← Hukuman Kedua

Chapter Eleven

Bab 11 — Stetoskop

POV: Arya

Stetoskop itu kubeli di lapak loak di Pasar Jatinegara, hari Minggu, seharga delapan puluh ribu rupiah.

Merknya bagus. Buatan luar. Kepala dadanya dari baja tahan karat, dua sisi, bell dan diafragma. Tapi selangnya sudah getas dan retak di tiga tempat. Diafragmanya sobek. Salah satu ujung telinganya hilang. Penjualnya bilang itu barang dari rumah sakit yang tutup. Mungkin benar. Mungkin tidak.

Aku tidak tahu banyak soal stetoskop. Tapi aku tahu soal tekanan, soal kebocoran, soal sambungan yang harus rapat.

Dua minggu sebelumnya, Shella duduk di bangku kayu di bengkel dan mengeluh. Stetoskopnya bocor. Ujung telinganya retak, dan ia menempelnya dengan selotip bening. Suara jantung pasien terdengar seperti orang mengetuk pintu dari balik bantal, katanya. Ia harus menekannya keras-keras ke dada pasien, dan pasiennya protes.

Ia bilang ia belum sempat beli yang baru. Ia bilang ia terlalu sibuk.

Aku tidak berkata apa-apa waktu itu. Aku mencatatnya.


Aku mengerjakannya tiga malam, setelah Kinan tidur.

Selang lamanya kulepas. Aku membeli selang silikon medis dari toko alat kesehatan di Salemba. Diameter dalamnya harus sama persis, empat koma lima milimeter, atau suaranya akan berubah. Aku mengukurnya dengan jangka sorong pinjaman dari bengkel. Aku memotong selang itu dengan pisau cutter baru supaya ujungnya rata.

Diafragmanya kuganti dengan yang baru dari toko yang sama. Ring penjepitnya sudah aus, jadi aku mengamplasnya pelan-pelan dengan amplas nomor dua ribu sampai permukaannya rata lagi. Ujung telinga yang hilang kuganti dengan sepasang yang baru, karet silikon lembut warna hitam.

Kepala dadanya kupoles dengan autosol sampai bisa memantulkan wajahku.

Malam ketiga, aku memasang ujung telinganya dan menempelkan diafragmanya ke dadaku sendiri.

Aku mendengarnya.

Dug-dug. Dug-dug.

Jelas. Tidak ada desis. Tidak ada bunyi bocor.

Jantungku sendiri. Aku sudah lama tidak mendengarnya. Iramanya teratur. Agak cepat. Mungkin karena sudah jam satu pagi dan aku belum tidur.

Aku melepas ujung telinganya dan memasukkan stetoskop itu ke kotak kardus kecil yang kulapisi kain flanel bekas.

Tabunganku setelah mengganti uang kaleng Pak Gondo tinggal empat ratus dua belas ribu. Setelah stetoskop ini, tinggal dua ratus enam puluh ribu.

Aku menulis angka itu di buku cokelat, di bawah catatan hari itu.


Senin pagi, manajer baru datang ke bengkel.

Namanya Pak Benny. Usianya mungkin empat puluhan. Kemeja lengan panjang dimasukkan ke celana, sepatu kulit yang tidak cocok untuk lantai bengkel yang penuh oli. Ia membawa map dan pulpen, dan ia mencatat banyak hal.

Ia tidak tahu cara memegang alat las.

Aku melihatnya mencoba mengangkat trafo las untuk memeriksa label di bawahnya. Ia memegangnya di bagian yang salah, lalu meletakkannya lagi dengan cepat seolah benda itu panas.

Ia tidak pernah bertanya soal pekerjaan. Ia tidak bertanya pesanan apa saja yang sedang berjalan, berapa kapasitas bengkel per minggu, atau siapa pelanggan tetap. Ia bertanya soal hal lain.

Jam berapa aku datang. Jam berapa aku pulang. Siapa yang sering datang ke bengkel. Apakah aku pernah membawa pulang alat atau bahan.

Aku menjawab semuanya dengan jujur.

Ia mencatat semuanya.

Aku tidak bertanya kenapa perusahaan fabrikasi baja yang berkantor di Sudirman mengirim manajer yang tidak tahu cara memegang trafo las ke bengkel kecil di Cipayung. Itu bukan urusanku. Urusanku adalah pagar, teralis, dan kanopi.

Aku mengerjakan urusanku.

Selasa sore, Shella datang seperti biasa, dengan dua gelas kopi dalam kantong kertas cokelat.

Pak Benny menatapnya dari pintu kantor kecil di belakang bengkel. Lama. Lalu ia masuk dan menutup pintunya. Ia tidak bertanya siapa Shella. Pak Gondo selalu bertanya. Pak Benny tidak perlu, sepertinya.

Shella menyodorkan gelasku.

“Hati-hati, panas,” katanya.

Kopinya manis. Seperti biasa. Dua pompa sirup gula aren, kurasa. Mungkin tiga hari ini.

