Chapter Forty Four
Bab 44 — Jahitan
POV: Shella
Puskesmas Palabuhanratu punya ruang gawat darurat kecil yang buka dua puluh empat jam, dengan satu ranjang tindakan, satu lemari obat, dan satu lampu sorot yang kakinya harus diganjal kardus supaya tidak miring.
Dokter internsip bergiliran jaga malam. Dua kali seminggu, jadwalku.
Kamis malam, pukul sebelas lewat dua puluh, aku sedang menulis laporan di meja jaga ketika Asep menerobos pintu UGD dengan napas terengah-engah dan sandal jepit yang hanya sebelah.
“Dok! Dok! Bang Diem!”
Aku berdiri.
Di belakang Asep, seseorang berjalan masuk sendiri. Pelan. Tangan kirinya terbungkus kaus yang dulunya abu-abu dan sekarang merah tua, basah, menetes ke lantai keramik.
Arya.
“Seng atap gudang lepas, Dok,” kata Asep cepat. “Angin gede. Bang Diem lagi benerin, terus sengnya kebalik, nyabet tangannya. Saya bilang ke puskesmas, dia bilang nggak usah, dibalut aja. Saya paksa, Dok. Saya bilang nanti tangannya putus.”
“Nggak putus,” kata Arya.
“Darahnya sebanyak itu, Bang!”
Aku tidak mendengar apa yang Asep katakan setelahnya.
Aku melihat kaus merah tua itu. Aku melihat darah yang menetes dari ujungnya ke lantai, tetes demi tetes, membentuk jejak dari pintu UGD sampai ke tempat ia berdiri. Aku melihat wajahnya yang pucat di bawah lampu neon. Lebih pucat dari biasanya.
Tanganku dingin.
“Duduk,” kataku. Suaraku keluar normal. Suara dokter. “Di ranjang. Asep, tolong panggil Bu Nengsih di rumah dinas belakang.”
Asep berlari keluar.
Arya duduk di tepi ranjang tindakan. Ia tidak menatapku. Ia menatap kaus merah tua yang membungkus tangannya.
Aku menyalakan lampu sorot. Kakinya miring. Aku mengganjalnya dengan kardus.
Lalu aku berdiri di depannya dan berhenti.
Aku harus membuka kaus itu. Aku harus memegang tangannya. Aku harus memeriksa lukanya, membersihkannya, menjahitnya. Itu pekerjaanku. Aku sudah melakukannya ratusan kali di IGD rumah sakit di Jakarta, puluhan kali di puskesmas ini. Pada nelayan, pada kuli, pada anak-anak yang jatuh dari sepeda.
Aku tidak pernah ragu sebelumnya.
Aku tidak akan mengangkat tangan ke arah wajahnya lagi. Tidak sampai dia sendiri yang memintanya.
Ini bukan wajahnya. Ini tangannya. Tapi tubuhnya tidak tahu bedanya. Tubuhnya hanya tahu bahwa tanganku mendekat, dan setiap kali tanganku mendekat, sesuatu yang buruk terjadi.
Aku berdiri di depannya dengan sarung tangan karet di tanganku, dan aku tidak bergerak.
Ia mengangkat wajah. Ia melihatku berdiri di sana.
“Arya,” kataku. “Boleh aku pegang tanganmu?”
Ia menatapku.
“Kamu dokter,” katanya.
“Aku tahu.”
“Dokter nggak perlu nanya.”
“Aku nanya bukan sebagai dokter,” kataku.
Ia diam.
Darah menetes dari ujung kaus ke lantai. Satu. Dua. Tiga. Bunyi kecil di lantai keramik yang sunyi.
Lima detik. Sepuluh.
Aku menunggu. Kalau ia bilang tidak, aku akan menelepon dr. Haryo. Atau menunggu Bu Nengsih. Aku tidak akan menyentuhnya tanpa izin.
