semua. Tinggal Bapak tanda tangan di sini.”

Pak Gondo menatap kertas itu. Ia tidak mengambilnya.

“Mesinnya masih ada,” lanjutku. “Trafo las. Gerinda. Kulkas yang bunyinya kayak mesin cuci. Pagar seratus meter yang dulu…” Aku berhenti. “Pagarnya udah dijual. Uangnya saya transfer ke rekening Bapak kemarin. Buat ganti delapan belas juta yang dulu. Sama tiga juta dua ratus lima puluh ribu dari kaleng.”

Pak Gondo diam lama.

“Neng masukin ke kotak amal,” katanya akhirnya. “Duit kalengnya. Neng bilang di TV.”

“Iya, Pak. Saya masukin ke kotak amal masjid. Di Cipayung.”

“Masjid yang mana?”

“Yang di pinggir jalan raya. Yang catnya ijo.”

Pak Gondo menatapku dengan wajah aneh.

“Itu masjid tempat saya Jumatan,” katanya. “Dua puluh tiga tahun.”

Ia menatap akta itu lagi. Lalu ia tertawa. Tawa pendek, pecah, basah oleh sisa tangis.

“Duit saya masuk ke kotak amal masjid saya sendiri,” katanya. “Ya Allah. Pahalanya buat siapa, ya? Buat saya atau buat Neng?”

“Buat Bapak,” kataku. “Saya nggak pantes dapet pahala dari situ.”


Pak Gondo tidak menandatangani akta itu.

Ia berdiri, mengambil capingnya dari tanah, menepuk-nepuk kausnya yang kotor, dan berjalan ke rumah.

“Masuk,” katanya tanpa menoleh. “Makan dulu.”

Aku menatap punggungnya.

“Pak, aktanya…”

“Neng udah makan?”

“Belum, Pak.”

“Neng kurus kayak tiang jemuran. Masuk. Makan. Habis makan baru ngomong.”

Anak perempuan Pak Gondo, seorang perempuan berusia tiga puluhan dengan seragam guru SD, menyajikan nasi, sayur asem, ikan asin, dan sambal di meja makan kecil di dapur. Ia menatapku dengan wajah yang jelas sudah menonton TikTok, tapi ia tidak berkata apa-apa.

Sambalnya merah menyala. Sangat pedas.

“Cabai panen kedua,” kata Pak Gondo, mengunyah dengan mulut penuh. “Panen pertama busuk semua di depan bengkel. Neng tahu?”

“Tahu, Pak. Saya yang ambil kardusnya. Saya buang cabainya. Kertasnya saya simpen.”

Pak Gondo berhenti mengunyah.

“Kertas apa?”

“Ar, ini panen pertama. Pedes banget. Bikin sambel yang banyak, kasih Kinan sama Neng Shella juga.”

Pak Gondo menatapku lama. Lalu ia menunduk ke piringnya dan mengunyah lagi. Pelan. Matanya basah.

“Masih kasih Neng Shella,” gumamnya. “Bego saya.”


Setelah makan, ia mengambil tensimeter digital dari lemari obat di ruang tengah dan menyodorkannya padaku.

“Ukur,” katanya. “Anak saya bilang tekanan darah saya harus dicek tiap hari. Tapi dia nggak bisa baca alatnya. Kacamatanya ilang.”

Aku memasang manset di lengannya. Aku menekan tombol. Manset itu menggembung, mengencang, lalu mengempis pelan.

165/100.

“Tinggi, Pak,” kataku. “Bapak minum obat?”

“Kadang.”

“Harus tiap hari, Pak. Amlodipin. Lima miligram. Pagi.”

“Kamu dokter beneran ya,” kata Pak Gondo, menatap angka di layar. “Saya kira dokter TikTok.”

“Dokter beneran, Pak.”

“Dokter beneran yang ludahin orang.”

Aku tidak menjawab.

Pak Gondo menatapku lama. Lalu ia melepas manset dari lengannya dan meletakkannya di meja.