“Kemanisan lagi ya, Mas?” tanyanya. “Aku lupa terus.”

“Nggak apa-apa.”

Aku meminumnya sampai habis.

Rasanya tidak buruk. Hanya bukan rasaku. Lidah bisa belajar menerima banyak hal kalau diberi waktu. Penjara mengajariku itu. Nasi yang keras, air yang berbau karat, tidur di lantai semen dengan dua puluh orang lain. Kopi manis bukan apa-apa.


Rabu, ulang tahunku.

Aku tidak merayakannya sejak Ibu meninggal. Bapak meninggal lebih dulu, waktu aku sembilan belas. Kecelakaan kerja di proyek jalan tol, tertimpa beton precast yang tali penahannya putus. Ibu sakit setahun setelahnya. Gagal ginjal. Ia dirawat lama di rumah sakit umum, cuci darah dua kali seminggu, sampai suatu malam ia tidak bangun lagi.

Setelah itu, ulang tahun hanya tanggal. Seperti tanggal jatuh tempo kontrakan. Seperti tanggal ujian Kinan.

Aku tidak memberitahu Shella tanggalnya.

Tapi saat aku pulang dari bengkel Rabu malam, lampu kontrakan mati. Aku membuka pintu dan mendengar Kinan berbisik keras, “Sekarang, Kak! Sekarang!”, dan lampu menyala, dan Kinan dan Shella berdiri di tengah ruangan dengan kue tart cokelat berlilin dua batang.

Mereka menyanyi. Kinan menyanyi dengan suara keras dan sumbang, sengaja. Shella menyanyi lebih pelan. Suaranya bagus. Jernih, sedikit serak di nada tinggi.

Aku berdiri di ambang pintu dengan tas perkakas di bahu, dan aku tidak tahu harus melakukan apa dengan wajahku.

“Tiup, Kak!” teriak Kinan. “Lilinnya meleleh ke krim! Mahal itu kuenya! Kak Shella yang beli!”

Aku meniup lilinnya.

Kinan bertepuk tangan. Shella tersenyum.

Shella cantik malam itu. Ia memakai gaun santai warna hijau pupus dan rambutnya digerai, jatuh sampai ke punggung. Ada sedikit krim cokelat di ujung jarinya, dan ia menjilatnya tanpa sadar. Matanya berkilat di bawah lampu neon kontrakan yang terlalu terang.

Ia cantik dengan cara yang membuat ruangan sempit ini terlihat lebih sempit. Seperti benda mahal yang diletakkan di rak plastik.

“Selamat ulang tahun, Mas,” katanya.

“Makasih.”

“Kok Mas nggak bilang-bilang ulang tahun?”

“Lupa.”

“Bohong,” kata Kinan. “Kakak nggak lupa. Kakak sengaja. Tiap tahun Kakak pura-pura lupa.”

Aku menatap adikku. Ia menjulurkan lidah.


Kinan memberiku hadiah sepasang kaus kaki. Warnanya hitam dan ada gambar kartun tengkorak kecil di pergelangannya.

“Biar Kakak nggak pakai kaus kaki bolong lagi,” katanya. “Malu-maluin. Kemarin pas Kakak lepas sepatu di masjid, jempolnya nongol.”

Shella memberiku kemeja. Kemeja katun warna abu-abu muda, dengan kerah yang dijahit rapi dan kancing yang terasa berat. Aku tidak tahu mereknya. Tapi aku tahu harganya bukan harga kemeja yang biasa kubeli.

“Ini mahal,” kataku.

“Nggak mahal.”

“Shella.”

“Mas.” Ia menatapku dengan kepala sedikit dimiringkan. “Terima aja. Aku pengin liat Mas pakai itu.”

Aku menerimanya.

Sepanjang malam itu, Shella memotretku. Saat aku meniup lilin. Saat aku memotong kue. Saat aku membuka hadiah Kinan dan Kinan tertawa melihat wajahku. Saat aku duduk di tikar dan tidak melakukan apa-apa.

Ia memotret lebih banyak dari yang dibutuhkan untuk kenangan.

Ia memotretku saat aku tidak tersenyum. Terutama saat aku tidak tersenyum. Saat aku menatap kue itu dan memikirkan Ibu. Saat aku duduk diam di pojok, lelah setelah seharian di bengkel. Ia memotret dari sudut yang membuat ruangan ini terlihat lebih sempit dan lebih kumuh dari kenyataannya. Retakan di dinding. Noda di langit-langit. Kipas angin yang berdebu.

Dua puluh tiga kali. Aku menghitungnya.

Aku tidak tahu kenapa aku menghitung. Kebiasaan, mungkin.

Aku tidak bertanya.


Saat Kinan sibuk memasukkan sisa kue ke kulkas, aku mengambil kotak kardus kecil dari bawah kasurku dan memberikannya pada Shella.

Ia menatap kotak itu. Lalu menatapku.

“Ini apa?”