Ia menatapku lama. Lalu ia menatap tanganku yang terbungkus sarung tangan karet, yang menggantung di udara di depan dada, tidak bergerak ke arahnya.
“Boleh,” katanya.
Aku membuka kaus itu pelan-pelan.
Lukanya panjang. Robek dari pangkal ibu jari, melintang di telapak tangan kiri, sampai ke pergelangan. Delapan sentimeter, mungkin sembilan. Tepinya tidak rata, seperti sobekan kertas. Dalam. Aku bisa melihat lapisan lemak kuning di bawah kulit.
Tapi tidak menembus tendon. Aku memeriksanya. Aku memintanya menggerakkan jari satu per satu. Jempol. Telunjuk. Tengah. Manis. Kelingking. Semuanya bergerak.
Aku menghela napas yang tidak kusadari kutahan.
“Tendonnya utuh,” kataku. “Sarafnya juga. Coba rasain ini.”
Aku menyentuh ujung jarinya dengan ujung kapas.
“Kerasa?”
“Kerasa.”
Lukanya dekat dengan bekas luka bakar di punggung tangannya. Bekas yang bulat dan mengilap, berwarna lebih terang dari kulit di sekitarnya. Aku sudah melihat bekas itu ratusan kali. Di bengkel Pak Gondo. Di atas sapu tangan abu-abu yang disodorkan di makam. Di gelas kopi manis yang ia minum sampai habis.
Sekarang akan ada bekas lain. Di telapak tangan yang sama.
Bekas dari jahitanku.
Bu Nengsih datang dengan daster dan kerudung yang dipakai asal-asalan, matanya masih setengah tidur. Ia melihat siapa yang duduk di ranjang tindakan. Ia melihatku.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia mengambil baki alat jahit dari lemari, membuka bungkus benang steril, menyiapkan lidokain di spuit, dan meletakkan semuanya di meja kecil di samping ranjang.
Lalu ia mundur ke pintu.
“Saya di luar, Dok,” katanya. “Kalau butuh.”
Pintu UGD tertutup.
Aku menyuntikkan bius lokal di tepi luka. Ia tidak meringis. Ia tidak bergerak sama sekali.
Aku membersihkan luka itu dengan larutan antiseptik. Pasir. Karat. Serpihan kecil cat seng. Aku mengambilnya satu per satu dengan pinset.
Lalu aku mengambil jarum.
Jarum bengkok kecil dengan benang nilon hitam. Aku memegangnya dengan needle holder di tangan kanan, pinset di tangan kiri. Seperti yang sudah kulakukan ratusan kali.
Tanganku gemetar.
Bukan gemetar kecil. Gemetar yang terlihat. Ujung jarum itu bergetar di udara di atas tepi luka, dan aku tidak bisa menghentikannya.
Aku menarik napas. Aku menunggu. Gemetar itu tidak berhenti.
Aku menusukkan jarum itu juga.
Jahitan pertama. Tepi kulit bertemu tepi kulit. Benang ditarik. Simpul. Gunting.
Jahitan kedua.
Tanganku masih gemetar. Jahitan-jahitanku tetap rapi, karena tanganku sudah terlatih, karena tubuhku tahu cara melakukannya meski kepalaku tidak bisa berhenti berpikir. Tapi gemetar itu tidak hilang.
Ia memperhatikan tanganku.
Aku tahu tanpa menatapnya. Aku bisa merasakan matanya di sana, di atas needle holder dan pinset, di atas jari-jariku yang terbungkus karet.
“Tanganmu gemetar,” katanya.
Pelan. Bukan tuduhan. Bukan ejekan. Seperti melaporkan hasil pengukuran.
“Iya,” kataku.
Jahitan ketiga.
“Waktu bungkus piagam Kinan juga,” katanya.
Aku berhenti.
Jarum itu menggantung di udara, setengah menembus tepi kulitnya.
