← Hukuman Kedua

Chapter Twenty Nine

Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus

POV: Shella

Pukul enam pagi, aku membuka pintu kamar.

Mama masih di sana. Duduk di lantai lorong, bersandar ke dinding di samping pintu kamarku, dengan daster sutra yang kusut dan kepala terkulai ke bahu. Ia tertidur di sana. Di lantai. Mama, yang selalu bilang lantai itu untuk kaki.

Aku berlutut di depannya.

Ia terbangun saat aku menyentuh lututnya. Matanya bengkak. Matanya menatapku, lalu menatap buku cokelat yang masih kupegang di dada.

Ia tidak bertanya apa isinya.

“Kamu udah tidur?” tanyanya.

“Belum.”

“Mama juga.”

Kami duduk di lantai lorong itu, berdua, dengan cahaya pagi yang masuk dari jendela di ujung tangga. Di bawah, Mbok Sum menyalakan kompor. Bau bawang goreng naik ke atas.

“Ma,” kataku. “Aku mau cari dia.”

Mama memejamkan mata.

“Kamu mau buka semuanya,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Aku belum tahu.” Aku menatap buku di tanganku. “Aku belum tahu apa-apa, Ma. Aku cuma tahu aku nggak bisa diem di rumah ini. Di kamar ini. Pakai jas putih yang…”

Aku tidak menyelesaikan kalimatnya.

Mama membuka mata dan menatapku lama. Lalu ia mengangkat tangannya dan menyentuh pipiku. Di bawah mata kiri. Tempat sudut buku cokelat itu menggores kulitku kemarin sore.

“Ini kenapa?”

“Kena buku.”

Mama tidak bertanya lagi. Ia hanya mengusap goresan itu dengan ibu jarinya, pelan, seperti dulu saat aku jatuh dari sepeda dan lututku berdarah.

“Makan dulu,” katanya. “Terus mandi. Terus terserah kamu.”


Aku tidak makan. Aku mandi. Lalu aku menyetir ke warung di ujung jalan di luar kompleks, warung kecil yang menjual rokok ketengan dan pulsa dan alat tulis anak sekolah.

Aku membeli sebuah buku tulis kecil. Sampulnya cokelat. Bukan karena aku mencarinya. Hanya itu yang tersisa di rak. Harganya tiga ribu rupiah.

Ibu warung menatapku dengan heran. Perempuan dengan mobil bagus membeli buku tulis tiga ribuan pukul tujuh pagi, dengan mata yang bengkak.

“Buat anaknya, Mbak?”

“Buat saya, Bu.”

Aku duduk di mobil, di pinggir jalan, dengan mesin menyala dan AC yang dingin. Aku membuka buku itu di halaman pertama. Aku mengeluarkan pulpen dari tas.

Tanganku gemetar. Aku menunggu sampai gemetarnya berhenti. Tidak berhenti. Aku menulis juga.

Hari ke-1 aku menebus.

Aku menatap kalimat itu lama.

Lalu aku menulis di bawahnya, dengan huruf yang tidak tegak dan tidak presisi:

Tidak ada yang bisa dikembalikan. Aku tahu. Dua tahun di penjara. Seratus delapan puluh tujuh hari. Ludah. Aku tahu tidak ada angka yang cukup untuk menebus itu.

Tapi aku akan menghitung juga. Seperti dia. Setiap hari. Sampai aku tahu berapa yang aku hutang.

Hari ini: aku harus tahu dia di mana.


Kinan tidak membalas pesanku.

Aku mengirim pesan pagi itu. Kinan, aku mau cari Kak Arya. Kamu tahu dia di mana? Pesan itu terbaca pukul sembilan. Tidak dibalas.

Pukul sebelas, aku mengirim lagi. Aku nggak akan nyakitin dia lagi. Aku janji.

Terbaca. Tidak dibalas.

Pukul satu siang, akhirnya, satu pesan.

Aku nggak tahu dia di mana. Dia bilang jangan dicari. Jangan ganggu dia lagi, Kak. Udah cukup.

Lalu satu lagi, beberapa detik kemudian.

Janji Kakak nggak ada harganya. Kakak janji ke Pak Gondo mau jagain Kak Arya. Aku baca di bukunya.

Aku meletakkan ponsel di dasbor.

Ia benar. Janji Pak Gondo. Jagain Arya, ya! Dia itu bego! Kalau nggak ada yang jagain, dia bisa dimakan orang! Aku berteriak janji dari depan bengkel. Lalu aku sendiri yang memakannya.

Aku menulis di buku cokelat yang baru.

Kinan benar. Janjiku tidak ada harganya. Aku harus membuktikan dengan sesuatu selain janji.

Aku tidak membalas pesan Kinan. Tidak ada kalimat yang bisa kutulis yang tidak terdengar seperti janji lagi.

Tapi sore itu, aku menyetir ke Cipayung, ke rumah keluarga Dita yang alamatnya kudapat dari Mitha, yang mengantar Kinan pulang hari itu. Aku tidak masuk. Aku memarkir mobil di ujung jalan dan menunggu.

