← Hukuman Kedua

Chapter Thirteen

Bab 13 — Daftar Hitam

POV: Shella

Ia melamar ke tujuh belas tempat dalam tiga minggu.

Aku tahu jumlahnya karena ia mencatatnya. Bukan di buku cokelat, tapi di selembar kertas folio bergaris yang ditempel di dinding kamar kontrakan dengan selotip. Kolom pertama nama perusahaan. Kolom kedua posisi. Kolom ketiga tanggal kirim. Kolom keempat hasil.

Aku melihatnya hari Minggu, saat Kinan menyuruhku masuk karena kakaknya sedang mandi.

Kolom keempat terisi hampir semua. Dengan huruf kecil yang tegak dan presisi, kata yang sama diulang-ulang ke bawah seperti tangga.

Ditolak. Ditolak. Tidak dibalas. Ditolak (setelah wawancara). Ditolak.

Ia tidak hanya melamar sebagai insinyur. Ia tahu sertifikatnya sudah dicabut. Ia melamar sebagai drafter, sebagai estimator biaya, sebagai pengawas lapangan, sebagai tukang las di kontraktor besar, sebagai tukang las di bengkel-bengkel kecil di Bekasi dan Depok. Di baris kesembilan, ia bahkan melamar sebagai staf gudang di sebuah distributor bahan bangunan.

Ditolak (setelah wawancara). Dipanggil tes, lulus. Ditelepon besoknya, posisi sudah terisi.

Aku tahu kenapa posisinya sudah terisi.

Pak Hadi tidak perlu bekerja keras untuk yang satu ini. Wijaya Konstruksi adalah salah satu kontraktor menengah terbesar di Jabodetabek. Selama dua puluh tahun, Ayah membangun jaringan dengan subkontraktor, pemasok besi dan semen, bengkel fabrikasi, konsultan, dan asosiasi. Semua orang di dunia konstruksi Jakarta Timur dan Bekasi mengenal nama Wijaya. Banyak dari mereka berutang budi. Banyak lagi yang ingin berutang budi.

Cukup satu pesan dari orang yang tepat, dikirim lewat orang yang tepat, tanpa nama dan tanpa jejak. Kalau ada lamaran atas nama Arya Mahesa, sebaiknya tidak usah. Pihak keluarga almarhum masih sensitif.

Tidak ada yang akan bertanya. Tidak ada yang mau menjadi perusahaan yang mempekerjakan orang yang membunuh Hendra Wijaya.

“Kak Shella liat apa?”

Kinan berdiri di sampingku dengan dua gelas teh. Ia mengikuti arah pandangku ke kertas folio itu.

“Oh. Itu.” Ia menyodorkan satu gelas padaku. “Kak Arya nempelnya kemarin. Katanya biar nggak lupa udah ngelamar ke mana aja. Padahal menurutku biar dia bisa lihat tiap hari seberapa sial hidupnya.”

“Kinan,” kataku pelan.

“Apa? Aku jujur.” Ia meneguk tehnya. “Kakak tahu nggak, di tempat yang nomor sembilan itu, yang gudang bangunan, dia lulus tes angkat beban paling tinggi. Paling tinggi, Kak. Ngalahin anak-anak muda yang badannya kayak lemari. Terus besoknya ditelepon. Maaf, posisinya sudah terisi.” Kinan meniru suara perempuan yang sopan dan dingin. “Terisi apaan. Hari itu juga lowongannya masih ada di Instagram mereka. Aku cek.”

Aku menatap teh di gelasku.

“Mungkin mereka tahu soal… masa lalunya,” kataku.

“Ya pasti tahu. Semua orang tahu. Kak Arya juga nggak pernah nyembunyiin. Di CV-nya ditulis. Dia bilang lebih baik ditolak di awal daripada ketahuan belakangan.” Kinan mendengus. “Bodoh. Jujur kok sampai bodoh begitu.”

Pintu kamar mandi terbuka. Laki-laki itu keluar dengan handuk di leher dan kaus bersih, rambut cepaknya masih basah. Ia melihat kami berdua berdiri di depan kertas folio itu.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya berjalan ke dinding, melepas kertas itu dengan hati-hati, melipatnya, dan memasukkannya ke laci lemari.

“Nggak usah diliat,” katanya.


Hari Rabu, ia mulai bekerja di proyek.

Bukan sebagai insinyur. Bukan sebagai pengawas. Sebagai kuli harian di sebuah proyek rumah toko dua lantai di pinggir jalan raya Bogor, milik seorang pengusaha kecil yang tidak peduli siapa yang mengangkat semennya selama semennya terangkat. Upahnya seratus dua puluh ribu sehari. Dibayar setiap Sabtu. Tanpa kontrak, tanpa jaminan apa pun.

Aku datang ke sana Jumat siang, tanpa memberitahunya.

Aku memarkir mobil di seberang proyek, di depan sebuah toko bangunan, dan menonton dari balik kaca. Seperti hari pertama. Seperti hari ia dipecat.

