← Hukuman Kedua

Chapter One

Bab 1 — Tiga Tahun

POV: Shella

Laki-laki yang membunuh ayahku bebas pada hari Selasa, dan aku tahu kabarnya dari pesan WhatsApp yang masuk saat aku sedang memasang infus.

Ponselku bergetar di saku jas putih. Sekali. Dua kali. Aku tidak melihatnya, karena tanganku sedang memegang punggung tangan seorang nenek berusia delapan puluh dua tahun yang pembuluh darahnya setipis benang jahit, dan nenek itu sudah tiga kali ditusuk oleh koas lain sebelum aku.

“Sakit sedikit ya, Nek,” kataku.

“Dari tadi juga dibilang sedikit,” jawabnya ketus.

Aku tersenyum. Jarum masuk sekali. Darah naik ke selang. Plester kutempel rapi, dan nenek itu menatapku dengan wajah orang yang terpaksa mengakui sesuatu.

“Kamu cantik, tangannya juga enak,” katanya. “Yang tadi itu kayak tukang tambal ban.”

Dari belakang tirai, seseorang tersedak. Itu Mitha. Dialah tukang tambal ban yang dimaksud.

Baru setelah aku mencuci tangan dan berdiri di lorong bangsal yang berbau karbol, aku membuka ponsel. Pesan dari Om Freddy, pengacara keluarga kami.

Shel, sesuai yang kamu minta. Arya Mahesa keluar dari Lapas Cipinang pagi ini. Masa pidananya selesai penuh. Om sudah tidak ada urusan hukum lagi dengannya. Tolong jangan berbuat apa-apa yang aneh.

Aku membaca pesan itu tiga kali.

Lalu aku mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi.

Makasih, Om. Aku cuma mau tahu aja. Aku udah ikhlas kok.

Kirim.

Itu kebohongan pertama. Rasanya ternyata semudah memasang infus pada pembuluh darah yang bagus.


“Lo kenapa?” tanya Mitha di pantry koas, sambil membuka bungkus nasi padang yang aromanya langsung mengalahkan bau karbol. “Muka lo kayak abis dapet hasil lab jelek.”

“Nggak apa-apa.”

“Bohong. Lo kalau nggak apa-apa, ngomongnya panjang. Kalau ngomongnya dua kata, berarti ada apa-apa.” Ia menyendok rendang. “Siapa yang mati?”

Aku menatapnya.

Mitha langsung berhenti mengunyah. “Ya ampun. Sorry. Itu ungkapan. Gue nggak maksud—”

“Nggak ada yang mati,” kataku. “Udah lama.”

Mitha tahu tentang ayahku. Semua orang di angkatan kami tahu. Tiga tahun lalu, berita tentang ruko tiga lantai yang runtuh di Bekasi ada di semua televisi selama seminggu penuh. Tiga orang tewas. Salah satunya pemilik perusahaan kontraktornya, Hendra Wijaya, ayahku.

Mitha meletakkan sendoknya, lalu menyodorkan kerupuk kulitnya ke arahku. Itu cara Mitha menunjukkan kasih sayang: menyerahkan bagian makanan yang paling ia suka.

“Makan,” katanya. “Lo kurus. Pasien jadi kasihan liat dokternya.”

Aku mengambil kerupuk itu. Tidak karena lapar, tapi karena kalau tidak, Mitha akan terus menatapku dengan matanya yang besar dan berisik itu.


Tiga tahun lalu, aku sedang duduk di baris ketiga ruang kuliah anatomi ketika ponselku berdering terus-menerus.

Aku ingat dosen sedang menerangkan tulang rusuk. Ada dua belas pasang, katanya. Tujuh pasang sejati, tiga pasang palsu, dua pasang melayang. Aku ingat menulis kata melayang di catatanku, lalu tertawa kecil karena terdengar puitis untuk sebuah tulang.

Ponselku berdering lagi. Nomor Mama. Lalu nomor sekretaris Ayah. Lalu nomor yang tidak kukenal.

Aku keluar ruangan dan mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal itu, karena entah kenapa yang tidak kukenal terasa lebih aman.

“Dengan Mbak Shella? Putri Bapak Hendra Wijaya?”

Suara laki-laki. Terengah.

“Iya.”

“Mbak, Bapak… ada kecelakaan di proyek Bekasi. Gedungnya… Mbak ke RS Mitra sekarang, ya. Sekarang.”