Pukul lima, Kinan pulang dengan seragam putih abu-abu, berjalan kaki dari halte bus. Ia memeluk buku-buku pelajaran di dadanya. Ia berjalan menunduk.

Ia tidak melihatku.

Aku tidak turun. Aku hanya menatapnya sampai ia masuk ke rumah bercat kuning itu dan pintunya tertutup. Lalu aku mengeluarkan buku cokelat yang baru.

Kinan masih sekolah. Dia jalan kaki dari halte. Dia kurus. Aku yang membuatnya begitu.

Aku tidak tahu apa gunanya menulis itu. Aku hanya tahu bahwa aku tidak boleh berhenti melihat.


Satu-satunya jejak yang ada adalah tanggal sepuluh.

Aku menghitung hari. Tanggal sepuluh bulan depan masih sembilan belas hari lagi. Tidak ada apa-apa yang bisa kulakukan selain menunggu.

Jadi aku menunggu. Dan sambil menunggu, aku belajar.

Ujian kompetensi dokterku tinggal dua minggu. Aku duduk di meja belajarku setiap hari, dengan buku-buku soal dan kartu hafalan farmakologi. Kartu-kartu yang dulu ia bacakan dengan pelafalan yang salah di restoran cepat saji pukul satu pagi.

Dosis furosemid untuk gagal jantung akut.

Empat puluh miligram intravena. Bisa diulang. Pantau kalium.

Ia menjawabnya sebelum aku sempat. Karena ia menulis semua dosis obat ibunya di buku, setiap hari, selama setahun, sampai ibunya meninggal.

Aku belajar sampai dini hari. Aku tidak tidur sebelum jam tiga. Mama berhenti menyuruhku makan dan mulai membawakan makanan ke kamarku tanpa bicara, meletakkannya di meja, lalu pergi.

Di hari ujian, aku mengerjakan dua ratus soal dalam empat jam. Saat aku keluar dari ruang ujian, Mitha menungguku di lorong.

Ia tidak bertanya bagaimana ujianku. Ia menatapku lama.

“Lo udah baca bukunya,” katanya.

“Udah.”

Mitha mengangguk pelan. Ia tidak bertanya apa isinya. Ia hanya merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu. Sebungkus kerupuk kulit.

Ia menyodorkannya padaku.

“Makan,” katanya. Suaranya serak. “Lo kurus. Pasien jadi kasihan liat dokternya.”

Aku menatap bungkus kerupuk itu. Lalu menatap Mitha.

“Mit, gue—”

“Nanti,” katanya. “Nanti lo cerita. Gue siap dengerin. Gue udah siap marah sama lo. Udah siap kecewa. Udah siap semuanya.” Ia menepuk bahuku dua kali. “Tapi sekarang makan dulu.”

Aku memakan kerupuk itu di lorong gedung ujian, di depan Mitha, sampai habis.


Tanggal sepuluh, aku menjemput Bu Sarip.

Aku sudah meneleponnya dua hari sebelumnya. Lewat nomor Dodi, yang tertera di buku tabungan. Aku bicara pada Bu Sarip saat Dodi sedang kuliah. Aku bilang aku ingin membantu mencari orang baik yang mengirim uang setiap bulan, supaya ia bisa mengucapkan terima kasih. Aku bilang bank mungkin tidak mau memberi tahu nama, tapi setidaknya kita bisa tahu dari mana uangnya dikirim.

Bu Sarip setuju. Ia tidak bertanya kenapa aku peduli.

Kami pergi ke kantor cabang bank di Bekasi Utara pukul dua siang, setelah jam transfer biasa. Bu Sarip memakai kerudung terbaiknya, yang berwarna hijau tua dengan bordir di pinggir. Ia memegang buku tabungannya di dada seperti memegang Al-Quran.

Di mesin cetak buku tabungan, aku membantunya memasukkan buku itu. Mesin itu berdengung. Jarum cetaknya bergerak maju mundur.

Satu baris baru.

Buku itu keluar. Aku membukanya di halaman terakhir.

Tanggal sepuluh. Hari ini. Pukul sebelas lewat dua puluh pagi.

SETOR TUNAI — BRI UNIT PALABUHANRATU — A.M. — 75.000.

Bukan transfer ATM. Setoran tunai. Di teller. Di sebuah kantor unit bank di sebuah kota yang namanya belum pernah kuucapkan.

Tujuh puluh lima ribu. Turun lagi.

Ia pasti tidak punya kartu ATM lagi. Atau kartunya terblokir. Atau saldonya tidak cukup, sehingga ia harus menyetor uang tunai langsung dari tangannya ke teller, dua kali, untuk dua rekening, di tengah hari kerja. Ia pasti meminta izin dari pekerjaannya, apa pun pekerjaannya di sana, untuk pergi ke bank.

Ia tidak pernah telat.

