Chapter Four
Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
POV: Shella
Dua minggu setelah makam, aku sudah punya jadwal.
Selasa dan Jumat sore, setelah jaga, aku menyetir ke Cipayung. Kadang aku membawa martabak. Kadang roti bakar. Selalu kopi dari kedai di dekat rumah sakit, dua gelas, dalam kantong kertas cokelat dengan logo biji kopi.
Pertama kali aku membawakannya, laki-laki itu sedang memotong besi hollow dengan gerinda. Bunga api berhamburan seperti kembang api kecil. Ia mematikan mesin saat melihatku, melepas kacamata pelindung, dan menerima gelas yang kusodorkan.
“Makasih,” katanya.
Ia menyesapnya. Lalu berhenti.
Hanya sepersekian detik. Kalau aku tidak sedang memperhatikan, aku tidak akan melihatnya. Gerakan kecil di rahangnya. Alisnya yang naik sedikit, lalu turun lagi.
Kopi itu manis. Aku sendiri yang meminta barista menambahkan dua pompa sirup gula aren. Aku tahu ia minum kopi hitam tanpa gula. Ia mengatakannya sendiri di warung, hari pertama, dengan suara yang cukup keras untuk kudengar.
“Kemanisan ya, Mas?” tanyaku dengan wajah polos. “Aduh. Aku lupa bilang ke baristanya.”
Ia menatap gelas di tangannya.
“Nggak apa-apa,” katanya.
Lalu ia meminumnya. Sampai habis. Pelan-pelan, sambil duduk di atas tumpukan besi, tanpa sekali pun mengeluh.
Jumat berikutnya aku lupa lagi.
Selasa berikutnya juga.
Itu hal kecil. Sangat kecil. Tidak ada orang yang akan menyebutnya kejam. Tapi setiap kali aku melihatnya mengangkat gelas itu ke bibirnya, aku merasakan kepuasan yang tenang, seperti menekan memar di tubuh orang lain dan melihatnya meringis.
Ayah dulu suka kopi manis. Sangat manis, sampai Mama menyembunyikan toples gula. Laki-laki itu boleh minum kopi seperti Ayah. Setiap Selasa. Setiap Jumat. Sampai ia tidak bisa lagi membedakan rasa pahit dan rasa manis.
“Lo nggak pernah ikut makan siang lagi,” kata Mitha hari Rabu, sambil menyusulku ke lift. “Lo ilang tiap Selasa sama Jumat. Lo punya pacar.”
“Nggak.”
“Lo punya pacar dan lo nggak cerita ke gue. Itu pengkhianatan. Gue ngasih lo kerupuk kulit.”
“Gue nggak punya pacar, Mit.”
“Terus lo ke mana?”
Lift berbunyi. Pintunya terbuka. Di dalamnya ada dua perawat dan seorang residen bedah yang sedang makan pisang.
“Ke bengkel,” kataku.
Mitha menatapku seperti aku baru saja mengatakan bahwa aku keluar masuk kantor polisi.
“Bengkel,” ulangnya. “Mobil lo rusak?”
“Bengkel las.”
“Lo mau bikin pagar?”
“Sesuatu kayak gitu.”
Residen bedah itu berhenti mengunyah pisangnya dan menatap kami berdua. Mitha menunggu sampai pintu lift tertutup, lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku.
“Shel,” bisiknya dengan nada serius yang tidak cocok dengan wajahnya. “Kalau lo pacaran sama tukang las, gue dukung. Tukang las itu lengannya bagus. Tapi lo harus kenalin ke gue. Gue harus nilai dia. Gue ini kayak ayah lo sekarang.”
Aku tidak menjawab.
Mitha tidak tahu apa yang baru saja ia katakan. Aku tahu ia tidak bermaksud apa-apa. Tapi kata ayah itu menusuk di bagian yang tidak terlindungi, dan untuk sesaat aku tidak bisa bernapas dengan benar.
Pintu lift terbuka di lantai tiga. Aku keluar lebih dulu.
“Shel?” panggil Mitha dari belakang.
“Visite,” kataku tanpa menoleh. “Gue telat.”
Pak Hadi Kusuma tidak pernah memesan apa pun selain air putih.
Kami bertemu di lounge sebuah hotel di Senayan, Kamis malam, di meja paling pojok yang menghadap dinding kaca. Di luar, lampu-lampu jalan Sudirman berderet seperti untaian manik-manik. Pak Hadi duduk tegak dengan setelan abu-abu yang tidak terlalu mahal dan tidak terlalu murah. Rambutnya mulai memutih di pelipis. Ia punya wajah yang mudah dilupakan, dan aku curiga itu disengaja.
Ia dulu jurnalis investigasi. Sekarang ia menyebut dirinya konsultan reputasi. Orang-orang yang tahu menyebutnya dengan istilah lain.
