← Hukuman Kedua

Chapter Twenty One

Bab 21 — Ludah

POV: Shella

Aku memilih baju hitam.

Bukan karena duka. Aku sudah memutuskan itu semalam, di depan lemari, dengan lampu kamar dimatikan dan hanya lampu meja rias yang menyala. Aku memilih hitam karena hitam adalah warna yang kupakai di ruang sidang tiga tahun lalu. Aku ingin ia mengingatnya. Aku ingin ia melihatku dan melihat perempuan yang berdiri dan berteriak pembunuh di depan hakim.

Mbok Sum menatapku dari dapur saat aku turun tangga.

“Mbak Shella mau ke mana pagi-pagi pakai item-item?”

“Ziarah, Mbok.”

“Ke Karawang?”

“Ke Bekasi.”

Mbok Sum diam. Ia tahu apa artinya Bekasi. Semua orang di rumah ini tahu. Ia menatapku sebentar, lalu kembali ke penggorengan, dan aku mendengarnya bergumam pelan, ya Allah, sudah tiga tahun, sebelum minyak di wajan meletup dan menenggelamkan suaranya.

Aku mengambil kunci mobil. Meteran pita kuningan berayun di gantungannya.

Di saku dalam tas jinjingku, di tempat yang sama selama hampir enam bulan, sapu tangan abu-abu itu masih terlipat rapi. Di sebelahnya, secarik kertas kusut. Cicilan Koh Ahong. Minggu ke-3.

Aku tidak mengeluarkan keduanya. Aku ingin keduanya ada di sana hari ini.


Ia sudah berdiri di depan laundry saat aku tiba.

Kemeja abu-abu muda. Celana bahan hitam. Sepatu pantofel yang solnya tipis tapi mengilap. Bunga sedap malam dan melati dibungkus koran di tangannya. Rambut cepak yang disisir rapi.

Ia memakai kemeja yang kuberikan. Lagi. Kemeja yang ujung lengannya ia tambal sendiri, dua kali.

Ia masuk ke mobil dan duduk tegak di jok penumpang, seperti pertama kali. Bunga di pangkuannya.

“Pagi,” katanya.

“Pagi, Mas.”

Ia menatapku sekilas. Baju hitamku. Wajahku yang tanpa riasan. Rambutku yang kuikat ketat ke belakang.

Ia tidak berkata apa-apa tentang itu.

Kami menyetir ke Bekasi dalam diam. Ia tidak mencoba bicara. Aku tidak menyalakan radio. Di tol, matahari pagi masuk miring dari jendela kanan dan jatuh di tangannya yang terlipat di atas bunga. Tangan dengan bekas luka bakar di punggungnya. Tangan yang mengukur diameter selang stetoskop. Tangan yang memotong jahe di lantai kamar kos.

Aku menatap jalan.

Di kepalaku, aku mengulang kalimat-kalimat yang sudah kususun selama enam bulan. Semuanya ada di sana, dalam urutan yang rapi. Seperti obat di lemari berlabel. Seperti daftar yang kutulis di lounge hotel Senayan.

Tanganku tidak gemetar di setir.

Aku memastikannya.


Lahan itu berada di pinggir jalan raya yang menghubungkan Bekasi dan Cikarang, di antara sebuah dealer motor dan sebuah toko bangunan.

Dulu ada ruko tiga lantai di sana. Sekarang hanya ada tanah kosong yang dipagari seng berkarat, dengan rumput liar setinggi lutut dan sisa-sisa fondasi yang menyembul di beberapa tempat, seperti tulang yang tidak dikubur dengan benar. Di salah satu sisi pagar seng, ada papan kayu yang catnya sudah pudar: TANAH INI DALAM SENGKETA. DILARANG MASUK.

Ia tahu cara masuknya. Ada celah di pagar seng di sisi belakang, cukup lebar untuk satu orang.

Aku tidak bertanya bagaimana ia tahu. Aku hanya mengikutinya.