“Neng?” Bu Sarip menatapku. “Kenapa? Neng nangis?”

Aku tidak sadar aku menangis.

“Pelabuhanratu, Bu,” kataku. Suaraku pecah. “Uangnya dari Pelabuhanratu.”

“Itu di mana?”

“Di pinggir laut. Di Sukabumi.”

Bu Sarip menatap baris cetakan itu. Ia tidak bisa membacanya. Tapi ia menyentuhnya dengan ujung jarinya, pelan, seolah bisa merasakan sesuatu dari tinta yang masih baru.

“Jauh ya,” katanya. “Dari laut.”

“Iya, Bu.”

“Dia kirim dari jauh.” Bu Sarip mengusap baris itu dengan jempolnya. “Kalau Neng ketemu, bilang makasih dari Ibu. Bilang Dodi udah semester empat. Bilang Dodi dapet IP tiga koma lima.”

Aku mengangguk. Aku tidak bisa bicara.


Malam itu, aku membuka laptop dan masuk ke portal internsip.

Pemilihan wahana internsip dibuka minggu depan. Daftar puskesmas dan rumah sakit di seluruh Indonesia, dengan kuota masing-masing. Sebagian besar teman seangkatanku sudah memutuskan. Jakarta. Bandung. Bogor. Tempat-tempat yang dekat dengan rumah, dengan fasilitas yang lengkap, dengan kesempatan untuk mendaftar spesialis.

Aku menggulir daftar wahana di Jawa Barat. Kabupaten Sukabumi.

Puskesmas Palabuhanratu. Kuota: 2.

Aku menatap nama itu.

Mitha meneleponku pukul sepuluh malam.

“Lo milih di mana?”

“Pelabuhanratu.”

Hening di ujung telepon. Lama.

“Itu tempat dia?” tanya Mitha pelan.

“Iya.”

“Lo yakin? Shel, lo bisa ngelamar spesialis jantung tahun depan kalau internsip di RS gede. Lo nilai ujian paling tinggi di angkatan. Lo bisa ke mana aja.”

“Gue yakin.”

Mitha diam lagi. Lalu aku mendengarnya menghela napas panjang.

“Oke,” katanya. “Gue nggak ngerti. Tapi oke.”

“Mit.”

“Hm.”

“Gue mau cerita sekarang. Semuanya.”

Dan aku menceritakannya.

Aku menceritakannya pada Mitha selama dua jam, di telepon, dengan suara yang datar sampai suara itu tidak bisa lagi datar. Mitha tidak menyela sekali pun. Di bagian ludah, aku mendengarnya menarik napas tajam. Di bagian buku cokelat, aku mendengarnya menangis pelan.

Saat aku selesai, ia diam lama sekali.

“Gue marah sama lo,” katanya akhirnya. Suaranya bergetar. “Gue marah banget, Shel. Gue pengin nampar lo.”

“Gue tahu.”

“Tapi gue juga…” Mitha berhenti. “Gue juga nggak bisa ninggalin lo. Gue udah coba. Seminggu terakhir gue coba. Gue nggak bisa.”

Aku memejamkan mata.

“Lo bakal ke sana,” kata Mitha. “Lo bakal ketemu dia. Terus apa?”

“Gue nggak tahu.”

“Dia mungkin nggak mau liat muka lo.”

“Gue tahu.”

“Dia mungkin ngusir lo.”

“Gue tahu.”

“Terus lo tetap mau ke sana.”

“Iya.”

Mitha diam lagi. Lalu ia berkata sesuatu yang tidak kuharapkan.

“Bagus,” katanya. “Itu satu-satunya hal yang bener yang lo lakuin dalam setahun ini.”


Sebelum tidur, aku membuka buku cokelat yang baru.

Halaman pertama. Hari ke-1 aku menebus.

Aku membalik ke halaman kosong berikutnya.

Hari ke-20. Dia di Pelabuhanratu. Setor tunai Rp75.000. Dia tidak punya kartu ATM lagi. Dia minta izin dari kerjaannya untuk ke bank. Dia tidak pernah telat.

Aku memilih Puskesmas Palabuhanratu.

Aku menceritakan semuanya ke Mitha. Dia bilang dia ingin menamparku. Dia tidak menamparku. Aku berharap dia menamparku.

Aku menutup buku itu.

Di laci paling bawah meja riasku, buku cokelat milik Arya terletak di atas jaket parasut hitam, map plastik berisi dua puluh tiga lembar hitungan, surat dari Mang Udin yang belum kubuka, dan secarik kertas bergaris dengan tulisan spidol Pak Gondo.

Aku mengeluarkan semuanya. Satu per satu. Aku memasukkannya ke dalam koper kecil yang biasa kupakai untuk acara menginap.

Stetoskop dengan kepala dada yang mengilap kumasukkan paling akhir. Di saku depan koper. Supaya mudah diambil.

Lalu aku tidur. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, aku tidur sampai pagi.

Bukan karena aku tenang.

Karena aku tahu ke mana harus pergi.