“Saya sudah membaca semua yang Mbak kirim,” katanya. Ia membuka map tipis di depannya. Ada foto laki-laki itu di dalamnya, foto lama dari sidang, dan beberapa foto baru yang diambil dari kejauhan. Laki-laki itu di depan bengkel. Laki-laki itu di warung. Laki-laki itu menjemput adiknya di gerbang sekolah.
Aku menatap foto terakhir lebih lama dari yang seharusnya.
“Pertanyaan saya cuma satu,” kata Pak Hadi. “Apa yang Mbak inginkan sebenarnya?”
“Saya sudah bilang di telepon.”
“Mbak bilang Mbak mau hidupnya hancur.” Ia melipat tangannya di atas meja. “Itu bisa diartikan banyak hal. Ada cara yang cepat. Ada cara yang lambat. Ada cara yang meninggalkan jejak. Ada yang tidak.”
“Yang lambat,” kataku. “Dan yang tidak meninggalkan jejak.”
“Kenapa lambat? Kalau Mbak mau, dalam sebulan dia bisa kehilangan pekerjaan, tempat tinggal, semuanya.”
Aku menatap gelas air putihnya. Embun mengalir pelan di dindingnya.
“Karena kalau cepat, dia akan tahu itu serangan,” kataku. “Orang yang diserang punya musuh. Orang yang punya musuh masih punya harga diri. Saya tidak mau dia punya musuh, Pak. Saya mau dia merasa hidupnya runtuh sendiri. Pelan-pelan. Satu per satu. Sampai dia percaya memang begitulah nasibnya. Sampai dia percaya dia pantas.”
Pak Hadi diam cukup lama.
“Dan Mbak akan ada di sampingnya waktu itu terjadi,” katanya. Itu bukan pertanyaan.
“Ya.”
Ia tidak berkomentar. Ia hanya mengeluarkan pulpen, membalik halaman di mapnya ke selembar kertas kosong, dan menyodorkannya padaku.
“Tulis,” katanya. “Urutannya. Saya yang atur caranya.”
Aku mengambil pulpen itu.
Tanganku tidak gemetar sama sekali. Itu yang belakangan paling sering kuingat dari malam itu. Tanganku tidak gemetar.
1. Tempat tinggal. Tetangga. Biar mereka tahu siapa yang tinggal di sebelah mereka. 2. Pekerjaan. Bengkel itu. 3. Nama baik. Media. 4. Masa depan. Sertifikat. Pastikan dia tidak pernah jadi insinyur lagi. 5. Adiknya.
Aku berhenti di nomor lima. Ujung pulpen menempel di kertas, meninggalkan titik tinta yang melebar.
Adiknya baru tujuh belas tahun. Adiknya yang menulis jangan diem aja kayak tiang listrik. Adiknya yang menggoreng telur keasinan.
Aku teringat kursi kosong di sebelah Mama saat upacara jas putih.
Aku menulis kelanjutannya.
5. Adiknya. Apa pun yang dia sayangi.
Pak Hadi membaca daftar itu tanpa ekspresi, lalu memasukkannya ke dalam map.
“Uangnya lewat rekening yang saya kirim nanti,” katanya. “Jangan pernah pakai rekening atas nama Mbak sendiri. Jangan pernah hubungi saya lewat nomor pribadi Mbak. Dan jangan pernah cerita ke siapa pun. Termasuk ibu Mbak.”
“Saya mengerti.”
Ia berdiri, merapikan jasnya, lalu menatapku sekali lagi. Untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu di matanya yang hampir terlihat seperti rasa ingin tahu.
“Boleh saya tanya satu hal, Mbak?”
“Silakan.”
“Dia tahu siapa Mbak?”
“Tentu saja. Saya anak orang yang dia bunuh.”
“Dan dia tetap mau ketemu Mbak?”
“Dia pikir saya sudah memaafkan dia.”
Pak Hadi mengangguk pelan, seolah itu menjelaskan sesuatu yang tidak ia katakan.
“Selamat malam, Mbak Shella.”
Ia pergi. Gelas air putihnya tidak tersentuh sama sekali.
Jumat sore, aku kembali ke bengkel dengan dua gelas kopi.
Pak Gondo sedang tidur siang di kursi plastik di bawah pohon jambu, topi menutupi wajah, perutnya naik turun dengan ritme yang menenangkan. Presiden berbunyi pelan di sangkarnya. Laki-laki itu sedang mengelas sambungan kanopi besar di halaman, membungkuk di atas rangka, dan bunga api menyala biru-putih di bawah topeng lasnya.
Aku berdiri di pinggir halaman dan menunggu.
Aku tidak berniat memperhatikannya. Aku berniat menunggu sampai ia selesai. Tapi tidak ada hal lain untuk dilihat, jadi aku melihatnya.
Caranya bekerja tidak terburu-buru. Setiap sambungan dikerjakan dengan gerakan yang sama, terukur, seolah ia sedang menghitung sesuatu di kepalanya. Setelah selesai, ia mengangkat topengnya, memeriksa hasilnya dari dekat, menyentuh sambungan itu dengan ujung jari bersarung tangan, lalu menurunkan topengnya lagi untuk sambungan berikutnya.