Hari ke-131. Pindah. Dia bantu angkat galon. Dia bungkus piagam Kinan pakai koran tiga lapis. Tangannya gemetar. Aku tidak tahu kenapa tangannya gemetar.
Ia mengingatnya. Ia menulisnya di buku cokelat, dan ia mengingatnya. Tanganku, di kontrakan hijau, membungkus piagam dengan tanda tangan Ayah.
“Kamu tahu kenapa?” tanyanya. “Waktu itu?”
Aku menatap luka di telapak tangannya. Benang hitam. Tepi kulit yang mulai rapat.
“Karena tanda tangan Ayah,” kataku. “Di piagam itu. Ayah yang pilih Kinan. Ayah baik ke Kinan. Dan aku lagi ngancurin Kinan.”
Aku menyelesaikan jahitan ketiga.
“Aku nggak tahu kenapa tanganku gemetar waktu itu,” lanjutku pelan. “Aku cuma tahu aku nggak bisa berhenti. Aku bilang ke diriku sendiri itu capek.”
“Sekarang?”
Aku mengambil jarum lagi untuk jahitan keempat.
“Sekarang aku tahu,” kataku.
Ia tidak bertanya apa yang kutahu. Ia hanya diam, dan terus menatap tanganku.
Jahitan kelima. Keenam. Ketujuh.
Di luar, angin pesisir berbunyi di antara daun-daun kelapa. Jauh, ombak menghantam karang di ujung teluk. Jam dinding UGD berdetak terlalu keras.
“Arya,” kataku, tanpa mengangkat wajah dari lukanya. “Ada yang harus kamu tahu.”
Ia diam.
“Aku nggak akan ngapa-ngapain soal ini. Aku nggak akan benerin apa-apa. Aku cuma… kamu yang harus tahu. Bukan aku.”
Jahitan kedelapan.
“Kinan,” kataku.
Tangannya bergerak. Sedikit. Aku menahannya dengan pinset, pelan.
“Jangan gerak. Belum selesai.”
Ia diam lagi.
“Aku ke sekolahnya minggu lalu. Aku salah. Aku bikin dia malu di depan kelasnya. Dia marah sama aku. Dia benar.” Aku menelan ludah. “Tapi wali kelasnya bilang sesuatu.”
“Apa?”
“Nilainya turun. Dari ranking satu ke ranking sebelas. Dia nggak belajar sejak kamu pergi. Dia sering di UKS. Bukan sakit. Cuma duduk.” Aku menarik benang. Simpul. Gunting. “Jalur prestasi hampir pasti nggak bisa. Dia harus ikut tes tertulis. Empat bulan lagi.”
Hening.
Aku mengangkat wajah.
Ia menatapku. Dan untuk pertama kalinya sejak dermaga lama, sejak aku cuma udah nggak ada, wajahnya bukan wajah yang kosong, dan bukan wajah yang marah seperti di halte bus.
Wajahnya wajah seorang kakak.
“Ranking sebelas,” ulangnya pelan.
“Iya.”
“Dia nggak pernah di bawah ranking dua. Sejak SD.”
“Aku tahu.”
Ia menatap tangannya yang setengah dijahit. Lama.
“Dia nggak bilang,” katanya.
“Dia nggak mau kamu tahu,” kataku. “Kayak kamu nggak mau dia tahu kamu tidur di lantai kamar kos.”
Ia menutup matanya.
Aku menyelesaikan jahitan terakhir. Sembilan. Aku menggunting benangnya. Aku membersihkan luka itu sekali lagi dengan kasa dan larutan antiseptik, lalu menutupnya dengan kasa steril dan membalutnya dengan perban. Rapi. Tidak terlalu ketat, tidak terlalu longgar.
Tanganku masih gemetar.
“Udah,” kataku. “Sembilan jahitan. Jangan kena air tiga hari. Ganti perban dua hari sekali di sini. Lepas jahitan sepuluh hari lagi.”