Proyek itu berupa rangka beton setengah jadi yang dibungkus jaring hijau. Debu semen mengepul di udara. Mesin molen berputar berisik. Matahari pukul satu siang menghantam semuanya tanpa ampun.

Aku melihatnya.

Ia memanggul sak semen di bahu kanannya. Empat puluh kilogram. Ia berjalan dari tumpukan di pinggir jalan ke dalam proyek, menaiki papan kayu miring yang berfungsi sebagai tangga darurat, lalu meletakkan sak itu di dekat molen. Lalu ia turun dan mengambil sak berikutnya.

Lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Kaus abu-abunya sudah berubah warna menjadi kelabu tua karena keringat dan debu. Wajahnya putih tertutup bubuk semen. Ia memakai topi caping bambu seperti petani, dan sarung tangan kain yang sudah bolong di ujung jari.

Dulu, kata Ayah di meja makan, Arya bisa menghitung beban struktur lima lantai di kepala sebelum orang lain selesai membuka kalkulator.

Sekarang ia memanggul beban di bahunya sendiri.

Di sebelahnya, mandor proyek berteriak-teriak, menyuruh semua orang bekerja lebih cepat. Mandor itu laki-laki kurus berkacamata hitam yang memegang ponsel di satu tangan dan rokok di tangan lain. Aku melihat laki-laki itu berhenti sebentar di dekat kolom beton yang baru dicor. Ia menatap kolom itu. Ia menyentuh permukaannya dengan ujung jari yang keluar dari sarung tangan bolong, lalu menunduk, memeriksa sesuatu di bagian bawah kolom.

Lalu ia berbalik dan berbicara pada mandor.

Mandor itu mendengarkan selama tiga detik, lalu mengibaskan tangan dengan kesal dan berteriak sesuatu yang tidak bisa kudengar. Laki-laki itu mengangguk, berbalik, dan kembali mengangkat semen.

Aku tidak tahu apa yang ia katakan pada mandor itu. Aku tidak tahu apa yang ia lihat di kolom beton itu.

Aku hanya tahu ia tidak lagi punya hak untuk mengatakannya.


Sabtu sore, aku menjemputnya di proyek dan membawanya ke warung bakso di dekat situ.

Ia makan pelan. Tangannya, saat memegang sendok, sedikit gemetar. Aku melihat lecet merah di bahu kanannya, di tempat sak semen bergesekan dengan kulitnya, terlihat dari kerah kausnya yang melar. Telapak tangannya penuh lepuh baru di atas kapalan lama.

“Mas,” kataku.

“Hm.”

“Ini nggak adil.”

Ia terus makan.

“Mas lulusan ITB. Mas insinyur. Mas pernah pegang proyek gede. Terus sekarang Mas disuruh angkat semen? Sama mandor yang bahkan nggak bisa bedain kolom sama tiang listrik?” Aku menekan suaraku. Marah. Ini marah yang kurencanakan, tapi entah kenapa terasa terlalu mudah untuk kuperankan. “Perusahaan-perusahaan itu jahat semua. Mereka nggak kasih Mas kesempatan sama sekali. Mas udah dihukum. Mas udah bayar. Kenapa mereka masih—”

“Shella.”

Aku berhenti.

Ia meletakkan sendoknya. Ia menatapku dari seberang meja, dengan wajah yang masih berdebu semen di garis rambutnya.

“Mereka nggak jahat,” katanya pelan. “Mereka cuma takut.”

“Takut apa?”

“Takut kalau aku salah lagi.”

Aku menatapnya. “Mas nggak akan salah lagi.”

Ia tidak menjawab. Ia mengambil sendoknya lagi dan memotong bakso di mangkuknya menjadi dua.

“Tadi Mas ngomong apa sama mandor itu?” tanyaku. “Di kolom.”

Ia mengunyah pelan sebelum menjawab.

“Bekistingnya dibuka terlalu cepat. Betonnya belum cukup umur. Ada retak rambut di bawah. Kalau lantai dua dicor minggu depan, kolom itu bisa nggak kuat.”

“Terus mandornya bilang apa?”

“Bilang aku kuli. Kuli nggak usah ngajarin mandor.”

Ia mengatakannya tanpa marah. Seperti melaporkan cuaca.

“Terus Mas diem aja?”

“Aku bilang sekali lagi pas pulang. Ke pemiliknya langsung, lewat telepon.” Ia menyendok kuah bakso. “Dia bilang dia pertimbangkan.”

“Kalau dia nggak pertimbangkan?”

Ia diam cukup lama.

“Aku bilang lagi Senin,” katanya.

Aku menatap laki-laki di hadapanku. Kuli harian dengan upah seratus dua puluh ribu sehari, yang bahunya lecet dan tangannya melepuh, yang ditolak tujuh belas perusahaan karena dianggap pernah membunuh orang dengan gedung yang runtuh. Ia baru saja dimaki karena memperingatkan orang soal kolom yang bisa runtuh. Dan ia akan memperingatkan lagi Senin.

Kenapa?

Kenapa orang yang salah menghitung beban sampai tiga orang mati masih begitu peduli pada retak rambut di kolom orang lain?

