Chapter Thirty Two
Bab 32 — Tangan
POV: Shella
Anak muda yang kakinya tertusuk besi itu bernama Asep, dan ia datang untuk ganti perban setiap dua hari dengan semangat yang tidak wajar untuk orang yang baru saja tertusuk besi.
“Dok, perbannya diganti lagi ya. Yang ini udah basah.”
“Itu baru diganti kemarin, Sep.”
“Basah, Dok. Saya kena air wudu.”
“Kamu wudu pakai kaki yang diperban?”
“Saya rajin ibadah, Dok.”
Bu Nengsih, di meja sebelah, mendengus tanpa mengangkat wajah dari buku register.
“Sep,” katanya. “Kamu nggak pernah ke masjid. Mak Ijah bilang kamu tidur di mess dari Jumat sampai Minggu.”
Asep menatap Bu Nengsih dengan wajah terluka. “Bu Nengsih kok tahu?”
“Satu kampung tahu.”
Aku membuka perbannya. Lukanya bersih. Jahitannya rapi. Penyembuhannya baik, jauh lebih baik dari yang kuharapkan untuk luka tusuk besi di lingkungan proyek.
“Kamu tekan lukanya cepet waktu itu,” kataku, sambil membersihkan pinggiran jahitan. “Makanya infeksinya nggak parah.”
“Bukan saya, Dok. Si Diem.”
Tanganku berhenti sesaat. Lalu bergerak lagi.
“Si Diem yang cabut besinya,” lanjut Asep, tanpa menyadari apa pun. “Kaki saya kejepit di antara dua tumpukan besi. Semua orang panik. Mandor teriak-teriak. Si Diem dateng, nggak ngomong apa-apa, langsung cabut besinya. Terus dia buka kausnya, dia tekan kaki saya. Terus dia gendong saya dari dermaga sampai sini.” Asep menatap langit-langit puskesmas dengan wajah kagum. “Setengah kilo, Dok. Saya enam puluh kilo. Dia nggak berhenti sekali pun.”
Aku membalut kakinya dengan perban baru. Pelan. Rapi.
“Dia nggak pernah ngomong,” kata Asep. “Tapi kalau ada yang celaka, dia selalu yang pertama dateng. Anak-anak proyek bilang dia kayak malaikat yang bisu.”
“Bukan bisu,” kata Bu Nengsih tanpa mengangkat wajah. “Diem. Beda.”
Mitha meneleponku malam itu. Ia menelepon setiap tiga hari sejak aku pindah, selalu di jam yang sama, selalu dengan pembukaan yang sama.
“Laporan.”
“Dia manggil gue Dok.”
“Ya lo kan dokter.”
“Mit.”
“Sorry. Lanjut.”
“Dia lewat jalan belakang biar nggak liat gue. Dia nolak sarapan dari gue. Dia sopan banget, Mit. Kayak gue orang asing.”
Hening di ujung telepon. Aku mendengar Mitha mengunyah sesuatu. Keripik, mungkin.
“Shel,” katanya akhirnya. “Berapa lama lo ngancurin dia?”
Aku menatap dinding kamar kos yang hijau muda.
“Seratus delapan puluh tujuh hari.”
“Terus lo udah di sana berapa hari?”
“Seminggu lebih.”
“Terus lo kaget dia masih manggil lo Dok?”
Aku tidak menjawab.
“Gue bukan psikiater,” kata Mitha. “Gue bahkan nggak lulus stase psikiatri dengan nilai bagus, lo inget kan, gue salah nyebut skizofrenia jadi skizo-frenja di depan konsulen. Tapi gue tahu satu hal.” Ia berhenti mengunyah. “Lo butuh seratus delapan puluh tujuh hari buat ngancurin orang yang nggak ngelawan. Benerin orang yang udah ancur itu nggak bakal lebih cepet dari itu. Biasanya lebih lama.”
“Gue tahu.”
“Lo tahu, tapi lo nggak sabar. Gue denger dari suara lo.”
Ia benar. Aku tidak menjawab karena ia benar.
“Makan,” kata Mitha. “Terus tidur. Terus besok lo bangun dan lo tunggu lagi. Itu doang yang bisa lo lakuin. Nunggu.”
“Kayak dia nunggu gue tiap jam sepuluh malem di bengkel,” kataku pelan. “Biar gue nggak tidur di bangku.”
Mitha diam lama di ujung telepon.
“Iya,” katanya. “Kayak gitu.”
Setelah telepon ditutup, aku duduk di kasur busa yang kempis dan menatap jam dinding Bu Atin yang detaknya terlalu keras. Pukul sepuluh malam. Di bengkel Pak Gondo, di jam yang sama, ia selalu mengangkat topeng lasnya dan berkata, udah malam. Dan aku selalu menjawab, sebentar lagi. Ia menunggu, setiap malam, tanpa sekali pun menyuruhku pulang dengan paksa. Sekarang giliranku menunggu, selama apa pun.