“Arya di mana?” tanyanya.

“Pelabuhanratu, Pak. Kerja di proyek dermaga. Kuli.”

“Kuli,” ulang Pak Gondo. “Insinyur ITB jadi kuli.”

“Iya, Pak.”

“Kamu juga di sana?”

“Iya. Puskesmas.”

Pak Gondo mengangguk pelan. Ia diam lama sekali, menatap akta di atas meja makan, di samping piring kosong dan cobek sambal.

Lalu ia mendorong akta itu ke arahku.

“Bawa balik,” katanya.

“Pak…”

“Saya udah tua, Neng. Tekanan darah saya seratus enam puluh lima. Anak saya nggak mau saya balik ke Jakarta. Saya udah punya cabai.” Ia mengetuk akta itu dengan jarinya yang gemuk. “Bengkel itu bukan buat saya lagi. Itu buat Arya. Kalau dia mau balik.”

Aku menatap akta itu.

“Ganti nama penerimanya,” kata Pak Gondo. “Tulis nama dia. Arya Mahesa. Kalau dia nggak mau, ya biarin kosong. Tapi jangan nama saya.”

“Dia nggak akan mau nerima dari saya, Pak.”

“Bukan dari Neng,” kata Pak Gondo. “Dari saya. Bilang ke dia, ini dari Bapak. Bilang Bapak yang suruh. Bilang Bapak nggak terima penolakan.”

Ia berdiri. Ia berjalan ke halaman belakang, ke pohon jambu air, dan menurunkan sangkar Presiden dari dahan. Ia membawanya ke dalam dan meletakkannya di meja makan, di depanku.

Presiden memiringkan kepala dan menatapku dengan satu mata hitam kecilnya. Seperti petugas imigrasi. Seperti saksi.

“Dia liat,” kata Pak Gondo. “Waktu Neng ambil duit di kaleng. Dia liat, kan?”

Aku menatap burung itu.

“Iya, Pak. Dia liat.”

“Dia nggak pernah ngadu,” kata Pak Gondo. “Presiden ini teman ngobrol yang bagus. Nggak pernah bantah. Nggak pernah ngadu.” Ia menepuk sangkar itu. “Kayak Arya.”

Presiden berbunyi. Panjang. Keras. Seperti di hari pikap itu berangkat dari depan bengkel dan berbelok di ujung jalan.

Kuk-kurruuuk.


Aku pulang ke Pelabuhanratu malam itu dengan akta pengalihan di dalam map, kolom penerimanya masih bertuliskan nama Pak Gondo, dan kotak berisi sekilo cabai merah panen kedua.

“Bikin sambel,” kata Pak Gondo di depan rumahnya, saat aku pamit. “Kasih Arya. Bilang dari Bapak. Jangan bilang dari Neng.”

“Iya, Pak.”

“Dan Neng.”

Aku menoleh.

Pak Gondo berdiri di teras dengan kaus partai yang kotor, kumis putih yang berantakan, dan mata yang masih merah.

“Saya nggak maafin Neng,” katanya. “Belum. Mungkin nggak akan.”

“Saya ngerti, Pak.”

“Tapi jangan pergi dari sana,” katanya. “Dari Pelabuhanratu. Neng udah janji jagain dia. Janjinya belum lunas.”

Aku menatapnya.

“Iya, Pak,” kataku. “Belum lunas.”

Di travel, aku membuka buku cokelat.

Hari ke-125. Ciawi. Pak Gondo teriak. Nangis. Kasih aku makan. Sambel panen kedua.

Tekanan darahnya 165/100.

Dia tidak mau bengkelnya kembali. Dia bilang itu buat Arya.

Dia bilang dia tidak memaafkanku. Dia bilang jangan pergi.

Aku menatap kotak cabai di pangkuanku.

Besok aku bikin sambel. Aku titip Mak Ijah. Bilang dari Pak Gondo.

Itu bukan bohong.