Kecuali…

Aku menghentikan pikiran itu sebelum sempat selesai. Aku memotongnya seperti memotong benang jahit dengan gunting bedah. Bersih. Cepat. Tanpa sisa.

Karena rasa bersalah, jawabku pada diriku sendiri. Orang yang pernah membunuh karena kelalaian jadi paranoid soal kelalaian. Itu masuk akal. Itu psikologi dasar.

Itu cuma rasa bersalah.


Malam itu ada makan malam di rumah. Makan malam tahunan Wijaya Konstruksi untuk para direksi dan komisaris, yang sejak Ayah meninggal diadakan di rumah kami karena Mama tidak sanggup datang ke hotel tanpa Ayah.

Enam laki-laki berjas dan dua perempuan berkebaya duduk mengelilingi meja panjang yang bisa memuat dua belas orang. Mbok Sum dan dua katering sewaan hilir mudik membawa piring. Aku duduk di ujung meja, di sebelah Mama, memakai gaun hitam sederhana dan senyum yang sopan.

Pak Darmawan, direktur operasional, duduk di seberangku. Ia laki-laki berusia enam puluhan yang sudah bekerja dengan Ayah sejak perusahaan masih berupa satu ruko sewaan di Bekasi.

Di tengah hidangan utama, ia bercerita sambil memotong steak.

“Oh iya, Bu Ratna. Kemarin ada kabar dari teman-teman di asosiasi. Itu, si Arya. Yang dulu.”

Pisau di tangan Mama berhenti.

Garpu di tanganku juga.

“Katanya dia sudah keluar. Ngelamar ke mana-mana. Ke PT Graha Utama, ke PT Mitra Beton, ke bengkelnya Pak Haris di Bekasi. Semua ditolak.” Pak Darmawan menggeleng dengan wajah puas. “Ya wajar. Siapa yang mau. Teman-teman semua tahu dia yang bikin Pak Hendra…” Ia melirik Mama dan berhenti. “Maaf, Bu.”

Hening di meja makan.

Mama meletakkan pisaunya pelan-pelan di piring. Ia menatap Pak Darmawan. Wajahnya tenang, tapi ada sesuatu di bawah ketenangan itu yang tidak bisa kubaca.

“Pak Darmawan,” katanya. “Ada yang nyuruh teman-teman asosiasi menolak dia?”

“Wah, nggak, Bu. Nggak ada yang nyuruh. Itu inisiatif masing-masing. Bentuk solidaritas buat almarhum.”

Mama terdiam lama.

“Biarkan saja dia hidup, Pak,” katanya akhirnya. Suaranya pelan. “Dia sudah dihukum. Biarkan saja dia cari makan.”

Pak Darmawan terlihat terkejut. Dua direksi lain saling pandang.

“Baik, Bu,” kata Pak Darmawan. “Tentu.”

Lalu Mama mengangkat pisaunya lagi dan melanjutkan makan, seolah tidak terjadi apa-apa. Pembicaraan beralih ke proyek apartemen di Cikarang dan harga besi yang naik.

Tapi di bawah meja, aku merasakan tangan Mama menyentuh lututku. Hanya sebentar. Menekan sedikit. Lalu menghilang.

Aku tidak tahu apa artinya. Apakah Mama tahu. Apakah Mama curiga. Apakah itu hanya isyarat seorang ibu yang khawatir putrinya terguncang mendengar nama itu disebut di meja makan.

Aku tidak menoleh padanya.

Aku memotong steakku menjadi potongan-potongan kecil yang rapi dan memakannya satu per satu, dan rasanya seperti mengunyah karet.


Sebelum tidur, aku mengirim pesan ke nomor yang tidak tersimpan.

Ibu saya mulai bertanya. Hati-hati.

Balasannya datang cepat.

Selalu hati-hati, Mbak. Langkah berikutnya: tempat tinggal. Minggu depan. — H

Aku menatap pesan itu.

Lalu aku membuka galeri foto di ponselku dan menggulir ke foto-foto ulang tahun. Dua puluh tiga foto. Laki-laki itu meniup lilin. Laki-laki itu memotong kue. Laki-laki itu duduk diam di pojok, menatap sesuatu yang tidak ada di ruangan itu.

Pak Hadi meminta foto-foto ini. Untuk bahan nanti, katanya. Untuk menunjukkan bahwa mantan napi itu hidup di tempat kumuh, merayakan ulang tahun dengan kue mahal dari perempuan kaya, sementara keluarga korban berduka. Narasi, katanya. Media butuh narasi.

Aku belum mengirimnya.

Aku tidak tahu kenapa aku belum mengirimnya.

Aku menatap foto terakhir. Foto yang tidak sengaja kuambil saat ia menyerahkan kotak kardus kecil berisi stetoskop padaku. Tangannya terulur. Wajahnya sedikit buram karena bergerak. Tapi matanya jelas. Matanya menatap kamera, menatapku, dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat di wajahnya sebelumnya.

Penuh harap.

Aku mengunci ponselku dan meletakkannya terbalik di meja.

Aku akan mengirimnya besok, kataku pada diriku sendiri.

Besok.