Hujan turun hari Rabu, sore, tiba-tiba, seperti hujan di pesisir selalu turun.
Satu menit langit masih biru dengan awan putih tipis. Menit berikutnya, awan hitam bergulung dari arah laut, angin menampar daun-daun kelapa sampai miring, dan air tumpah seperti seseorang membalik ember raksasa di atas Pelabuhanratu.
Aku sedang di warung Mak Ijah. Hari kerjaku sudah selesai. Aku duduk di bangku kayu di bawah terpal biru dengan segelas kopi hitam dan buku cokelat, menulis catatan hari itu.
Para pekerja proyek berlarian mencari tempat berteduh. Sebagian ke mess. Sebagian ke gudang material. Beberapa ke warung Mak Ijah, karena terpal biru itu yang paling dekat dengan gerbang proyek.
Ia salah satunya.
Ia masuk ke bawah terpal dengan kaus yang basah kuyup dan rambut yang meneteskan air. Ia tidak melihatku dulu. Ia sibuk mengusap wajahnya dengan lengan kaus yang juga basah, sia-sia.
Lalu ia mengangkat wajah dan melihatku.
Ia berhenti.
Untuk sesaat, aku melihatnya menimbang. Keluar lagi ke hujan. Atau tetap di sini. Terpal biru itu hanya cukup untuk enam orang, dan sudah ada lima pekerja lain yang berdesakan di bawahnya, tertawa dan mengumpat hujan.
Hujan menghantam terpal begitu keras sampai suaranya seperti genderang.
Ia tetap di sini.
Ia berdiri di ujung terpal, sejauh mungkin dariku. Punggungnya menempel ke tiang bambu. Matanya menatap hujan.
Mak Ijah menatapku dari balik etalase gorengan. Lalu menatapnya. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia mendorong sebuah bangku plastik dengan kakinya ke arah laki-laki itu.
“Duduk, Diem. Berdiri kayak tiang listrik.”
Tiang listrik.
Jangan diem aja kayak tiang listrik.
Ia duduk.
Hujan tidak berhenti selama satu jam.
Para pekerja lain akhirnya menyerah dan berlari ke mess dengan kepala ditutup kantong plastik. Mak Ijah masuk ke dalam rumahnya di belakang warung untuk mengangkat jemuran yang sudah basah. Tinggal kami berdua di bawah terpal biru.
Aku di ujung bangku kayu. Ia di bangku plastik, dua meter dariku.
Ia tidak bicara. Aku tidak bicara.
Aku mencuri pandang ke arahnya.
Ia lebih kurus dari minggu lalu. Tulang pipinya menonjol. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, lebih gelap dari yang pernah kulihat, bahkan lebih gelap dari malam di halte bus setelah sertifikasinya ditolak. Kausnya menempel di tubuhnya karena basah, dan aku bisa melihat tulang selangkanya, terlalu jelas.
Ada noda abu-abu di pipi kirinya. Bubuk semen yang bercampur air hujan, membentuk lapisan tipis seperti lumpur, tepat di bawah mata. Di tempat yang sama.
Pipi kiri. Di bawah mata. Dekat hidung.
Tempat ludahku mengenainya.
Aku tidak berpikir. Aku tidak memutuskannya. Tubuhku bergerak sendiri, seperti di ruang sidang tiga tahun lalu. Aku bergeser di bangku kayu, mendekat, dan mengangkat tanganku untuk menyeka noda itu dari pipinya.
Ia tersentak.
Bukan tersentak kecil. Seluruh tubuhnya bergerak mundur. Kepalanya terlempar ke belakang, menjauhi tanganku, begitu cepat dan keras sampai bangku plastik yang ia duduki terdorong dan kaki belakangnya terangkat. Tangannya mencengkeram tiang bambu di belakangnya supaya tidak jatuh.
Matanya. Untuk sepersekian detik, matanya tidak kosong.
Matanya ketakutan.
Lalu, secepat itu datang, ketakutan itu hilang. Matanya kembali datar. Kosong. Ia menurunkan kaki bangku plastik itu ke tanah. Ia melepaskan tiang bambu.
Tanganku masih terangkat di udara. Membeku. Sejengkal dari wajahnya.
“Maaf, Dok,” katanya. Pelan. “Refleks.”
Aku menurunkan tanganku.
Pelan-pelan. Ke pangkuanku. Aku menatap tanganku sendiri. Tangan kanan. Tangan yang memegang pulpen Pak Hadi di lounge hotel Senayan dan menulis daftar lima nomor. Tangan yang mengambil uang dari kaleng Khong Guan. Tangan yang memeluk punggungnya di trotoar sambil mengetik lanjut. Tangan yang terangkat di lahan bekas ruko, setengah detik sebelum aku meludah.
Tubuhnya ingat.