Aku tidak ingat menyetir. Aku ingat lampu merah di Kalimalang yang terasa sepuluh menit, dan aku memukul setir sambil berteriak pada lampu itu seolah lampu itu bisa mendengar.

Di IGD, Mama sudah duduk di kursi plastik biru dengan wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bukan menangis. Kosong. Seperti rumah yang lampunya dimatikan semua.

“Ayah meninggal di ambulans, Shel,” katanya. Hanya itu.

Aku ingat lantai IGD yang dingin. Aku ingat bau darah, debu semen, dan alkohol. Dan aku ingat seorang laki-laki muda yang duduk di lantai di ujung lorong, punggungnya bersandar ke dinding, kemejanya berwarna cokelat kemerahan karena darah dan debu. Lengannya dibalut perban. Matanya menatap lantai.

Seseorang berbisik di dekatku. “Itu insinyurnya. Yang ngitung strukturnya.”

Aku tidak mendekat waktu itu. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku baru dua puluh satu tahun, dan dua jam sebelumnya aku masih menulis kata melayang di buku catatan.

Kemarahan itu baru datang setelah pemakaman. Ia datang pelan, seperti air yang naik dari bawah lantai. Lalu ia tidak pernah surut lagi.


Sidangnya berlangsung enam bulan setelah itu.

Aku datang setiap kali sidang digelar. Mama hanya datang sekali, lalu berhenti. “Mama nggak kuat, Shel,” katanya. Aku tidak memaksanya. Aku datang sendiri, duduk di barisan depan, dan menatap punggung laki-laki itu selama berjam-jam.

Namanya Arya Mahesa. Dua puluh enam tahun saat itu. Insinyur struktur kepercayaan Ayah. Lulusan ITB dengan predikat cum laude. Ayah sering menyebut namanya di meja makan. “Arya itu anak pintar. Teliti. Nanti dia yang pegang semua proyek besar.”

Ayah memercayainya. Dan laki-laki itu salah menghitung beban, lalu gedungnya runtuh, dan Ayah ada di bawahnya.

Di sidang ketiga, hakim bertanya apakah terdakwa mengakui kelalaiannya.

Laki-laki itu berdiri. Suaranya tidak keras, tapi terdengar sampai ke barisan belakang.

“Saya mengakui, Yang Mulia. Saya salah menghitung beban struktur lantai dua dan tiga. Semua kesalahan ada pada saya.”

Ruang sidang hening.

Lalu aku berdiri. Aku tidak merencanakannya. Tubuhku bergerak sendiri.

“Pembunuh!”

Suaraku pecah di tengah kata itu. Petugas sidang menoleh. Hakim mengetuk palu. Seseorang memegang lenganku.

Laki-laki itu berbalik. Ia menatapku.

Kupikir ia akan menunduk. Orang yang bersalah biasanya menunduk. Tapi ia tidak menunduk. Ia menatapku lurus, lama, seperti sedang mengukur sesuatu, dan matanya tidak menghindar sedikit pun dari kebencianku.

Aku membencinya karena itu. Karena ia berani menatapku.

Vonisnya dua tahun penjara. Sertifikat keahliannya dicabut.

Dua tahun. Untuk tiga nyawa. Untuk ayahku.

Malam itu aku pulang dan berdiri di depan cermin kamar mandi untuk waktu yang lama, dan aku membuat janji pada wajahku sendiri.

Dua tahun tidak cukup. Penjara tidak cukup. Penjara hanya memindahkan tubuhnya dari satu tempat ke tempat lain. Aku ingin sesuatu yang lain. Aku ingin ia merasakan hidupnya runtuh, lantai demi lantai, pelan-pelan, tanpa tahu dari mana retakannya datang.

Dan aku ingin jadi tangan yang ia pegang saat ia jatuh.


Rumah kami di Pondok Indah terlalu besar untuk dua orang.

Dulu tidak terasa begitu. Dulu ada Ayah yang menyalakan televisi terlalu keras, yang bersiul sumbang di kamar mandi, yang pulang membawa martabak manis padahal Mama sedang diet. Sekarang rumah itu punya terlalu banyak ruangan yang lampunya tidak pernah dinyalakan.

Malam itu, aku dan Mama makan malam di meja panjang yang bisa memuat dua belas orang. Mbok Sum menyajikan sup ikan dan tumis kangkung. Bunyi sendok di piring terdengar terlalu jelas.