Ia mengelas pagar seperti dulu ia menghitung struktur, pikirku. Dan dulu ia salah hitung.
Ia akhirnya melihatku dan mematikan alatnya.
“Udah lama?”
“Baru.” Aku menyodorkan gelasnya. “Nih.”
Ia mengambilnya. Ia tidak menatap gelas itu, tidak bertanya isinya apa. Ia hanya menyesapnya, dan aku melihat rahangnya bergerak lagi. Kecil. Hampir tidak terlihat.
“Kemanisan lagi ya?” tanyaku. “Aduh, Mas. Aku selalu lupa.”
“Nggak apa-apa.”
Ia meminumnya.
Aku duduk di bangku kayu di samping meja kerjanya, dan ia duduk di tumpukan besi yang sama seperti biasa. Matahari sore jatuh miring dari sela-sela atap seng. Ada noda hitam di pipinya, bekas asap las, dan rambut cepaknya basah keringat.
Aku sudah menyiapkan kalimat untuk hari ini. Kalimat yang akan membuat jarak di antara kami terasa sedikit lebih kecil.
“Mas,” kataku sambil memutar gelasku sendiri. “Mas tahu nggak?”
“Hm.”
“Mas tuh kelihatan lebih ganteng kalau lagi serius ngelas.”
Ia berhenti minum.
Ia menurunkan gelasnya pelan dan menatapku. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, aku melihat sesuatu yang benar-benar terkejut di wajahnya. Matanya sedikit melebar. Bibirnya terbuka sedikit, lalu menutup lagi.
Lalu ia memalingkan wajah ke arah rangka kanopi, dan aku melihat telinganya memerah.
Di dalam, perutku bergolak. Kalimat itu terasa seperti kerikil di lidahku. Aku ingin meludahkannya. Aku ingin mencuci mulutku. Aku mengatakan ganteng kepada orang yang membunuh ayahku, dan aku mengatakannya dengan suara lembut yang kuatur sedemikian rupa, dan ia percaya.
“Shella,” katanya, masih tanpa menatapku. “Kamu nggak harus ngomong kayak gitu.”
“Kenapa? Itu jujur.”
Ia diam. Lalu ia merogoh saku celananya, mengeluarkan buku cokelat kecil itu, dan menulis sesuatu. Pendek. Satu baris, mungkin dua. Lalu ia memasukkannya kembali.
“Ukuran kanopi?” tanyaku, setengah bercanda.
“Hm.”
Di bawah pohon jambu, Pak Gondo menggeliat, mengangkat topinya sedikit, dan mengintip kami dengan satu mata.
“Ar,” katanya serak. “Kalau mau pacaran, jangan di depan saya yang lagi tidur. Saya jadi mimpi indah, terus bangun-bangun inget saya udah tua.”
“Pak Gondo nggak tidur dari tadi,” kata laki-laki itu datar.
“Saya meditasi.”
“Bapak ngorok.”
“Itu bunyi meditasi tingkat tinggi.”
Aku tertawa. Aku tidak sempat menahannya. Tawa itu keluar begitu saja, lepas, dan Pak Gondo menunjukku dengan bangga seolah ia baru saja memenangkan sesuatu.
“Tuh. Neng Shella aja ketawa. Kamu, Ar, kapan terakhir ketawa? Waktu Presiden masih telur?”
Di sangkarnya, Presiden berbunyi tersinggung.
Laki-laki itu tidak menjawab. Tapi saat aku meliriknya, sudut bibirnya sedang terangkat. Tidak dibatalkan kali ini. Hanya sedikit. Hanya sebentar. Tapi nyata.
Aku berhenti tertawa.
Malam itu, di kamar mandi rumahku, aku menggosok gigi dua kali.
Lalu aku berdiri di depan cermin dan menatap wajahku sendiri. Wajah yang tadi sore tertawa di bengkel las. Wajah yang mengatakan ganteng dengan suara selembut sutra.
Itu cuma capek, kataku pada pantulan itu. Kamu capek. Jaga semalam, visite pagi, nyetir ke Cipayung. Orang capek gampang ketawa.
Ponselku bergetar di wastafel. Pesan dari nomor yang tidak tersimpan.
Rencana pertama mulai minggu depan. — H
Aku membaca pesan itu, lalu menghapusnya, seperti yang ia minta.
Lalu aku membuka folder Proyek di ponselku dan menulis:
Hari ke-18. Kopi manis lagi. Dia minum sampai habis. Bilang dia ganteng. Dia percaya.
Aku menatap tulisan itu dan menunggu kepuasan yang biasanya datang.
Yang datang hanya rasa sabun mint di mulutku, dan bayangan sudut bibir yang terangkat di bawah atap seng, sore tadi, yang tidak dibatalkan.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula reading
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365