Di dalam, lahan itu lebih sunyi dari yang kubayangkan. Suara lalu lintas dari jalan raya terdengar jauh, teredam oleh pagar seng. Rumput liar bergoyang pelan. Seekor kupu-kupu kuning terbang rendah di atas genangan air hujan.

Ia berjalan ke tengah lahan. Ke sebuah titik di dekat sisa fondasi yang paling besar, di mana masih ada potongan besi tulangan berkarat yang mencuat dari beton.

Ia berhenti di sana.

“Di sini,” katanya pelan. “Pak Hendra di sini.”

Aku berhenti di belakangnya.

Aku tidak tahu itu. Tidak ada yang pernah memberitahuku di titik mana persisnya Ayah ditemukan. Laporan polisi hanya menyebut korban ditemukan di bawah reruntuhan lantai dua bagian timur. Aku tidak pernah ke sini. Tiga tahun, dan aku tidak pernah sekali pun datang ke tempat ini.

Ia tahu. Ia ingat titiknya.

Tentu saja ia ingat. Ia yang ada di sini.

Ia berjongkok. Ia membuka bungkus koran dan menaburkan bunga sedap malam dan melati di atas tanah, di antara rumput liar dan potongan besi berkarat. Pelan-pelan. Merata. Seperti di makam San Diego Hills.

Lalu ia berlutut. Lalu ia menunduk. Lalu ia berdoa.

Aku berdiri di belakangnya dan menatap punggungnya. Kemeja abu-abu muda itu menegang di bahunya.

Inilah saatnya.


“Mas,” kataku.

Ia mengangkat kepala, tapi tidak menoleh. Ia masih berlutut, menghadap tanah tempat Ayah ditemukan.

“Mas tahu nggak kenapa aku datang ke bengkel waktu itu?”

Ia diam.

“Aku nggak pernah maafin Mas.”

Kalimat pertama. Keluar dengan tenang. Lebih tenang dari yang kulatih.

“Nggak pernah. Nggak sehari pun. Nggak sedetik pun. Waktu aku bilang Ayah pasti ingin aku maafin Mas, aku bohong. Ayah memang pemaaf. Tapi aku bukan Ayah.”

Ia tidak bergerak.

“Kertas di papan RT,” lanjutku. “Yang Mas lepas di bawah gerimis terus Mas lipat rapi terus Mas simpan di laci. Itu aku. Aku yang nyuruh orang tempel. Grup WA RT. Bu Romlah. Semua aku.”

Hening. Rumput bergoyang. Kupu-kupu kuning itu hinggap di salah satu tangkai sedap malam.

“Pagar seratus meter. CV Bangun Lestari. Pak Yusuf. Nggak ada. Nggak pernah ada. Aku yang bikin. Aku yang hitung delapan belas juta itu supaya pas buat ngebunuh bengkel kecil.”

Aku melangkah satu langkah ke depan.

“Kaleng Khong Guan.” Suaraku mulai naik. “Hari Sabtu waktu Mas pasang teralis di rumah Pak RW. Mas suruh aku jaga Presiden. Aku jongkok di depan laci itu, aku buka kalengnya, aku ambil semua. Tiga juta dua ratus lima puluh ribu. Mas tahu uangnya aku apain?”

Aku membuka tas jinjingku. Aku mengeluarkan secarik kertas kusut dari saku dalamnya, dan sesuatu yang lain ikut tertarik keluar dan jatuh ke rumput di dekat kakiku. Aku tidak melihatnya. Aku melempar kertas kusut itu ke arahnya. Kertas itu mengenai punggungnya, lalu jatuh di atas bunga melati.

Cicilan Koh Ahong. Minggu ke-3. Rp 3.250.000.

“Aku masukin ke kotak amal masjid. Semuanya. Karena aku nggak butuh uang Mas. Uang Mas nggak cukup buat beli satu tasku. Aku cuma mau Pak Gondo liat Mas kayak maling.”