Aku melepas sarung tangan karetku.
Aku tidak menyadari bahwa tanganku masih memegang tangannya. Bukan dengan pinset. Dengan jari-jariku sendiri, di bawah perban, di pergelangan tangannya. Tanpa sarung tangan. Kulit bertemu kulit.
Aku menyadarinya saat ia tidak menarik tangannya.
Aku membeku.
Aku menunggunya menarik diri. Seperti di bawah terpal biru. Seperti di warung kopi di hari pertama, saat jari-jari kami hampir bersentuhan dan ia yang menarik tangannya lebih dulu.
Ia tidak menarik tangannya.
Tangannya diam di atas tanganku. Hangat. Kasar, dengan kapalan di pangkal jari dan bekas luka bakar yang bulat di punggungnya. Aku bisa merasakan denyut nadinya di bawah ujung jariku. Cepat. Lebih cepat dari yang seharusnya untuk orang yang baru dibius lokal.
Lima detik.
Sepuluh.
Lalu, pelan, ia menarik tangannya.
Bukan tersentak. Bukan menghindar. Hanya menarik, pelan, seperti seseorang yang mengambil kembali sesuatu yang ia pinjamkan sebentar.
“Makasih, Dok,” katanya.
Ia berdiri dari ranjang tindakan. Ia mengambil kausnya yang merah tua dari lantai. Ia tidak memakainya. Ia hanya memegangnya di tangan kanan.
Di pintu UGD, ia berhenti. Ia tidak menoleh.
“Sambalnya,” katanya.
Aku menatap punggungnya.
“Yang di toples selai. Yang Mak Ijah bilang dari Bapak.”
Aku menahan napas.
“Yang ngulek siapa?”
Aku bisa berbohong. Aku bisa bilang Pak Gondo. Aku bisa bilang anak perempuan Pak Gondo. Aku bisa bilang aku tidak tahu.
Aku ingin percaya bahwa aku juga bisa belajar tidak bohong. Pada siapa pun.
“Aku,” kataku. “Pakai tangan kiri. Kata Bapak biar sabar.”
Ia diam lama di ambang pintu.
Lalu ia keluar ke malam yang berangin, tanpa berkata apa-apa lagi.
Bu Nengsih masuk tidak lama kemudian. Ia melihat lantai keramik yang penuh jejak darah. Ia melihat baki alat jahit. Ia melihatku duduk di kursi di samping ranjang tindakan dengan kedua tangan di pangkuan.
Gemetar.
Ia mengambil kain pel dari sudut ruangan dan mulai membersihkan lantai.
“Berapa jahitan?” tanyanya tanpa menatapku.
“Sembilan.”
“Rapi?”
“Rapi.”
“Tangannya Dokter gemetar dari tadi,” kata Bu Nengsih. “Saya liat dari kaca pintu.”
“Iya, Bu.”
Bu Nengsih berhenti mengepel. Ia bersandar pada gagang kain pelnya dan menatapku.
“Kerapunya keluar dari batu, Dok,” katanya pelan. “Sedikit. Cuma kepalanya. Tapi keluar.”
Malam itu, di meja jaga, aku membuka buku cokelat.
Hari ke-143. Jahitan. Sembilan. Telapak tangan kiri, dekat bekas luka bakar.
Aku tanya boleh aku pegang tanganmu. Dia bilang: boleh.
Tanganku gemetar. Dia ingat tanganku gemetar waktu membungkus piagam.
Aku bilang soal Kinan. Ranking sebelas. Wajahnya wajah kakak.
Tanganku memegang pergelangannya tanpa sarung tangan. Dia tidak menarik diri. Sepuluh detik.
Dia tanya siapa yang ngulek sambal. Aku bilang: aku.
Aku menatap tulisan itu.
Lalu aku menambahkan satu baris.
Sepuluh detik.
Aku menatap kalimat itu sampai tulisannya kabur.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan reading
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365