“Buka aja.”

“Kok malah Mas yang ngasih hadiah? Kan Mas yang ulang tahun.”

“Buka.”

Ia membuka tutup kardusnya. Ia menyingkap kain flanel bekas di dalamnya.

Lalu ia diam.

Ia mengangkat stetoskop itu dengan dua tangan, pelan, seperti mengangkat sesuatu yang bisa pecah. Kepala dadanya memantulkan cahaya lampu. Selang silikon hitamnya melengkung lembut di antara jari-jarinya.

“Mas,” katanya. Suaranya aneh. “Ini…”

“Punyamu bocor,” kataku. “Kamu bilang.”

Ia menatapku. “Aku bilang kapan?”

“Dua minggu lalu. Di bengkel. Kamu bilang suara jantung pasien kayak orang ketuk pintu dari balik bantal.”

Ia tidak menjawab.

Ia memasang ujung telinganya. Ia menempelkan diafragmanya ke dadanya sendiri, di atas gaun hijau pupus itu, di sebelah kiri tulang dadanya.

Ia diam mendengarkan.

Lalu matanya basah. Sebentar. Satu kedipan, dua kedipan, dan air mata itu menggenang di sudut matanya, berkilat di bawah lampu neon.

Lalu tidak lagi. Ia menariknya kembali. Aku melihatnya menariknya kembali, seperti orang menarik tangan dari kompor panas. Wajahnya kembali tenang. Senyumnya kembali.

“Bagus banget, Mas,” katanya. “Makasih.”

“Bunyinya jelas?”

“Jelas.”

Ia melepas stetoskop itu dari telinganya dan memasukkannya kembali ke kotak kardus dengan gerakan yang terlalu cepat. Ia menutup kardus itu. Ia meletakkannya di pangkuannya, kedua tangannya di atasnya, dan ia tidak menatapku lagi selama beberapa menit.

Aku tidak tahu apa yang ia dengar. Jantungnya sendiri, mungkin. Aku tidak tahu apakah iramanya teratur.


Aku mengantarnya sampai ke mulut gang. Seperti biasa.

Di bawah lampu jalan, ia berbalik dan menatapku. Kotak kardus kecil itu dipeluknya di dada.

“Mas.”

“Hm.”

“Kenapa Mas baik banget sama aku?”

Pertanyaan itu datang tiba-tiba. Nadanya tidak seperti pertanyaan seorang pacar yang ingin dipuji. Nadanya seperti seseorang yang benar-benar tidak mengerti, dan sedikit marah karena tidak mengerti.

Aku menatapnya.

Ada banyak jawaban. Tidak ada yang bisa kuucapkan.

“Kamu pacarku,” kataku akhirnya.

Itu benar. Itu bukan seluruh kebenaran. Tapi itu benar.

Ia menatapku lama. Lalu ia mengangguk, berbalik, dan berjalan ke mobilnya. Ia tidak menoleh lagi. Aku menunggu sampai mobilnya berbelok di ujung jalan.


Kinan masih bangun saat aku kembali. Ia duduk di teras dengan kaus band dan celana training, makan sisa kue langsung dari kotaknya dengan sendok.

Aku duduk di kursi plastik di sebelahnya.

“Kak,” katanya dengan mulut penuh krim cokelat.

“Hm.”

“Kakak bahagia?”

Aku menatap gang yang gelap. Lampu jalan di ujungnya berkedip, seperti biasa. Kabelnya longgar. Aku sudah tiga kali bilang ke Pak RT.

“Hm,” kataku.

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban.”

“Bukan. ‘Hm’ itu bunyi. Bukan jawaban.” Kinan menjilat sendoknya. “Kalau Kakak bahagia, bilang ‘iya’. Kalau nggak, bilang ‘nggak’. Kalau nggak tahu, bilang ‘nggak tahu’. Gampang.”

Aku diam.

Aku memikirkan dua puluh tiga foto. Kopi yang selalu manis. Kaleng biskuit yang kosong. Plang kayu biru yang hurufnya mengelupas. Manajer baru yang tidak tahu cara memegang trafo las.

Aku memikirkan matanya yang basah sebentar saat ia mendengar jantungnya sendiri. Dan caranya menarik air mata itu kembali.

Aku tidak tahu jawaban yang benar.

Jadi aku tidak menjawab.

Kinan menghela napas panjang, seperti orang tua yang menyerah pada anaknya. Ia menyodorkan kotak kue padaku.

“Nih. Makan. Kakak yang ulang tahun, malah aku yang ngabisin.”

Aku mengambil sendok dan makan sesuap. Kuenya manis. Terlalu manis.

Aku makan sampai habis.

Malam itu, setelah Kinan tidur, aku membuka buku cokelat di bawah lampu teras. Aku menulis satu baris. Aku membacanya dua kali.

Lalu aku menutup bukunya dan duduk di sana sampai lampu jalan di ujung gang berhenti berkedip dan mati sama sekali.