Ia tidak menoleh. Ia menatap kertas itu di atas bunga.

“Bengkelnya,” kataku. “PT Sinar Karya Logam. Itu aku. Manajernya, Pak Benny, yang nggak bisa pegang trafo las, itu orangku. Yang mecat Mas, itu aku. Yang bikin Mas nggak diterima di tujuh belas tempat, itu aku. Yang beli rumah Bu Romlah terus naikin sewanya tiga kali lipat supaya Mas tidur di lantai kamar kos di atas laundry, itu aku.”

Aku bernapas dengan cepat sekarang. Kata-kata itu keluar seperti air dari pipa yang pecah.

“Foto ulang tahun Mas di TV. Dua puluh tiga foto. Aku yang ambil. Aku yang kirim. Aku sengaja ambil pas Mas nggak senyum, pas Mas keliatan paling menyedihkan, pas kamarnya keliatan paling kumuh. Mas bilang mungkin ada yang ambil dari HP-ku. Mas pikir aku nggak tahu Mas lagi ngasih aku jalan keluar? Aku tahu. Aku cuma nggak butuh jalan keluar dari Mas.”

Ia diam.

“Lembar hitungan lapangan Mas. Yang asli. Dua puluh tiga lembar, pakai pensil, ada debu semennya. Nggak hilang. Nggak dibuang karyawan tempat jilid. Ada di laci meja riasku. Sekarang. Flashdisk Mas nggak rusak. Aku yang format. Surat keberatan ke asosiasi atas nama keluarga korban? Keluargaku. Aku.”

Aku menelan ludah. Tenggorokanku perih.

“Dan beasiswa Kinan.”

Untuk pertama kalinya, bahunya bergerak. Sedikit. Hampir tidak terlihat.

“Yayasan Pendidikan Wijaya. Yayasan ayahku.” Suaraku pecah di kata itu. “Mas pikir aku bakal biarin adik dari orang yang bunuh ayahku sekolah pakai uang ayahku? Mas pikir aku bakal diem aja liat tanda tangan ayahku di piagam itu, di dinding rumah pembunuhnya? Aku yang cabut. Aku. Nama baik. Ya. Nama baik. Karena adikmu punya kakak yang nggak punya nama baik sama sekali.”


Ia akhirnya berdiri.

Pelan. Dari lututnya yang basah oleh tanah. Ia berdiri dan berbalik menghadapku.

Wajahnya.

Aku sudah membayangkan wajahnya di saat ini ratusan kali. Ribuan kali. Aku membayangkan wajah yang hancur. Wajah yang tidak percaya. Wajah yang marah, yang berteriak, yang memohon. Wajah yang akhirnya, akhirnya, mengerti apa yang sudah ia ambil dariku.

Wajahnya tenang.

Tidak terkejut. Tidak marah. Hanya tenang, dan sangat lelah, dan matanya menatapku lurus, tidak menunduk. Seperti di ruang sidang.

Ketenangan itu membuatku gila.

“Kenapa Mas diem?” Aku berteriak sekarang. Suaraku memantul di pagar seng. “Kenapa Mas nggak marah? Kenapa Mas nggak bilang apa-apa?”

Ia diam.

“Setiap pelukan,” kataku, dan sekarang aku melangkah lebih dekat, sampai hanya satu lengan yang memisahkan kami. “Setiap kali aku meluk Mas, aku nahan muntah. Bau besi Mas. Bau keringat Mas. Aku nahan muntah, terus aku pulang, terus aku mandi sampai kulitku merah.”

Matanya tidak berubah.

“Setiap kali aku bilang sayang, aku bayangin muka Ayah. Supaya suaraku kedengeran tulus. Muka Ayah yang ketimpa beton yang Mas hitung.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

“Waktu aku cium Mas,” kataku, dan suaraku turun menjadi bisikan yang lebih buruk dari teriakan, “aku langsung ke kamar mandi. Aku gosok bibirku pakai sabun. Pakai tangan. Sampai merah. Sampai bengkak. Karena bibir Mas itu bibir pembunuh dan aku nggak tahan rasanya ada di mulutku.”