“Om Freddy telepon Mama tadi,” kata Mama tanpa menatapku. “Katanya kamu nanya soal… orang itu.”

Aku meletakkan sendok.

“Aku cuma mau tahu, Ma.”

Mama akhirnya menatapku. Di usianya yang lima puluh dua, Mama masih cantik dengan cara yang terawat dan mahal, tapi tiga tahun terakhir meninggalkan sesuatu di sekitar matanya. Bukan kerutan. Lebih seperti lelah yang menetap.

“Sudah, Shel,” katanya. “Dia sudah dihukum. Ayahmu sudah tenang. Perusahaan sudah stabil lagi. Kita sudah… baik-baik saja.”

Aku mengangguk.

“Iya, Ma. Aku udah ikhlas kok.”

Kebohongan kedua hari itu. Yang ini lebih mudah dari yang pertama.

Mama menatapku sedikit lebih lama, lalu kembali ke sup ikannya. Aku tahu ia lega. Mama selalu lebih suka jawaban yang membuat semua orang bisa kembali makan.


Di kamar, aku membuka laci meja rias dan mengeluarkan sesuatu yang selalu kubawa ke mana pun: meteran pita kecil dari kuningan, sebesar tutup botol, yang kugantung di kunci mobilku.

Ayah memberikannya pada ulang tahunku yang ketujuh belas. Teman-temanku mendapat tas mahal atau liburan ke Eropa dari orang tua mereka. Aku mendapat meteran pita.

“Ini apa, Yah?” tanyaku waktu itu, setengah kecewa.

Ayah tertawa. Tawa Ayah selalu terlalu keras untuk ruangan mana pun.

“Biar kamu inget,” katanya, menarik pita kuning itu sampai sepanjang lengan, lalu melepasnya hingga kembali menggulung dengan bunyi crek yang memuaskan. “Semua yang berdiri itu ada hitungannya, Shel. Gedung, jembatan, orang. Kalau hitungannya benar, dia berdiri. Kalau salah, dia runtuh.”

Ayah punya satu lagi yang persis sama. Ia selalu menyimpannya di kotak perkakasnya, katanya supaya kami kembaran.

Ayah juga yang membuatku jadi dokter.

Bukan dengan paksaan. Ayah tidak pernah memaksa apa pun, kecuali soal makan sayur. Tapi sejak aku kecil, setiap kali kami lewat rumah sakit, Ayah akan menunjuk orang-orang berjas putih yang berjalan cepat di lobi dan berkata, “Lihat, Shel. Itu orang-orang yang kerjanya bikin orang lain tetap berdiri.”

Waktu aku diterima di fakultas kedokteran, Ayah menangis di ruang tamu. Ayah yang suaranya terlalu keras, yang tertawa terlalu keras, menangis tanpa suara sambil memegang surat pengumuman itu.

“Ayah mau lihat kamu pakai jas putih,” katanya. “Sekali aja. Habis itu Ayah nggak minta apa-apa lagi.”

Ia tidak sempat melihatnya.

Upacara jas putihku diadakan empat bulan setelah pemakaman. Kursi untuk orang tua di barisan depan terisi semua, kecuali satu di sebelah Mama. Aku berdiri di panggung, mengenakan jas putih yang masih kaku dan berbau toko, dan aku menatap kursi kosong itu sampai seseorang menyentuh bahuku dan menyuruhku turun.

Malam itu aku tidak menangis. Aku tidak menangis sejak pemakaman. Setiap kali air mata itu mendekat, kemarahan datang lebih dulu dan menutup pintunya, dan aku bersyukur untuk itu. Kemarahan lebih mudah dibawa ke mana-mana. Kemarahan tidak membuat riasanmu luntur.

Jas putih itu sekarang tergantung di balik pintu kamarku. Aku memakainya setiap hari. Dan setiap hari, saat memasukkan tangan ke lengannya, aku teringat siapa yang membuat Ayah tidak bisa melihatnya.

Aku menarik pita itu sekarang, pelan, lalu melepaskannya.

Crek.

Laki-laki itu salah menghitung. Dan Ayah runtuh.

Sekarang giliranku menghitung.


Om Freddy tidak tahu, tentu saja, bahwa sejak setahun lalu aku membayar orang lain untuk mengawasi tanggal kebebasan laki-laki itu. Orang yang tidak bertanya terlalu banyak selama transfernya lancar.