Kepalanya mungkin sudah memutuskan untuk tidak membenciku. Kepalanya mungkin sudah memutuskan untuk tidak merasakan apa-apa. Tapi tubuhnya ingat. Tubuhnya tahu bahwa setiap kali tanganku mendekat ke wajahnya, sesuatu yang buruk akan terjadi.
Aku mengajari tubuhnya itu. Seratus delapan puluh tujuh hari.
“Ada semen,” kataku. Suaraku nyaris tidak keluar. “Di pipimu. Aku cuma mau…”
Ia mengangkat tangannya sendiri dan mengusap pipinya dengan punggung tangan. Kasar. Semen dan air hujan berpindah ke punggung tangannya, ke bekas luka bakar yang bulat dan mengilap.
“Udah,” katanya.
Ia menatap hujan lagi.
Hujan reda pukul enam lewat sepuluh.
Ia berdiri dari bangku plastik. Ia mengembalikan bangku itu ke tempatnya, di dekat etalase gorengan, dengan rapi. Lalu ia berjalan keluar dari bawah terpal, ke jalan yang becek, ke arah mess.
Lewat jalan belakang. Lewat kebun kelapa.
Aku tetap duduk di bangku kayu itu.
Mak Ijah keluar dari rumahnya dengan ember jemuran kosong. Ia melihatku. Ia melihat tanganku yang masih di pangkuan, terkepal begitu keras sampai buku-buku jarinya memutih.
Ia meletakkan ember itu dan duduk di sebelahku.
“Mak liat dari jendela,” katanya pelan.
Aku tidak menjawab.
“Kemarin Mak nepuk pipinya. Dia lagi ngantuk di sini, pagi-pagi, nunggu kopi. Mak tepuk pipinya kayak nepuk cucu. Bangun, Diem, bangun.” Mak Ijah menatap jalan becek yang ia lewati. “Dia diem aja. Nggak kaget. Malah dia bilang makasih, Mak.”
Aku memejamkan mata.
Hanya aku. Hanya tanganku.
“Neng,” kata Mak Ijah. Suaranya hati-hati, seperti seseorang yang berjalan di atas papan kayu yang lapuk. “Neng nggak usah cerita apa yang Neng lakuin ke dia. Mak nggak mau tahu. Tapi Mak udah tua. Mak udah liat banyak orang. Orang yang badannya kaget kayak gitu, itu orang yang dipukul. Berkali-kali. Sama orang yang sama.”
“Aku nggak pernah pukul dia, Mak.”
“Nggak harus pakai tangan, Neng.”
Aku tidak bisa menjawab itu.
Malam itu, di kamar kos Bu Atin yang dindingnya hijau muda, aku duduk di lantai ubin yang dingin dengan buku cokelat di pangkuan.
Aku menulis.
Hari ke-73.
Hujan. Warung Mak Ijah. Ada semen di pipinya, di bawah mata kiri, dekat hidung.
Aku mengangkat tangan untuk mengusapnya. Dia tersentak. Seluruh badannya. Kursinya hampir jatuh.
Matanya takut. Sebentar. Lalu kosong lagi.
Dia bilang: refleks.
Mak Ijah menepuk pipinya kemarin dan dia tidak kaget.
Hanya tanganku.
Aku berhenti menulis. Aku menatap tanganku yang memegang pulpen.
Lalu aku menulis satu kalimat lagi. Lebih pelan. Hurufnya lebih kecil, seperti orang yang menulis sesuatu yang tidak boleh dibaca siapa pun.
Aku tidak akan mengangkat tangan ke arah wajahnya lagi. Tidak sampai dia sendiri yang memintanya.
Kalau dia tidak pernah memintanya, tidak pernah.
Aku menutup buku itu.
Aku mematikan lampu kamar dan berbaring di kasur busa tipis yang kempis sampai ke papan. Dari jendela, aku bisa mendengar ombak menghantam karang di ujung teluk. Keras. Berulang. Tanpa henti.
Aku memejamkan mata dan melihatnya lagi. Kepala yang terlempar ke belakang. Tangan yang mencengkeram tiang bambu. Mata yang ketakutan, hanya sepersekian detik, sebelum kembali kosong.
Seratus delapan puluh tujuh hari, ia tidak pernah sekali pun menunjukkan ketakutan padaku. Tidak saat kertas di papan RT. Tidak saat dipecat. Tidak saat ditolak sertifikasi. Tidak saat aku meludahinya. Ia selalu tenang. Selalu nggak apa-apa.
Aku pikir itu artinya ia kuat.
Aku salah.
Itu artinya ia sudah belajar menyembunyikannya dariku. Dan sekarang, setelah tidak ada lagi yang perlu disembunyikan, tubuhnya tidak bisa lagi menahannya.
Bu Nengsih bilang, tergantung seberapa dalam kailnya dulu menancap.
Kailku menancap sampai ke tulang.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan reading
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365