Sesuatu bergerak di matanya. Akhirnya. Sesuatu yang sangat kecil, seperti riak di permukaan danau ketika sebutir kerikil jatuh di tengahnya.

Lalu hilang lagi.

“Dan kopi Mas,” kataku. “Kopi manis itu. Aku nggak lupa. Aku nggak pernah lupa. Aku tahu Mas nggak suka manis dari hari pertama. Aku sengaja. Setiap Selasa. Setiap Jumat. Aku pengin liat Mas minum sesuatu yang Mas nggak suka, sampai habis, sambil senyum ke aku. Dan Mas minum. Sampai habis. Setiap kali.”

Air mataku jatuh. Aku tidak tahu kapan mulainya. Aku tidak mengusapnya.

“Seharusnya Mas yang mati,” kataku.

Ia diam.

“Seharusnya Mas yang ketimpa beton itu. Bukan Ayah. Mas. Mas yang hitung salah. Mas yang harusnya ada di bawah sana, di titik ini, di tanah ini. Aku berdoa tiap malam selama dua tahun Mas di penjara, supaya Mas mati di sana. Tiap malam. Aku berdoa Mas sakit, Mas dipukulin, apa aja. Aku nggak peduli. Asal Mas mati.”

Kalimat-kalimat itu keluar dan aku tidak bisa menghentikannya. Mereka sudah terlalu lama di dalam. Tiga tahun. Mereka sudah membusuk di sana.

“Dan waktu Mas keluar, aku sadar mati terlalu gampang buat Mas. Jadi aku ambil semuanya. Satu per satu. Kerjaan Mas. Rumah Mas. Nama Mas. Masa depan Mas. Adik Mas. Aku ambil semuanya, sambil senyum, sambil bilang sayang, sambil meluk Mas. Dan Mas nggak tahu. Seratus delapan puluh tujuh hari, Mas nggak tahu.”

Aku menatap wajahnya yang tenang itu, dan seluruh kebencian tiga tahun naik ke tenggorokanku sekaligus.

“Pembunuh,” kataku.

Dan aku meludah.


Ludah itu mengenai wajahnya. Pipi kirinya, di bawah mata, dekat hidung.

Ia tidak menutup mata. Ia tidak mundur. Ia tidak mengangkat tangan untuk melindungi wajahnya.

Ia hanya berdiri di sana, dan ludahku mengalir pelan di pipinya.

Dunia berhenti.

Aku menatap apa yang baru saja kulakukan. Napasku terengah. Tanganku gemetar sekarang. Tanganku akhirnya gemetar, tapi sudah terlambat untuk apa pun.

Ia menunduk.

Bukan menunduk karena malu. Ia menunduk untuk melihat sesuatu di rumput, di dekat kakiku. Sesuatu yang tadi jatuh dari tas jinjingku saat aku menarik kertas kusut itu keluar.

Sapu tangan abu-abu. Terlipat rapi menjadi persegi kecil. Kain katun yang lembut karena sering dicuci.

Ia membungkuk dan memungutnya.

Ia menatap sapu tangan itu sebentar. Seolah ia mengenalinya. Seolah ia terkejut menemukannya masih ada setelah hampir enam bulan, di dalam tas perempuan yang menahan muntah setiap kali memeluknya.

Lalu ia membukanya, dan dengan gerakan yang pelan dan tenang, ia mengelap wajahnya sendiri.

Pipinya. Di bawah matanya. Di dekat hidungnya.

Ia melipat sapu tangan itu kembali. Rapi. Persegi kecil. Ia memasukkannya ke saku kemejanya.

Lalu ia mengangkat wajah dan menatapku.

“Sudah?” tanyanya.

Pelan. Hati-hati. Seperti seseorang yang sedang memeriksa apakah masih ada yang tersisa di dalam diriku yang perlu dikeluarkan, dan ia bersedia menunggu kalau masih ada.