Dua minggu setelah pesan Om Freddy masuk, orang itu mengirimiku alamat.

Bengkel Las Gondo. Jl. Raya Cipayung, Jakarta Timur. Kerja di sana sejak tiga hari keluar. Tinggal di kontrakan dua petak dengan adik perempuannya, Kinan Mahesa, 17 tahun, kelas XII. Pemilik bengkel kenal dia dari sebelum penjara.

Aku membaca pesan itu sambil berdiri di stasiun perawat. Mitha sedang berdebat dengan residen anak soal dosis paracetamol, dan suaranya naik turun seperti pedagang pasar.

Adik perempuan. Tujuh belas tahun.

Aku menyimpan informasi itu di tempat yang rapi di kepalaku, seperti menyimpan obat di lemari berlabel.


Sabtu pagi, aku menyetir sendiri ke Cipayung.

Jalanan masih basah sisa hujan subuh. Aku melewati deretan toko bangunan, penjual tanaman hias, dan warung kopi yang dipenuhi bapak-bapak bersarung. Mobilku terlalu bersih untuk jalan ini, dan beberapa orang menoleh saat aku lewat.

Bengkel Las Gondo ternyata hanya bangunan semipermanen beratap seng, dengan plang kayu bercat biru yang hurufnya sudah mengelupas. Di depannya berjejer pagar besi setengah jadi, teralis jendela, dan rangka kanopi. Di salah satu tiang tergantung sangkar burung perkutut yang terus berbunyi, kuk-kurruk, kuk-kurruk, dengan percaya diri yang tidak masuk akal.

Aku memarkir mobil di seberang jalan dan mematikan mesin. Aku tidak turun.

Dari balik kaca, aku melihatnya.

Ia berjongkok di depan sebuah rangka pagar, memakai topeng las. Percikan api oranye melompat dari ujung alatnya, jatuh ke tanah basah dan padam. Kaus abu-abunya gelap oleh keringat di punggung. Ia lebih kurus dari yang kuingat di ruang sidang, tapi bahunya tetap lebar. Rambutnya dipotong sangat pendek, seperti potongan yang tidak dipilih sendiri.

Lalu ia berhenti, mengangkat topengnya, dan menyeka dahinya dengan lengan.

Wajah itu.

Tiga tahun aku menyimpan wajah itu di kepalaku, dan aku baru sadar ingatanku sudah mengubahnya. Di ingatanku, wajah itu lebih keras, lebih kejam, lebih mirip wajah seorang pembunuh. Wajah yang sebenarnya hanya wajah laki-laki biasa yang kelelahan. Rahang yang tegas. Alis tebal. Kulit yang lebih gelap dari dulu, mungkin karena matahari bengkel. Dan mata itu. Mata yang sama yang menatapku di ruang sidang tanpa menghindar.

Tanganku mencengkeram setir begitu keras sampai buku-buku jariku memutih.

Aku memaksa diriku bernapas. Satu. Dua. Tiga. Seperti yang diajarkan di stase psikiatri untuk pasien serangan panik. Lucu sekali, menerapkannya pada diri sendiri.

Seorang laki-laki tua bertubuh gempal keluar dari dalam bengkel sambil membawa dua gelas kopi. Ia berteriak sesuatu ke laki-laki itu, lalu tertawa keras. Laki-laki itu menerima gelasnya dan mengangguk. Ia tidak tertawa. Tapi sudut bibirnya bergerak sedikit, sekejap, lalu kembali datar.

Ia bisa tersenyum.

Ayahku tidak bisa lagi tersenyum, dan laki-laki itu bisa.

Aku menarik napas panjang. Aku menatap pantulan diriku di kaca spion. Rambut hitam panjang yang kuikat rendah. Riasan tipis, cukup untuk terlihat lembut, tidak cukup untuk terlihat berusaha. Blus krem sederhana. Aku sudah memilih semua ini semalam dengan hati-hati, seperti memilih pakaian untuk wawancara kerja.

Wajah di cermin itu terlihat seperti perempuan yang sudah memaafkan.

Bagus.

Aku mengambil kunci mobil. Meteran pita kuningan itu berayun di gantungannya, berkilat kecil terkena cahaya pagi.

Ayah, kataku dalam hati. Ayah lihat, ya.

Aku membuka pintu dan turun.

Hari itu, aku mulai menghitung.