Nada yang sama.

Nada yang sama persis dengan sore itu di bengkel, ketika aku mengomel tentang dr. Ronald selama sepuluh menit, dan ia mendengarkan, dan bertanya sudah?, dan aku kesal karena kata itu terasa hangat.

Aku membuka mulut.

Tidak ada yang keluar.

Ia menunggu. Lima detik. Sepuluh. Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku tidak bisa.

Ia mengangguk sekali, kecil, seperti menerima jawaban yang tidak kuucapkan.

Lalu ia berbalik, berjongkok sekali lagi di atas bunga-bunga itu, dan mengambil kertas kusut dari atas melati. Cicilan Koh Ahong. Ia melipatnya dan memasukkannya ke saku celana. Lalu ia menunduk ke arah tanah, ke titik tempat Ayah ditemukan, dan bibirnya bergerak.

“Maaf, Pak.”

Dua kata. Seperti di makam.

Ia berdiri. Ia merogoh tas kecil yang tersampir di bahunya dan mengeluarkan sebotol air mineral. Botol yang masih dingin, berembun. Ia pasti membelinya di warung pagi tadi, sebelum aku menjemputnya. Untukku. Karena Bekasi panas, dan aku pasti haus setelah ziarah.

Ia meletakkan botol itu di atas sisa fondasi beton di dekatku.

Lalu ia berjalan pergi. Melewatiku. Ke celah di pagar seng.

Ia tidak menoleh.


Aku berdiri di tengah lahan itu sendirian.

Matahari naik. Kupu-kupu kuning itu terbang dari tangkai sedap malam dan menghilang di atas pagar seng. Dari jalan raya, suara klakson truk terdengar panjang dan jauh.

Aku menatap botol air mineral di atas beton. Embunnya mengalir pelan ke bawah, membentuk genangan kecil yang gelap di permukaan semen yang berdebu.

Aku menang.

Aku menunggu kemenangan itu datang. Aku sudah menunggunya tiga tahun. Aku sudah merencanakannya seratus delapan puluh tujuh hari. Rasa lega. Rasa puas. Rasa adil. Rasa bahwa akhirnya, akhirnya, Ayah bisa beristirahat.

Tidak ada yang datang.

Aku berdiri di sana dan menunggu, dan yang ada hanya rumput liar, besi berkarat, bunga sedap malam yang mulai layu di bawah matahari, dan sebotol air dingin yang perlahan-lahan menjadi hangat.

Aku tidak merasakan apa-apa.

Sama sekali tidak ada apa-apa.


Aku tidak ingat menyetir pulang.

Aku ingat duduk di mobil di parkiran rumah, dengan mesin mati, dengan ponsel di tangan. Aku membuka folder Proyek.

Hari ke-187.

Aku menatap angka itu. Aku ingin menulis Selesai. Aku ingin menulis Menang. Aku ingin menulis apa pun.

Jariku tidak bergerak.

Aku membuka pesan ke nomor yang tidak tersimpan.

Selesai. Kontrak kita selesai.

Balasannya datang tiga menit kemudian.

Dimengerti. Sisa pembayaran saya tunggu. Semoga Mbak mendapatkan yang Mbak cari. — H

Aku menatap kalimat terakhir itu.

Lalu aku menutup ponsel, menyandarkan kepala ke setir, dan menutup mata.

Di belakang kelopak mataku, yang kulihat bukan wajah Ayah. Bukan beton yang runtuh. Bukan ruang sidang.

Yang kulihat adalah sebuah tangan dengan bekas luka bakar di punggungnya, memungut sapu tangan abu-abu dari rumput liar, dan mengelap ludahku dari wajahnya sendiri, dengan gerakan yang begitu pelan, begitu tenang, begitu terbiasa.

Seperti seseorang yang sudah lama tahu bahwa hari ini akan datang.

Aku tidak memikirkan apa artinya itu.

Tidak hari itu.